I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 120: Tebing


__ADS_3

“ Em… jadi, apa ada yang terluka? ” tanyaku sembari tersenyum pada mereka.


“Tidak, lupakan saja ucapanku tadi ” ucap manusia itu dengan terbata seraya menarik kembali ucapannya.


“ Kau salah mengkhawatirkan seseorang ” ucap Sira padanya.


“ Yahh, lain kali tidak akan terjadi ” sahutnya sambil memalingkan wajahnya.


“Hm… ada apa? kalian membahas apa?” ucapku sambil tersenyum penasaran.


“Tidak bukan apa-apa, nona” sahut Sira sambil berjalan ke belakangku.


“Eghhh!! kenapa?”


Mendarat dengan keras, tapi tetap sangat mulus aku terjun bebas dari atas tebing besar itu lalu sedikit bertanya pada mereka karena sebelumnya mereka terjebak dalam ledakan jarum kristal yang aku lancarkan untuk menghabisi para pengganggu, tapi mereka malah berkata aneh yang membuatku penasaran dan ingin ikut dalam pembicaraan mereka.


Tapi, bukannya memberitahuku Sira malah terkesan enggan untuk membicarakannya dan membaringkan tubuhnya dengan kepala yang terangkat seperti kebanyakan kucing pada umumnya, dan itu semakin membuatku merasa penasaran dengan isi pembicaraan mereka.


“Itu tidak penting nona” sahut Sira padaku sambil menjilati bulu-bulu di kaki depannya.


"Yahh, terserahlah…"


Haah, di manapun letak dunianya… sepertinya kucing tetaplah seekor kucing hehehe.


Setelah berdiri di belakangku Sira kemudian membaringkan tubuhnya sambil menjilati bulu kaki depannya layaknya kucing yang sedang membersihkan bulunya, meski berada dalam bentuk harimaunya tetap saja dia terlihat sangat imut, tidak peduli apapun dunia dan jenisnya kucing tetap akan terus terlihat seperti kucing hehe.



"Jadi, biarku tebak… teman-temanmu ada di dalam tebing ini bukan?" ucapku sambil menatap lelaki itu.


"Y-yah… benar, k-kami menyembunyikan mereka untuk menghindari pengepungan undead…" jawabnya masih sambil terbata-bata.


"Owh jadi begitu... tapi, tebing ini terlihat hancur dan sepertinya ini karena ledakan sihir…" ucap berbalik mengamati keadaan tebing besar itu.


Hm… sepertinya berada di sebelah sana.


"A-anu…"


"Em... ada apa?" sahutku padanya sambil tersenyum tipis.


"Bagaimana kau bisa tau itu?" tanyanya padaku.


"Hm… saat aku duduk di atas tebing ini aku merasakan ada aura keberadaan makhluk hidup di dalamnya, dan itu lebih terlihat mirip sepertimu daripada monster yang bersembunyi" jelasku padanya.


Setelah cukup puas melihat Sira aku kemudian kembali ke topik utama yang menyebabkan aku berada di tempat ini, dengan menatap ke arah pria itu aku bertanya kepadanya sambil menebak bahwa teman-temannya sedang berada di dalam tebing besar ini, dan dengan ucapan yang terbata dia membenarkan tebakanku itu.

__ADS_1


Mendengar perkataannya aku kemudian berbalik menatap ke arah tebing besar itu lalu mengamatinya dengan mata penerawanganku yang dapat menembus dinding setebal apapun, jujur aku merasa sedikit khawatir dengan keadaan teman-temannya karena tebing ini jelas terlihat berantakan dan hancur seolah terkena sebuah ledakan.


Tapi, tak lama setelahnya aku akhirnya menemukan tempat keberadaan orang-orang itu yang berada jauh dari titik hancur tebing ini dan aku merasa senang karena berhasil menemukan mereka.


Akan tetapi terlihat penasaran denganku lelaki itu kemudian memberanikan diri untuk bertanya dengan wajah yang masih sedikit ketakutan, dan dengan santai aku kemudian menjelaskan padanya bahwa aku dapat merasakan aura mereka yang bersembunyi saat aku duduk di atas tebing, apalagi sebelumnya aku juga sudah berhasil melacak keberadaan mereka, sementara itu Sira masih terlihat tenang dengan menyibukkan dirinya mengurus bulu dan cakarnya tanpa mengikuti pembicaraan kami.


Aura mereka terlihat sangat lemah...


" … "


"Yahh, daripada hanya bicara sebaiknya kita segera mengeluarkan mereka… tidak baik terlalu lama bersembunyi di dalam sana" usulku padanya.


"I-iya, baiklah… mari lewat sini" sahutnya padaku sembari berjalan ke dekat tebing batu itu.


"Hei Sira, kau mau ikut?" ucapku bertanya pada Sira.


"Baik nona" sahutnya padaku.


Tidak ingin berlama-lama membiarkan orang-orang itu berada dalam gua sempit, aku kemudian memberikan sedikit saran agar cepat bergerak untuk mengeluarkan mereka terlebih lagi aku merasa aura mereka sedikit mulai melemah.


Meskipun masih terlihat agak takut orang itu tetap mengiyakan ucapanku dan langsung berjalan menunjukkan arah jalan masuk menuju ke tempat teman-temannya berada, tapi saat aku ingin berjalan pandanganku kembali tertuju pada Sira yang masih duduk membersihkan kukunya.


Melihat Sira yang masih duduk seperti itu aku kemudian terlebih dahulu bertanya padanya apakah dia ingin ikut atau tidak, yah aku tidak ingin mengganggunya hanya karena masalah kecil seperti itu, tapi Sira yang mendengar ajakanku langsung beranjak bangun lalu berjalan mengikutiku dari belakang.



"Lewat sini…" ucap pria itu sambil mengarahkan tangannya ke sebuah pintu gua di antara reruntuhan batu tebing.


"Hm… dilihat dari segi manapun tempat ini sangat berantakan, bebatuan tebing ini juga menimpa hutan seperti tanah longsor" ucapku berbalik menatap ke arah hutan.


Sembari berjalan mengikuti pria itu aku terus mengamati keadaan sekitarku yang benar-benar hancur dengan banyak puing-puing bebatuan yang berserakan seolah telah terjadi longsor, dan tentunya orang yang meledakan tempat ini pastilah orang yang cukup kuat seperti iblis Kin dan Leron, jika saja tidak terdapat jejak sihir pasti aku akan mengira bahwa ini hanyalah sebuah fenomena alam biasa, tapi sayangnya aku merasakan ada bekas ledakan sihir di tempat ini.


Setelah beberapa saat berjalan mengikutinya kemudian pria itu menghentikan langkahnya di sebuah mulut gua yang sebagiannya telah tertutup oleh bebatuan besar, sementara aku yang masih sedikit penasaran dengan seberapa besar kerusakan akibat runtuhnya bagian tebing ini kemudian berbalik menatap hamparan batu besar yang menimpa pepohonan di bawahnya dan itu cukup luas.


"Ya, sebaiknya kita segera mengeluarkan orang-orang itu atau tempat ini akan benar-benar runtuh menimbun mereka" sahut Sira sambil menatap ke atas tebing.


"Aku setuju, ayo kita masuk" ucapku padanya sambil sedikit melirik ke arah kananku.


Meskipun ada bagian yang runtuh tebing ini ternyata membentang sangat luas dan tinggi, yahh tapi, walaupun begitu sepertinya aku bisa menyebranginya hanya dengan satu langkahku,, pikirku sambil sekilas menatap ke samping.


Cukup lama mengamati keadaan tebing Sira kemudian memberi saran agar dengan segera mengeluarkan orang-orang yang ada di dalam tebing besar itu karena jelas tebing ini tidak sedang dalam keadaan baik, meski begitu sejujurnya tidak masalah jika tebing besar ini runtuh karena mereka berada cukup jauh dari lokasi dampak reruntuhan tebing.


Setelah mendengar ucapan Sira itu aku kemudian setuju untuk mempercepat langkah kami menyelamatkan mereka yang berada dalam gua tebing besar ini, aku kembali berjalan menuju ke arah mulut gua sambil mengikuti pria itu yang sudah lebih dulu masuk ke dalamnya.


Sambil berjalan sekilas aku menatap betapa panjangnya tebing ini yang membentang jauh dari kanan hingga kiriku, tapi meski begitu aku sangat yakin bahwa tebing ini tidak jauh lebih besar dari tubuhku dan akan sangat mudah bagiku untuk menyebranginya.

__ADS_1


.


.


.


Haah, ternyata ini cukup melelahkan dan sangat gelap…


"Hahh, ada baiknya jika tebing ini runtuh saja" ucapku sambil sedikit menghela napas.


" °…° " " °…° "


"A-ada apa?" tanyaku pada mereka.


"Seharusnya kami yang bertanya, nona" ucap Sira padaku.


"Eh! m-memangnya a-ada apa?" ucapku terkejut sembari bertanya kebingungan.


Berjalan dengan santai kami memasuki gua yang tingginya hanya sekitar tiga meter dengan lebar dua setengah meter, jalan yang gelap dan minim pencahayaan bertemu dengan kristal sihir mungkin adalah sesuatu yang membahagiakan karena aku dapat melihat jalan dengan jelas daripada hanya sekedar berjalan dengan mata yang buta.


Meskipun sebenarnya aku memiliki sihir night vision agar bisa melihat dalam gelap, tapi tetap saja aku tidak terlalu suka dengan kegelapan apalagi jika bersama dengan lelaki yang tidak kukenal.


Setelah cukup lama memasuki gua yang kurasakan hanyalah bosan dan melelahkan dengan sedikit waspada pada pergerakan lelaki di hadapanku itu – berani macam-macam akanku tendang kepalanya hingga jiwanya keluar –, dan karena kami belum juga sampai aku sedikit berharap jika sebaiknya tebing ini runtuh agar lebih mudah melakukan perjalanan.


Tapi, mendengar ucapanku Sira dan pria itu secara tiba-tiba berhenti mendadak sambil menatap ke arahku dengan wajah yang terkaget-kaget dan mata yang sangat tercengang dan tentunya itu membuatku bertanya-tanya karena mereka mengeluarkan reaksi secara bersamaan dengan sangat mendadak.


"Nona, apa anda tidak sadar dengan ucapan anda sendiri?" sahut Sira padaku. ("•_•)


"Ucapanku? hmm… owhh!! benar!! maaf… tapi, ucapanku yang mana? hehe."


"(;ꏿ_ꏿ;)"


"M-maksud saya ucapan anda yang barusan tentang merobohkan tebing ini" sambung Sira menjelaskan.("•_•)


"Oh… memangnya ada apa dengan itu?" tanyaku lagi.


"O-oi… apa kau ingin membunuh teman-temanku? jika tebing ini runtuh mereka pasti akan tertimbun bebatuan" ucap pria itu padaku.


"Eghhh!!! tidak! bukan begitu!! tapi coba lihat itu! ada retakan di sepanjang langit-langit gua bukan? terlebih lagi dari apa yang kulihat ujung retakan itu berada jauh dari lokasi mereka, jika tebing ini runtuh... itu tidak lebih dari sekedar mengikuti retakan itu dan bahkan dampak runtuhnya tidak akan sampai pada mereka karena di tempat itu bebatuannya terlihat sangat kuat dan kokoh, tidak seperti lorong gua yang kita lewati ini" jelasku pada mereka sambil mengarahkan tanganku pada langit-langit gua.


Masih dengan ekspresi wajah yang tercengang Sira kemudian bertanya sambil sedikit memberi petunjuk tentang ucapanku, tapi jujur aku tidak tau ucapan mana dariku yang sampai membuat mereka sangat terkejut seperti itu dan malah ucapan Sira itu membuatku semakin kebingungan.


Dan karena aku masih tidak bisa mencerna keadaan aku kemudian kembali bertanya pada Sira yang membuat lelaki itu terlihat sangat terkejut seolah tidak percaya dengan apa yang aku katakan, dan dengan sedikit terbata Sira akhirnya memberiku petunjuk dengan jelas dan ternyata itu semua karena ucapanku tentang membiarkan tebing ini runtuh, bahkan pria itu menuduhku ingin membunuh teman-temannya.


Akan tetapi, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berlebih aku kemudian menjelaskan pada mereka tentang keadaan tebing ini karena aku sudah melihat struktur bebatuannya dengan sangat jelas, dan karena aku tinggal lama di dalam labirin aku tau mana bebatuan yang kuat dan yang rapuh, aku juga mengatakan pada pria itu bahwa teman-temannya berada di area bebatuan yang kuat dan kokoh, serta jauh dari lokasi yang berdampak buruk jika saja tebing ini runtuh.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


__ADS_2