
"Groahhh!!"
"Mereka sudah keluar, baiklah kalau begitu akanku mulai…" ucapku sambil menerbangkan bola hitam ke arah para undead.
Bersiap untuk menyerangku beberapa undead berlari dengan cepat sembari mengayun-ayunkan senjata di tangan mereka secara membabi buta, geraman mereka terdengar seperti sebuah mimpi buruk yang menghantuiku dengan ketakutan, tapi sayangnya ini adalah kenyataan dan bukannya mimpi jadi aku tidak akan pernah takut dengan mereka sebanyak dan seganas apapun itu.
Sebaiknya aku tidak menggunakan sihir yang terlalu besar untuk menghadapi mereka, orang itu pasti akan ketakutan dan tidak akan mempercayaiku.
Ssttt…
.
.
"Freezing… clik…" sambungku pelan sembari menjentikkan jari.
Crass!
Jujur saja aku ingin menggunakan sihir yang kuat untuk menghabisi semua undead baik itu yang sedang berlari mendekatiku ataupun yang bersembunyi di balik pepohonan dan semak hutan, yahh itu agar mereka tidak menggangu dan meresahkan orang-orang termasuk juga aku.
Akan tetapi karena di dekatku saat ini ada orang itu yang pastinya akan sangat merepotkan jika dia ketakutan, dan juga karena Sira yang melarangku untuk menggunakan sihir secara berlebihan, dengan mempertimbangkan kondisi itu aku kemudian memilih untuk menggunakan sihir pembekuan, karena sihir itu terlihat sangat cocok untuk melawan musuh tanpa harus menimbulkan kerusakan.
Aku menerbangkan sebuah bola hitam kecil yang aku keluarkan dari telapak tanganku ke arah para undead, dan saat bola hitam kecil seukuran kelereng itu cukup dekat dengan gerombolan mereka aku langsung memperbesarnya dan membuat sebuah zona khusus yang menahan para undead untuk tidak bisa bergerak ke mana-mana.
Setelah itu dengan satu jentikan jariku aku membekukan tubuh mereka hingga menjadi es sebelum akhirnya aku menghancurkan mereka menjadi kepingan es yang mencair meresap ke dalam tanah.
.
.
"…!"
Eh! kenapa dia terlihat sangat tegang? ha?! apa… apa aku melakukan kesalahan?! ahhh… gawat! padahal aku tidak ingin terlihat mengancam…
"GROAHH!!" geraman undead tiba-tiba muncul dari belakang lelaki itu.
Eh!
"Awas!!" kataku seraya melemparkan sebilah jarum sumpit ke arah undead di belakang pria itu.
Ssttt!!
Crekk…
__ADS_1
Setelah aku menghancurkan segerombolan pasukan undead aku kemudian sedikit mengalihkan pandanganku ke arah pria sebelumnya, tapi saat aku melirik ke arahnya dia terlihat begitu terkejut dan sangat tegang dengan wajah yang terlihat pucat, tentu saja itu mengejutkanku karena aku sudah sangat yakin bahwa sihirku sebelumnya tidak akan membuatnya ketakutan dikarenakan itu hanya sihir biasa, tapi ternyata apa yang aku harapkan sedikit berbeda dengan hasil yang aku dapat, dia malah terlihat memucat dan ketakutan padaku.
Dan secara tiba-tiba tanpa sadar ada salah satu undead berdiri tepat di belakangnya dan bersiap akan menyerangnya dengan jarak yang sangat dekat menggunakan pedang berkarat yang terlihat masih sangat tajam, dan karena pria itu terkejut dia kemudian tersandung kakinya sendiri hingga terjatuh dengan mata yang membulat melihat ayunan pedang undead itu.
Melihat itu sontak saja aku langsung memperingatkannya sembari melemparkan sebuah jarum sumpit yang sudah aku lapisi dengan sihir pembekuan.
Seketika itu juga jarum sebesar sumpit itu melesat melewati kepalanya dan berhasil mengenai kepala undead itu hingga langsung membeku yang kemudian disusul dengan seluruh tubuhnya, hanya perlu beberapa detik saja agar seluruh tubuhnya membeku dalam keadaan memegang pedang di atas kepalanya dan berakhir hancur berkeping-keping sama seperti segerombolan undead lainnya.
"Hah hah hahh… a-aku…" ucapnya terbata sembari menghela napas berat.
...
"Apa kau baik-baik saja?! hei hei!!" tanyaku padanya dengan khawatir.
"T-tidak apa-apa… t-terima kasih…" jawabnya masih sambil terbata-bata.
"Hehehehe…"
Dengan rasa kekhawatiran yang memenuhi pikiranku aku kemudian berlari menghampiri lelaki itu lalu berjongkok di sampingnya sembari menanyakan keadaannya, sementara itu Sira dengan tubuh kecilnya masih sibuk dengan menghadapi undead di sisi yang berlainan denganku.
Napas berat yang penuh ketegangan pria yang kini masih terduduk di tanah dengan wajah yang sangat pucat itu akhirnya perlahan menjawab pertanyaanku walaupun masih terbata-bata.
Mendengar sahutannya itu sontak saja membuatku terkejut dan tertawa sambil menutup mulutku dengan tangan untuk meredam suara tawaku, yahh aku merasa itu cukup lucu karena dia tidak pernah menjawab pertanyaanku dengan secepat seperti itu.
"Maaf, haah… akhirnya kau mau bicara denganku…" jawabku sembari tersenyum tipis padanya.
"…"
"… tapi, syukurlah aku senang melihatmu baik-baik saja" sambungku tersenyum dengan lega.
"A-a iya…" sahutnya sambil menurunkan pandangannya.
Melihat aku tertawa padanya tentu membuatnya merasa terganggu dan bertanya-tanya walaupun dia masih terlihat takut dan terbata-bata saat memberanikan diri untuk melakukan itu, tapi justru itulah yang membuatku kembali tersenyum sambil tertawa kecil padanya, dia yang sangat waspada untuk berbicara akhirnya mau membuka mulutnya untuk bicara denganku meski masih terdengar kaku.
Pria itu hanya terdiam dengan mata membulat saat aku bicara mengenai masalah itu apalagi saat aku mengatakan perasaanku yang sangat lega karena masih sempat menyelamatkannya, dia terlihat tercengang kemudian mengalihkan pandangannya untuk tidak menatapku.
"Groahh!!"
Ssttt!!
"Nona! saya tau anda sedang senang, tapi bisakah anda tidak lengah saat bertarung? meskipun jumlah mereka sudah berkurang drastis bukan berarti kita harus bersantai dan membiarkan mereka untuk menyerang kita" ucap Sira sambil perlahan berjalan ke arahku.
"Eh! i-iya maaf hehe…" sahutku tersenyum sambil memegang kepalaku.
__ADS_1
Untuk keselamatannya sebaiknya kami segera pergi dari ini, aku bisa mengurus mereka lain kali…
"… baiklah, ayo pergi" ucapku berdiri sembari mengulurkan tanganku dengan tersenyum padanya.
" … "
Keberuntunganku nyaris saja hilang karena perhatianku sedikit teralihkan dengan semua perasaan lega yang kurasakan, beberapa undead hampir berhasil menyerangku jika saja Sira tidak datang untuk menebas mereka, Sira bahkan terlihat sedikit kesal denganku karena aku kehilangan konsentrasi dalam pertarungan ini.
Setelah sedikit meminta maaf aku kemudian berdiri sembari mengulurkan tanganku untuk membantu pria itu berdiri, aku juga mengajaknya untuk segera pergi dari tempat berbahaya ini karena manusia tidak cocok untuk berada di hutan yang sangat angker, apalagi dia sedang dalam keadaan yang cukup rapuh.
"Tidak…" sahutnya sambil sedikit menggelengkan kepalanya.
"Eh!" •_•
Tanpa menghiraukan tanganku yang masih terbuka untuk membantunya berdiri setelah terdiam cukup lama orang itu kemudian memperbaiki posisi duduknya dan menggelengkan kepalanya tidak mau meraih tanganku yang sontak juga mengagetkanku dengan ucapannya.
"Bolehkah aku meminta satu hal padamu?" tanyanya padaku.
"Ya, apa itu?" jawabku bertanya balik masih dengan tersenyum.
"Aku tau ini permintaan yang aneh, tapi aku akan melakukan apapun… jadi, tolong selamatkan teman-temanku, kau boleh mengambil nyawaku sebagai bayarannya" pintanya padaku sambil menundukkan kepalanya.
Deg!
"Kenapa?!" ucapku pelan sambil mendekap kedua tanganku.
Tidak dulu ataupun sekarang, kapan semua ini akan berakhir? sampai kapan semua orang akan berpikiran buruk padaku?
Setelah dia mengabaikan uluran tanganku secara tiba-tiba dia membuat sebuah permohonan kepadaku untuk menyelamatkan teman-temannya dan tentunya aku menerima itu, akan tetapi satu hal yang tidak aku suka dari permohonannya itu adalah dia yang masih berpikir buruk tentangku.
Padahal aku sudah sangat lega dan senang dia mau berbicara dan meminta bantuan padaku, tapi hatiku seakan retak dan hancur berkeping-keping saat mendengar ucapannya itu.
Menolong orang dengan tanpa pamrih adalah salah satu prinsip hidupku karena aku memang suka menolong seseorang dengan senang hati, jika tidak aku tidak akan pernah mati dan hidup di dunia ini, ucapannya itu juga menggambarkan seolah-olah aku memanglah seorang iblis yang kejam dan harus mempersiapkan tumbal nyawa untuk meminta sesuatu padaku.
"Nona?" panggil Sira padaku.
"Haaah, baiklah aku akan membantu untuk menyelamatkan teman-temanmu, tapi tolong jangan pernah mengatakan hal itu lagi… ucapanmu itu…'sangat menyakiti perasaanku'…" ucapku murung sambil berbalik dan berjalan meninggalkannya.
Sangat sakit sampai-sampai aku harus mendekap erat tanganku dengan murung karena aku terus teringat akan kehidupanku dulu yang tidak jauh berbeda dari sekarang, walaupun aku memiliki niat yang baik untuk menolong dan selalu bersikap baik kepada orang-orang, tapi semua itu hancur karena orang lain hanya melihat keburukan yang ada padaku.
Sampai akhirnya aku kembali tersadar dari rasa sakitku ketika Sira memanggil namaku, walaupun merasa sakit hati aku tetap bersedia untuk membantu lelaki itu dan dengan tanpa menatapnya aku berbalik dan berjalan meninggalkannya bersamaan dengan Sira yang juga mengikutiku dari belakang.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1