JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
KAMU TIDAK SENDIRIAN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Ririen belum tidur saat jam sebelas Putra masuk ke kamar mereka, dilihatnya wajah suaminya seperti sedang sangat tertekan. “Daddy ada masalah?” tanya Ririen.



Putra menjawab dengan anggukan, persoalan ini sudah seperti bom waktu. Tak mungkin ditunda. Saat pulang dari rumah Rezky tadi, dia dan anak-anaknya sadar malam ini pasti Rezky disidang orang tuanya dan besok dia akan merengek bersimpuh dikaki Alesha.



Sehingga mereka sepakat mau tak mau, siap tidak siap malam ini Ririen harus tau dan besok subuh Alesha akan diberitahu. 



Fajar sudah meminta Icha menyembunyikan HP Alesha dan mematikannya terlebih dahulu agar Rezky tidak sempat menghubungi Alesha besok pagi.



“Bisa sharing dengan Mommy?” pinta Ririen, tentunya dia tak ingin suaminya memendam masalah sendirian.



“Sebentar Daddy ganti baju dulu ya, kalau bisa Daddy minta hot choco” balas Putra pelan. Putra sangat takut reaksi Ririen mengetahu kepedihan ini.



Ririen keluar kamar membuat dua gelas hot choco, serta tak lupa membawa dua botol air putih untuk diletakan di kamarnya seperti biasa. 



“Daddy minta Mommy dengarkan dulu semuanya, jangan potong dan tetap tenang apa pun yang Mommy dengar nanti,” Putra memberi prolog sambil menggenggam dua telapak tangan istrinya dan menciumi jemari tersebut dengan lembut.



Ririen hanya melihat semua perlakuan Putra tanpa menjawab. Dia sudah ketakutan akan berita yang akan disampaikan suaminya. 



Apakah ada perempuan yang sudah dihamili suaminya sehingga dia harus kembali tersakiti? Semua bayangan buruk sudah menari-nari dipelupuk matanya.



“Bisa?” tanya Putra lembut sambil mencium kening istrinya yang wajahnya terlihat sudah memucat . 



“Daddy cinta Mommy dan hanya ada Mommy di hati dan pikiran Daddy, enggak usah menduga-duga Daddy berbuat yang enggak benar,” cetus Putra memutuskan bayangan buruk dibenak Ririen. 



Diangkatnya dagu istrinya, dikecup lembut bibir perempuan itu untuk memberi kekuatan pada pujaan hatinya itu.


__ADS_1


“Bisa?” tanya Putra lagi.



Ririen menjawabnya dengan anggukan. Putra memeluk perempuan kecil dihadapannya sebelum kembali menatap bola matanya dan mengecup keningnya lagi.



“Daddy minta Mommy kuat, karena semua akan mendukung Mommy dan kami semua mencintai Mommy,” Putra membuka cerita lara itu dengan kalimat penguat bagi istrinya.



“Delapan bulan lalu saat Alesha baru menikah dua bulan, Icha enggak sengaja lihat Rezky mengantar perempuan hamil enam bulan untuk periksa, di data pasien tertulis suami perempuan itu Rezky Kurnia Malik, jadi bukan seperti Fajri ngantar Alesha periksa. Melainkan suami ngantar istrinya. Saat itu Icha belum berani cerita ke Fajar karena dia takut merusak keluarga Alesha,” ungkap Putra hati-hati.



“Kalau dihitung, sekarang perempuan tersebut sudah melahirkan dan usia anaknya lima bulan. Nah dua minggu lalu Icha kembali melihat Rezky mengantarkan seorang perempuan periksa ke poli anak, membawa anak berusia tujuh belas bulan dan data di kartu pasien bapak si anak adalah Rezky Kurnia Malik, nama anak tersebut Andika Malik,” Putra sengaja berhenti ingin melihat reaksi istrinya.



Ririen yang mendengar dengan serius cerita suaminya hanya bisa terpaku. Dia bahkan sudah tak bisa menangis apalagi marah. Dia hanya diam dan diam tanpa reaksi. 



Putra yang menyadari reaksi istrinya seperti itu langsung mengambil ponsel disakunya dan menghubungi Fajar agar ke kamarnya dan mengajak Fajri serta.



Fajar, Icha  dan Fajri memang sudah bersiap akan kemungkinan terburuk, itulah sebabnya saat ini mereka sedang berkumpul dikamar Fajri. Mereka segera berlari ke kamar orang tua mereka. Alesha tentu saja sedang tidur, karena ibu hamil pasti cepat lelah.




“Mom please jangan gini dong, Mom liat Daddy” pinta Putra sambil menciumi wajah istrinya yang masih tetap terdiam dengan tatapan kosong, dia tahu istrinya kembali teringat lukanya.



Fajri mencoba membantu daddynya, dia ikut menepuk pipi mommynya dan memanggilnya perlahan. 



“Mom,” sapa Fajri pelan dan lembut. Namun Ririen tak bergerak dan tatapan matanya kosong. Ini yang Fajar takutkan, maka dia sangat hati-hati bila bertindak.



Icha yang seorang dokter langsung bertindak. Dia meminta Fajri dan daddynya memberi ruang untuknya. 



“Mom dengar Icha ya, semua sayang Mommy, semua cinta Mommy. Disini ada mas Fajar, ada Fajri dan tentu aja ada daddy selain ada aku. Tapi yang harus Mommy ingat ada Alesha yang butuh Mommy.” 



“Kita semua sayang Mommy, tapi Alesha butuh Mommy. Mommy mau Alesha terluka karena Mommy enggak bisa dukung dia?” 



“Mommy mau Alesha tumbang karena Mommy enggak bisa menopang dia? *Come on wake up Mom, Alesha need you, really need you*,” bisiknya lembut sambil ikut memeluk Ririen.

__ADS_1



Ririen terpaku mendengar kata-kata Icha, ya benar Ririen tak boleh tumbang. Ririen tak  boleh terpuruk. Dia harus menguatkan Alesha seperti ibu nya dulu selalu menguatkannya. Akhirnya Ririen menangis. 



Melihat Ririen bisa menangis maka Putra bisa menarik nafas lega dan kembali mengeratkan pelukannya, sedang Icha mundur memberi kesempatan agar Putra bisa menghibur Ririen dengan lebih leluasa.



Fajar memeluk Icha dan mencium keningnya “Makasih sayang, kamu udah bisa tenangin mommy,” bisiknya. 



Fajri pun menepuk bahu Icha sebagai tanda terima kasih karena Icha bisa membangunkan mommynya dari shock yang dialaminya.



Icha memberikan HP Alesha pada Fajri, karena Fajar bilang biar Fajri saja yang pegang HP itu sampai mommy bisa cerita ke Alesha. 



“Kalian sekarang tidur,” perintah Putra pada ketiga anak muda tersebut.


\*\*\*



Pagi ini Fajri yang bertugas sebagai imam di ruang sholat rumah keluarga Purwanagara, kebetulan si kembar Leoni dan Leona sedang libur salat karena kedatangan tamu bulanan mereka. 



Sehabis salat Ririen memulai bicara dengan Alesha. Tentu saja Fajar, Fajri dan Icha tidak keluar dari ruangan itu. Mereka bersiap mendukung Ririen dan Alesha.



“Tadi malam apa yang kamu rancang dengan kak Icha Mbak?” tanya Ririen “Nujuh bulan kan cuma pengajian aja, apa kamu mau pakai adat misal DODOL DAWET dan BELAH KRAMBIL?”



“Engga Mom, kami hanya bahas ingin pakai baju kembaran aja, aku enggak mau pakai acara adat, cukup pengajian aja” jawab Alesha. 



“Seandainya, sekali lagi seandainya, saat pengajian keluarga mertuamu tak bisa hadir gimana?” cecar Ririen



“Yah enggak apa-apa kan Mom? Siapa pun enggak wajib hadir koq. Kita bikin pengajian buat bayi yang Alesha kandung, jadi walau hanya Alesha yang hadir pun enggak masalah” jelas Alesha lagi.



“Jadi gini Mbak, kemarin kamu bilang Rezky nginap di rumah mertuamu karena abinya sakit kan? Sebagai besan yang baik, daddy serta abang dan mas langsung nengok ke rumah mertuamu.” 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.

__ADS_1


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.


__ADS_2