
Hari ini aku bangun lebih cepat dari biasanya, bagaimana bisa? ya... itu karena aku mendengar suara getaran tanah dan hentakan kaki yang besar, suara itu benar-benar mengagetkanku sampai-sampai aku terbangun dari tidurku, matahari bahkan masih belum terbit.
"Apa itu?!" ucapku sambil membuka mata dengan paksa berusaha melihat area sekitarku.
"Tuan!! eh! ada apa dengannya?!"
"Tuan apa anda baik-baik saja?! tuan!" panggilku dengan khawatir.
Tuan berguling ke sana-kemari dan sesekali terlihat menggeliat menggerakkan tubuhnya yang besar, aku terus memanggilnya dengan khawatir tapi tidak ada jawaban sama sekali, itu membuatku semakin takut dan khawatir dengan keadaannya.
.
.
.
Ah itu sebabnya, kenapa aku tidak menyadari itu, ini hal yang biasa terjadi pada naga.
Tak lama kemudian aku melihat ada retakan pada sisiknya dan perlahan mulai terkelupas,
tuan sedang berganti kulit itu hal yang sering terjadi pada naga dan sejenisnya, aku sering melihat itu.
"Syukurlah kalau begitu, kupikir ini ada hubungannya dengan orang itu, tapi ternyata tidak."
"Yahhh... sebaiknya aku mencari sarapan pagi agar tidak menyusahkan tuan."
Aku kemudian pergi meninggalkan tuan untuk mencari makanan, aku tidak ingin merepotkannya lagi itu membuatku tidak enak dengannya.
Aku tidak ingin meninggalkan tuan terlalu jauh jadi aku hanya berjalan menyusuri pinggiran hutan saja untuk menemukan mangsa, tidak lama kemudian aku melihat seekor monster Salamander kecil di balik pohon, perlahan aku mengintainya dan mengendap-endap mendekatinya, setelah mendapatkan posisi yang tepat aku kemudian menerkamnya dengan cepat, seketika monster itu mati karena taring-taringku yang menembus lehernya.
"Mangsa yang mudah." Ucapku sambil mematahkan lehernya agar dia benar-benar mati.
Dengan cepat aku melahapnya tanpa sisa sedikitpun, jika dibandingkan dengan makanan yang diberikan tuan ini memang lebih kecil tapi sesuai dengan porsi makanku, makan yang berlebihan juga tidak baik untukmu, kau akan malas untuk bergerak.
Selesai dengan makananku aku kemudian kembali ke tempat tuan, dia tampaknya sudah selesai berganti kulit, sisik tuan bersinar terang bagaikan tumpukan berlian saat terkena cahaya pagi.
Eh...! tuan tidur lagi?! biarlah mungkin dia masih mengantuk.
"Pagi yang indah." Ucapku sambil duduk memandangi matahari terbit.
"Selamat pagi." Ucap tuan.
"Selamat pagi, tuan." Sahutku
Cukup lama aku duduk menikmati pagi yang tenang tuan akhirnya bangun dari tidurnya dan menyapaku seperti biasanya, mendengar sapaannya aku pun ikut mengucapkan selamat pagi padanya, tapi dia terlihat kaget melihat sekitarnya terutama kulitnya itu.
Ada apa dengan tuan? dia tampak terkejut.
Perlahan tuan mulai menatap ke arahku sadar dengan tatapannya itu aku bertanya padanya, tuan kemudian mengungkapkan hal yang membuatnya kebingungan dan bertanya padaku tentang kulit yang ada di sampingnya itu.
Kenapa dia menanyakan itu? bagaimana bisa tuan tidak sadar dengan itu, bukankah seharusnya dia melepaskan kulitnya dengan sadar.
Keadaan ini membuatku bingung dia yang bertanya-tanya tapi malah aku yang kebingungan, padahal saat tuan melepaskan kulit dia tampak sudah terbangun dari tidurnya, dia berguling dan meraung-raung sambil sesekali menggaruk-garuk tubuhnya untuk melepaskan kulitnya itu, jadi bagaimana mungkin dia tidak sadar.
Perlahan aku menjelaskan pada tuan tentang kulit itu dan juga bagaimana cara dia melepaskannya, tapi tampaknya tuan masih sedikit bingung dengan itu bukan hanya dia, tapi juga aku, jujur saja aku masih bingung dengan keadaan tuan, dirinya dipenuhi dengan misteri yang sulit untuk dipahami.
Dia kemudian menyiapkan makanan dan meletakkan sepotong daging di depanku, tapi aku menolaknya karena aku sudah makan, tuan lalu menarik lagi makanan itu dan langsung memakan semuanya, tak perlu waktu lama baginya untuk menghabiskan semua makanan itu, tumpukan daging itu hanya terlihat seperti porsi kecil baginya.
"Naiklah Sira." Ujar tuan padaku.
__ADS_1
Ah sial... Padahal aku sedang tidak ingin mendengar kalimat itu.
Ini mengerikan jika saja itu bukan tuan yang memintaku aku pasti akan menolaknya mentah-mentah.
Tuan sepertinya sedang ingin berburu makanan jadi dia memintaku untuk naik ke atas panggungnya agar aku tidak tertinggal jauh dan tidak kesusahan saat mengejarnya, aku lebih suka duduk di dekat tanduknya itu tempat yang sempurna untuk berpegangan.
"T-tuan k-kalau bisa jangan terlalu tinggi, hehehe." Pintaku padanya.
"Tenang saja aku tidak akan terlalu tinggi."
Perlahan tuan mulai mengambil ancang-ancang lalu mengibaskan sayapnya dan menambah ketinggian terbangnya, ya ini tidak terlalu tinggi menurutnya yang berbadan besar sedangkan bagiku yang hanya terlihat seperti seekor tikus kecil jika dibandingkan dengannya, ini sangat menakutkan, bukannya aku takut dengan ketinggian tapi aku lebih suka menginjakkan kakiku di tanah daripada di udara.
"T-T-tuan bisa kita terbang sedikit lebih rendah?" Ucapku sedikit gemetar.
"Tenanglah Sira, sebentar lagi kita sampai." Sahutnya dengan tenang gembira.
Harimau tidak seharusnya ada di atas sini.
"Aku ingin tau apa jatuh dari atas sini bisa membuatku mati?" ucapku pelan sambil sesekali menatap ke bawah.
Tuan terlihat sangat senang dengan penerbangannya, tapi tidak denganku seperti biasa aku berpegangan dengan erat dan dengan mata tertutup.
Tak lama kemudian kami akhirnya sampai di tempat tujuan di pintu masuk labirin yang sebelumnya kami lewati untuk keluar, tuan langsung mendaratkan tubuhnya dan memintaku untuk turun, sekali lagi keberuntungan masih berpihak padaku.
"Akhirnya aku menemukan kalian." Ucap seseorang pada kami.
"Hey Sira ada apa dengannya? apa terjadi sesuatu dengan gadis putri itu?" dengan khawatir tuan bertanya tuan padaku.
"A-a... ya... tunggu, tuan biar saya tanyakan."
"Maaf ya merepotkanmu, Sira."
"Goro? ada apa kau kemari? apa ada sesuatu yang terjadi dengan putri itu?" tanyaku pada Goro yang terlihat sedang menunggu kami.
"Tidak, beliau baik-baik saja." Sahutnya.
"Lalu kenapa kau ke sini?" lanjutku bertanya.
"Sesuai dengan perjanjian yang kita buat, aku datang ke sini untuk menepati janjiku pada kalian." Jawabnya.
"Walau bagaimanapun sebagai seorang kesatria aku tidak pernah mengingkari janjiku, jadi kalian boleh mengambil nyawaku sebagai bayaran karena telah menolongku dan menyelamatkan putri." Sambungnya dengan wajah memelas.
"Janji? oh yang itu..."
"Apa yang dia katakan, Sira?" tanya tuan padaku.
Bagaimana caraku mengatakannya, aku tidak pernah bilang pada tuan tentang perjanjian itu, hehehe apa dia akan marah?
"Apa katanya Sira? cepatlah jangan membuatku khawatir, apa terjadi sesuatu pada putri itu?"
"Putri itu baik-baik saja tuan."
"Lalu kenapa dia kemari?" lanjut tuan bertanya.
"E-ee... ano begini... tuan, dia datang ke sini untuk menyerahkan nyawanya sebagai imbalan atas perjanjian yang ki... ekheem maksudnya perjanjian yang dia lakukan." Jawabku agak gugup.
"Perjanjian? aku tidak pernah menyetujui perjanjian apapun... Sira apa yang kau ucapkan padanya?"
"E-ee... aaa... ah benar! itu hanya ujian untuknya tuan, ya ujian! saya ingin mengujinya terlebih dahulu apa dia bersungguh-sungguh atau tidak, terlebih lagi kita tidak tau apa dia orang baik atau seorang penjahat, itu semua agar kita tidak dimanfaatkan tuan." Ucapku membuat-buat alasan.
__ADS_1
"Jangan membuat-buat alasan Sira! aku tidak suka dibohongi!" Ucap tuan sedikit marah.
"A-aa... maafkan saya, tuan!"
Melihat tuan marah, aku langsung meminta maaf padanya aku tidak ingin terlibat masalah dengannya, dan membuatnya marah padaku, dan lagi itu memang salahku karena telah membuat perjanjian diluar sepengetahuannya.
"Sekali lagi maafkan saya, tuan."
"Hohhhh... yahh apa boleh buat, karena sudah terlanjur."
Aku selamat... untung tuan orang yang pemaaf.
Untuk sekilas aku berpikir kalau tuan akan menendangku pergi darinya, tapi ternyata cukup, hari ini keberuntungan benar-benar ada di pihakku.
"A-apa anda akan memakannya tuan?" tanyaku padanya dengan sedikit canggung.
"Mana mungkin aku melakukan itu, dia adalah pengawal putri jika aku membunuhnya bagaimana dengan nasip putri itu?!"
"Y-yaa... benar juga, dia adalah orang yang sangat setia melayani putri, jika dia tidak ada mungkin putri akan dalam bahaya."
"Jadi, bagaimana tuan? apa yang akan anda lakukan padanya?"
"Untuk sekarang cukup katakan padanya bahwa aku akan menundanya dan suruh dia untuk melindungi putri sampai aku bertemu dengannya lagi, mungkin cuma itu dan lain kali jangan pernah melakukan itu lagi! itu membuatku terkesan seperti monster jahat!"
"B-baik tuan!"
"Hey payah! tuanku bilang beliau akan menunda untuk memakanmu untuk sekarang lindungilah putri dengan segenap jiwa dan ragamu, tuanku akan menagih janji dan bayarannya nanti saat kita bertemu lagi, jadi siapkanlah dirimu agar lebih layak menjadi makanannya dan berhentilah berekspresi seperti itu, kau menyedihkan!" ucapku pada Goro.
Aku mengatakan itu dengan sedikit kasar tanpa menurunkan harga diriku akan memalukan jika dia tau tentang masalahku jadi aku tetap berkata-kata seperti biasanya.
Mendengar ucapanku Goro hanya terdiam terpelongo kebingungan masih dengan ekspresi wajah memelasnya yang menyedihkan.
"Sira ayo pergi." Ucap tuan mulai membaik badannya masuk ke dalam labirin.
"Baik tuan."
"Terima kasih." Ucap Goro pada kami.
"Berhentilah menatap kami seperti itu payah, bersyukurlah karena tuan masih memberikan kesempatan untukmu hidup sebentar lagi."
"Tentu... sekali lagi terima kasih."
Aku kemudian menyusul tuan masuk ke labirin dan meninggalkan Goro di depan pintu masuk.
"AKU AKAN MENUNGGUMU MASTER!!!" teriak Goro dengan keras.
"Apa yang dia katakan Sira?"
"Dia bilang dia akan menunggu anda tuan."
"Ooh... begitu ya..."
Tuan kemudian berbalik menatap ke arah Goro dan melemparkan sesuatu padanya,
"Bilang padanya itu sebagai oleh-oleh dariku dan bukti perjanjiannya, benda itu hanya bereaksi dengan kekuatanku tidak dengan yang lain."
Aku kemudian mengatakan apa yang dikatakan oleh tuan kepada Goro dan kemudian kami melanjutkan perjalanan kami masuk ke dalam labirin dengan beriringan.
...~•~...
__ADS_1