I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 158: Ketenangan.


__ADS_3

Terdiam heran melihat sikap para petualang yang pergi dengan sangat ketakutan aku sudah tidak bisa lagi mengejar mereka karena kereta kuda yang mereka tumpangi melaju kencang meninggalkan debu jalanan di depanku, aku juga tidak bisa gegabah berkeliaran di tempat yang tidak pernah aku kunjungi terlebih lagi aku punya firasat buruk jika aku mengikuti mereka dan karena itu aku tidak bisa mengembalikan barang-barang mereka.


"Hm... aku ragu mereka akan kembali, hahh… ya sudahlah, barang-barang ini akanku tinggal di tempat sebelumnya."


Menunggu beberapa saat sambil melihat keadaan jalanan ini, aku menjadi sangat yakin orang-orang itu tidak akan pernah melewati jalan ini lagi dan dengan sedikit menghela napas aku kemudian memutuskan untuk pergi kembali ke tempat di mana aku memungut barang-barang mereka karena aku tidak ingin membawa barang yang bukan milikku ke dalam rumahku.


***


"Baiklah, sebaiknya aku segera kembali ke tempat Sira, dia mungkin sudah bangun" ucapku sembari melompat terbang.


Tidak perlu waktu lama bagiku untuk sampai di tempat sebelumnya karena aku terbang dengan cukup cepat, setibanya di tempat api unggun di mana aku memungut barang-barang para petualang itu, aku kemudian langsung meletakkan semuanya berdekatan dengan bara api yang masih terasa panas.


Sambil menatap ke langit cerah dengan matahari yang sudah berpindah hampir mencapai sudut vertikal di atas kepalaku, aku kemudian terbang untuk kembali ke danau tempat Sira tertidur karena aku sudah cukup lama meninggalkannya. Jadi, Sira pasti sudah terbangun dari tidurnya.


***


"Ahh! sudah kuduga aku tidak bisa bersahabat dengan terik matahari, mungkin akan lebih baik jika aku jalan kaki saja lagipula sebentar lagi aku sampai" ucapku sembari menukik untuk mendarat.


Aku sangat menyukai pemandangan indah saat terbang di udara bahkan hembusan angin lembut juga terasa sangat menyenangkan, akan tetapi aku cukup kerepotan dengan terik matahari yang membakar kulitku apalagi dengan tanpa adanya awan yang menutupinya matahari menjadi lebih panas dan keadaan ini benar-benar terasa menyebalkan.


Oleh karena itulah, aku kemudian memutuskan untuk turun dan berjalan menuju danau daripada harus terbang dengan kulit yang terbakar, lagipula jarak antara aku dan danau sudah sangat dekat. Jadi, aku tidak perlu khawatir dengan rasa lelah akibat berjalan terlalu jauh.


"Hehehehe... rasanya sedikit menggelikan" ucapku tersenyum sambil merapikan rambutku.


...***...

__ADS_1


"Emh! seperti biasa semak-semak di dekat danau sangat tebal hahh… kuharap gaunku tidak terkena getah daunnya" ucapku sambil menerobos semak-semak.


Setelah turun dari terik matahari yang panas aku kemudian langsung melanjutkannya dengan berjalan santai di bawah rindangnya pepohonan, angin di hutan selalu berhembus sejuk menerbangkan rambutku dan aku sangat menyukai itu terlebih lagi hembusan angin terasa semakin kencang yang membuatku harus menahan rok gaunku agar tidak terbuka ketika aku mulai mendekati pinggiran hutan menuju danau.


Ditiup angin yang sejuk memanglah sangat menyenangkan, akan tetapi semakin aku mendekati pinggiran hutan semak-semak di tempat ini juga semakin merepotkan, bagi orang lain pengalaman ini mungkin akan terasa seperti sebuah petualangan yang menyenangkan, tapi itu tidak berlaku untukku karena aku mengenakan pakaian serba putih yang membuatku merasa khawatir dengan dedaunan yang bergesekan dengan kain gaunku.


Aku tidak masalah jika ada daun atau ranting yang menempel di rambutku karena aku bisa langsung membersihkannya, tapi beda halnya jika yang menempel adalah getah dari semak-semak karena membersihkannya akan sangat merepotkan, belum lagi aku sama sekali tidak memiliki sabun deterjen untuk mencuci baju yang membuatku harus berhati-hati dengan noda sekecil apapun.



"Hm... ahh dia masih tidur."


Harinya masih sangat panas, mungkin lebih baik aku menunggu di sin— em...


Setelah beberapa saat dibuat khawatir oleh tebalnya tanaman yang harus aku lewati, aku akhirnya sampai di luar hutan atau tepatnya di luar semak-semak yang menjengkelkan dan dikarenakan hari masih panas aku tidak bisa mendekati Sira yang ternyata masih tertidur di samping batu dekat danau.


Aku tidak ingin bersentuhan langsung dengan matahari jika memang sudah terlalu panas apalagi sekarang bukan waktu yang tepat untuk berjemur demi mendapatkan vitamin D karena aku yakin saat ini sudah lewat dari jam sepuluh pagi. Jadi, aku hanya bisa mengawasi Sira dari bawah pohon rindang yang agak jauh darinya.


Meski begitu, saat aku mencoba untuk duduk bersandar pada batang pohon tempatku berteduh, aku menjadi tidak tega melihat Sira yang sebentar lagi hampir disentuh sinar matahari, terlebih lagi bulu bersih yang tebal itu terlihat sudah cukup panas untuk Sira dan jika ditambah dengan terik matahari mungkin dia akan berkeringat dan pastinya aku tidak ingin itu terjadi karena akan merusak keindahan bulunya.


"Hehehe... dia benar-benar tertidur pulas, hm... kalau tidak salah dulu aku pernah punya kucing– ah… lupakan saja lagipula aku punya yang lebih besar ehehehe" ucapku tertawa kecil sambil menggendong Sira.


.


.

__ADS_1


Melangkahkan kakiku melewati beberapa meter lahan rumput sebelum akhirnya sampai di depan Sira, wajahnya yang bulat terlihat sangat menggemaskan ketika dia sedang tidur terlebih lagi saat aku mengangkatnya tubuh Sira sangat lemah seperti tanaman layu dan sekali lagi itu terlihat sangat menggemaskan.


Setelah aku menggendong Sira seperti bayi aku kemudian membawanya ke bawah pohon rindang yang teduh lalu duduk sambil memangku Sira di atas pahaku, aku juga mengelus kepala dan tubuh Sira yang penuh dengan bulu tebal itu, sensasi lembut di telapak tanganku sekilas mengingatkanku pada kucing yang pernah aku pelihara meskipun itu terjadi hanya sebentar saja karena kucing itu pergi entah kemana setelah satu minggu berada di rumahku.


"Ahh… kuharap hukuman rantai ini bisa cepat berakhir, aku ingin segera melihat dunia luar, yahh... meski begitu, sepertinya ini akan memakan waktu yang lebih lama" ucapku sambil duduk di bawah pohon.


Kurasa ini lebih baik daripada harus mati untuk yang kedua kalinya, setidaknya aku masih bisa menikmati hidupku...


Duduk termenung menatap Sira dan gelombang menenangkan air danau meskipun hanya sekilas aku berharap bisa segera terlepas dari hukumanku, aku sangat menantikan pemandangan kehidupan luar hutan dari dunia fantasi ini karena dulu aku tidak sempat menikmatinya dikarenakan bentuk tubuhku yang masih menyerupai monster naga dan aku tidak mungkin berkeliling kota dengan wujud seperti itu.


Akan tetapi, keinginanku untuk melihat dunia luar mungkin hanya sekedar angan-angan karena aku tidak tau kapan hukuman ini akan berakhir, setelah memikirkan hal yang tidak jelas seperti itu pandanganku mulai sedikit memudar ditambah dengan semua sentuhan angin sepoi-sepoi yang semakin memperberat kepalaku setiap saatnya membuatku tertidur dalam suasana yang damai dan sunyi dibantu dengan tekanan ketenangan yang melepaskan beban pikiranku.


...***...


"Nona? nona Shea?"


"Hoahh…! emhh! ada apa Sira?" tanyaku sambil mengusap mataku.


Aku tertidur sangat pulas tanpa tau posisi matahari yang sudah berubah sampai akhirnya samar-samar aku mendengar suara Sira yang memanggilku dengan tepukan-tepukan kecil di lenganku yang membuatku terbangun, walaupun rasa kantuk masih dominan menguasai kesadaranku, tapi aku tetap berusaha untuk membuka mataku karena tepukan tangan Sira terasa menggelikan.


"Tidak baik tidur di luar nona, sebaiknya kita pulang saja lagipula masih ada esok hari untuk jalan-jalan" sahut Sira padaku.


"Ya… hoahh! baiklah, ayo kita pulang" ucapku sambil perlahan berdiri.


...🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2