
Namaku Sira sang raja harimau dari pegunungan Tyratu.
Ini memang sedikit menyebalkan, aku di panggil disaat sedang makan siang bersama dengan kawananku dan lagi aku belum sempat makan walau hanya satu gigitan.
Bahkan pemangilan ini terbilang pemaksaan, aku ditarik oleh kekuatan yang sangat besar entah milik siapa.
Aku tidak menyukai hal semacam ini, tapi aku juga tidak suka terlalu santai dengan keseharian yang membosankan, sudah beberapa ratus tahun terakhir tidak ada orang yang mampu untuk melakukan ritual pemanggilan terhadap ku.
Sudah lama sejak terakhir kali aku bertarung, Jadi ini adalah kesempatan bagus untuk beraksi menggerakkan beberapa sendi yang telah kaku.
"Apa maksudnya ini?! kau bercanda kan!?" ucapku pada naga putih besar di belakangku.
"Tidak tidak, memang aku yang memanggilmu! kau bisa bertanya pada orang-orang itu." Sahutnya sambil menunjuk pada para manusia di sampingku.
"Hey kalian! apa benar naga ini yang memanggilku!?" tanyaku pada sekumpulan orang di sampingku.
" ... "
Mereka hanya terdiam dan mengangguk ke arahku.
"Bagaimana bisa!? mana mungkin monster memanggil monster!" ucapku dengan sedikit kebingungan.
Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya, bahkan dalam catatan sejarah sekalipun, kejadian ini tak masuk akal.
"Ano... bolehkah aku meminta bantuan mu?" ujar naga itu.
"Bantuan?!"
"Ya... jika berkenan bisakah kau mengawal dan membawa mereka pergi menjauh dari sini, tempat ini terlalu berbahaya bagi mereka." Ucap naga itu meminta bantuan ku.
.
.
.
"Hahh... baiklah! saya akan membawa mereka pergi dari sini." Dengan sedikit menghela nafas aku setuju untuk membantunya.
Naga ini terbilang sangat sopan lebih sopan dari setiap naga yang kukenal, terutama "orang itu" orang yang selalu terikat dengan peraturan yang membosankan dan juga sifatnya yang kurang menyenangkan.
"Baiklah...! ayo kita pergi dari sin..."
Doarrrrrr!!!
__ADS_1
Brukkkk!!!
Sebelum sempat menyelesaikan ucapanku dinding es yang dibuat oleh naga itu berhasil di hancurkan oleh beberapa ekor monster kalajengking raksasa yang merepotkan.
"Pergi!!!" seru naga itu padaku.
"Ayo kita pergi dari sini!!!" ucapku dengan keras kepada para manusia itu.
Kami pun langsung pergi dengan melewati jalan setapak dari celah yang ada di dinding labirin, aku sudah hafal dengan setiap jalanan yang ada di labirin, karena dulu aku pernah bolak balik masuk dalam labirin.
setelah melewati celah-celah sempit kami semua berhasil pergi dengan selamat menghindari pertarungan monster besar itu dan langsung menuju ke tempat jalur teleport.
"Disana! itu jalur teleport!" ujar salah satu prajurit gadis kecil itu.
"Hey! cepatlah ayo bergegas!" ucapku menyela pembicaraan mereka.
Dasar manusia mereka masih saja sempat menampilkan drama kerajaan yang membosankan dan akhirnya kami berhasil keluar dari labirin dimulai dari si putri terlebih dahulu.
"Dimana ini?" tanya putri kecil itu padaku.
"Ini mungkin adalah pintu tersembunyi yang ada di dalam hutan Elo (el')" jawabku dengan singkat.
"pintu tersembunyi?" ucapnya dengan bingung.
"Ya... selain lima pintu utama ada beberapa pintu lagi yang tersembunyi dan tidak ada yang mengetahuinya, biasanya itu terbentuk akibat monster besar yang mencoba untuk keluar dari labirin." Jelasku
"Baiklah... aku akan mengantar kalian keluar dari hutan ini, mendekat lah." Ucapku pada mereka.
Kemudian aku menggunakan sihir teleport dan langsung perpisahan menuju ke jalur masuk hutan yang ada di dekat gerbang ibu kota kerajaan.
"Aku hanya akan mengantarkan kalian sampai di sini." Kataku pada mereka.
"Kira-kira bagaimana keadaan naga itu?" ucap Putri itu bertanya.
Entah apa yang merasukinya putri itu tiba-tiba bertanya padaku tentang keadaan tuanku sang naga putih, padahal dia sangat ketakutan saat berada di dekatnya.
"Tenang saja, dia bukan monster yang lemah." Sahutku
"Baiklah... kalau begitu aku pamit, permisi." Lanjutku.
"Terima kasih banyak." Ucapnya padaku.
"Bukan masalah... sampai berjumpa lagi anak kecil."
__ADS_1
Aku kemudian kembali ke tempat dimana naga itu memanggilku menggunakan sihir teleport.
"Jadi dia bisa mengalahkannya ya... sangat cocok untuk seekor naga, tapi dia tidak ada disini... kira-kira kemana dia pergi?!" ucapku sambil melihat-lihat keadaan sekitar.
Saat aku sampai di tempat ini tuan sudah tidak ada lagi, yang tersisa disini hanyalah mayat monster yang membeku dan mulai hancur.
"Mungkin tuan sedang mencari keberadaan kami saat berhasil mengalahkan keempat monster ini."
"Kalau begitu akan ku susul dia dan melaporkan kabar tentang orang-orang itu." Ucapku sambil mengendus-endus aromanya untuk mencari tau keberadaannya.
Raawwww!!!
Aku langsung melompat mengikuti arah aroma tubuh tuanku si naga putih itu, walaupun aku belum mengucapkan sumpah setia ku padanya.
"Aku akan melaporkan keadaan orang-orang itu padanya!" ucapku sambil melompat dari batu ke batu sambil mengikuti aroma tubuhnya.
Raawwww!!!
"Apa ini?!"
Setelah cukup lama mengikuti arah aroma tubuh tuan aku terkejut melihat ada seekor naga bumi yang tewas terkapar di balik batu dengan keadaan yang mengenaskan.
Tubuhnya dipenuhi oleh Luka yang parah, para ras monster naga seharusnya mempunyai kemampuan regenerasi yang cukup kuat, tapi naga ini sepertinya tidak mampu lagi untuk menyembuhkan dirinya.
Dan satu hal yang membuatku semakin heran adalah bekas luka yang ada di lehernya, luka itu berbeda dengan luka yang lainnya.
"Luka ini... jangan-jangan...! ya ampun! ini akan sangat merepotkan "orang itu" pasti tak akan tinggal diam dan akan langsung bertindak." Ucapku memikirkan setiap kemungkinan yang akan terjadi.
Apa aku harus memperingatkannya? aku harus mencari kebenarannya terlebih dahulu, setelah itu akan ku pikirkan lagi tentang hal ini.
Kemudian aku melanjutkan pencarian tuan melewati beberapa lantai sekaligus dengan teleport dan berakhir di lantai dua labirin atau lebih tepatnya di pintu masuk menuju lantai satu.
Groaahhhhhh!!!!
"Apa itu!?"
Tiba-tiba suara raungan menyeramkan mengagetkanku, suara raungan yang dipenuhi oleh amarah yang sangat besar memenuhi lantai Labirin.
Dump! Dump! Dump!
Krakkkk!!!
Ada ada sepasang tangan besar yang dipenuhi oleh cakar mengerikan memegang kedua sisi pintu masuk dan membuatnya retak nyaris hancur.
__ADS_1
Monster itu perlahan mulai masuk dan akhirnya aku sadar kalau monster itu sebenarnya adalah tuan yang sedang marah.
Aura kemarahannya menutupi seluruh tubuhnya, benar-benar monster yang sangat kuat.