
"Hiks… maafkan aku… hiks… aku tidak bisa melindungi kalian, maafkan aku…"
Terpuruk melihat teman-temanku yang jatuh sekarat karena diserang oleh minotaur aku hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa untuk mereka, mereka telah kuanggap sebagai keluargaku sendiri dan aku sangat menyayangi mereka, tapi aku malah tidak bisa melakukan sesuatu untuk melindungi mereka, aku lemah, aku pengecut, aku hanya orang yang berpura-pura menjadi kuat padahal aku aku sendiri tidak berani menghadapi rasa takutku.
"Hiks hiks… kenapa kejadian ini harus terulang lagi? tidak, aku tidak ingin lagi hiks…"
Tap Tap Tap…
"Hiks hiks… bisakah kau membunuhku? aku ingin ikut bersama mereka, kumohon bunuhlah aku" ucapku pada gadis putih itu.
"Eh! tenanglah kak, teman-temanmu baik-baik saja loh… aku sudah mengobati mereka, tapi mungkin perlu waktu agar mereka bisa sadar, ja-jadi bisa jauhkan kata 'membunuh' untuk/" sahutnya mendekatiku sambil mengelus punggungku.
"Benarkah? Kau tidak bercandakan? mereka baik-baik saja?"
Menangis sesenggukan meratapi kelemahanku yang tidak mampu melindungi keluargaku untuk yang kedua kalinya, aku terus teringat pada kematian ayah dan ibuku yang terjadi beberapa tahun lalu sebelum akhirnya aku dipertemukan dengan teman-temanku saat ini, aku takut benar-benar sangat takut jika mereka semua akan mengalami hal sama dan pergi meninggalkanku, mendengar suara langkah kaki berjalan mendekatiku aku kemudian mengangkat wajahku menatap ke arah sosok gadis putih bersayap itu lalu memintanya untuk membunuhku karena aku sudah tidak ingin lagi terpisah dari keluargaku.
Tapi, gadis putih itu terlihat enggan untuk melakukannya dan memang permintaanku itu adalah permintaan yang bodoh, dan dengan perlahan dia kemudian mendekatiku lalu mengelus punggungku memintaku untuk tetap tenang, gadis itu juga bilang bahwa dia telah mengobati teman-temanku dan aku sangat senang saat mendengar itu tanpa mempedulikan siapa dia sebenarnya, bahkan aku sangat berharap bahwa ucapan itu benar adanya dan bukan sekedar kalimat penghibur.
"Ya seperti itulah, bagaimana kalau sebaiknya kita kumpulkan mereka di sini" jawabnya sembari memberi saran.
"Baik!"
"Yosh! kalau begitu ayo kita mulai, kau juga naga tolong bantu kami ya" ucapnya tersenyum menatap ke arahku dan juga naga besar di sampingnya.
Groah...
Menjawab pertanyaanku yang sangat berharap untuk kebenaran ucapannya, gadis itu kemudian memberi saran agar sebaiknya kami mengumpulkan teman-temanku karena saat ini mereka sedang terpisah-pisah akibat serangan minotaur sebelumnya, dia juga mengajak naganya untuk membantu mengangkat temanku yang masih pingsan dan dengan sedikit raungan kecil naga itu kemudian berbalik menuju ke arah Sam di seberang sungai.
...*****...
"Waaa!!! lepaskan lepaskan!!! fuh…"
"N-noel… a-anu bisa tolong lepaskan saja anak itu, biar aku saja yang menggendongnya" ucapku pada gadis putih itu.
"Hm… baiklah, permisi naga baik! bisa turunkan orang itu?"
__ADS_1
Groah…
"Dia pingsan lagi?" ucap gadis itu menatap Noel.
"Ya… dia memang sangat mudah terkejut" sahutku padanya sambil menggendong Noel.
"Ah… aku kagum dengan jantungnya" ucapnya padaku. ("•_•)
Memindahkan semua temanku ke tempat yang lebih aman dan nyaman di bawah pohon rindang, aku dan gadis itu mendatangi satu persatu temanku lalu dengan aba-aba dari gadis putih itu naga besar yang mengikuti kami langsung mengangkat tubuh temanku lalu memindahkannya ke bawah pohon yang sudah ditentukan, dan tak seberapa lama kemudian semua orang sudah dipindahkan kecuali Noel yang berada agak jauh, akan tetapi saat monster naga itu mengangkatnya dengan menggigit baju belakangnya Noel tiba-tiba tersadar dan berteriak keras saat melihat dirinya yang diangkat oleh rahang naga yang penuh dengan taring tajam, dia kemudian kembali pingsan setelah sempat meronta-ronta ingin turun.
"Hahh… sisanya tinggal menunggu mereka sadar" ucap gadis itu sembari duduk bersandar di batang pohon sambil menghela napas lega.
"Boleh aku tanya sesuatu?" ucapku bertanya padanya.
"Ya tentu, ada apa?" sahutnya sambil tersenyum.
"Siapa namamu/"
"Woa!! kau serius bertanya?! kau ingin tau namaku?! sangat ingin?! kamu benar-benar menanyakan itu padaku?!" tanyanya padaku sambil mencondongkan wajahnya ke arahku.
"I-iya kupikir itu terdengar sangat jelas."
"Memang kenapa dengan pertanyaanku itu?" tanyaku lagi.
"Ya aku senang sangat senang, karena kamu orang pertama yang berani menanyakan itu tanpa harus lari atau takut, beberapa hari lalu aku bertemu dengan beberapa orang mereka sangat takut ketika melihatku, ekspresi wajah mereka sangat tidak menginginkan aku ada di hadapan mereka… yah… jangankan untuk sekedar bertanya mereka mungkin akan memikirkan cara terbaik untuk lari saat aku tidak menatap mereka" jawabnya sambil tersenyum tipis menatap ke arah langit.
"Kurasa itu reaksi yang wajar, kau sangat menakutkan."
"Eeghh!! hiks… kupikir aku sudah sangat imut."
"Maksudku bukan fisikmu, untuk masalah itu tidak perlu diragukan lagi kau memang cantik."
Groah...
Selesai memindahkan semua temanku kami kemudian duduk bersandar di dua batang pohon yang bersebelahan, dia duduk bersandar dengan naga yang melingkarinya sedangkan aku hanya di lingkari oleh teman-temanku yang sedang pingsan, menatapnya dengan penasaran aku kemudian melontarkan beberapa pertanyaan padanya termasuk juga tentang namanya, dan cukup mengejutkan bagiku dia terlihat sangat senang ketika aku menanyakan hal itu, dia bahkan sampai beranjak dari tempat duduknya sembari mendekatkan wajahnya padaku dengan wajah dan mata yang berseri-seri.
__ADS_1
Dan setelah aku menjawab pertanyaan dadakannya dia kemudian berteriak dengan senang sebelum akhirnya menghela napas lalu tertawa kecil sembari kembali duduk tenang bersandar di pohonnya sambil mengelus-elus kepala naga yang condong ke arahnya, itu cukup membingungkan bagiku karena itu hanyalah sebuah pertanyaan sederhana, tapi dia begitu senang ketika mendengarnya, akan tetapi satu hal membuatku merasa semakin kebingungan adalah caranya menatap langit, perlahan dengan pasti dia mulai berbicara dan bercerita tentang kehidupannya dan reaksi orang-orang ketika menatapnya.
Berbeda dengan pandanganku sebelumnya dia terlihat cukup rapuh ketika sedang bercerita tentang kehidupannya, bahkan aku yang awalnya tidak begitu percaya dengannya bisa mulai mempercayainya karena aku merasa dapat merasakan apa dia rasakan saat itu, begitupun juga dengan naga disampingnya yang terlihat ikut merasakan kesedihannya, naga itu beberapa kali menyenggol kepalanya sambil mengeluarkan napanya dengan pelan seolah ingin menghibur gadis itu, tapi mengingat auranya yang besar aku yakin reaksi orang-orang yang bertemu dengannya itu sangatlah wajar sama saat pertama aku menatapnya, tapi mungkin dia sendiri tidak sadar dengan kekuatannya yang besar itu.
"Ekh! tubuhku terasa remuk, seperti baru saja dipukuli" ucap Sam mulai sadar.
"Ekhh! aku juga!" sahut Jaz di sampingnya.
"Syukurlah kalian sudah sadar" kataku pada mereka.
"Ya…! walaupun rasa pukulan itu masih sangat terbayang-bayang di pikiranku dan membuatku tidak ingin bergerak" sahut Kroz masih berbaring.
"Bilang saja sakit pinggangmu sedang kambuh" ucap Sam padanya.
…
"Noel? kau juga sudah sadarkan? napasmu terasa menggelikan"
"Menyeramkan! aku tidak ingin melihatnya, tolong jauhkan dia dariku!" sahut Noel sembari mendekapkan wajahnya di perutku.
"Tenanglah dia tidak akan menerkammu" ucapku padanya.
Ditengah pembicaraan kami satu persatu temanku mulai sadar dimulai dari Sam yang mengeluhkan tentang kondisi tubuhnya diikuti oleh Jaz dan Kroz yang masih berbaring di tanah, dan setelahnya aku merasakan ada sesuatu yang menggelitik di perutku yang tidak lain adalah napas Noel yang sebelumnya aku baringkan di pangkuanku, dia juga sudah sadar dari pingsannya meski begitu ia tatap tidak ingin bersuara dan memilih untuk tetap mendekapkan wajahnya di perutku karena takut dengan monster naga yang berada di depanku.
"Gadis itu!!" ujar Kroz menatap gadis putih itu.
"Tenang saja dia tidak berbahaya" ucapku pada mereka.
"Halo hehe" sapa gadis itu sembari tersenyum.
Groah...
"Oh ya aku belum tau namamu?" tanyaku padanya.
"Owh! benar! hehe maaf aku lupa, baiklah kalau begitu salam kenal namaku Shea, jadi panggil aja aku Shea" ucapnya memperkenalkan diri seraya tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah Shea, perkenalkan aku Toki, dia adalah Sam, Kroz, Jaz, Nath, dan yang masih pingsan di sana adalah Kaov, sedangkan untuk anak penakut ini adalah Noel" ucapku memperkenalkan diri sambil juga memperkenalkan teman-temanku.
...❄️❄️❄️❄️❄️...