JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
TAK INGIN DI KAMAR ITU


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Harusnya nggak usah pulang lah Bu," kata Garo pada Ratna.



"Ya nggaklah, Ibu harus pulang. 'Kan mau persiapan pernikahannya Ratmi. Ibu enggak bisa datang pada saat akad, tapi persiapannya kan bisa bantu-bantu. Buat pantes pantes lah," jawab Ratna.



"Salam aja buat ibunya Ratmi ya Bu. Mohon maaf tak bisa hadir, padahal tadi mereka hadir," ucap Alesha.



"Ya nanti Ibu sampaikan. Mereka pasti ngerti karena Besok abang kan nikah,"  kata Ratna.



"Nanti biar diantar sopirnya daddy," ujar Alesha. Dia memegang ponsel untuk memanggil salah seorang sopirnya.



"Iya nanti biar diantar aja Bu. Jangan pulang sendiri." Garo pun setuju usul istrinya.



Ririen tadinya ingin menyiapkan kamar pengantin untuk Alesha di rumah ini cuma Alesha tidak ingin mengulang kisah lama dengan Rezky di kamar yang sama. 



Diam-diam Ririen langsung menghias kamar Alesha di pavilion jadi kamar pengantin. Alesha sendiri nggak tahu kalau rumahnya sudah diubah Ririen.



"Nanti biar Jingga tidur sini aja sama Uyut," kata eyang putri.



"Mana dia mau eyang? Sama aku aja kadang nggak mau kok," kata Alesha.



"Loh kenapa?" Tentu eyangnya bingung anak kecil koq enggak mau sama ibunya.



"Dia kan anak ayahnya. Maunya sama ayah." Jawab Alesha.



"Iyalah seperti Bundanya," kata nenek.



"Nenek jangan buka kartu deh," kata Alesha. Nenek memang lebih tahu soal Alesha saat kecil karena dulu rumah Ririen dan nenek sangat dekat. Dibanding ke rumah eyang yang jauh.



"Kenyataannya kayak gitu. Maka nggak aneh kalau Jingga seperti itu ke Garo,"  kata nenek.



"Iya bener Ma," kata Ririen.



"Dulu Mas Putra kan gitu juga, lebih baik nggak ketemu aku daripada nggak ketemu Alesha, sama aja dengan Garo. Enggak peduli ibunya lagi kerja yang penting dia ketemu anaknya."



"Kayak gitu ya?" Tanya eyang putri.


__ADS_1


"Iya Bu, Garo kalau pagi-pagi datang ke sini cuma buat nyariin Jingga. Waktu itu kan Alesha masih kerja Bu."



"Persis yo," kata Eyang.



"Persis Ma eh Bu. Ya kayak gitu Putra sama Garo tuh sama."



"Pantesan." 



"Bedanya tuh mas Putra kan lebih muda dari aku. Kalau untuk cinta mereka sama. Garo itu udah nungguin Alesha dari Alesha SMA lho Bu."



"Edan tenan."



"Serius, waktu Alesha baru nikah sama Rezky dia kaget dan kecewa. Dari SMA dia nungguin tapi dia nggak berani ngomong, koq keduluan sama Rezky. Kalau dari SMA udah ngomong, kan di kampus Alesha nggak bakalan sama Rezky."



"Yah memang garis nasibnya mesti koyo ngono," kata Eyang.



"Iya bener Eyang nasibnya sudah harus seperti itu," kata nenek.


\*\*\*



"Bun kamu belum maem loh," kata Garo mengingatkan Alesha.




"Ya udah sana. Ini dedek bobo taruh di mana? Mau disini apa dibawa pulang aja biar anteng?"



"Eh di kamar wae, di kamar aku. Kalau ke rumah nanti kalau nangis harus lari bawa sini lagi. Kita jagain sekeliling pakai bantal aja, trus dibawahnya digelarin kasur lantai biar kalau jatuh tetep aman."



"Box nya dedek dipakai sama Tama."



"Ya udah ayo. Eyang, Nenek aku ganti baju dulu, sekalian taruh Jingga di kamar." Pamit Alesha pada dua neneknya.



"Iya," jawab kedua orang tua itu.



Alesha mencari baju ganti yang sudah disiapkan. Tadi pagi dibawa dari rumah ke sini. dia juga membawakan kemeja ganti buat Garo, kemeja batik tangan pendek.  Walau pun acara sudah selesai tapi kayaknya nggak sopan kalau Garo pakai t-shirt.



"Mas ini ganti bajunya. Aku mau bersihin make up dulu baru mandi."



"Kita nggak nginep di sini Yank?" 



"Enggak ah aku nggak pengen nginep di kamar ini sama kamu."

__ADS_1



Alesha tak ingin tidur dikamar ini dengan Garo. Biar bagaimana pun di sini ada kenangan malam pengantin, malam pertamanya dengan Rezky. 



Alesha  tak ingin tidur di kamar itu berdua Garo. Terlebih di malam pertama mereka.



"Ya udah Mas mandi dulu ya," Garo mengambil baju yang telah disiapkan istrinya. 



"Iya, kalau mau salat di sini di sini bisa, aku sudah siapin sajadah. Kalau mau di ruang salat di belakang seperti biasa juga bisa. Mas langsung kesana aja." 



"Ini nggak apa apa ditinggal?" kata Garo, setelah Alesha salat.



"Enggak apa apa, aku panggil Mbak Dwi dulu buat jagain Jingga." Alesha langsung keluar kamar.


\*\*\*



"Kamu udah makan?"



"Sudah Mbak."



"Dedek bobo di kamarku, takutnya jatuh. Kamu tungguin ya."



"Iya Mbak nggak apa-apa."



"Soalnya aku nggak enak di kamar. Kan masih banyak tamu mau  ngobrol nanti nggak sopan kalau aku tungguin Dedek."



"Iya Mbak nggak apa-apa."



"Sekalian baju-baju kotor kita diberesin ya.  Masukan semuanya taruh di tas baju tadi pagi."


\*\*\*



Alesha dan Garo pulang setelah salat isya dan makan malam bersama keluarga besar. Di rumah Ririen masih ada orang tua George. Ada orang tua Kak Icha, nenek kakek juga eyang kakung dan eyang putri, pastinya ada Fajri karena Fajri kan sudah nggak boleh keluar.



Yang sudah nggak ada adalah Bu Ratna karena dia harus membantu ibunya Ratmi untuk akad nikahnya Ratmi yang  barengan dengan Fajri.



"Kami pulang dulu ya Eyang, Nenek." Pamit Garo.



"Enggak nginep sini aja?" Tanya Galih, kakeknya Alesha.



"Enggak Kek, kami tidur di rumah aja.  Kasur disini kan size-nya kecil nggak kayak kasur aku dirumah," Alesha beralasan.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE

__ADS_1



__ADS_2