
Berbaring di bawah nona Shea yang sedang duduk di atas batu besar di pinggir danau, aku cukup kesal dengan sifat nona Shea yang terlalu baik, tapi meski begitu aku tidak bisa menentangnya dan tidur adalah pilihan terbaik untuk mengatasi masalah ini.
Berbanding terbalik dengan sifatnya yang baik hati, nona Shea akan sangat berbahaya jika sampai dia marah dan seandainya itu terjadi, tidak ada yang menjamin aku akan selamat darinya, setidaknya membiarkan nona Shea belajar dari pengalamannya akan sangat membantu pertumbuhannya terutama untuk pikiran dan emosinya yang masih labil.
"Yosh! sudah cukup istirahatnya..."
…
"Sebaiknya aku jalan sendiri saja, hehehe… aku akan segera kembali Sira bye bye…"
***
Setelah cukup lama duduk tersenyum di atas batu sambil memandangi keindahan danau, nona Shea kemudian turun dari batunya dan bersiap-siap ingin pergi dari tempat ini, nona Shea sempat berdiri menatapku selama beberapa saat, tapi karena aku sedang dalam sandiwara pura-pura tidur nona Shea akhirnya pergi sendirian dengan senyum polosnya yang selalu penuh semangat.
"Kau tidak mengikutinya?"
"Nona Shea tidak akan suka kalau aku memakan orang-orang itu" jawabku sambil memejamkan mata.
"Dia memang terlalu baik" sahutnya padaku.
"Begitulah kepribadiannya."
"Hehehehe... aku akan mengawasinya" balasnya sembari pergi meninggalkanku.
"Lakukanlah sesuka hatimu..." ucapku padanya.
Semakin cepat kau pergi, semakin nyenyak tidurku hari ini.
Beberapa saat setelah nona Shea pergi dan punggungnya sudah tidak terlihat lagi, secara tiba-tiba angin mulai berhembus dan berputar di atas batu tempat duduknya diiringi dengan kemunculan Frenya yang membuatku ingin segera pindah dari tempat ini, meski tidak membuka mata aku bisa merasakannya dengan sangat jelas, aura dari wanita pembawa kesialan ini, tapi beruntung kedatangan Frenya hanya untuk membicarakan nona Shea tanpa ada gerak gerik yang mencurigakan.
Meskipun kami berpikir sama tentang nona Shea, tapi aku sangat tidak menyukai keberadaannya di tempat ini karena dia selalu melakukan hal yang tak terduga, setelah berbicara beberapa saat dan bilang akan mengawasi nona Shea, Frenya kemudian pergi dengan cara yang sama seperti saat dia datang ke sini, aku sangat beruntung karena dia tidak menggangu tidur siangku kali ini sehingga aku bisa menikmati hari dengan tidur di tempat yang nyaman dan suasana yang tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hehehe... dia benar-benar tertidur pulas..."
Ya... tidak juga, saya selalu tidur dengan tanpa mengurangi kewaspadaan.
"Hm... kalau tidak salah dulu aku pernah punya kucing..." ucap nona Shea sembari mengangkatku.
__ADS_1
Kucing? kapan?
"Ah… lupakan saja lagipula aku punya yang lebih besar ehehehe" sambungnya sambil berjalan.
Pikiran anak-anak, seharusnya aku tau itu.
Lama aku tertidur di samping danau samar-samar aku kembali merasakan aura nona Shea yang sedang mendekat ke tempat ini, tak lama setelahnya nona Shea benar-benar muncul berdiri di hadapanku sebelumnya akhirnya membawaku pergi ke tempat yang lebih teduh.
Aku tidak begitu mengerti tentang pikiran anak ini meskipun aku sudah tinggal cukup lama dengannya, tapi bersama dengan seseorang dalam waktu yang lama bukan berarti bisa memahami segalanya tentang orang itu khususnya untuk nona Shea yang tidak pernah bisa aku pahami, setiap wanita selalu memiliki pikiran yang rumit dan mencoba untuk memahaminya hanya akan berakhir menjadi benang kusut.
"Kuharap hukuman rantai ini bisa cepat berakhir, aku ingin segera melihat dunia luar, yahh... meski begitu, sepertinya ini akan memakan waktu yang lebih lama" ucap nona Shea duduk bersandar di batang pohon.
" ... "
"Dia sangat imutkan? hehehe" ucap Frenya sambil menatap nona Shea.
"Aku tidak mengerti... kenapa nona sangat menginginkan itu... tidak ada hal menarik di luar sana, semuanya hanya berisi sampah busuk yang layak dihancurkan."
Perlahan mulai memudar suara nona Shea terdengar semakin mengecil bahkan tangannya tidak lagi bergerak mengelus kepalaku begitupun juga dengan napas nona Shea menjadi sangat tenang, aku kemudian membuka sedikit mataku untuk melihatnya dan ternyata nona Shea sudah tertidur dengan pulas.
Tidak lama setelah nona Shea tertidur Frenya kemudian muncul kembali di samping nona dengan tawa kecilnya yang selalu sama saat melihat nona Shea, tapi kali ini aku tidak begitu terganggu dengan kehadirannya karena satu-satunya hal yang menggangguku hanyalah keinginan nona Shea yang sangat membingungkan.
"Menurut pandanganmu yang sudah mengurung diri selama ribuan tahun memang seperti itu...tapi, jangan lupa Sira, tanah ini tidak hanya seluas pandanganmu saja" ucap Frenya padaku.
"Kau terdengar seakan membela para manusia itu, Frenya."
"Aku tidak peduli dengan mereka... walaupun setiap harinya ada banyak orang mati di hutan ini, baik ataupun buruk… itu bukan urusanku… aku hanya melakukan hal yang aku suka" sambungnya padaku sambil tersenyum.
"Y-ya itu memang terdengar sepertimu."
Seharusnya aku tidak berkata seperti itu. •_•
Berdiri dan bersandar di pohon yang sama dengan nona Shea dan secara tidak langsung Frenya mulai mengungkit-ungkit masalah pribadiku yang benci dengan dunia luar, aku memang sudah sangat lama tidak pergi ke luar dari wilayah kekuasaanku, tapi bukan berarti para manusia dan para ras lainnya akan berubah, sifat tamak, dan sifat-sifat buruk lainnya tidak akan pernah hilang dari darah mereka.
Tapi, aku sedikit terkejut mendengar ucapan Frenya karena tidak biasanya dia berbicara seperti itu, akan tetapi Frenya adalah Frenya, dia memang tidak pernah peduli dengan siapapun dan seharusnya aku tau itu, senyumannya mulai sangat mencekam sama seperti biasanya dan aku mulai menyesal karena meragukannya.
"Anak ini berbeda, hanya karena merasa memiliki tanggung jawab bukan berarti kau berhak ikut campur dalam kehidupannya, masa depannya berbeda dengan masa lalumu" ucap Frenya sambil menatap ke arahku.
"Apa itu untukku?" tanyaku padanya.
__ADS_1
"Entahlah, menurutmu itu untuk siapa?" sahut Frenya sambil tersenyum.
"Kurasa dia memang berlebihan."
"Hehehehe... begitulah, walaupun begitu… dia orang yang baik" ucap Frenya sambil tersenyum dan tertawa kecil.
" ... "
Terdiam untuk beberapa saat aku kembali terkejut dengan Frenya yang tiba-tiba mengeluarkan ucapan aneh dengan tatapan tajam yang tertuju padaku, tapi meski seakan berbicara denganku dia tidak benar-benar mengatakannya untukku, Frenya berkata seperti itu pada rantai yang melilit leher nona Shea atau lebih tepatnya dia berbicara dengan Ardner yang mengawasi nona dari balik rantai kutukannya dan saat ini dia pasti sedang kesal.
"Nah, Sira… sekarang apa yang akan kau lakukan? setelah mendengar gadis kecil ini berharap seperti itu, apa kau akan tetap diam?" tanya Frenya menatapku sembari perlahan menghilang.
.
.
"Aku ingin tidur sebentar lagi" sahutku padanya.
Berjalan secara perlahan ke depanku dengan jarak yang semakin jauh dan gaun hijau muda yang menyapu setiap ujung dedaunan rumput, Frenya perlahan menghilang setelah menoleh dengan mata dan senyum yang sangat tajam mengerikan seolah memintaku melakukan sesuatu untuk membantu nona Shea, meski begitu aku sangat yakin dia hanya ingin melihat hiburan yang menarik dengan membuatku melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya, jalan pikiran Frenya sangat sulit untukku tebak walaupun begitu dia pasti telah merencanakan sesuatu.
...ΩΩΩΩΩ...
"Harinya sudah mulai gelap... hm... nona masih tidur... nona? nona…? nona Shea?" ucapku berusaha membangun nona Shea.
"Hoahh…! emhh! ada apa Sira?" tanyanya setengah sadar.
"Tidak baik tidur di luar nona, sebaiknya kita pulang saja lagipula masih ada esok hari untuk jalan-jalan" sahutku padanya.
"Ya… hoahh! baiklah, ayo kita pulang" ucap nona Shea sambil perlahan berdiri.
Tidak ingin terlalu mengurus perkataan Frenya aku kemudian kembali tidur dengan waktu yang cukup lama sampai akhirnya aku terbangun lagi karena angin senja berhembus, setelah terbangun aku langsung turun dari pangkuan nona sambil menggerak-gerakkan kaki-kakiku yang mulai keram dan karena nona Shea masih tertidur sementara hari sudah mulai gelap aku kemudian menepuk-nepuk lengan nona untuk membangunkannya.
Setelah beberapa kali aku memanggil dan menepuk lengannya, nona Shea kemudian perlahan bangun sambil mengusap matanya dengan masih setengah sadar sehabis tertidur lelap selama setengah hari dan dengan sedikit berpegangan pada pohon, nona Shea perlahan-lahan berdiri sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih terpisah-pisah.
…
"Emh?! sepertinya aku tidur cukup lama… pukk pukk! hahh… yosh! mari kita terbangnya!" sambung nona Shea sembari mengambil ancang-ancang untuk terbang.
Bisa berdiri dengan tegak nona Shea terdiam sejenak seraya menghela napasnya menatap hari senja sebelum akhirnya nona menepuk wajahnya dengan cukup keras hingga meninggal bekas merah di pipinya –ya itu cara yang bagus untuk menghilangkan rasa kantuk– setelah melakukan itu nona Shea kemudian mengangkatku lalu terbang melesat jauh dan tinggi di udara, aku tidak suka dengan ketinggian, tapi nona Shea selalu membawaku terbang dan ini sangat merepotkan. •_•
__ADS_1
...🌺🌺🌺🌺🌺...