I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 134: Hutan


__ADS_3

...🌺~Frenya~🌺...


"Wah wah ternyata privasinya sangat ketat, ini kedua kalinya aku diserang… tapi, sifatnya ini sangat imut ya…" ucapku sambil tersenyum.


"Hahh… meski suka dimanja, tapi sifatnya yang malu-malu itu bisa membunuh seseorang hehehe…" ucapku sambil tertawa kecil sembari menatap ke atas.


Kembali ke rumah pohonku aku kemudian berendam di kolam mata air panas yang berada di dekar akar pohon rumahku atau singkatnya sumber air panas itu berada di sela-sela akar pohonku yang besar, karena sebelumnya aku gagal menyusup ke pemandian Shea, sebelum sempat menikmati suasana Shea sudah terlebih dahulu menyerangku, bukan dengan lembaran buah seperti sebelumnya Shea justru menyerangku dengan bongkahan batu yang cukup besar dan alu nyaris ketahuan saat dia melakukannya, tapi untungnya aku langsung pergi dari tempat itu.


Tersenyum sambil mengingat-ingat kembali kejadian barusan aku sangat terhibur dengan sifat Shea, dia tipe orang yang suka dimanja, akan tetapi tanpa disadari dia juga malu untuk mengakui itu dan sifatnya yang malu-malu kadang bisa berubah menjadi emosi untuk menutupi perasaan yang sebenarnya.


"Setidaknya dia tidak melihatku, sampai saatnya tiba nanti untuk sekarang aku akan mengawasi perkembangannya tanpa harus terlalu banyak mencampuri urusan takdirnya."


...🌹🌹Shea🌹🌹...


"Ugh! menyebalkan! sebenarnya siapa orang tadi?! aku merasa dia selalu ada memata-mataiku" ucapku sembari memakai gaun baru yang aku ambil dari lemari.


Kesal dengan kejadian di pemandian sebelumnya aku kemudian pergi ke dalam kamar dan langsung mengambil pakaian baru yang ada di lemari, tapi sebelum itu aku terlebih dulu mengeringkan rambutku agar tidak membasahi gaunku, sejak aku keluar dari labirin aku selalu merasa diawasi oleh seseorang meski begitu aku tetap kesulitan untuk mengetahui siapa orangnya karena aura keberadaannya terasa menyatu dengan alam sekitar.


"Ya karena sudah pergi aku tidak bisa menangkapnya, kalau begitu sebaiknya aku mencari Sira" ucapku sambil mengikat sedikit ujung rambut sampingku dengan pita.


"Yosh! waktunya pergi!" sambungku sembari berjalan keluar kamar.


Duduk bercermin di depan meja yang ada di kamarku aku merapikan rambutku lalu mengikat ujung rambut bagian kiriku dengan pita biru, sejujurnya pita itu adalah pita leherku, tapi karena tidak ada tempat di leherku untuk memakainya dikarenakan ada rantai yang melilitnya jadi untuk sementara aku akan menggunakannya sebagai ikat rambut.


Selesai merapikan rambutku aku kemudian perlahan pergi meninggalkan kamarku untuk mencari Sira karena dia benar-benar menghilang dari pandanganku.


***


"Um…sepertinya sudah kering, ya kalau begitu sebaikanya kuantar pulang dulu… daripada harus dirusak monster atau binatang liar."


Sampai di depan mulut gua aku kemudian memeriksa gaunku yang tenyata sudah kering dan karena tidak ingin gaunku dirusak oleh bintang liar aku langsung mengambilnya lalu kembali ke rumahku untuk meletakkannya.


...*****...


"Yosh!! gaunku sudah aman, sisanya tinggal pergi mencari Sira" ucapku sembari berjalan keluar dari gua.


.


.

__ADS_1


.


"Um... tempatku tidak begitu jauh dari danau, apa sebaiknya aku membuat jalan bata mulai mulut gua ya? yah… untuk sekarang cukup seperti ini, lagipula aku tidak bisa menggunakan sihir untuk melakukannya."


Setelah aku pulang dan meletakkan gaunku di kamar aku kemudian kembali keluar dari gua dan berjalan santai melewati pepohonan yang masih rindang menuju ke arah danau kalau-kalau Sira pergi ke sana, hembusan angin sepoi-sepoi yang menabrak rambutku hingga terurai terasa sangat sejuk dan menyegarkan.


Dan setelah beberapa saat berlalu dengan suasana yang tenang aku akhirnya sampai di tepian hutan dekat dengan danau, tempatku memang berada tidak jauh dari danau itu jadi aku bisa datang dan pergi dengan mudah ke danau itu, bahkan sekilas aku berpikir untuk membuat sebuah jalan batu bata agak lebih mudah untuk datang ke danau, meski begitu itu hanyalah sebatas angan-angan karena aku tidak bisa menggunakan kekuatanku untuk melakukan dan membuat batu jalan secara manual akan sangat melelahkan bahkan kadang tidak sesuai dengan harapan.


"Wah sepertinya Cryle sudah bangun, dia sangat aktif ya hehehe" ucapku melihat ke arah Cryle yang berenang di tengah danau.


.


.


"Haalooo! Cryle!! bagaimana kabarmu?!!" teriakku sembari melambai-lambaikan tanganku ke arah Cryle.


GROAHH!!


...


"Woa! hahahaha… yosh yosh… maaf untuk hari itu ya" ucapku sambil mengelus-elus kepalanya.


Karena kura-kura raksasa itu terlihat sangat senang saat melihatku jadi aku langsung mengelus-elus kepalanya sesaat setelah dia tiba di pinggiran danau.


"Oh ya apa kau melihat Sira?" tanyaku padanya.


…


"Hm… bagaimana ya…? um seperti ini… bulat… apa kau melihat gumpalan bulu bulat seperti ini?" ucapku sambil memperagakan lingkaran dengan jari telunjuk kedua tanganku di udara.


Groahh!


"Eh! di sana?" ucapku menunjuk ke arah kiri.


…


"Um… baiklah, terima kasih Cryle bye bye… aku akan menemuimu lagi nanti" sambungku sembari terbang mengudara.


GROAHH!!

__ADS_1


Teringat dengan tujuan awalku aku kemudian iseng-iseng bertanya padanya tentang Sira karena mungkin saja Sira pernah melewati jalan ini, tapi Cryle hanya diam dan terlihat kebingungan dengan pertanyaanku itu jadi aku kemudian memperagakan sebuah lingkaran dengan menggambarnya di udara menggunakan kedua telunjuk tanganku, karena Sira memang terlihat seperti itu ketika berjalan dengan tubuh kecilnya hehe.


Dan meski agak meragukan, tapi Cryle memberikan respon dengan sedikit menolehkan kepalanya ke arah kiri bahkan saat aku bertanya sekali lagi padanya dia mengangguk sambil menghentakkan kakinya di air danau, setelah melihat itu aku kemudian pamit dan langsung terbang mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Cryle.


...*****...


"Hm… aku memang bisa merasakan auranya, tapi cuma sampai di sini… dia pasti menggunakan sihir teleport" ucapku sembari menatap lurus ke depan.


"Ugh! memangnya kenapa dia sangat menghindariku? menyebalkan! apa susahnya menyebutkan bahwa ada seseorang yang berada di dekatku?" ucapku sambil terus terbang.


Masih terbang di sekitar danau aku dapat merasakan aura Sira yang tertiup angin dengan sangat jelas, akan tetapi saat semakin jauh dari danau aku tidak bisa lagi merasakan aura itu, Sira seolah lenyap ditelan bumi dan hanya ada satu kemungkinan untuk itu yang terdengar masuk akal untuk dijelaskan yaitu Sira pergi dengan sihir teleport, dan aku bingung juga sedikit kesal dengan itu karena tidak ada bagian yang sulit dari sekedar menjelaskan tentang sesuatu yang terjadi saat aku tertidur, akan tetapi Sira sama sekali tidak mau mengatakan itu.


Dan karena aku tidak bisa melacak keberadaan Sira aku kemudian terus terbang menunju ke jalan besar hutan El'o ini yang tadi malam sudah aku datangi, entah karena firasat atau memang keinginanku sendiri untuk kembali ke jalan itu aku merasa Sira ada di sana.


...*****...


"Hm… tak kusangka monster mulai terlihat di siang hari, atau tadi malam jalur yang kulewati tidak ada monster ya?"(•_•)


Akan sangat berbahaya jika ada orang masuk ke hutan ini tanpa bekal perlindungan yang mumpuni.


Terbang lurus dengan ketinggian yang cukup tinggi untuk membuatku terlihat seperti seekor burung, aku terus mengamati keadaan hutan yang hijau itu setiap kali aku mengepakkan sayapku, banyak monster yang terlihat berkeliaran di dalam hutan mulai dari serigala di padang rumput sampai dengan beberapa jenis kadal yang mirip dengan dinosaurus Ankylosaurus dan ada banyak monster lainnya yang terlihat seperti anjing, hyena, katak raksasa, bahkan burung hitam bersurai merah yang terbang rendah di bawahku seperti elang yang berkelompok dan beberapa jenis monster serangga terbang lainnya.


Hutan ini sangat mempesona, tapi ada beribu bahaya yang terdapat di dalamnya dan tidak bisa dilawan tanpa kekuatan dan pertahanan yang mumpuni, karena dari apa yang kulihat monster itu sangat kuat jika aku membandingkannya dengan orang-orang yang aku tolong tadi malam.


"Ya… hutan memang mengerikan terutama untuk pedalaman, ada baiknya jika tidak ada orang yang datang ke tempat ini, hm…tapi… aku penasaran kenapa tidak ada monster besar yang muncul di guaku?"


"Hm… setelah dipikir-pikir tidak ada gunanya memikirkan itu hehe… yang jelas tempat ini tidak aman untuk orang dengan kemampuan minimum, tapi… ada banyak pemandangan indah di hutan ini dan bagaimana caranya aku menunjukkannya jika tidak ada yang boleh datang? haaah… yosh! tidak masalah selama ada aku untuk mengawasinya hahahaha."


Memikirkan seberapa besar bahaya yang mungkin terjadi saat ada orang memasuki hutan ini, aku sedikit berharap agar tidak ada orang yang mau masuk jauh ke dalam hutan untuk mengantarkan dirinya dimakan oleh monster, meski begitu aku juga merasa bingung kenapa tidak ada monster yang mau menyerangku saat aku keluar dari gua padahal jelas aku berada di pedalaman hutan, walaupun begitu aku tidak mau ambil pusing dengan memikirkan sesuatu seperti itu, karena yang terpenting adalah tidak boleh ada orang yang mati sia-sia karena ceroboh memasuki hutan yang berbahaya.


Dan aku cukup bingung dengan pernyataanku itu karena jika tidak ada orang yang boleh datang ke hutan ini lalu untuk apa semangatku selama ini yang sangat ingin memperlihatkan keindahan alam hutan yang menakjubkan ini, meskipun begitu aku tidak mempermasalahkannya karena selama ada aku siapapun yang aku bawa pasti akan selamat, dan aku tidak akan segan menghabisi semua monster yang berani menyerang dan mengganggu teman-temanku.


Duarr...


"Hm… apa itu?" ucapku mempercepat terbangku.


Di sela-sela tawaku yang senang dengan kekuatan yang aku miliki untuk menolong orang sekilas aku mendengar suara ledakan yang cukup jauh dariku karena suara itu terdengar kecil, akan tetapi menggema di udara yang bahkan membuat burung-burung berterbangan ke arah yang berlawanan denganku, dengan disertai oleh kepulan asap hitam yang terlihat dari kejauhan.


Sontak saja aku kemudian langsung mempercepat kecepatan terbangku untuk menuju ke arah sumber asap hitam itu untuk memeriksanya.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2