
"Terima kasih makanannya."
.
.
"Hahh... setelah memakan cukup banyak ternyata ada sedikit rasa manis di ujung gigitannya... walaupun rasa pahitnya lebih dominan terasa di mulutku." Ucapku sambil menatap ke atas.
Setelah dengan penuh perjuangan aku akhirnya berhasil menghabiskan semua apel pahit itu, walaupun setiap gigitannya hampir membuatku meneteskan air mata karena saking pahitnya rasa apel itu, tapi di saat-saat terakhir aku merasakan ada sedikit rasa manis yang muncul saat aku mengunyah dan menelannya.
"Huhh... rasa pahitnya masih belum hilang sebaiknya aku minum dulu." Ucapku sambil berjalan ke arah danau.
.
.
Pluk Pluk Pluk
"Hm... aku rasa tidak perlu khawatir dengan ini, airnya sangat jernih dan bersih." Ucapku sambil menepuk air danau itu.
"Air danau ini sangat dingin... tampaknya air ini berasal dari pegunungan di depan sana." Ucapku sambil menatap ke arah pegunungan yang ada di depanku.
Karena sudah tidak tahan dengan rasa pahit di mulutku aku kemudian perlahan mendekati danau untuk minum agar bisa menghilangkan rasa pahit itu, dengan perlahan aku menepuk-nepuk air danau itu untuk memastikan tidak ada debu atau hal lainnya yang ada di atas air itu agar tidak ikut terminum olehku.
"Ahhh... airnya sangat menyegarkan." Ucapku sambil dengan meminum air danau itu.
Saat aku menyentuh airnya dengan kedua tanganku rasanya begitu dingin dan menyegarkan, aku kemudian menyisipkan rambutku ke telinga agar tidak menggangu saat aku mengambil air, aku mencelupkan tanganku ke air danau lalu mengambilnya dan kemudian perlahan-lahan meminumnya.
Rasa pahit yang ada di mulutku perlahan-lahan menghilang setiap kali aku minum sampai akhirnya aku benar-benar tidak merasakannya lagi dan sekarang yang kurasakan adalah sensasi pegunungan yang sejuk dan menyegarkan yang masuk ke dalam mulut dan tenggorokanku.
"Ugh...! panas... kulitku terasa seperti terbakar... sebaiknya aku kembali ke bawah pohon."
...
"Matahari benar-benar bersinar terang hari ini." Ucapku sambil kembali duduk di bawah pohon.
Karena harinya sangat panas aku kemudian kembali berteduh di bawah pohon untuk menghindari sinar matahari yang terasa sangat panas dan membakar, walaupun hanya sedikit bagian tubuhku yang terkena sinar matahari itu.
"Hari ini cukup panas, tapi... danau dan rerumputan itu terlihat berkilauan... ahhh... ini pemandangan yang menakjubkan." Ucapku mengangkat kedua tanganku.
"Hm... sepertinya sudah kembali normal." Ucapku sambil menatap tangan dan kakiku.
Bukan hanya tanganku yang terasa terbakar tapi bahu dan juga kakiku serta bagian-bagian lainnya yang tidak tertutup baju dan terkena sinar matahari, beberapa tampak memerah dan sedikit perih, tapi itu semua langsung menghilang saat aku duduk berteduh di bawah pohon dan mungkin karena ada efek dari regenerasi yang kumiliki.
Terkadang memiliki kemampuan pemulihan yang cepat itu sangat menguntungkan terutama jika kau bisa mengendalikannya, secara otomatis aku dapat menyembuhkan lukaku dengan mudah, setiap luka yang terbentuk akan langsung sembuh apalagi jika hanya sedikit rasa perih akan hilang dalam sekejap saja.
Meskipun aku memiliki kemampuan regenerasi yang cepat, tapi setiap kali kulitku tergores rasa sakit itu selalu tampak sangat jelas kurasakan sangat menyakitkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku... kenapa setiap aku terkena sinar matahari kulitku seakan terbakar... apa mungkin.../"
"NONA..." teriak Sira memanggilku.
"Owh! Sira sudah datang." Ucapku sambil menatap Sira.
...
"Aaaa!!"
"Ehh! ya ampun..." ucapku sambil menatap ke arah Sira.
.
.
.
__ADS_1
Brukkk
Sira tiba-tiba muncul dari semak-semak hutan dan memanggilku dengan keras dari kejauhan, aku hanya tersenyum kecil sambil sedikit melambaikan tanganku padanya untuk meresponnya, Sira kemudian berlari ke arahku melewati rerumputan dengan tubuh kecilnya itu, tapi di tengah jalan dia malah terjatuh dan menggelinding sampai ke depanku.
"Emmmhh... ekhhh... huhh... huhh... emmm...!"
"Kau tidak harus selalu menggunakan wujud itu Sira." Ucapku sambil membantu Sira berdiri.
Karena Sira tampak sangat kesulitan untuk berdiri jadi aku mengangkat tubuhnya lalu mendudukkannya di depanku, tubuh Sira terlihat bulat jadi wajar saja jika dia kesulitan saat ingin berdiri, seperti kumbang yang ingin berbalik hehehe.
"Hehehehe... terima kasih nona." Ucap Sira padaku.
"Saya masih perlu waktu untuk membiasakan ini, jadi saya rasa ini tidak masalah nona." Sambung Sira padaku.
"Yahh... kalau begitu terserah kau saja." Ucapku kembali duduk.
Setelah membantu Sira aku kembali duduk sambil menatap ke arah danau memandangi hutan dan pegunungan yang ada di seberangnya, deretan pegunungan itu benar-benar memanjakan mataku.
"Hahh... hari yang cerah ya Sira." Ucapku sambil menatap danau.
"Ya nona."
"Oh benar juga... ini makanan yang anda minta nona... maaf menunggu lama." Ucapnya membuka dimensi penyimpanan.
"Wah... terima kasih Sira."
Hiks... tapi perutku sudah kenyang... seharusnya aku sedikit bersabar.
Di depanku saat ini ada tiga kotak penuh berisi makanan seperti buah, roti ,dan juga mungkin susu jika dilihat dari warnanya yang putih dari balik botol kaca yang bening itu, semua makanan itu memang terlihat sangat enak, tapi saat ini perutku benar-benar sudah penuh dengan buah pahit itu dan tidak bisa makan lagi untuk beberapa jam ke depan.
Nasipku benar-benar malang dan kurang beruntung, aku bahkan sudah tidak selera untuk makan padahal ada banyak makanan enak dan manis di hadapanku.
Hiks... ini menyebalkan... tapi, tenang saja masih ada banyak waktu untuk menikmatinya.
"Y-ya aku baik-baik saja, memangnya kenapa Sira?" jawabku sembari bertanya.
"Y-yahh saya rasa anda sedikit berbeda..."
Citt Citt Citt
"Waaaa!!!"
Saat aku bicara dengan Sira tiba-tiba seekor tupai bertanduk muncul dari balik tubuh Sira dan sontak saja itu membuatku sangat kaget, apalagi aku sedang tidak bersahabat dengan jenis monster yang satu ini.
"Eh... kenapa kau ada di sini?" ujar Sira menoleh ke belakang.
"Dari baunya tidak salah lagi." Ucapku pelan menatap monster kecil di belakang Sira.
"Itu... itu... itu..." ucapku sambil mengepalkan tanganku.
"A-ada a-apa nona?"
Penciumanku cukup tajam untuk mengetahui monster yang satu ini, apalagi kalau tupai kecil itu adalah monster yang mengambil apelku sebelumnya, dia monster yang menyebalkan monster kecil yang telah mencuri makananku dan membuatku harus memakan buah pahit itu.
"Itu... itu monster kecil yang mencuri makananku."
"T-tenanglah nona... i-ini d-dia... woy!! ini bukan waktunya pura-pura mati."
Teruslah diam di sana Sira... agar monster kecil itu tidak lari ke mana-mana... hehehehe...
"Kau tidak bisa lari..."
"Waa!!"
"Hupp... dapat... kau tidak bisa lari lagi, duhh... kenapa monster imut sepertimu suka sekali mencuri?"
__ADS_1
Setelah sedikit mengendap-endap mendekati monster itu aku akhirnya berhasil menangkapnya dan memegang erat ekornya sambil mengayunkan dan menyentuh-nyentuh kepala kecilnya itu dengan keheranan dan juga sedikit menceramahinya hehehe.
Aku tidak terlalu mempermasalahkan soal apelku yang diambil walaupun aku kesal dengan itu, karena jika iya aku pasti sudah membunuhnya bahkan sebelum dia menyentuh buah apelku, tapi aku tidak melakukannya karena dia monster yang imut hehehe.
"Hm... hey Sira apa yang kau lakukan?" ucapku sambil menatap Sira.
"Eh! aku masih hidup."
"Apa yang kau katakan Sira, tentu saja kau masih hidup." Ujarku agak kebingungan.
Tingkah Sira saat ini membuatku sedikit bingung entah apa yang dilakukannya dia tampak memegang kepalanya sambil menutup mata dan telinganya, tapi dia terlihat imut seperti itu, seperti gumpalan bulu kapas yang tersangkut di rerumputan.
"Huhh selamat..." ucapnya pelan sambil berbaring dengan lega.
Hm... aku bisa dengar itu, kau aneh...
Sira kemudian merentangkan tangan dan kakinya sambil berbaring lega di atas rumput, Sira terlihat seperti orang yang baru saja selamat dari kematian, tingkah lakunya terlihat sangat aneh, tapi sekali lagi dia kelihatan imut seperti itu hehe.
"Hmmm"
Apa aku terlalu kasar saat menangkapnya?
Toing Toing
B-bagaimana ini?!
Sambil mendorong-dorong tubuh monster itu dengan jariku aku berusaha membangunkannya karena dari tadi monster kecil itu hanya diam dan tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali, itu membuatku sedikit khawatir karena mungkin aku terlalu kencang saat menggenggamnya
"A-anu... Sira dia masih hidupkan?" ucapku sambil meletakkan tupai itu di rerumputan.
"Sepertinya tidak nona... mungkin dia hanya pura-pura mati untuk menghindari bahaya." Jawab Sira padaku.
Aku kemudian meletakkan tubuh tupai itu di atas rerumputan masih sambil mendorong-dorong tubuhnya agar dia bangun, tapi dia sama sekali tidak bergerak dan itu membuatku semakin khawatir walaupun dia monster yang meresahkan tapi tetap saja aku tidak tega dengan itu.
"Tapi dia tidak bergerak."
"Y-yahh saya bisa melihat itu nona."
Aku kembali memegang tubuh kecil tupai itu lalu memperlihatkannya pada Sira dengan kekhawatiran yang cukup tinggi dan setelah dipikir-pikir itu mungkin sedikit berlebihan, tapi mau bagaimana lagi memang seperti itulah kekhawatiranku padanya.
"S-sebaiknya anda letakkan dulu tupai kecil itu nona."
.
.
Citt Citt Citt
Aku hanya mengangguk-angguk sambil kembali meletakkan tubuh tupai itu di atas rumput dengan terus memperhatikannya dan setelah beberapa menit kemudian tupai itu kemudian bagun dan berdiri kembali.
"Wahh!!! dia bangun!! hahaha." Ucapku dengan tertawa lega.
"Ehhh!! kenapa?!!"
Aku sangat senang ketika monster kecil itu kembali bangun dan spontan ingin memeluknya, tapi dia malah melompat ke belakang Sira dan bersembunyi di sana tidak mau keluar.
"Hey menyingkirlah dari belakangku... woy!" ucap Sira sambil menarik-narik ekor tupai itu.
"Pus pus... ke marilah tupai manis... ini untukmu." Panggilku sambil memberikan satu buah padanya.
"Dia bukan kucing nona." ("•_• )
...~•~...
...Mohon maaf seperti ini dulu, authornya ketiduran lupa nge up😅...
__ADS_1