JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
BOJOKU


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




**GARO POV**


Sejak Lesha memberi khabar dia sudah sampai kantornya aku sengaja tak mau ganggu dia, aku tau pasti di hari pertama kerja,  sangat banyak hal yang harus dia cek. 



Saat ini sudah jam makan siang, sudah dua jam dia berada di kantor, dia janji tak akan lama meninggalkan Jingga anak kami di rumah. 



Aku teramat mencintai Jingga, aku menganggapnya dia adalah anakku, belahan jiwa antara Lesha dan diriku.



'*Sudah maem Bund? Atau sudah mau pulang? Kasihan anak kita kelamaan ditinggal di rumah*,' itu chat pertama sesudah dia aku biarkan tenang bekerja hari ini.



Namun sampai 24 menit tak ada respon dari Lesha. Boro-boro dibalas, dibaca aja engga. Tentu aja itu membuatku uring-uringan. Baru kali ini aku mempunyai perasaan seperti ini. Kamu lagi apa sih Yank sampai enggak sempat pegang HP dan merespon pesanku?



Menit ke 35 dari pesan yang aku kirim, aku beranikan menelponnya, aku tak ingin dia telat makan dan juga telat pulang.



Teleponku langsung dia terima, kata salam yang lembut dia ucapkan membuat hatiku tenang. Kujawab salamnya sebelum aku tanyakan kondisinya. “Kamu masih di kantor? Ini sudah jam makan siang, katanya kamu ke kantor cuma dua jam an” desakku.



“Ya kan enggak dua jam pas Mas, lagian sejak tadi aku enggak kerja.  Ada Leona ke kantorku jadi sekarang kami masih di cafe,” jelas Lesha lembut. Ternyata salah satu dari adik kembarnya mengunjunginya.



Aku tahu cafe itu banyak snack enak kegemarannya, bila dia di cafe artinya Lesha ngemil snack tersebut, tak akan dia kelaparan. 



Namun dia ngopi enggak ya? Kopi kan enggak bagus untuk ibu menyusui seperti Lesha saat ini “Yayank bawa juice kan? Enggak minum kopi kan?” tanyaku memastikan.



“Ya pastilah aku enggak minum kopi, aku bawa juice super banyak koq, Mas enggak perlu kuatir. Mas sendiri enggak makan mie rebus kan?” 



Lesha malah membalas dengan mencecar balik kebiasaan burukku yang sepanjang hari bila diluar rumah hanya makan mie instan rebus.



Karena sering kecewa dengan rasa masakan yang kubeli. Jadi biar tak kecewa aku lebih memilih makan mie rebus.



“He he he, enggak lah Yank. Tadi makan siang makan pakai soto, sarapan pagi makan jenang gudeg,” ujarku melaporkan apa yang sejak pagi aku konsumsi. 



Memang sejak dia memintaku mengurangi mie instan, aku sebisa mungkin mentaati perintah calon nyonyaku itu.

__ADS_1



“Ya wis aku putus ya, aku mau pulang,” serunya saat dia pamit hendak pulang.



“Hati-hati ya Yank, kalau sudah sampai rumah kabari Mas,” pintaku.



“Cie cie cieeeee… udah ada yang posesif aja nih,” masih kudengar adiknya menggoda Lesha karena aku menelponnya. Aku makin yakin Lesha tak bohong kalau adiknya memang datang mengunjunginya.


\*\*\* 



'*Aku sudah sampai rumah, sekarang mau bobo dulu berdua Jingga ya, kalau chat lama dibalas jangan berisik pang ping pang ping terus*,' chat Lesha aku terima satu jam sejak dia pamit hendak pulang tadi



Jam empat sore aku mulai mengirim chat, tapi tak dia baca, sampai maghrib entah sudah berapa pesan, telepon dan ping yang aku lakukan untuk menerima khabar darinya.



Andai aja aku sedang di Jogja tentu aku akan segera meluncur ke rumahnya untuk memastikan keberadaaannya. 



"Ya Gusti, paringi sabar, aku takut dia sedang tak baik-baik saja."



"*Bali saiki yok*," pintaku pada Ampi. Aku percepat kepulanganku ke Jogja, awalnya Ampi minta kami turun dari Karang Anyar jam sepuluh malam, saat kendaraan sudah mulai sepi. 



Namun aku tak bisa menahan ke galauanku karena tak mendapat khabar dari Lesha. 




"*Bojoku ket mau ra respon. Aku wedi ono opo-opo*," sahutku. Memang pada Ampi aku selalu menyebut Lesha adalah "bojoku" atau istriku.



Aku katakan sejak tadi pesan dan teleponku tak direspon. aku takut sesuatu yang tak diharapkan menimpa istriku.



Sehabis salat maghrib kami makan malam lalu bersiap turun ke kota Solo lalu mengarah ke Jogja.



Perjalanan diawali dengan Ampi yang pegang kemudi karena aku masih sibuk mencoba menghubungi Anggi.



Pukul 20.16 teleponku berdering, telepon dari nomor Lesha. Aku berharap memang dia yang menghubungiku, bukan orang lain.



Aku khawatir dia celaka lalu pihak rumah sakit menghubungi dengan HP nya atau ada kejadian lain. Kuterima panggilan dari nomor Lesha, tapi akan kupastikan dulu siapa yang bicara.



“Assalamu’alaykum Mas,” suara lembut yang kurindu terdengar seperti gerimis menyiram gurun pasir.

__ADS_1



“Alhamdulillaaaah kamu akhirnya hubungi Mas. Dari siang kemana aja sih Yank?” cecarku tanpa kujawab salam yang dia berikan, aku terlalu cemas karena sejak jam dua siang dia tak ada khabar. 



“Aku tutup telepon ini kalau salam ku enggak dijawab” Lesha menjawab ketus. 



“Eh maaf, Wa alaykum salam sayanknya Mas. Kamu bikin Mas ketakutan dan hilang arah karena sejak kamu sampai rumah koq langsung hilang kontak?” kubalas salamnya tapi langsung kukirim keluhan padanya.



“Bangun tidur tadi aku dan Jingga main ke rumah mommy enggak bawa ponsel. Barusan aja pulang,” Lesha menjelaskan mengapa sejak tadi tak baca pesanku dan juga tidak mengangkat teleponku.



 “Mas tu lebay, baru gitu aja udah panik, udah bilang kalau Mas lagi di jogja bakal langsung meluncur kesini. Persis anak ABG tau enggak?” sesalnya.



“Terserah kamu mau bilang apa, ni disebelah Mas ada yang ngejek karena dari tadi Mas beneran hilang arah."



"Kami pulang dipercepat karena Mas takut kamu kenapa-kenapa,” aku tak peduli ejekan Ampi dan protes bojoku. Semua memang seperti itu. 



“Mas enggak lagi nyetirkan?” aku dengar nada  khawatir bila aku saat itu sedang nyetir.



“Ampi enggak ngebolehin Mas nyetir, karena takut Mas grasak grusuk enggak pakai rem,” jelasku.



“Ya wis hati-hati ya, kalau mas Ampi ngantuk Mas gantiin nyetir ya, sekarang udah tenang kan?” bujuk kekasih hatiku membuat aku sangat tenang.



“Iya udah tenang, sekarang kamu bobo ya, jangan lupa kalau bangun malam kabari Mas. Nanti saat Mas sampe Jakal Mas juga akan kasih tau kamu. Met bobo *honey*. *Miss you*,” ku ucapkan kata perpisahan untuknya karena aku tau dia sudah sangat lelah.



“*Miss you too* Ayahnya Jingga, hati-hati ya” balasnya



WHAT???? 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1676576257619.jpg)

__ADS_1



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.


__ADS_2