
DUARRR!!!
"Di mana Zoe?" tanyaku menoleh ke belakang.
"Teruslah berlari! kita harus bisa keluar dari hutan ini!" sahut Luna mengandeng tanganku.
Tapi, bagaimana keadaan Zoe?
"Kak berhenti!" ucap Lia tiba-tiba.
"Ada apa Lia? kita harus berlari!"
Terdengar sangat jelas suara ledakan beruntun yang terjadi di belakang kami ditambah ternyata Zoe diam-diam pergi menghilang entah ke mana yang membuatku sangat khawatir dengannya, tapi dengan sigap Luna menarik tanganku dan terus membawaku berlari sampai akhirnya Lia memaksa menghentikan langkahnya dengan terlihat begitu ketakutan seperti merasakan sesuatu.
"I-itu!!" ucap Lia menunjuk ke suatu tempat.
"Wah wah wah… ternyata aku ketahuan, selamat ya kalian akanku bunuh!"
"Lari!!" dengan tanpa ragu Luna menarik tangan kami memasuki semak hutan untuk menghindari sosok iblis yang berada di hadapan kami.
"Aaa!!"
Brukkk!!
"Ekhh!!" rintihku.
Tanpa kami disadari semak yang kami lompati adalah sebuah jalan curam yang sontak membuat kami tergelincir dan terjatuh cukup jauh serta dengan kasar menghantam pohon di bawahnya.
"K-kalian baik-baik saja?" tanya Luna.
"Kak kakiku sakit… sepertinya terkilir!" ucap Lia sambil memegang pergelangan kakinya.
"Bertahanlah Lia, kita cari tempat aman dulu ayo naik kakak akan menggendong"
Argh! tidak aku harus bangkit!
Masih dengan nafas terengah-engah dan kepala yang berdarah akibat terbentur pohon aku berusaha bangkit dengan rasa sakit menguasai kepalaku, begitupun dengan Luna dan Lia yang penuh dengan goresan kayu saat terjatuh sebelumnya bahkan aku dapat melihat tangan kanan Luna yang terbalut perban kembali berdarah saat dia menggendong Lia yang kakinya terkilir.
"C-cepat!! k-kita harus bisa selamat dari tempat ini." Ucapku kepada Luna dan Lia.
"Baik!" sahut Luna seraya menggendong Lia.
Sedikit mengamati keadaan aku kemudian menemukan sebuah tempat yang cukup bagus untuk bersembunyi dari kejaran iblis itu, dan dengan cepat Luna membawa Lia mengikutiku masuk ke semak tebal itu.
"HAHAHAHA kalian pikir bisa lari dariku?!! tidak akan pernah!! bahkan semua orang-orang payah itu sudah mati dan sisanya hanya tinggal kalian saja HAHAHAHAHA..."
"Lari!!" seruku pada mereka.
Saat sedang menuju tempat persembunyian tiba-tiba saja iblis itu muncul kembali dan mengagetkan kami bertiga yang sontak membuat kami kembali harus berlari tanpa bisa mengobati luka-luka kami.
...
"Huh huh huh... i-ini mustahil! k-kami sudah tidak sanggup lagi..."
"Luna… bertahanlah kalian harus kuat kita tidak boleh/"
"Ketemu... HEHEHEHE."
"Gawat!!"
Benar seharusnya kami tidak pernah mengikuti misi ini... seharusnya kami tidak perlu terlibat dalam bahaya seperti ini...
Groaahhhhh!!!
DUARRR!!
"Cih roh sialan!!" geram iblis itu.
"Zoe… tidak tidak, Luna, Lia ayo kita pergi!"
"Ya!"
Aku benar-benar putus asa untuk selamat dari iblis ini sampai akhirnya ada seekor roh singa yang menyambar iblis itu seperti sebuah guntur yang menggelegar, tak hanya diam saja kami langsung memanfaatkan keadaan ini untuk lari menjauh darinya, dilihat dari jenis roh itu aku sangat yakin kalau Zoe yang telah mengirimnya ke tempat kami walaupun aku sedih dengan itu, tapi aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri kami bertiga, aku yang kembali bangkit dan Luna yang kembali menggendong Lia kami kemudian pergi secepat yang kami bisa menghindari tempat ini.
...*****...
"Hah hah hah! ini sudah jauh dari iblis itu, ekhh!! s-sekarang sebaiknya kita menyembuhkan luka-luka kita dulu" ucapku sambil memegang kepalaku.
"Baiklah Lia cepat ulurkan kakimu"
"Baik kak" sahut Luna.
Krekk
"Aaaa!! sakit kak!!" jerit Lia.
"Tahan Lia biarku bantu" ucapku sambil menggunakan sihir penyembuhan pada kakinya.
AAWUUUUU!!!
"Suara black dog ayo pergi!! kita tidak bisa menghadapi mereka sekarang!!!" ucap Luna terkejut.
Merasa sudah cukup aman dan kepalaku yang semakin sakit aku kemudian menghentikan langkah kami untuk mengobati sedikit luka kami terutama kaki Lia yang terkilir, Luna kemudian menurunkan Lia memintanya untuk memperlihatkan kakinya dan dengan sedikit gerakan Luna mengembalikan pergelangan kaki Lia kembali seperti semula walaupun Lia harus menjerit kesakitan karena itu, sementara itu aku yang sudah selesai meredakan sakit kepalaku dengan cepat membatu Lia untuk meredakan rasa sakitnya, tapi sekali lagi kami harus pergi dengan tergesa-gesa karena suara lolongan dari monster black dog yang terdengar sangat jelas di dekat kami dan beruntungnya Lia sudah bisa berjalan sendiri
...*****...
Guk Guk Gerrrr!
"Mereka semakin mendekat!"
Duarrr!!
"Aaaa!!!" teriakku.
"Kie!" seru Luna.
...
Dengan terus berlari menghindari serangan black dog yang mengejar kami tubuhku tiba-tiba dihantam oleh benda yang sangat keras sampai-sampai aku terlempar ke sebuah batang pohon dengan darah yang kembali mengalir dari tubuh bagian kiriku, tubuhku begitu sakit sampai-sampai aku kesulitan untuk menggerakkannya disaat bersamaan Luna dan Lia kemudian menghampiriku dengan berusaha untuk membantuku berdiri.
"I-itu monster!!" ucap Lia ketakutan melihat monster besar di hadapan kami.
"A-ayo lari!!" ucapku pada mereka.
***
Monster yang menyerangku itu muncul menunjukkan dirinya dari balik semak hutan yang ternyata adalah monster kadal berjirah yang cukup besar, melihat itu kami langsung pergi berlari dengan cepat untuk menghindarinya.
Karena ini sudah dekat dengan jalan keluar, mungkin akan ada orang yang mendengarku.
"Tolong!!!"
...
__ADS_1
Ssttt!!
"Aaaa!!"
Aku berteriak dengan keras berharap ada seseorang yang akan datang menolong kami karena jarak tempat ini yang sudah dekat dengan jalanan, tapi sayangnya monster itu melemparkan duri-duri tajam yang ada di ujung ekornya ke arahku dan langsung mengenai punggung kananku dengan telak yang sontak membuatku menjerit dengan keras.
"Kie!! kau baik-baik saja?!!" tanya Luna menghampiriku.
"C-cabut!" pintaku padanya untuk mencabut empat duri besar di punggungku.
"Ekhh!!! argh!!"
"Aaaa!!! kak!!!" teriak Lia menatap ke arah monster kadal berjirah itu yang kini tepat berada di hadapan kami.
"Rasakan ini dasar monster jahat!!" teriak seseorang turun dari atas menerjang kepala monster itu.
DUARR!!
"Hm... monster ini mirip dinosaurus, hahh... yang besar saja dunia ini sangat unik."
"Apa kalian…" ucapnya sambil berbalik menatap kami.
"I-iblis!!"
Dari atas langit muncul seseorang yang langsung menerjang kepala keras dari monster kadal itu sampai terpendam ke tanah awalnya aku mengira orang itu adalah sesama petualang, tapi setelah dilihat dengan jelas gadis putih itu memiliki dua tanduk dan sayap di kepala dan tubuhnya yang sontak membuatku gemetar melihatnya, bahkan Luna dan Lia juga merasakan hal yang sama denganku mereka berdua juga gemetar dan ketakutan melihat sosok gadis iblis ini.
"I-i-iblis..." ucapku ketakutan.
"Hah! iblis? d-di mana? di mana?"
"Hm... tidak ada siapa-siapa di sini, Sira apa kau melihat iblis di sekitar sini?" tanyanya pada kucing di kepalanya.
"A-anu... m-mungkin maksudnya..."
"Ya ada apa Sir... eh! tunggu! m-mungkinkah... a-aku?"
...
"Ehhh!!! t-t-tunggu k-kalian salah paham, a-ku bukan.../"
"PERGI!!" ucap Luna sambil melemparkan kerikil ke wajahnya.
"Aa!! a-aduh m-mataku!!" ucapnya sambil mengusap-usap matanya.
...
"Eh! tunggu jangan pergi!"
Entah memang tidak mengerti atau hanya mempermainkan kami iblis ini bersikap seolah tidak mengetahui maksud ucapanku, tapi seperti iblis sebelumnya dia dan kucing bicaranya itu pasti hanya ingin mempermainkan kami kemudian membunuh kami, dalam ambang ketakutan yang menjadi-jadi Luna dengan tubuh gemetarnya melemparkan batu-batu kerikil ke wajahnya kemudian langsung menarik tangan kami untuk berlari, aku dapat merasakan tangannya yang dingin ketakutan bahkan wajahnya juga berubah pucat tidak berdarah.
"Bagaimana mungkin ada iblis lain?!!!" ucapku sambil terus berlari.
Brukkk
Gerrrr!!
"Ekhh!!"
"Kakak!!"
"Tidak jangan mendekat... jangan... aa!" ucap Lia sembari memeluk Luna.
Sepertinya berhasil melarikan diri dari iblis itu sama sekali tidak ada artinya untuk kami, tidak berselang lama setelah itu Luna diterjang oleh seekor black dog sampai terjatuh dan terluka parah, dengan tubuh gemetar hebat dan tetesan air mata yang mulai berjatuhan Lia dan aku memeluk erat Luna dengan taring black dog yang terus mendekat ke wajah kami bersiap untuk menerkam kami kapan saja, yang bisa kami lakukan hanyalah menutup mata kami menunggu kematian yang menyakitkan menghampiri.
...✧❁❁✧✿( Luna )✿✧❁❁✧...
"A-apa ini? kristal? tidak ini es!" ucapku tercengang setelah membuka mataku dengan gemetar.
"Hiks hiks… kak aku takut!"
"Hiks… Luu…"
Aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri kedua kakiku terus gemetar hebat tanpa berhenti, saat aku membuka mataku untuk memastikan black dog sudah mengunyah kami atau belum aku benar-benar terkejut melihat kami yang sudah berada di dalam lingkaran kristal es yang runcing, rerdengar pula sangat jelas suara tangis dari Lia dan Kie yang memegangi kedua tanganku dengan gemetaran dengan semua yang terjadi pada kami.
Krakk
Crass
"A-apa kalian baik-baik saja?" tanya gadis iblis itu pada kami
Tidak tidak tidak bagaimana ini? aku tidak ingin mati seperti ini… aku tidak ingin.
"Apa kalian/"
"J-jangan s-sakiti kami, j-jangan bunuh kami." Ucapku padanya.
"Eh! t-tenanglah a-aku tidak mungkin melakukan itu/" Ucapnya mulai mendekati kami.
"Hiks... ampuni kami ampuni kami... hiks... jangan apa-apakan kami" teriakku sambil bersujud padanya dengan air mata ketakutan yang tidak bisa dibendung lagi.
"Heal... baiklah bagaimana? apa sudah merasa lebih baik?" tanya pada mereka.
Eh! k-kenapa?
"Kalian akan aman lewat sana dan maaf menakuti kalian." Ucapnya sambil mengarahkan tangannya ke sebelah kiri.
Secara perlahan kristal yang mengelilingi kami pecah dan menghilang menjadi air yang masuk ke dalam tanah dan sekarang dihadapanku gadis iblis putih itu sudah berdiri menatap kami, ketenanganku benar-benar sudah menghilang dari pikiranku aku tidak bisa berpikir jernih lagi setelah melihat sosok gadis iblis itu berada tepat di hadapanku, kakiku gemetar tubuhku memucat ketakutan dengan nasip malang yang menimpa kami ini begitupun dengan Lia yang terus memegang tanganku sambil menahan air matanya dengan nafas yang tidak teratur tak terkecuali dengan Kie yang menatap tegang tanpa bersuara ke arah iblis itu, dia berbahaya dia iblis yang menakutkan itulah pandanganku padanya, tapi entah kenapa ia malah mengobati kami yang membuatku semakin bingung dengannya.
Tanpa berlama-lama aku langsung menggenggam tangan Kie dan Lia kemudian berlari meninggalkan gadis iblis itu bersama dengan kucing gemuknya di belakang kami, terus berlari tanpa berhenti dengan nafas tersengal-sengal aku hampir lupa bagaimana caranya untuk bernafas.
Brukk!
"Hah hah hah… kita berhasil hiks… Lia, Kie kita selamat" kataku terengah-engah dan terjatuh sambil menghapus air mataku sembari memeluk Lia dan Kie.
"Hiks hiks… kakak" ucap Lia balas memelukku.
"Hiks hiks...aaaa...!!" tangis Kie memeluk kami berdua.
"Ayo kita pergi dari sini" ucapku pada mereka.
"Baik kak hiks…"
"Emh ya" sahut Kie mengangguk kecil.
Kami benar-benar sangat lega karena berhasil sampai keluar hutan dengan selamat, dengan lutut terjatuh ke tanah aku merangkul erat Lia dan Kie dengan perasaan lega dan air mata yang bercucuran karena berhasil selamat dari kematian berkali-kali walaupun ketakutanku masih belum menghilang, aku kemudian kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan ini agar bisa melaporkan tentang keadaan ini pada pihak yang berwenang.
...*****...
Walaupun keadaan kami membaik dengan luka yang sudah sembuh, tapi tenaga kami belumlah pulih kembali dan bahkan aku kesulitan untuk menggerakkan kakiku yang sangat berat, begitupun juga dengan Lia dan Kie yang kesulitan untuk mengatur nafasnya untuk berjalan.
Srekk Srekk
"Siapa di sana?!!" ucapku menatap tajam ke belakang.
__ADS_1
"Waaa!!"
Brukkk
"A-aduh! tubuh kecil ini benar-benar sulit diajak bekerja sama" ucap kucing loreng hitam itu terjatuh dari atas pohon.
"K-kau! a-apa yang kau inginkan?!! a-apa kau ingin membunuh kami?!!" tanya Kie padanya.
"Woi woi tenanglah bocah, aku hanya diperintahkan untuk menemani kalian jika nona Shea tidak memerintahkanku aku tidak sudi berada di sini terjatuh dari pohon itu menyakitkan, jadi jangan pedulikan aku dan teruslah berjalan agar aku bisa cepat kembali!" jawabnya.
Dengan perasaan was-was diikuti kucing milik iblis itu kami terus melanjutkan perjalanan pulang dengan Lia yang memegang erat tanganku dan Kie yang juga melakukan hal yang sama, bahkan kucing gemuk itu kini berjalan di samping kami dengan bulu yang seolah mengambang di udara setiap kali dia melangkahkan kakinya walaupun tampak menggemaskan, tapi itu tidak menutup fakta kalau dia adalah suruhan dari iblis itu lengah sedikit kami pasti akan dibunuh.
"Woi kalian bisa berjalan lebih cepat?! aku harus segera pergi!"
Cih! seharusnya dia menatap dirinya sendiri.
"Arrgghhh! kalian sangat lambat! apa kaki panjang itu hanya pajangan hah!!?" ucapnya sambil menepuk-nepuk kepalaku.
Cukup lama kami berjalan beriringan dengan kucing gemuk itu, dia tiba-tiba melompat naik ke atas kepalaku dan rebahan di sana dengan santainya, aku yang masih merasa takut hanya bisa membiarkan dia melakukan itu tanpa berkomentar sedikitpun, tapi setiap menitnya dia terus mengeluh tentang langkah kaki kami sambil memukul-mukul kepalaku dengan tangan kecilnya itu, padahal dia sendiri hanya duduk santai di kepalaku.
"Woi ****** bisa lebih cepat lagi!! aku tidak punya banyak waktu!!"
"Hah!! oi kucing brengsek!! ke sini kau dasar kucing gemuk sialan!! akanku cabut semua bulumu itu!!!"
"Kak tenang kak."
"Luu tenanglah, jangan lupa kalau dia peliharaan iblis itu."
"Lepaskan aku! akanku hajar kucing sialan ini!! aku tidak peduli dari mana dia berasal!!!"
"Hupp! teleport!"
Plakk
...*****...
"Eh! ini!"
"Aku yakin kalian ingin cepat sampai ke tempat ini, sampai jumpa lagi."
Aku memang takut dengan kucing satu ini, tapi entah kenapa kekesalanku sangat memuncak pada kucing pemalas ini aku berusaha untuk meraihnya dan menangkapnya dari atas kepalaku, tapi kucing ini dengan gesitnya menghindari tangkapan tanganku lalu melompat turun, Lia dan Kie yang melihatku ingin menghajar kucing gemuk itu lantas memegangi kedua tanganku dan menghalangiku untuk melakukan itu.
Secara tiba-tiba kucing itu melompat ke arahku kemudian menepuk kepalaku dan langsung menggunakan sihir teleport pada kami, kami bertiga langsung terkirim ke depan gerbang kota tempat orang berlalu lalang membawa barang-barang setelah itu kucing gemuk itu pergi dengan cara yang sama meninggalkan kami.
"Selamat datang di ibu kota Amonia, silahkan masuk setelah melewati pos pemeriksaan."
"Benar juga pasukan iblis itu! ayo Kie, Lia!" ucapku buru-buru mengajak mereka untuk memberitahukan masalah ini kepada prajurit pemeriksaan.
"Baik!"² sahut Kie dan Lia bersamaan.
*****
"Di mana kepala prajurit pos penjagaan?!"³ tanya kami bersamaan.
"Eh! kurasa kalian harus pergi ke tempat perawatan,, hei pak tua cepat maju" sahut prajurit yang berjaga.
Semua orang yang menatap kami tampak sangat terkejut dengan keadaan kami tentunya karena kami sedang bersimbah darah walaupun luka kami telah sembuh, mereka sangat tercengang melihat kondisi kami yang berantakan dengan nafas yang terengah-engah bahkan salah seorang prajurit menyarankan kami untuk pergi ke pusat kesehatan dan tidak mempedulikan kami.
"Kami mohon, ini keadaan yang darurat kami ingin bertemu dengan kepala prajurit!" ucap Lia padanya.
"Ada apa kalian ingin bertemu denganku?" ucap seseorang yang keluar dari dalam ruangan pos penjagaan.
"Iblis!! mereka datang!" ucapku dengan tegang.
"Apa ini hanya gurauan kalian tentang rumor itu, pergilah kalian harus beristirahat" ucap kepala prajurit pada kami sambil berbalik.
"Setelah semua yang kami alami, setelah semua ketakutan yang kami rasakan, dan nyawa-nyawa yang berkorban demi kami…" ucapanku sambil memendam wajahku.
"Ha?"
"Apa kau tidak tau betapa sakitnya itu!!! berkali-kali nyawa kami hampir melayang!!! KAU BILANG INI HANYA GURAUAN!!! hiks hiks…" bentak Lia padanya.
"Teman kami, prajurit, petualang, ketua telah mengorbankan diri mereka agar kami bisa memberitahu kalian, kumohon percayalah dengan kami." sambung Kie sambil berteriak keras membentaknya dengan air mata yang kembali menetes.
"Apa kalian punya bukti?!"
"Bukti? iya k-kami punya, ini!" ucapku menghapus air mataku sambil memperlihatkan kalung lencana milik ketua padanya.
"Biar aku lihat?"
.
.
"Exell?!! baiklah aku akan meminta kalian membuat laporan terperinci tentang iblis itu, apa kalian tidak keberatan?"
"Y-ya! kami tidak keberatan" sahutku.
"Tapi, untuk sekarang kalian sebaiknya pergi ke pusat kesehatan untuk berobat dan istirahat."
"B-baik"³ sahut kami.
Semua orang yang melihat kami tampak terlihat kebingungan dan heran dengan kami, tak terkecuali dengan kepala prajurit pos penjagaan yang tidak langsung percaya dengan kami dan malah tidak menghiraukan perkataan yang kami ucapkan, tapi setelah dengan berderai air mata kami membentak kepala prajurit untuk percaya dengan kami akhirnya dia mau percaya setelah melihat kalung lencana milik ketua prajurit yang masih terdapat bercak darah itu, kepala pos penjagaan kemudian meminta kami untuk membuat laporan tentang kejadian itu setelah kami cukup tenaga untuk melakukannya.
"Kalian cari kereta dan bawakan selimut untuk mereka setelah itu bawa mereka ke pusat kesehatan kota!" perintah kepala pos pengawas pada prajurit bawahannya.
"Baik pak!" sahut beberapa prajurit seraya pergi.
"Terima kasih banyak" ucapku padanya.
"Tidak, aku yang seharusnya berterima kasih pada kalian… sekarang istirahatlah dulu di sini selagi para prajurit mencari kereta untuk kalian, aku akan melaporkan kejadian ini pada pihak kerajaan" ucap kepala prajurit menaiki kuda dan melesat cepat bersama kudanya.
"Sekali lagi terima kasih."
Setelah memerintahkan prajuritnya untuk mencari kereta untuk membawa kami ke pusat kesehatan kota, kepala prajurit kemudian mempersilahkan kami untuk beristirahat di dalam pos penjagaan seraya menunggu kereta penjemput kami datang, dengan duduk berpelukan di pos penjagaan kami kami sementara kepala prajurit pergi dengan kudanya untuk melapor kepada pihak kerajaan yang berwenang.
"Maaf, ini selimutnya" ucap seseorang prajurit sembari memberikan tiga buah selimut.
"Terima kasih" ucapku padanya sambil tersenyum tipis.
"Akhirnya tugas kita selesai ya Lia, Kie"
"Em aku sangat takut kak" sahut Lia sambil bersandar di bahuku.
"Hiks… hiks… tapi bagaimana dengan Zoe? apa dia bisa selamat? hiks…"
"Kie… aku yakin dia selamat, Zoe pasti akan datang hanya saja sedikit terlambat jadi tenanglah Kie, dia pasti datang untukmu."
"Hiks hiks…"
Masih terus menangis Kie menggenggam erat tangannya mengingat kembali tentang Zoe yang menghilang di dalam hutan, aku kemudian menyelimutinya lalu merangkul pundaknya berharap agar dia bisa tenang.
Kembalilah Zoe masih ada hal yang belum sempat aku ucapkan padamu...
__ADS_1
...*****...
...(Akhirnya selesai juga bagian nih orang bertiga, waktunya POV Shea)...