
"Hei bajingan! jauhkan pandangan kotormu itu dari majikanku!"
Yeaa, kau pahlawanku Sira!
"Hah!! aku tidak tertarik dengannya, aku hanya menginginkan pedang itu!" ucap orang itu sambil menunjuk ke arah pedang sihir di samping kananku.
"Pedang? owhh, maaf ya ini bukan milik saya" ucapku sambil perlahan berdiri.
"Hei nona, setelah dipikir-pikir bagaimana kalau kau ikut denganku? kau tidak perlu takut aku pasti akan memanjakanmu nona manis" sahutnya mengajakku dengan senyuman liciknya.
Ujung-ujungnya tetap ke sana.
"Hahh, maaf tuan… tapi saya tidak tertarik" ucapku menghela nafas seraya berjalan ke arah Sira.
Aku cukup lega dengan pembelaan Sira untukku apalagi saat orang itu bilang kalau dia hanya menginginkan pedang yang aku dapat sebelumnya dan pastinya aku tidak akan memberikannya karena pedang itu bukan milikku, setelah itu aku kemudian berdiri lalu dengan perlahan melangkahkan kakiku berjalan mendekati Sira, tapi pria mesum itu dengan tatapan liciknya malah mengajakku untuk ikut bersamanya.
Dan sekali lagi dengan tenang aku menolak ajakannya itu tentu saja karena aku bukan wanita murahan yang berada di gang gelap, dari ucapan dan tatapannya sangat jelas bahwa dia memiliki maksud yang buruk terhadapku dan aku sangat tidak menyukai itu.
"Jadi begitu, ya baiklah… walaupun sangat disayangkan, kalau begitu aku akan menjadikanmu sebagai koleksiku setelah itu kita akan bersenang-senang… dan aku pasti akan menikmati setiap inci tubuhmu itu" sahutnya dengan nada kecewa.
"Menjijikkan!" ucapku pelan memalingkan wajah sambil menutup mulutku.
Ssttt!!!
Sring!!
"Jangan pernah berani menyentuh nona Shea, dasar bajingan!!"
"Sepertinya aku memang harus mengurusmu terlebih dahulu…" sahutnya pada Sira.
Dengan nada kecewa mendengar jawabanku pria mesum itu kemudian menatapku dengan tatapan tajam dan wajah yang penuh gairah, dia bahkan menggunakan kata vulgar dalam kalimatnya yang seolah membangkitkan gairahnya dan itu sangat menggangguku, aku bahkan hampir muntah mendengar ucapannya itu dan dengan memegangi perut juga mulutku aku membalikkan badanku membelakanginya karena perutku yang mual tak karuan padahal isi perutku sudah terkuras sebelum aku sampai di tempat ini, sangat tidak mengenakkan.
Melihat aku yang sedang lengah orang itu kemudian melesat ke arahku dan bersiap untuk menerkamku dengan tangan-tangannya yang sudah sangat dekat dengan leherku, tapi tentunya lengahnya aku bukan tanpa alasan itu karena aku percaya pada rekanku berhargaku dan pastinya itu adalah Sira, lagipula aku tidak ingin menyentuh pria mesum itu di satu sisi karena sikapnya yang menjijikkan dan lainnya karena dia pasti akan sangat kegirangan dengan itu.
Hanya tinggal kurang dari satu jengkal lagi saja orang itu akan menggapai tengkukku, tapi dengan sangat sigap Sira yang melihat orang itu ingin menyerangku langsung menangkap tangannya lalu mencengkeramnya dengan erat, terjadi sedikit pembicaraan yang cukup tegang dengan tatapan yang penuh akan niat membunuh dari Sira dan orang itu.
"Tunggulah sebentar lagi kau akankah menjadi milikku, aku tidak akan menyia-nyiakan tubuhmu yang indah itu" sambungnya menatapku sambil kembali melompat ke belakang.
Menjijikkan! kenapa takdirku harus seperti ini?
hum, aku merasa ada sesuatu yang juga terjadi di hutan sebelah sana… auranya tidak jauh berbeda, tapi ini lebih kuat… apa jangan-jangan ada iblis lain di sebelah sana?
...
"Sira, bunuh dia…" ucapku pelan pada Sira sambil menyembunyikan wajahku di belakangnya.
__ADS_1
Diperebutkan banyak pria itu adalah sebuah kelebihan, tapi diincar oleh pria mesum yang sangat terobsesi dengan tubuh wanita sangat tidak menyenangkan dan aku benci dengan pria seperti itu, bersembunyi di balik punggung Sira memendamkan wajahku di sana lalu dengan suara pelan aku memerintahkan kepada Sira untuk membunuhnya, walaupun aku tidak berniat untuk melakukan itu, tapi melihat orang ini mengingatkanku pada hal yang menyakitkan dan aku tidak ingin itu terjadi lagi di kehidupanku yang baru ini.
Dan juga aku merasakan ada orang lain yang sedang bertarung di hutan dekat kami dan tampaknya dia sedang sangat terdesak, jadi aku tidak memiliki waktu untuk meladeni pria mesum ini terlebih lagi jika tidak dihentikan orang ini akan sangat menjadi-jadi, walaupun ada cara yang lebih baik dari sekedar membunuhnya.
"Baik nona, tapi bisa lepaskan tangan anda? saya tidak bisa bergerak jika anda terus berpegangan seperti ini" ucap Sira padaku.
"M-maaf… " sahutku perlahan melepaskan tanganku.
Sedikit memalukan rasanya setelah aku memerintahkan Sira bergerak, tapi aku malah masih berpegangan padanya seolah menahannya agar tidak pergi seperti anak kecil yang terus bersembunyi di balik orang tuanya karena takut melihat pamannya sendiri, benar-benar sangat lucu. •_•
"Hei nona aku akan memberimu kesempatan untuk memikirkan tawaranku itu jika tidak akanku jadikan kau sebagai boneka hidup, meskipun aku akan lebih menikmati jika kau berekspresi secara sadar" ucapnya lagi padaku.
"Ini keterlaluan!"
"Ha?!"
"Maaf tuan saya menolak, saya benci dengan pria yang tidak menghargai wanita, saya benci dengan orang yang suka memaksa, saya benci dengan orang yang tidak sopan, saya bukan seorang pelac*r, saya bukan wanita murahan yang biasa ditemukan di gang-gang gelap, sebagai seorang perempuan saya punya harga diri dan nama baik, tidak ada yang bisa menekan dan memerintah saya kecuali orang yang saya pilih" sahutku seraya tersenyum padanya walaupun aku sedikit memaksakan itu. •_•
Yahh, kuharap itu cukup untuk menjawabnya.
"Hehehehe… HAHAHAHAHA! itu bagus! kau sangat menarik! benar-benar sangat menarik! itulah yang kuinginkan! lekuk tubuh yang menggoda, kepribadian yang tidak patuh dan berontak, aku akan membawamu! akanku buat kau gemetar karena kenikmatan yang luar biasa, akanku lihat ekspresi wajahmu yang menyerah dan putus asa… aku tidak sabar menikmati itu, aku tidak sabar merasakan keindahan tubuh itu."
Sial! dia semakin menggila. ("•_•)
Apalagi jika itu berhubungan dengan hal seperti itu bahkan tanpa harus menjawabnya secara langsung aku sudah menunjukkan ekspresi tidak senang, tapi setelah mendengar jawabanku itu dia malah semakin menggila dan semakin terobsesi untuk memilikiku dan itu sangat menjijikkan.
Setiap kata dan kalimat yang dia ucapkan hanya tertuju pada keinginan bejatnya, aku bahkan merasa putus asa untuk memperingatkan orang gila yang terobsesi dengan tubuh wanita itu, aku benar-benar semakin tidak betah jika harus terus bertatap muka dengannya.
Ekspresi wajahnya yang sangat bergairah dan memiliki niatan yang buruk, tawanya yang menyeramkan, dan perkataannya yang membuatku tidak nyaman dia benar-benar menjadi pria yang menjijikkan dan ketidaknyamananku sudah mencapai puncaknya.
Pria mesum itu sama sekali tidak bisa diberitau semua ucapanku hanya seperti basa-basi yang membangkitkan semangat gairah bejatnya, aku yakin yang ada dipikirannya saat ini hanyalah hal-hal kotor tentangku berbeda dengan Sira yang terlihat begitu tercengang melihat ke arahku, matanya membulat ketika aku mengatakan itu seolah tidak percaya kalau aku yang mengatakannya, aku hampir kehabisan kata-kata saat melihat dan mendengarkan sahutan dari orang mesum sialan itu aku semakin yakin jika otaknya sekarang sudah miring.
Hahh, aku tidak punya banyak waktu untuk meladeninya, aku ingin tau siapa sedang bertarung di sebelah sana, aroma darahnya mirip manusia.
"Hentikan saja obsesi gilamu itu dan hentikanlah semua undead ini!" ucap Sira dengan lantang padanya.
"HAHAHAHA!! jangan bercanda Sira, aku akan mendapatkannya, aku pasti akan memilikimu nona manis..." ucapnya menatapku.
Jijik!! •_•
"… tapi, tentang undead itu aku tidak mungkin menghentikannya karena ini adalah tugasku sebagai seorang komandan dari gelombang iblis!" sambungnya sembari menatap tajam ke arah Sira.
Komandan iblis? ouh! begitu ya… kalau begitu aku tidak perlu ragu, tapi aku ingin tau apa tujuannya dengan undead sebanyak ini.
"Maaf tuan, kalau saya boleh tau apa tujuan anda sampai-sampai membawa undead sebanyak ini?" tanyaku padanya.
__ADS_1
"Untuk apa menjawab itu, urusanku denganmu hanya tentang keindahan tubuh itu!" jawabnya menatapku dengan penuh nafsu. •_•
Ini sangat menjengkelkan, tapi aku harus tenang.
Aku sangat terkejut mendengar ucapannya yang mengatakan bahwa dirinya adalah komandan iblis karena dari cerita-cerita fantasi yang pernah aku baca mereka adalah penjahat yang ingin menghancurkan dunia, jadi aku sudah benar-benar yakin dengan keputusanku untuk membunuhnya adalah hal yang bagus terutama untuk keselamatan orang banyak, meskipun begitu aku masih cukup penasaran dengan tujuannya dan sekali lagi aku memaksakan diri untuk bertanya padanya padahal aku tau jawabannya pasti tidak akan sesuai dengan pertanyaanku.
Yah… selama aku hidup di dunia ini dia orang pertama yang berani menyinggungku tentang masalah sensitif seperti itu, meskipun ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi di dunia lamaku, kata-katanya memang sangat tidak menyenangkan dan menyinggungku, tapi sekedar ucapan jauh lebih baik daripada saat aku di dunia lamaku yang cenderung lebih menggunakan tindakan secara langsung.
"Mereka diperintahkan untuk membunuh dan mengumpulkan jiwa dari orang-orang agar bisa dijadikan kekuatan oleh raja mereka yang akan bangkit, mereka akan melakukan penghancuran dan pembantaian di desa-desa pesisir hutan dan mungkin juga akan menyerang benteng-benteng pertahanan kerajaan terdekat sebagai penanda ancaman seratus tahun akan dimulai, mungkin kurang lebih seperti itu nona" ucap Sira menjelaskan padaku.
"Apa itu benar Sira?" tanyaku pada Sira.
"Ya seperti itulah."
"Ternyata kau tau banyak Sira!" ucap laki-laki itu pada Sira.
"Jangan meremehkanku Leron, bagiku kau hanya seorang anak dengan usia seujung kuku."
"Cih!!"
Woa!! sangat keren!!
Karena orang tidak menjawab pertanyaanku dengan benar Sira kemudian angkat bicara dan menjelaskan semua tentang pasukan iblis itu, mengenai tujuan dan niat buruk para undead ini yang akan melakukan pembantaian pada orang-orang yang tidak bersalah, mendengar ucapan Sira orang itu tampak agak kesal dengannya, tapi entah kenapa respon yang diberikan Sira terlihat begitu keren dan luar biasa wajahnya terlihat bersinar seperti seorang lelaki dewasa yang mengagumkan.
...***...
"Eh! ada apa dengan pedang ini? ha?! bagaimana bisa?!!" gumamku terkejut sambil menatap pedang di tanganku.
"Ada apa nona?" tanya Sira kebingungan.
"Anu, p-pedangnya berubah" jawabku masih sambil terkejut.
" ...?!"
"HAHAHAHA!! begitu ya! hei nona jawab pertanyaanku, ada hubungan apa kau dengan roh hutan?" tanya orang itu dengan serius.
"Ha?"
Entah apa yang terjadi pada pedang yang kudapat itu ukiran yang ada pada bilahannya tiba-tiba saja bersinar sesuai dengan warna bunga mawar bermula dari warna hijau ditengah batangnya lalu perlahan menjalar ke kelopak mawar yang berubah menjadi warna merah, tentu saja aku yang melihat perubahan itu menjadi terkejut dan kebingungan dengan apa yang sedang terjadi pada pedang itu.
Setelah semua ukiran pada pedang itu berwarna entah bagaimana caranya pedang itu kemudian menyusut berubah menjadi sulur tanaman yang menjalar ke pergelangan tanganku dan berakhir menjadi sebuah gelang hijau yang berbentuk seperti tanaman dengan kelopak bunga mawar tepat diatasnya, itu memang terlihat sangat indah, tapi aku masih sangat kebingungan dengannya.
Melihatku yang kebingungan Sira kemudian bertanya padaku, tapi setelah aku memperlihatkan pedang yang berubah itu Sira malah justru ikut bingung melihatnya, dan tentunya orang aneh yang mengaku sebagai komandan iblis itu juga tampak terkejut lalu melontarkan satu pertanyaan padaku yang bahkan aku tidak tau harus menjawabnya bagaimana, karena aku tidak tau siapa itu roh hutan aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya, pertanyaannya justru semakin menambah beban pikiranku yang sedang kebingungan.
...🌹*****🌹...
__ADS_1