I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 150: Pov Toki... Perpisahan


__ADS_3

"Um... jadi, orang yang menghukummu itu adalah sang naga malapetaka" ucap Noel pada Shea.


"Ya entahlah aku tidak pernah menanyakan itu padanya, dan yahh… bagiku dia masih sangat membingungkan, saat bertemu denganku tatapannya terlihat sangat marah dan ingin membunuhku dan aku mungkin sudah mati terkena beberapa serangannya jika saja saat itu aku tidak mengecohnya, tapi… saat aku sudah menyerah dia malah tidak membunuhku padahal aku sudah sangat siap untuk mati" ucap Shea berjalan lurus sambil satu persatu menghentakkan kakinya.


"Meski sedang membicarakan kematian, kamu terlihat sangat tenang ya, Shea" ucap Noel pada Shea.


"Yahh… soalnya itu hanya masa lalu" sahu Shea tersenyum sambil menoleh ke arah kami.


Walaupun aku sangat yakin dengan identitas orang yang Shea sebutkan sebelumnya, tapi Shea sendiri terlihat sangat tenang dan santai menanggapi pernyataan yang mendebarkan itu padahal dia melihat orang itu langsung di depan matanya dan merasakan kekuatan darinya, entah hanya karena memang kepribadiannya yang kekanak-kanakan Shea terus melangkah tanpa ada beban sedikitpun yang terlihat di wajahnya, Shea malah mempermainkan langkanya seperti orang yang sedang berjalan dalam barisan prajurit sebelum akhirnya dia berhenti dan menoleh sambil tersenyum lebar ke arahku dan juga Noel.


"Hm... mungkin saja alasan dia tidak membunuhmu karena... " ucapku sembari menatap Shea.


Jika dia memang naga malapetaka mana mungkin dia melepaskan targetnya untuk dibunuh, tapi... Shea...


"Karena apa?" tanyanya padaku.


"Eh! tidak tidak, bukan apa-apa hehe... owh s-sepertinya kita sudah hampir sampai di jalan utama hehe." sahutku sambil tersenyum.


Ah! itu mungkin saja... tapi, memangnya monster sekejam itu bisa merasakan hal itu? berjuanglah Shea, kuharap tidak terjadi apa-apa denganmu. ( ꈍ_ꈍ)


"Um... ada apa denganmu Toki? apa kamu sedih?" tanya Noel padaku.


"Tidak, aku hanya sedang prihatin" jawabku padanya.


"Prihatin...? eh!?" ucap Shea terkejut.


"Dengar Shea!! meski kau dipaksa dan ditindas, kau tidak selamanya harus menuruti perintah orang lain, berjuanglah untuk bebas, maaf aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu" ucapku sambil memeluk Shea dari belakang. •_•


"T-tunggu, a-apa maksudmu Toki? aku tidak mengerti" sahut Shea dengan suara yang terputus-putus.


Merasa ada keanehan dengan perlakuan dari naga malapetaka yang berhadapan dengan Shea, aku menatap Shea dengan seksama dari bawah hingga atas sampai-sampai kepalaku condong ke sebelah kiri sambil berpikir mungkin saja alasan yang masuk akal untuk menjelaskannya, sang naga malapetaka adalah sosok yang sangat ditakuti karena kekejamannya yang tidak mengenal kata ampun, tapi melihat Shea yang masih segar bugar dan hanya dirantai di bagian lehernya setelah memicu kemarahan dari naga itu, aku sangat yakin jika naga kejam itu memiliki perasaan pada Shea karena tertarik dengan paras cantik dan imutnya, ditambah dengan lekuk tubuh Shea yang sudah cukup dewasa dan itulah yang membuatku sangat khawatir dengan keadaan Shea ke depannya.


Mulai membayangkan jika Shea dipaksa oleh naga malapetaka itu untuk menjadi istrinya membuatku sangat prihatin dengan keadaan Shea, terbayang dengan jelas di kepalaku wajah imut dan menggemaskan Shea dipaksa dan diperlakukan dengan kejam untuk melayani hasrat naga kejam itu, hanya sekedar membayangkannya saja sudah membuatku merasa sangat prihatin dengan mata yang berkaca-kaca menatap ke arah Shea, dan tentu saja Shea terlihat bingung saat aku mengatakan hal itu padanya.


Saat Shea akan berbalik menatapku aku kemudian langsung memeluk erat tubuhnya dari belakang sambil berusaha menyemangati Shea, aku tidak memiliki kekuatan untuk membantunya menghadapi naga kejam itu, jadi aku hanya bisa memberikan dukungan agar dia menjadi orang yang kuat dan tentunya Shea dan Noel yang melihatku bertingkah aneh seperti itu terlihat kebingungan dan heran denganku, tapi aku aku bersikap seperti ini karena aku prihatin dan sedih dengan keadaan Shea, ini adalah bentuk kepedulianku padanya.


"T-toki... b-bisa hentikan itu sekarang? Shea terlihat kesulitan bernapas loh" ucap Noel sambil memegang pundakku.


"Eh maaf, aku tidak sengaja."


"Huh… sebenarnya ada apa denganmu Toki?" tanya Shea sembari berbalik menatapku. ("•_•)


"Y-yaa… itu…/"


"Oi! mau sampai kapan kalian tertinggal di belakang?!" tanya Sam pada kami.


"Aa… yah… mereka sudah menunggu… jadi, tidak perlu dibahas hehe" ucapku sambil menggaruk kepalaku.


" ... " ( •_•)


" ... " ("•_•)


"Aa... hehehe… aku akan… menyusul Sam, bye bye" ucapku dengan perlahan sambil berlari ke arah Sam.


Sambil memegang pundakku Noel tiba-tiba menghentikan pelukanku pada Shea dan itu membuatku sedikit kebingungan jika saja aku tidak melihat ekspresi Shea yang terlihat sudah tidak sanggup untuk bicara, Shea memang lebih pendek dariku jadi aku mungkin secara tidak sadar aku telah mencekik leher Shea saat memeluknya sebelumnya dan karena itu aku kemudian langsung melepaskannya, dan dengan mengatur napasnya Shea tampak sangat heran denganku sembari menanyakan alasanku melakukan itu, tapi tentunya aku tidak mungkin secara terang-terangan mengatakan bahwa Shea mungkin akan dipaksa menjadi pelayan oleh naga kejam itu, karena semua itu pasti akan terdengar aneh.


Dan aku sangat beruntung Sam tiba-tiba memanggil karena kami sudah jauh tertinggal di barisan belakang dan karena itu aku tidak perlu menjawab pertanyaan dari Shea, tapi tetap saja ekspresi Shea dan Noel benar-benar sangat mendesakku untuk menjawabnya, dan dengan perlahan aku mulai mundur sedikit demi sedikit menjauh dari mereka berdua sebelumnya akhirnya aku lari ke arah kelompok Sam.


...*****...


"Kau tidak perlu berlari sampai seperti itukan Toki" ujar Sam padaku.


"Yahh … memang tidak, tapi aku senang kau memanggil di saat yang tepat" ucapku padanya sembari mengatur napasku.


"Apa maksudmu?" tanyanya padaku.


"Tidak perlu dibahas."


"Hm... ya baiklah, lagipula itu bukan urusanku" sahutnya acuh tak acuh denganku.


Aku berlari cukup kencang untuk menjauh dari Shea dan Noel sampai-sampai aku kesulitan untuk mengatur napasku dan terengah-engah beberapa saat bahkan Sam terlihat keheranan denganku saat aku berlari seperti itu, tapi aku kemudian memintanya untuk tidak membahas masalah itu karena cukup aku saja yang memikirkannya, lagipun semua itu terdengar tidak begitu masuk akal dan mungkin mereka hanya akan menganggapnya sebagai khayalan konyol, karena itulah dia tidak perlu tau dan aku cukup senang Sam tidak mempedulikan masalah itu.

__ADS_1


"Oi apa kalian tidak curiga dengan keadaan yang senyap ini? seharusnya hutan di area ini masih sangat berbahaya" ucap Kroz mendatangi kami seraya menatap ke sekelilingnya.


"Tidak, tidak ada keanehan dari hutan ini, aku masih bisa mendengar dan mencium bau monster yang berkeliaran" sahutku padanya.


"Justru karena itulah aku merasakan ada sesuatu yang janggal dari pergerakan para monster" ujarnya sambil menatap ke arahku.


"Aku juga merasakan aura keberadaan monster yang berada cukup dekat dengan kita" sahut Kaov ikut bicara.


"Apa maksudmu monster besar di belakang sana" ucapku sambil menunjuk ke arah naga besar di belakang Shea.


"Bukan yang itu! kau pikir aku tidak bisa membedakan monster disekitarku?" ucapnya dengan ekspresi agak kesal.


"Ya… mungkin saja kau salah membedakan antara monster dan makhluk hutan lainnya, karena menurut pendengaranku jarak pergerakan makhluk hidup yang ada berada jauh dari posisi kita berdiri saat ini" sahutku sambil tersenyum mengejek Kaov.


"Hahh... kuharap kau benar, karena pendengaran dan penciuman bisa dikelabui" ucapnya lagi sembari memalingkan wajahnya ke arah Jaz.


"Aku tau itu, bahkan aurapun bisa dihilangkan" balasku sambil menyimpitkan mataku.


Selesai berbicara dengan Sam, dengan perlahan dan tatapan yang selalu waspada Kroz kemudian mendatangi aku dan Sam lalu mengatakan keanehan yang dia rasakan tentang keadaan hutan yang terasa sangat senyap, meski dia merasa seperti itu aku dapat mendengar suara langkah kaki dan makhluk hidup lainnya yang bergerak ke sana kemari karena aku punya pendengaran yang cukup tajam, walaupun begitu pergerakan mereka terdengar sangat jauh dari tempat kami berdiri saat ini bahkan bau merekapun tidak tercium dengan jelas karena berada jauh dari kami.


Tapi, tetap saja ekspresi Kroz dan Kaov terlihat sangat serius dengan keadaan ini padahal sejak awal memang tidak ada monster yang cukup kuat untuk berani mendekati kami karena ada Shea dan naga buminya yang terus mengikuti serta mengawal perjalanan ini, bahkan sempat terjadi perdebatan kecil hanya karena masalah itu sebelum akhirnya Kaov dan Kroz pergi meninggalkanku ke arah Jaz dengan raut wajah yang kesal, aku memang suka melakukan itu pada mereka dan semua itu terasa cukup memuaskan.


***


"Hei Toki, aku masih mempertanyakan ucapanmu sebelumnya, sebenarnya apa yang kau maksud?" tanya Shea padaku.


"Tidak tidak, tidak perlu dipikirkan hehehe"sahutku sambil tersenyum.


"Ugh! kalau memang tidak penting kenapa kau harus seperti tadi?" ucap Shea cemberut kesal.


"Ehehe maaf, aku terlalu berlebihan."


I-itu terlalu imut.


Tak seberapa lama kemudian Shea dan Noel beserta naga di belakang mereka tiba dan berhenti di depanku, dan dengan wajah yang cemberut Shea kembali menanyaiku tentang masalah sebelumnya, tapi aku sudah telanjur malu untuk membahas itu terutama karena ada Sam yang mulai kembali heran dengan satu alis yang terangkat, sementara Noel hanya tersenyum melihat ke arah kami, jadi aku tidak bisa mengatakannya pada Shea dan karena itu dia terlihat cemberut juga kesal padaku, meski begitu Shea terlihat menggemaskan dan sangat sulit bagiku untuk tidak mengatakan apa yang aku pikirkan, tapi aku tetap bisa bertahan dengan tidak menatapnya secara langsung.


"Hahh… jadi, Shea apa kau memang tidak ingin ikut bersama kami?" tanyaku padanya sambil menghela napas berusaha menenangkan diriku.


"Dan mencari kucingmu?" ucap Noel memotong ucapan Shea sembari tersenyum.


"Hehehe... ya itu juga salah satunya" balas Shea seraya ikut tersenyum.


"Jadi, cuma sampai sini ya, Shea" sambung Noel menghadap ke bawah.


"Kita memang berpisah, tapi kita masih bisa bertemu loh" sahut Shea sambil tersenyum.


"Shea benar... jangan sedih Noel, ini bukan untuk selamanya" ucapku pada Noel.


Merasa sudah cukup tenang aku kemudian bertanya kepada Shea tentang keputusannya untuk tidak ikut bersama dengan kelompok kami, aku kembali menanyakan hal itu karena aku cukup berharap Shea akan berubah pikiran dan mau ikut bersama dengan kami, tapi Shea tetap berada pada keputusannya dan aku hanya bisa memakluminya saja karena semua itu adalah keputusan Shea, bahkan Noel yang selalu ceriapun terlihat sedih mendengar ucapan Shea, meskipun dalam suasana yang menyedihkan karena harus berpisah kami masih bisa tersenyum walau agak murung, tapi ini bukan perpisahan untuk selamanya karena kami masih bisa bertemu di lain waktu.


"Ayo pergi" ucap Sam menepuk pundakku.


"Iya baiklah... Noel" sahutku padanya sambil memegang tangan Noel.


"Sampai bertemu lagi Toki, Noel, dan kalian semua" ucap Shea tersenyum sembari melambaikan tangannya.


.


.


"Eh! N-noel?!"


"Sheaaa!! haa!!! hiks hiks! aku tidak ingin berpisah denganmu!" ucap Noel sambil memeluk Shea.


"Aku juga tidak ingin berpisah dengan kalian, tapi aku sudah tidak bisa melangkah lagi, meski begitu kita pasti akan bertemu lagi..." sahut Shea tersenyum sambil membalas pelukan Noel.


"Aku pasti akan merindukanmu Shea" ujar Noel pada Shea seraya melepaskan pelukannya.


"Aku juga" balas Shea tersenyum.


Dalam suasana yang sulit ini Sam menepuk pundakku yang menandakan bahwa kami akan segera melanjutkan perjalanan pulang, aku kemudian memegang dan menarik tangan Noel menjauh dari Shea yang berdiri tegak dengan senyuman perpisahan, akan tetapi baru beberapa langkah kami berjalan Noel kemudian melepaskan tanganku dan berlari ke arah Shea lalu memeluknya dengan rengekan yang cukup keras, dan dengan tatapan sedu Shea juga balas memeluknya.

__ADS_1


Suasana ini sangat menyedihkan, tapi mungkin hanya untukku dan para wanita di tempat ini karena para lelaki sudah kembali berjalan meninggalkan kami kecuali Sam yang berada di belakangku, mereka memang kurang peduli dengan masalah wanita.


Setelah puas memeluk Shea selama beberapa menit akhirnya Noel perlahan melepaskan pelukannya dengan mata berkaca-kaca, memang sangat sulit untuk berpisah dengan Shea padahal kami baru saja bertemu hari ini, tapi Shea sudah menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi kami dan karena itulah sangat sulit untuk meninggalkannya.


"Sampai jumpa lagi Shea" ucap Noel seraya memegang tangan Shea.


"Ya sampai jumpa lagi... oh! ambil ini, walaupun hanya seutas pita, tapi itu hadiah persahabatan kita" sahut Shea sembari memberikan pita di tangannya pada Noel.


"Apa hanya untuk Noel?" tanyaku padanya.


"Ehehehe sayangnya aku hanya punya itu" jawabnya padaku.


"Hiks lupakan saja" ucapku sambil berbalik ke arah Sam.


"M-maaf ya Toki."


"Jangan seperti anak-anak Toki, itu hanya seutas benang pita" ujar Sam padaku.


"Tapi, tapi aku juga mau itu" sahutku padanya.


"Kalian bisa membaginya, lagipula pita itu cukup panjang" sahut Shea padaku.


Sesaat sebelum kami pergi Shea melepaskan gelang pitanya lalu memberikan pita itu pada Noel, dan tentu saja aku iri dengan Noel karena aku tidak diberi apa-apa oleh Shea padahal aku sangat mengharapkan itu, keberuntunganku sangat kecil untuk mendapatkan hadiah kenang-kenangan, aku menempelkan dahiku ke pundak Sam yang masih berada di dekatku sebelum akhirnya Shea memberi saran agar membagi pita itu, walaupun itu hanya sebuah benang, tapi bagiku itu sangatlah berharga karena aku tidak tau kapan kami akan bertemu lagi dengan Shea.


...*****...


"Sekali lagi, sampai berjumpa lagi Shea, Blue... bye bye" ucap Noel melambaikan tangannya dengan ekspresi yang lebih ceria.


Groah...


"Kau tidak takut lagi dengannya?" tanyaku keheranan dengan Noel.


"Seperti aku sudah cukup terbiasa dengan Blue" sahutnya sambil tersenyum.


"Begitu ya hehehe."


Melambaikan tangannya dengan lebih ceria dari sebelumnya aku sangat terkejut saat mendengar Noel yang mengucapkan salam perpisahan pada naga bumi Shea, bahkan Shea yang juga melambai-lambaikan tangannya ke arah kami terlihat kaget dan heran dengan perubahan Noel, tapi aku senang melihat itu karena akhirnya Noel bisa mengatasi rasa takutnya.


Berhati-hatilah...


"Eh! apa... itu...?" ucapku terkejut sambil berhenti berjalan.


"Ada apa Toki?" tanya Noel padaku.


"Apa ada sesuatu?" ucap Sam ikut bertanya padaku.


"Tidak, aku hanya seperti mendengar sesuatu... eh! di mana Shea? dia menghilang!" jawabku sambil menoleh ke belakang.


"Mungkin saja dia sudah pergi" ucap Sam dengan tenang.


Y-ya Shea memang cepat.


"Baiklah Toki, aku akan berjalan lebih dulu" ucap Noel seraya berlari meninggalkanku bersama Sam.


Berjalan cukup jauh meninggalkan Shea yang berdiri tegak di belakang kami, tiba-tiba saja angin berhembus melewati telingaku dan aku sangat kaget karena sekilas aku mendengar suara Shea dari hembusan angin itu, tentunya Sam dan juga Noel terlihat heran karena melihatku seperti orang yang kebingungan, apalagi saat aku menoleh ke belakang yang ternyata Shea telah menghilang dari tempatnya berdiri sebelumnya, bahkan naga buminya juga ikut menghilang dan itu membuatku sangat terkejut, tapi berbeda denganku Sam dan Noel tampak biasa-biasa saja dan tetap berpikir positif, mungkin karena suara hembusan angin itu konsentrasiku sedikit terganggu padahal aku tau Shea penuh dengan kejutan.


"Sam" panggilku sambil berjalan.


"Ada apa?" jawabnya sembari bertanya.


"Apa kau mau mencoba memiliki anak?" tanya padanya.


"Hm... apa akhirnya kau mau berpikir tentang itu?" sahut Sam padaku sembari bertanya.


"Ya... lagipula setelah misi ini kita sudah tidak terlalu sibuk lagikan, kurasa kita bisa memulainya setelah pulang nanti."


"Aku mengharapkan itu selama beberapa tahun terakhir" ucapnya sambil tersenyum menatapku.


"Maaf untuk itu."


...❄️❄️❄️❄️❄️...

__ADS_1


__ADS_2