I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 74: Monster Di Hutan


__ADS_3

"Sira bisa kau longgarkan sedikit cakarmu itu? Sira?"


" ... "


"Yang benar saja... dia tidak mendengarkanku, haaah... padahal ini sudah mulai terasa sakit." Ucapku dengan menghela nafas sambil tetap terbang.


Entah berapa lama aku terbang melayang di atas hutan cakar Sira semakin terasa menancap sangat dalam di punggungku dan jelas itu mulai mengganggu juga terasa menyakitkan, padahal hari sedang sangat cerah langit biru terlihat sangat indah dan burung-burung berterbangan di dekatku.


Tapi hanya untuk hari ini pengalaman terbangku terasa sangat berat dan menyakitkan dua puluh buah cakar setajam belati menancap dalam di bahu dan punggungku, membuatku tidak bisa menikmati pemandangan menakjubkan ini.


Apalagi dengan tubuh Sira yang gemetar ditambah dengan waktu terbang yang lama menambah sakit dan dalam cakarannya, rasanya seperti sedang tertusuk pisau belati, tapi tidak langsung mencabutnya dan malah menggoyang-goyangkan pisau itu sampai semakin tertancap sangat dalam dengan darahnya yang semakin bercucuran, yah kira-kira seperti itulah yang kurasakan saat ini.


"Haah... sebaiknya aku mendarat atau ini akan semakin parah."


.


.


"Kira-kira apa yang ada di depan sana?" ucapku sambil menatap ke depan.


...


"Hm... sepertinya itu sungai, yahh... kalau begitu aku akan turun di sana." Ucapku mempercepat terbangku.


Shuttt


Tap!


"Yoshh... mendarat dengan sempurna." Ucapku sambil menginjakkan kakiku di sebuah batu.


Karena Sira tidak menjawab saat aku memanggilnya dan malah semakin mencengkramku dengan erat di balik rambutku, setelah mengamati keadaan di depanku dan menemukan sebuah sungai aku kemudian memutuskan untuk segera mendarat karena darahku sudah sangat jelas menetes, jika dibiarkan darah itu akan segera kering dan mengotori gaunku karena itulah aku memilih untuk mendarat di dekat sungai agar aku dapat membersihkannya sebelum gaunku yang indah kotor dengan warna darah.


"Ekhemm... Sira kita sudah mendarat, Sira?" panggilku.


"Sira? ughh... dasar penakut."


Takk


"Aduhh!!"


"Jadi, apa sekarang kau bisa melepaskan cakarmu itu? ini sangat menggangguku."


"Eh! m-maaf nona." Ucapnya sambil melompat turun.


"Hahh... tak apa, lagi pula aku yang salah." Ucapku sambil menghela nafas.


Yahh... mau bagaimana lagi berani berbuat berani bertanggung jawab dan berani menanggung akibatnya... lain kali aku akan mengikat keempat kakinya itu.


Bahkan setelah kami mendarat Sira masih saja gemetar tidak membuka matanya dan masih tidak menjawab panggilanku jadi aku menyentil kepalanya agar dia tersadar bahwa kami sudah mendarat, setelah tersadar sudah mendarat Sira akhirnya mau melepaskan cakarannya itu kemudian melompat turun lalu berjalan dan bersandar di batang pohon sambil menghela nafas lega.


"Ini lebih mirip luka sayatan daripada luka akibat cakar kucing." Ucapku berjalan sambil menatap ke punggungku.


"Hahh... untungnya ini bisa sembuh dengan cepat." Ucapku perlahan duduk di tepi sungai.


Melihat Sira yang sudah turun aku kemudian juga melompat turun dari atas batu pijakanku lalu berjalan mendekati aliran sungai dan duduk di tepinya untuk membersihkan sisa darahnya, ada cukup banyak bercak darah di punggung bahkan juga di rambutku, seandainya saja ini bukan darah sedikit pirang merah di helaian rambut yang putih itu bagus membuatku merasa sedikit lebih berwarna.


"Ughh... gaun belakangku juga terkena bercaknya mustahil untuk membersihkannya tanpa dilepas, untungnya ini hanya di bagian belakangku saja, jadi aku bisa menutupinya dengan rambut dan sayapku." Ucapku menghela nafas sambil membersihkan sisa darah di punggungku.


"Ya sudahlah... untuk sekarang akanku tutupi dulu." Ucapku sambil berdiri.


Setelah duduk di tepi sungai aku kemudian membersihkan sisa-sisa darah yang ada di bahu dan juga rambutku dengan memercikkan air lalu sedikit menggosoknya sampai bersih, tapi sayangnya gaunku sudah terlanjur terkena noda darah dan sangat sulit untuk membersihkan itu apalagi jika noda darahnya berada di bagian belakangku jadi aku tidak bisa menjangkaunya tanpa melepaskan pakaianku, dan aku tidak mungkin melakukan itu.


"A-anu... m-maaf nona, s-saya tidak sengaja."


"Tidak perlu dipikirkan... seharusnya aku menurunkan egoismeku dan berteleport saja, maaf ya Sira." Ucapku sambil duduk kembali di atas batu.


Aku merasa bersalah pada Sira karena memaksanya untuk terbang bersamaku padahal sejak awal dia sudah terlihat ketakutan dan aku malah langsung membawanya terbang tanpa mendengarkan ucapannya.


Sihir teleport memang mengagumkan, tapi jujur saja aku lebih suka menikmati dan merasakan pemandangan dengan seksama dan juga lebih lama, apalagi aku sama sekali tidak tau arah jalan jadi aku ingin mengingat jalan sambil menikmati suasana agar lebih mudah untuk kembali, menggunakan teleport memang praktis, tapi itu artinya meninggalkan semua keindahan yang ada.


"Sekali lagi aku minta maaf Sira."


"A-anda tidak perlu minta maaf nona, saya yang salah karena t-terlalu pena...kut." Ucap Sira sambil mengalihkan pandangannya.


"Hehehehe... yahh... tapi aku baru tau kalau kau takut ketinggian." Ucapku sambil tertawa kecil.


Sira memang sudah sering kuajak terbang dan kuletakkan di atas kepalaku, tapi aku baru sadar kalau Sira sebenarnya takut dengan ketinggian, walau wajahnya tertutup dengan bulu, tapi aku tau kalau dia cukup malu mengakui itu terlihat dari tingkahnya yang langsung memalingkan wajah saat mengatakan itu, aku hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat gerak-geriknya yang malu-malu.

__ADS_1


"Hehe... baiklah lupakan saja itu, jadi kira-kira di mana kita berada saat ini Sira?"


"Hm... entahlah nona..."


Ssttt!!


DUARR!!


.


.


"NONA SHEA!!"


GRAAHHHHH


"Hm... tenanglah Sira aku masih di sini... tapi yahh ayo kita menjaga jarak dulu dengan monster i..." Ucapku sambil mengangkat Sira.


DUARRR!!!


"Ughh... padahal aku belum menyelesaikan ucapanku." Ucapku sambil melompat mundur ke belakang.


"B-bagaimana bisa nona...? b-bukannya tadi anda terlempar?"


"Um... yahh... itu hanya batu tempatku duduk tadi."


Saat aku bicara dengan Sira tiba-tiba saja ada seekor monster yang menyerangku dengan memukulkan tangan penuh cakar besar ke arahku, dan dengan cepat aku menghindarinya melompat ke belakang Sira, tapi tampaknya Sira tidak menyadari kalau aku berada di dekatnya dan malah mengira aku sudah terlempar jauh gara-gara serangan monster itu.


Jadi aku langsung mengangkatnya lalu melompat mundur untuk menjaga jarak karena monster itu kembali menyerang kami dengan memukulkan tangannya itu lagi.


Hm... trenggiling? mana ada trenggiling dengan mulut penuh taring seperti itu.


GRAAHHHH!!


Syutt!! Syutt!!


"Hm... serangannya memang cepat..."


Syutt!! Syutt!!


DUARR!!


"N-nona b-bisa t-turunkan s-saya ...?"


Monster di depanku ini berbentuk agak mirip seperti hewan trenggiling, tapi dengan ukuran dan bentuk yang sedikit berbeda, tingginya mungkin sekitar lima meter dan dengan mulut yang dipenuhi taring dan juga ada semacam aliran lava kecil di sela-sela sisiknya, dia terlihat cukup menyeramkan.


Monster itu terus mengayunkan cakar besarnya itu ke arahku tanpa henti dan juga sesekali menghentakkan tangannya ke tanah aku hanya mengindar dari setiap serangannya itu karena Sira masih berada di peganganku aku mendekapnya erat seperti bantal dengan satu tangan masih memegang pedang menghindari cakaran monster menyeramkan itu.


"Ehh! Sira kau baik-baik saja? Sira? ehhh!! k-kenapa dia pingsan?"


GRAAHHHH


"Gawat! maaf Sira sebaiknya kau tidur di sana!!" ucapku sambil melempar Sira ke semak-semak hutan.


DUARRR


"Ekhh! a-aduhh... ini menyakitkan!" ucapku memegang pundakku.


"Waa!! sayapku!! TIDAK!!!" ucapku sambil menatap kedua sayapku.


Entah karena apa Sira tiba-tiba saja tidak sadarkan diri sementara monster itu sudah mulai melakukan serangannya dengan menyemburkan api dari jarak yang dekat, dikarenakan aku itu aku kemudian melemparkan Sira ke dalam semak-semak hutan agar dia terhindar dari serangan itu, aku langsung melebarkan sayapku dan melipatnya ke depan menghalangi serangan monster itu


Sayangnya walaupun aku bisa bertahan, tapi tidak dengan sayapku, sayap kiriku yang aku pakai untuk melindungiku berlubang dan terluka parah karena terbakar, aku dapat merasakan sayapku matang karena terbakar dan hampir hanya tersisa tulangnya saja, sayap putih tipisku berubah menjadi merah kehitaman karena luka bakar yang sangat parah aku sangat tidak menyukai itu.


"Baiklah... mari coba ketajaman pedang ini... aku pasti akan membelah kepalamu hehehehe." Ucapku sambil mengangkat pedangku.


GRAAHHHH


"Sayang sekali, yang kedua tidak akan semudah yang pertama."


DUARR


"Yahh... aku beruntung memiliki kemampuan regenerasi, karena jika sayapku tidak kembali seperti semula akanku pastikan aku akan mencincang tubuhmu sampai menjadi daging giling." Ucapku sambil berjalan ke arahnya.


Lagi-lagi monster itu menyerangku dengan semburan apinya, tapi seperti sebelumnya aku tidak menghindari itu aku hanya menangkisnya dan membelah semburan api itu dengan tebasan dari pedang sihir yang aku bawa sebelumnya, setelah menangkisnya aku kemudian perlahan berjalan mendekati monster itu dengan masih menggenggam erat pedang sihir di tanganku.


Sringg!! Sringg!!

__ADS_1


Em... sepertinya pedang ini mulai tumpul, yahh... sebaiknya aku akhiri permainan ini.


"Rasakan ini monster dasar menyebalkan!" ucapku sambil menendang tubuh monster itu.


BRUKKK!!


.


.


.


DUARRR!!


"Um... apa itu terlalu keras? ya... tidak masalah, sebaiknya aku menghabisinya sebelum dia lari."


Melihat aku yang semakin mendekatinya monster itu terus mengayunkan cakarnya padaku, dengan tenang aku menangkis satu persatu serangannya itu dengan sangat mudah, tapi karena pedangku sudah mulai tumpul dan bilahan pedangnya yang terkikis aku kemudian menendang tubuh monster itu dengan sangat keras sampai-sampai monster besar itu terlempar jauh ke sebelah sungai, aku bahkan kesulitan untuk melihatnya dari tempatku berdiri saat ini.


"Woaa!! sayapku sudah sembuh! yoshh... waktunya mencoba mengepakkannya." Ucapku dengan mengepakkan sayapku.


.


.


"Upsh... tunggu dulu, ada barang yang tertinggal." Ucapku kembali turun.


.....


"Kalau tidak salah tadi aku melemparnya ke arah sini? owh!! itu dia! Sira... um... dia masih belum sadar, hahh... ya sudahlah." Ucapku sambil mengangkat tubuh Sira.


Saat aku terbang karena ingin menghampiri monster itu aku hampir saja lupa dengan Sira yang aku lempar sebelumnya, aku kemudian kembali untuk mencarinya di semak-semak hutan, tapi saat aku menemukannya dia masih belum sadar dari pingsannya, langsung saja aku kemudian mengangkatnya lalu terbang kembali menuju ke tempat monster trenggiling itu.


...........


"Hm... seharusnya monster itu terpental ke sini." Ucapku sambil menatap ke depan.


.


.


"Owh! itu dia... jadi dia ingin melarikan diri ya, tidak akan kubiarkan kau lari monster sialan!" ucapku sambil melemparkan pedangku padanya.


GRAAHHHH!!!


Aku langsung terbang menyusuri jejak monster yang kutendang sebelumnya mengikuti arah pohon dan tanaman yang patah saat monster itu terpental, aku menendangnya dengan cukup keras sehingga dia terpental cukup jauh, tapi walaupun begitu aku tidak bisa menemukannya monster itu telah menghilang meskipun aku sudah mengikuti arah jatuhnya.


Tapi, aku tidak mungkin membiarkan monster itu melarikan diri begitu saja setelah dia membakar sayapku, aku kemudian pergi menyusuri hutan untuk mengikuti arah jejak kakinya dan setelah cukup lama aku akhirnya menemukan monster pengecut yang hanya bisa lari setelah menyerang itu, tanpa berlama-lama aku langsung melemparkan pedangku padanya dan tepat mengenai punggungnya sontak saja monster itu langsung menggeram dan terjatuh kesakitan sambil berusaha untuk mencabutnya.


"Wah wah... kau kesakitan ya? baiklah... kalau begitu aku akan mengakhiri ini." Ucapku sambil menendang kepala monster itu.


GRAAHHHH...


"Sepertinya pedang ini sudah tidak bisa dipakai lagi sangat disayangkan, tapi terima kasih atas bantuanmu selama ini."


Karena monster itu sedang tersungkur di tanah aku dapat dengan mudah menendang kepalanya dengan sangat keras sampai-sampai kepala monster itu terlepas dari tubuhnya dan mati seketika itu juga, aku kemudian mencabut pedangku yang tertancap di punggungnya, tapi karena pedang itu sudah rusak karena serangan sebelumnya aku menancapkan pedang itu di dekat sebuah pohon sebagai penghormatan karena telah membantuku walaupun hanya sebentar.


"A-apa yang terjadi n-nona?" ucap Sira perlahan sadar.


"Oh... Sira kau sudah sadar."


"Y-ya... maaf nona, lalu bagaimana dengan monster itu?" tanya Sira.


"Tenang saja... aku sudah mengurusnya hehe... tapi kenapa tadi kau pingsan Sira?"


"H-hanya sedikit sesak ..." jawabnya.


"Sesak?" ucapku kebingungan.


"Tidak tidak... bukan apa-apa nona hehehe."


"Ehhhh..."


Beberapa saat setelah aku membunuh monster itu Sira kemudian kembali sadar dan perlahan bangun dari pingsannya, tapi dia bahkan lebih aneh dari tadi pagi aku sama sekali tidak bisa mengerti ucapannya, aku hanya bisa berekspresi seperti orang kebingungan dengan sedikit memiringkan kepalaku mendengarkan ucapannya.


...🌹*****🌹...


...Maaf ya 🙏🙂 seharusnya kemarin malam 😔🌹...

__ADS_1


__ADS_2