I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 13: Sarang Naga


__ADS_3

Perkenalkan namaku Roha atau lebih tepatnya Roha Die Amonia aku adalah putri tunggal dari Raja Erfrid dan juga Ratu Clayria.


Ibuku adalah keturunan asli dari raja terdahulu sedangkan ayahku adalah seorang bangsawan dari kota wert (wilayah bagian timur kerajaan Amonia).


Mereka berdua bertemu di sebuah pesta dansa yang diadakan di istana kerajaan, dari mana aku tau itu tentu saja dari ayah dan kakekku, hehe.


Ayah pernah bilang kalau aku mewarisi kecantikan ibuku, wajah putih berseri dan rambut pirang bersinar serta tatapan mata yang lembut.


Ibuku meninggal sesaat setelah melahirkan ku, sejak saat itu ayahku lah yang memimpin kerajaan ini.


Hari ini aku genap berusia 14 tahun dan sedang dalam pelatihan untuk menambah pengalaman serta pengetahuan dalam hal membela diri dan juga bertahan hidup.


Dan tempat yang ku pilih adalah labirin elo (el'), aku ke sana juga untuk menyelidiki tentang monster yang tiba-tiba muncul kepermukaan yang telah membuat kerusuhan di desa-desa sekitar.


Dengan dikawal 12 pengawal salah satunya adalah Goro, dia merupakan pengawal pribadi yang berada langsung dibawah perintah ayahku.


Ayahku bilang kalau keluarganya telah melayani keluargaku selama beberapa generasi.


kemudian kami berangkat masuk ke dalam labirin, tapi saat kami mencapai lantai sembilan tiba-tiba ada kejadian yang tak terduga menimpa kami.


Kami diserang oleh monster ular besar yang membuatku terjatuh ke jurang yang sangat dalam bersama dengan Goro yang mencoba melindungiku.


"Eh...! aku masih hidup!?" Ucapku keheranan.


Padahal aku terjatuh sangat tinggi benar-benar sangat tinggi, tapi entah kenapa aku masih hidup, bukannya aku tidak bersyukur karena masih hidup tapi ini cukup mengherankan.


"Goro!? Goro! apa kau disini!?" teriakku memanggil Goro.


"Saya disini tuan putri." Sahutnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku padanya.


"Saya baik-baik saja tuan putri." Sahutnya sekali lagi.


"Syukurlah kalau begitu." Ucapku dengan lega.


"Goro, dimana kita berada?" ucapku bertanya pada Goro.


"Entahlah, saya juga tidak tau, tapi dilihat dari tempat jatuh kita sebelumnya ini pasti sangat dalam, mungkin kita berada di lantai 14 atau 15." Ucapnya dengan yakin dan dengan serius.


Kami berdua terbangun di tempat yang gelap dan dingin hampir tak ada pencahayaan disini, aku bahkan tidak bisa melihat apa-apa dan hanya terduduk diam sambil mendengarkan arah suara Goro.


"Jadi begitu ya... owhh, benar juga! Rumi apa kau bisa mendengarku?" ucapku sambil menepuk tangan.


Aku kemudian memanggil roh angin yang telah menjalin kontrak denganku, tubuhnya hanya setinggi kurang dari satu jengkal dan selalu terlihat bercahaya saat sedang gelap, hehe mungkin dia bisa dijadikan lampu penerangan.


"Rumi apa kau mendengarku? hey Rumi!?" ucapku sambil memegang batu kristal kecil di tanganku.


"Iya-iya aku keluar!" sahutnya dengan suara kecilnya yang nyaring.


"Eh... kenapa gelap? hey Roha kenapa disini sangat gelap?" tanyanya padaku.


"Gelap? tidak gelap kok, hehe." Ucapku menjawabnya.


"Hah...! apa maksud...mu... ehhh!! apa-apaan kau ini! apa kau memanggilku hanya untuk jadi lampu sorot!" ucapnya sedikit kesal.


"Hehehe... maaf ya."

__ADS_1


"Kau kan bisa menggunakan sihir api untuk penerangan, hmph! kau tidak adil padahal aku sedang tidur enak di kasurku." Ucapnya dengan cemberut.


"Aku kan sudah minta maaf, maaf ya." kataku sambil minta maaf.


"Ya... iya tak perlu dipikirkan, lagipula kau sudah sering melakukan ini." Balasnya.


"Sebenarnya kita ada di mana? kenapa sangat gelap disini?" lanjutnya bertanya.


"Aku juga ingin tau itu?" sahutku.


"Hmm... ya sudahlah, untuk sekarang kalian bangunkan dulu teman-teman kalian itu." Ujarnya sambil menunjuk ke belakang ku.


"Teman? kami hanya berdua saja lohh..." ucapku kebingungan.


"Berdua!? lalu mereka itu siapa?" kata Rumi.


Aku tidak sadar kalau ada orang lain dibelakang ku, padahal aku sangat yakin bahwa cuma ada aku dan Goro disini, bagaimana bisa?


"Eh...! kenapa mereka juga disini?" ucapku masih dengan kebingungan.


"Hey Goro bukannya tadi cuma kita saja yang terjatuh?" tanyaku pada Goro.


"Saya rasa juga begitu, mereka seharusnya tidak ikut terjatuh dan masih bertarung dengan monster yang menyerang kita." Ujar Goro.


"Hey bangunlah... apa kalian baik-baik saja." tanyaku sambil menggoyang-goyang tubuh mereka.


Perlahan mereka mulai sadar dan berdiri walaupun sebagian masih ada duduk.


"Kami baik-baik saja tuan putri." sahut salah satu dari mereka.


"Sebenarnya apa yang terjadi di atas? kenapa kalian juga ikut terjatuh?" tanyaku lagi.


"Terluka? kalian bahkan tidak mempunyai luka gores di kulit kalian." Ucap Rumi sambil menatap mereka.


"B-benar juga, tapi kami sangat yakin dengan itu, bagaimana mungkin!?" ucap pengawal yang sebelumnya.


"Sebenarnya aku juga heran dengan itu, aku dan Goro juga terjatuh dari atas sana tapi kami mempunyai luka sama sekali, ini sedikit membingungkan!" ucapku dengan heran.


"Benar tuan putri, saya juga merasa demikian ini sulit untuk dipercaya, seharusnya mungkin saja kita sudah mati!" Ujar Goro dengan bingung.


Memang ini sangat sulit untuk dipercaya, kami bahkan tak mempunyai luka sama sekali, bagaimana bisa? kami terjatuh sampai ke dasar jurang lohh... tapi kenapa kami masih hidup?


"Yahh... tak perlu dipikirkan, bukankah bagus kalau kalian masih selamat, terutama kau putri!" ucap Rumi.


"Itu memang benar sih, tapi keadaan ini membuatku bingung lohh..." kataku sambil merenung.


.


.


.


.


"Hey Rumi apa kau tau jalan keluar dari tempat ini?" tanyaku padanya.


"Hmmm... entahlah, aku belum pernah ketempat ini... tapi akan kucoba mencari jalan keluarnya." Jawab Rumi.

__ADS_1


"Saya akan menyalakan api unggun, tempat ini sangat dingin." Ujar Goro.


Perlahan Goro mulai mengeluarkan beberapa kayu bakar dari Dimension Home miliknya dan kemudian menyalakan api menggunakan sihir api.


"Sudah selesai, Silahkan hangatkan diri anda tuan putri." Ucapnya dengan sopan.


"Terima kasih Goro." Ucapku.


Aku kemudian mendekati api unggun dan menggosok-gosok tanganku agar lebih hangat.


"Baiklah kalau begitu, biar ku mulai!" ujar Rumi.


Dia bersiap untuk melakukan penerawangan terhadap tempat ini untuk mencari jalan keluar, dia menggunakan sihir deteksi angin untuk melihat keadaan sekitar.


"Ha... arghhhhh!!!!"


Tiba-tiba saja Rumi berteriak dengan keras dan sangat ketakutan, sontak saja itu membuat kami semua menjadi kaget dan bertanya-tanya mengapa dia sangat ketakutan.


"Ada apa Rumi!? hey! hey! Rumi!! apa yang terjadi!?" ucapku dengan panik.


"Pergi... kita harus pergi dari sini! disini berbahaya! disini tidak aman!" Ucapnya dengan sangat ketakutan.


"Ada apa Rumi!?" tanyaku sekali lagi.


"Mengerikan!! kita dalam bahaya!" sahutnya.


"Putri menjauhlah!!!" ucapku Goro dengan sangat waspada.


Goro tiba-tiba menggunakan kuda-kuda pertahanan penuhnya dan memintaku untuk menjauh bersembunyi, begitu juga dengan empat pengawal yang lainnya.


Mereka benar-benar terlihat sangat tegang dan serius terlihat jelas dari keringat dingin yang keluar dari wajah mereka, ditambah dengan tubuh yang gemetar, apa yang terjadi? ada apa ini? mereka membuatku takut.


Perlahan aku melihat ke arah belakangku dan benar saja aku melihat ada sepasang mata yang sangat besar menatap kearah kami dengan tatapan yang mengerikan.


Tubuhku langsung terasa lemas ketika melihat sepasang mata itu, sontak Goro dan yang lainnya mengambil posisi di depanku untuk melindungiku.


Secara perlahan tempat ini menjadi terang benderang dan lebih mengejutkan lagi ternyata kami sedang berdiri di atas punggung monster itu lebih tepatnya seekor monster Naga.


Monster Naga ini sangat besar bahkan kami tak sadar kalau sedang berdiri diatasnya.


"Mustahil!!" ucap salah satu pengawal yang menjatuhkan pedangnya.


Mereka tampak sangat ketakutan begitu juga dengan ku bahkan Rumi juga bersembunyi di balik rambutku, monster itu sangat mengerikan, dia menatap kami cukup lama sebelum akhirnya kembali menurunkan kepalanya seolah tidak peduli dengan kami.


Melihat kesempatan itu kami langsung turun dari tubuhnya dan berlari, tapi sayangnya tidak ada pintu keluar dari tempat ini, hanya ada satu yaitu dari lubang tempat kami jatuh, tapi itu sangat tinggi kami tak sanggup untuk mencapainya.


"Bagaimana ini!?" ucapku ketakutan


Srrkkkk!!!


Srrkkkk!!!


Monster itu mulai bergerak dan berdiri, sangat besar dia sangat besar, bahkan mungkin dia bisa menelan utuh tubuh kami sekaligus.


Dia adalah mimpi buruk.


...~•~...

__ADS_1


[ Note: dari chapter 13-14 menggunakan perspektif dari putri Roha ]


__ADS_2