
"Sira."
"Ada apa nona?" sahut Sira.
"Apa kau bisa mendekat?" pintaku.
"U-untuk a-apa nona?"
Tidak akan kubiarkan ada yang melihat kejadian memalukan itu.^_^
"A-A-anu nona s-saya ingin pergi sebentar permisi."
"Tenang saja Sira, ini tidak akan sakit hanya sebentar saja, aku hanya ingin mengambil sedikit ingatanmu, rasanya tidak akan sakit, jadilah kucing yang baik ya." Ucapku sambil tersenyum.
Sira sempat berasalan ingin pergi, tapi aku menahan pergerakannya dengan memegang pundaknya jadi dia tidak akan bisa kabur dariku.
Maaf saja Sira, ini demi kebaikan bersama terutama demi diriku sendiri, kejadian itu tidak boleh diingat oleh siapapun. ^_^
Aku menusuk Sira dengan jarum kecil yang sudah kulapisi racun, tapi itu bukan racun yang mematikan, racun itu hanya seperti sebuah obat bius saja, jarum itu akan langsung meleleh layaknya es jadi tidak ada bekas sama sekali dari tusukan itu.
Aku mendapatkannya dari naga dan kalajengking yang kumakan, setiap kali aku menyiapkan makanan dari daging naga dan kalajengking aku selalu membersihkan racunnya terlebih dahulu karena khawatir Sira tidak bisa memakannya.
Bisa dibilang selama aku membersihkannya aku juga mempelajarinya agar bisa menggunakannya dalam bentuk sihir, walau aku tidak yakin bisa melakukan itu, tapi setelah dengan beberapa kegagalan aku akhirnya bisa melakukan itu.
Aku menggunakan sedikit darahku untuk membuat racun itu dengan begitu aku bisa mengontrol seberbahaya apa racun yang kugunakan, darahku adalah salah satu perlindungan alami yang kumiliki.
Secara alami itu memang mengandung racun karena aku masih bagian dari ras monster naga, tapi karena aku bisa mengendalikannya jadi itu tidak seberbahaya racun pada darah naga lainnya, bisa dibilang aku bisa menghilangkan racun itu dari darahku dan juga bisa membuatnya lagi.
"Apa aku bisa melakukannya? hm... aku tidak akan tau jika tidak mencobanya yang perlu aku lakukan hanyalah fokus pada ingatan Sira."
"Huhh... fokus."
Aku menarik nafasku dalam-dalam untuk mendapatkan konsentrasi penuh agar bisa menjelajahi isi ingatan Sira.
...
"A-aku berhasil?! tidak aku harus fokus jangan sampai konsentrasiku pecah."
Ini adalah pertama kalinya aku melakukan ini bisa dibilang Sira adalah kelinci percobaan untuk mengujinya, aku terlihat kejam bukan? yah mungkin begitu, tapi aku menganggapnya seperti itu karena aku tidak bisa menemukan pengibaratan yang sesuai dengan yang kulakukan saat ini.
Fokus, ingatan itu laksana taman yang berbunga, setiap bunganya adalah sebuah ingatan yang terjadi dalam kehidupan, kuncup yang baru muncul adalah ingatan yang akan terbentuk...
Entah hanya sebuah kebetulan atau sekedar keberuntungan aku berhasil masuk ke dalam isi ingatan Sira dan melihat berbagai ingatan di dalamnya.
Fokus... abaikan yang lain dan cari kejadian itu, kejadian memalukan yang tidak boleh dilihat dan diingat oleh orang-orang, aku harus benar-benar menghapusnya...
Ingatan yang terlupakan hanya seperti bunga yang tertutup yang akan mekar kembali setelah ada rangsangan dari lingkungan kehidupan, aku harus mencarinya dan memetiknya.
"Indahnya taman ini, tidak aku harus fokus."
Konsentrasiku hampir saja terganggu dengan pemandangan taman bunga ini, tapi aku berhasil mengembalikannya dan kembali fokus dengan tujuan utamaku.
"Ini dia... ingatan yang kucari, i-ini benar-benar memalukan, tidak boleh ada satu orang pun yang melihatku seperti itu, tidak satupun." Ucapku sambil melihat ke dalam bunga ingatan yang kupengang.
Setelah cukup lama menjelajahi ingatan Sira akhirnya aku berhasil menemukan bunga ingatan itu, aku melihat bagaimana Sira melihatku waktu itu, benar-benar memalukan lebih dari yang aku bayangkan.
Walaupun ingatan itu hanya sebentar tetap saja itu memalukan, aku merangkak keluar dari telur tanpa pakaian sedikitpun, aku tidak bisa membayangkan rasa maluku sendiri, itu tidak pantas untuk dilihat.
"Waktunya memetik bunga ini agar tidak ada yang mengingatkannya."
Aku mengangkat bunga itu dengan kedua tanganku, bunga itu mengambang di antara kedua telapak tanganku, aku kemudian memasukkan bunga ingatan itu ke dalam diriku agar hanya aku yang bisa mengingatnya.
__ADS_1
"Sekarang waktunya keluar dari sini."
Setelah mendapatkan ingatan itu aku langsung pergi keluar dari pikiran Sira, tapi sebelum pergi aku juga menghapus ingatan Sira tentang aku yang ingin mengambil ingatannya.
...
"ChikChikChik... maaf ya Sira." Ucapku sambil menahan tawa.
"Yahh... sisanya tinggal menunggu Sira bangun."
.
.
"Hm... kira-kira sebesar apa kekuatanku saat ini? rasanya ada banyak hal yang berbeda dari dariku yang sekarang." Ucapku sambil menatap ke telapak tanganku.
[ Nilai ]
Sepertinya memang benar, dari segi kekuatan sihir dan juga kekuatan fisik semuanya bertambah besar melebihi diriku yang dulu.
"Yahh... ini bagus hehehe."
"Tubuhku juga... tak kusangka aku akan mendapatkan tubuh manusiaku lagi, walaupun ada beberapa bagian tubuh naga yang menempel, tapi tidak masalah, aku bisa bergerak lebih leluasa dengan tubuh ini hehe."
Aku berbaring di atas kristal es sambil memikirkan kembali tentang apa yang terjadi padaku, aku sangat senang bisa mendapatkan tubuh manusia walaupun wajahku saat ini mengingatkanku tentang masa lalu, tapi aku benar-benar bersyukur dengan ini.
Aku bisa melakukan banyak hal dengan tubuh ini tanpa ada batasan yang menghalangiku lagi, dulu karena aku memiliki tubuh yang besar aku tidak bisa melewati jalanan Labirin dengan bebas dan harus memutar untuk mencari jalan yang muat dengan perawakan nagaku.
.
.
.
"Owh! Sira kau sudah bangun."
Beberapa saat setelah aku keluar dari ingatannya Sira kemudian bangun dan mulai duduk untuk mendapatkan kesadarannya kembali, sedikit pusing dan sakit kepala itu mungkin efek samping saat aku mengambil dan menghapus ingatan dari kepalanya, itu bukan masalah yang perlu dikhawatirkan.
"A-apa yang terjadi nona?" tanyanya padaku.
"Hm... tidak ada apa-apa."
Yah... tidak mungkin aku bilang itu, hehehe maaf ya ^_^
"Apa kepalamu masih sakit?" tanyaku pada Sira.
"I-iya sedikit."
"Oh... biar kubantu."
Aku kemudian mengobati Sira dengan sihir penyembuhan untuk menghilangkan efek dari penghapusan ingatan dan juga dari racun yang sebelumnya kugunakan untuk membiusnya.
"Apa sudah jauh lebih baik?"
"Y-ya terima kasih nona."
Aku tidak bisa terus berkeliaran dengan menggunakan jubah ini, huhh... kuharap bisa menemukan yang lebih layak di atas sana.
"Yahh... syukurlah kalau begitu, ayo kita pergi dari sini."
"Baik nona." Sahut Sira
__ADS_1
Setelah selesai mengobati Sira aku kemudian mengajaknya melanjutkan perjalanan untuk pergi ke lantai atas, aku benar-benar berhenti untuk pergi ke lantai bawah apalagi dengan semua kejadian ini aku tidak ingin berlama-lama menggunakan jubah usang itu.
.
.
.
"Sira apa kau bisa berjalan sedikit lebih lambat."
"Y-yahh... tentu nona."
Aku sedikit kewalahan mengikuti langkah kaki Sira, dulu Sira yang kewalahan mengikutiku, tapi sekarang aku yang kesulitan untuk mengikutinya, langkah kakiku benar-benar sangat kecil sangat berbeda dari yang dulu.
Huhh... kalau begini terus akan sangat lama untuk sampai di atas, hm... mungkin jika aku berlari akan lebih cepat sampai, tapi bagaimana dengan Sira? aa...mm...hm... owh! benar juga! tapi, tunggu dulu... apa Sira bisa melakukannya?
"Sira."
"A-ada apa nona?" tanya Sira terkejut.
"Apa kau bisa mengubah tubuhmu sedikit lebih kecil?"
"Kecil?" ucapnya kebingungan.
"Yahh... seukuran seperti kucing atau anak anjing."
(•_•)
"Bagaimana Sira apa kau bisa?" tanyaku sekali lagi.
"Y-ya... akan saya coba."
Sira kemudian menarik nafasnya lalu melompat dan berguling di udara melakukan sihir perubahan pada tubuhnya dan tidak kusangka Sira ternyata bisa melakukannya.
"Waahhhh... imutnya." >_<
"A-apa begini sudah cukup nona?"
"Ya... seperti itu."
Setelah berubah menjadi kecil ternyata Sira semakin terlihat seperti boneka bulu yang lembut dan imut, aku benar-benar tidak menyangka wajah harimaunya akan berubah seimut itu.
"N-nona tunggu nona."
"Hehe... maaf ya, soalnya kau terlihat imut."
Karena perubahan Sira itu aku tidak sengaja mengangkatnya dan memutar-mutar tubuhnya karena saking imutnya perawakannya yang sekarang hehehe.
"Baiklah kalau begitu, kau diam di atas sini ya."
Aku kemudian meletakkan Sira di atas kepalaku diantara keduanya tandukku, tubuhnya yang hanya gumpalan bulu itu berpegang pada kedua tandukku, aku seperti sedang memakai topi bulu saat Sira ada di sana.
"N-nona, saya bisa jalan sendiri." Ucap Sira sembari ingin turun.
"Tak boleh! tetaplah di sana karena kita tidak akan berjalan, bersiaplah Sira."
"Eh! nona tunggu... aaa!!!"
...~•~...
__ADS_1
Maaf tidak ada yang Hd 😂
Jangan lupa untuk memberikan dukungan dan tunggu terus up terbarunya, sampai jumpa di chapter berikutnya. 🌹