
Menghirup udara segar dari atas bukit rumput, aku merasa sangat tenang saat duduk di tempat ini, udaranya yang sejuk benar-benar menenangkan dan seolah mengangkat bebanku selama ini meski terasa sedikit sepi, tapi aku cukup senang berada di sini.
...
"Aaarrgghhhh!!!"
"Eh?! apa itu?!"
"Teriakan? sepertinya sedang dalam masalah, tapi... seharusnya ini jauh dari jalur petualang..."
Hampir tertidur di bawah pohon bukit ini karena suasananya yang sangat nyaman, tiba-tiba saja aku dibuat terkejut oleh suara teriakan yang terasa sangat klise di telingaku, tapi hal yang membuatku bingung adalah karena teriakan itu terdengar tidak jauh dari tempatku saat ini.
Karena selama beberapa bulan terakhir aku telah berkeliling di hutan ini, aku sudah mengingat jalur-jalur yang cukup sering di lewati oleh petualang dan pedagang, dan tempat ini jelas berada jauh dari itu semua.
"... sebaiknya aku lihat dulu" ucapku sambil kembali terbang.
Untuk memastikan apa yang sedang terjadi, aku memutuskan untuk terbang berkeliling di area sekitar mencari asal teriak itu, tapi tentunya seseorang yang ada di dalam hutan tidaklah mudah untuk ditemukan karena aku hanya bisa melihat sedikit ruang saja sementara sisanya adalah dedaunan pohon yang tumbuh subur.
...
"Emh...! tampaknya ini akan sedikit sulit, seandainya ada petunjuk lain... hm... ini seperti bau darah…? ah, ini berbahaya."
Meski awalnya tampak mustahil untuk ditemukan, beberapa saat setelah aku terbang rendah mencarinya dari atas pepohonan, aku mencium aroma darah segar yang cukup kental memenuhi indra penciumanku, meski itu petunjuk yang bagus, tapi sebenarnya itu juga pertanda terjadinya sesuatu yang buruk.
Karena jika aku bisa mencium aroma darah itu, maka tidak menutup kemungkinan para monster yang memiliki indra penciuman tajam juga dapat merasakannya, dan fakta bahwa orang itu sedang terluka pasti juga karena dikejar monster.
"Hm... darahnya sampai berceceran seperti ini... lukanya pasti sangat besar... kalau begitu, aku harus bergegas."
Ketika aku turun dari ketinggian karena mataku sudah terhalang sepenuhnya oleh dedaunan pohon yang rimbun, aku berjalan mengikuti tetesan darah yang berceceran di dedaunan semak dan juga rumput liar, semakin aku mengikutinya semakin banyak dan segar juga darah yang kulihat.
Bau darah itu terus berputar-putar di dekatku dan membuatku sedikit tidak nyaman, tapi karena aku khawatir dengan apa yang terjadi, aku tidak begitu mempedulikannya, dan salah satu dari kekhawatiranku adalah mungkin saja orang itu akan kehabisan darah jika dilihat dari banyaknya darah di depanku, itulah yang membuatku terus berjalan di tengah ketidaknyamanan ini.
Gerrr!!
"Emh! menyebalkan! shuh shuh! pergilah, aku tidak ingin meladeni kalian!"
.
.
"Hm, lebih mudah dari yang kubayangkan... yah... baguslah, lagipun aku sedang tidak ingin melawan mereka."
Masuk menerobos semak-semak yang cukup menyebalkan karena saking tebalnya, dan setelah cukup lama berada di dalam perangkap hutan ini, aku akhirnya berhasil keluar dengan sedikit menghela napas, tapi baru saja keluar dari situasi yang menyebalkan aku tiba-tiba dihadang oleh lima ekor monster anjing hitam dengan taring yang berlumuran air liur dan itu terlihat menjijikkan yang membuatku tidak ingin melawan mereka.
Dan juga dikarenakan aku tidak ingin bergerak terlalu banyak untuk menghadapi para monster itu, aku hanya mengibaskan tanganku seperti mengusir hewan liar dan aku senang cara itu sangat efektif untuk membuat mereka pergi tanpa harus bertarung membuang-buang waktu dan tenaga, dan tentunya tanpa harus mengotori gaunku dengan air liur mereka.
"Hah hah hahh...!"
"Hm... suara itu... dari balik pohon itu..."
.
.
"Itu dia! tapi... argh!! lupakan! aku harus segera menolongnya!"
Tidak begitu lama setelah aku mengusir para monster anjing hitam, suara napas kasar penuh jeritan terdengar sangat jelas di telingaku dan tanpa membuang-buang waktu lagi, aku kemudian segera menuju ke sumber suara itu dan benar saja, ada satu orang lelaki yang tergeletak sambil bersandar pada batang pohon dengan satu luka besar yang terlihat jelas di dadanya.
Darahnya mengalir deras seakan tidak ada hentinya dari atas hingga bawah bahkan di tempat dia bersandar juga penuh dengan darah merah, dilihat dari telinga dan ekor hewannya sangat jelas bahwa dia berasal dari ras beastman serigala, dan karena lukanya yang sangat besar aku sempat ragu untuk menolongnya, tapi aku langsung menghilangkan rasa raguku dan bersiap untuk memberikan pertolongan pertama semampu yang aku bisa.
"Bertahanlah... aku akan mengobati..."
Deg!
"Hah... hah... hahh...! kenapa... tanganku?!"
Di saat aku ingin mengobati orang itu dan berfokus untuk menggunakan sihir penyembuhan, jantungku tiba-tiba berdebar kencang dan tanganku juga terasa kaku bahkan hampir tidak bisa aku gerakkan, aku benar-benar bingung dengan apa yang terjadi padaku saat ini yang membuat tubuhku bergetar karenanya, napasku terasa sangat berat dan sesak seolah tercekik oleh sesuatu padahal rantaiku sama sekali tidak aktif.
"Hiks... kenapa? apa ini? tidak... aku tidak boleh seperti ini... aku harus fokus... " ucapku sambil menyapu air mataku.
"Meski ini berisiko tinggi, tapi tidak masalah... tenangkan dirimu Shea..."
Dengan semua hal membingungkan yang kurasakan saat ini, air mataku mengalir dengan sendirinya tanpa sebab yang jelas.
Tubuhku seakan menolak untuk melakukan apa yang aku inginkan, tapi beruntung aku dengan cepat bisa menenangkan diriku dan kembali berfokus pada tujuanku untuk menyelamatkan orang yang kini ada di depanku, meski tubuhku masih gemetar, tapi aku merasa sudah jauh lebih baik.
__ADS_1
" ...baiklah... mari mulai."
"Uhuk! uhuk!!"
Ketika aku memulai proses penyembuhan pada luka besar yang ada di dada orang itu, darah tiba-tiba menyembur dari mulutnya disertai dengan batuk keras yang terlihat sangat parah.
"Bertahanlah! ekh!! tidak boleh! aku harus bisa mengobatinya...!"
" ... "
Deg!
"Arghh!!"
Rantaiku seketika aktif mencekik leherku saat aku menggunakan sihir penyembuhanku, tubuhku memanas sampai ke tahap di mana aku mungkin akan segera menangis.
Ini sangat sakit, tapi aku tetap berusaha fokus untuk melanjutkan sihir penyembuhanku agar bisa menyelamatkan nyawa orang itu, tapi sekeras apapun aku bertahan pada akhirnya aku harus menghentikan sihirku karena efek dari rantaiku sudah semakin menjadi-jadi.
"H-harus... bisa... tunggu!! jangan mati! jangan mati! jangan mati!! tidak... tidak!!!"
Menghela napas dengan kasarnya untuk kembali mengunakan sihirku, saat aku menatapnya lagi tubuh beastman serigala itu sudah berubah menjadi sangat pucat seakan-akan tidak ada lagi satu tetes pun darah di dalam dagingny. Selain itu, dadanya yang semula kembang kempis menahan sakit juga tidak bergerak lagi.
Meski aku sudah menggunakan sihirku berulang kali untuk mengembalikan napasnya, tapi tetap saja dia tidak akan pernah lagi bernapas, dan ini pertama kalinya aku tidak bisa menolong orang lain dengan kekuatanku, sedih? tentu saja, karena aku telah membiarkan orang lain mati di hadapanku.
Dia mungkin bukan siapa-siapa, aku juga tidak pernah mengenalnya, dan sedih ketika melihat orang tak dikenal meninggal mungkin adalah sesuatu yang aneh, tapi aku hanya bertemu dengan segelintir orang dalam jangka waktu yang lama meski dari segelintir orang itu hanya beberapa saja yang mau bicara denganku, aku tetap berharap ada orang yang mau menjadi temanku.
Aku ingin bicara, memang tidak ada yang menjamin orang ini mau menjadi temanku, tapi aku tetap sedih karena tidak bisa menolongnya.
"Maaf, kuharap kau beristirahat dengan tenang..." ucapku sambil membekukan tubuhnya.
"... ekhh!! a-aku harus segera pulang."
Walaupun aku sangat sulit untuk menggunakan sihirku, tapi karena aku tidak ingin mayat orang itu dimakan oleh monster, aku memilih untuk membekukannya lalu menghancurkannya hingga tidak ada satupun bagian dari tubuhnya yang tersisa, kecuali darah yang berceceran di sepanjang jalan.
Dikarenakan urusanku sudah selesai dan tubuhku yang terus menerus bertambah sakit, aku kemudian langsung terbang selagi masih bisa untuk pulang ke rumah karena jika aku sudah mencapai batasnya, mungkin aku akan kesulitan untuk pulang.
...✧✧✧...
"Hah hah hah!! ah... hiks... sakit...!"
Cukup lama aku terbang dengan keadaan yang tidak stabil, aku akhirnya berhasil sampai di danau Cryle dan langsung terlentang menutupi wajahku karena air mata yang sudah tidak bisa aku bendung lagi.
"Hiks hiks... sakit!"
"Nona?"
"Sira..."
"Anda kenapa, nona?"
Ketika aku duduk merangkul kakiku dan membenamkan wajahku menangisi keadaanku yang menyedihkan ini, Sira kemudian datang menyapaku yang membuatku kembali mengangkat wajahku.
Ini sangat memalukan karena wajahku dipenuhi air mata dan tidak ada waktu untuk menyapunya, aku bahkan kesulitan untuk bergerak meski hanya sedikit, sangat sulit untukku tersenyum dalam keadaan sesakit ini dan aku yakin Sira sudah sadar dengan kondisiku karena saat ini aku tidak bisa menutupi apapun darinya.
"Hei Sira... apa menurutmu aku ini bodoh?"
"Anda hanya menjadi diri anda sendiri nona, di luar sana tidak banyak orang yang peduli dengan keadaan orang lain, saya pikir apa yang anda lakukan itu adalah sesuatu yang bagus, hanya saja sebaiknya anda jangan terlalu berlebihan sampai-sampai melupakan keadaan anda sendiri."
"Begitu ya..."
Sambil bersandar di tubuh Sira yang dipenuhi bulu lembut, sekali lagi dalam hidupku aku merasa sangat bodoh karena rela menyakiti diriku sendiri demi orang lain yang tidak pernah menjamin tercapainya tujuanku, aku sangat ingin membenturkan kepalaku agar aku dapat melupakan segala rasa sakit dan kebodohanku, setidaknya itulah yang aku pikirkan sebelum Sira datang dan bicara denganku, walaupun rasa sakitku tidak hilang, tapi aku merasa lebih baik saat mendengarkan ucapan Sira.
"Bisa bantu aku berdiri?"
"Tentu, nona."
.
.
"Terima kasih Sira, mulai dari sini aku bisa berjalan sendiri."
"Anda yakin?"
"Ya, tidak apa."
__ADS_1
"Baiklah."
Berjalan dengan dibantu oleh Sira, dia terus menuntunku mulai dari danau hingga tiba di depan tangga rumah dinding, seandainya aku tidak berpegang pada Sira, aku mungkin sudah terjatuh berulang kali karena kakiku sangat lemas.
Setelah selesai membantuku, Sira kemudian kembali berubah menjadi harimau kecil lalu berbaring di atas anak tangga ke-3, sementara aku berjalan perlahan menuju kamarku dengan berpegangan pada dinding.
...
"Ahh... hahh...! ini akan berakhir sangat lama, sebaiknya aku mandi dulu... setelah itu, semoga aku bisa tidur nyenyak."
Berbaring di atas kasur yang empuk, meski penuh perjuangan untuk bisa sampai di kamarku tanpa terjatuh, aku senang bisa sampai di kamarku dengan begitu aku dapat beristirahat tanpa ada gangguan dari luar, tapi karena tubuhku terasa sangat panas aku kemudian memutuskan untuk mandi berendam agar aku bisa mengurangi sedikit suhu panasnya.
Aku langsung mengambil bathrobe atau jubah mandiku dan satu handuk kecil dari dalam lemari untuk membungkus rambutku nanti, satu tantangan besar yang harus aku hadapi sebelum bisa berendam adalah aku harus menuruni tangga yang sudah aku lewati dengan susah payahnya.
"Tidak masalah, ini hanya tangga..."
Brukk...
"Hiks... Sira... aku tidak bisa turun..."
"Y-ya... tunggu nona... biar saya bantu."
Walaupun berusaha untuk tidak peduli dengan tangga menurun yang akan aku lalui, tapi tetap saja belum sempat aku melangkahkan kakiku untuk turun di anak tangga pertama, kakiku langsung lemas dan aku harus terjatuh dengan cukup keras dalam pendaratan yang tidak menyenangkan.
Aku seperti berada di atas tower yang sangat tinggi dan tidak bisa turun kembali, dan akhirnya karena sudah tidak bisa bangkit lagi aku kemudian memanggil Sira untuk membantuku sekali lagi, tidak lama kemudian Sira berubah menjadi monster manusia harimau lalu menggendongku hingga ke depan pintu masuk ruangan dua danau.
"Terima kasih, Sira."
"Ya, panggil saja saya nanti jika anda sudah selesai."
"I-iya tentu."
Setelah mengantarkanku ke depan ruangan danau yang ada di dapur, Sira kemudian kembali mengubah tubuhnya menjadi harimau kecil lalu melompat naik ke atas meja makan dan seperti biasanya dia langsung berbaring seperti bantal bulu.
Selangkah demi selangkah aku berjalan, meski dalam keadaan yang sangat menyakitkan dan sesekali merintih, aku akhirnya berhasil berendam setelah melepaskan semua pakaianku dan meletakkannya di atas batu bersamaan dengan bathrobe dan handukku.
"Ah~ sulit untuk menikmati ini dalam keadaan yang sangat sakit."
Berendam sambil menggosok halus kulit dan rambutku dari ujung ke ujung, aku akan sangat menikmati ketenanganku jika seandainya rantaiku tidak aktif, tapi karena ini adalah keadaan yang sebaliknya, aku merasa sulit untuk mendapatkan ketenangan.
"Aku harap, rantai ini cepat menghilang dari leherku..."
Crakk
"Eh! EEHHH!!!! tunggu! aku hanya bercanda! aku tidak serius! kembalilah! tidak!!! dia pasti marah...! dia pasti menghajarku lagi...! kali ini dia tidak mungkin mengampuniku... hiks... AKU BAHKAN TIDAK MELAKUKAN APAPUN!!!"
Lama aku berendam di dalam air yang jernih ini, aku mulai berharap rantaiku bisa cepat terlepas dan aku tidak perlu lagi menderita separah ini, tapi entah karena kekuatan harapan yang terlalu besar rantaiku tiba-tiba saja hancur menjadi tiga bagian dan tentunya itu sangat mengagetkanku.
Aku merasa sangat panik dan takut saat rantai itu hancur, jika sebelumnya saja aku sudah dihajar hingga babak belur karena tidak sengaja menghancurkan rantai hukumanku, aku tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi padaku nantinya saat orang itu datang ke rumahku, aku terus berusaha untuk memasang kembali potongan rantai itu ke leherku dengan panik, tapi tetap saja potongan besi itu tidak akan pernah lagi tersambung.
Pikiranku seketika menjadi kacau karena aku tidak mengerti apa yang terjadi, aku tidak melakukan apa-apa pada rantai itu, tapi aku sangat yakin orang itu tidak akan pernah mendengarkan ucapanku dan akan tetap menghajarku.
"Tenangkan dirimu Shea! tenanglah dan pikirkanlah! pikiran yang panik tidak akan menyelesaikan apapun... pertama-tama aku menganalisa keadaan, kalau begitu sebaiknya aku sudahi mandinya..."
.
.
"Eh! nona?!"
Masih sangat panik dengan situasi yang membingungkan ini, aku kemudian langsung memakai bathrobe lalu berlari dengan cepat menuju kamarku melewati Sira yang tampak kebingungan sambil membawa semua potongan rantai hukumanku yang terpecah belah.
"Bagaimana ini?! bagaimana mungkin ini bisa terjadi?! apa yang harus aku katakan padanya nanti?! dia pasti marah besar padaku!"
Tok tok tok...
"Tunggu sebentar! eh?! tunggu dulu?! Sira, kau baru dari dapurkan?"
"Ya... begitulah, nona."
Tiba di kamar aku langsung memakai pakaianku dengan cepat sambil memikirkan cara terbaik untuk mengatasi masalah ini tanpa harus ada kemungkinan menderita, aku terus berputar-putar di kamarku dengan pikiran yang benar-benar kacau.
Hingga tidak lama kemudian aku mendengar suara ketukan pintu dan dengan spontan aku memintanya untuk menunggu selagi aku berjalan menuju pintu masuk rumah, tapi saat aku turun dari tangga dan melihat Sira yang baru keluar dari dapur, aku baru tersadar bahwa yang mengetuk itu bukanlah Sira dan sejak awal memang bukan.
Berjalan perlahan menuju pintu sambil menelan ludah disertai keringat dingin yang mulai keluar, aku yang ditemani Sira kemudian membuka pintu rumahku.
__ADS_1
"S-selamat... datang..."
...✿✿✿✿✿...