JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
TAK CEMBURU KARENA TAK ADA RASA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




“Mas mau cari apa?” tanya Alesha pada Garo. 



“Kalau mau mau cari-cari silakan lho, aku masih keliling, baru satu stand yang aku datangi,” Alesha tak mau Garo jadi terbeban karena harus menemaninya.



“Kamu tau kan, sebagai orang tanaman kita lihat dulu, begitu jatuh hati atau melihat peluang ya langsung beli."



"Apa dari rumah atau kantor tadi kamu tau bakal beli puring? Kamu liat puring lalu liat peluang makanya langsung beli kan?” tembak Garo.



“Iya sih,” jawab Alesha lirih. 



Alesha melanjutkan langkahnya, dia masuk ke stand berasal dari Malang, dia membeli Dischidia, tanaman unik yang ada gelembung kantongnya. 



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1677719408986.jpg)



“Mas itu ada stand khusus Anthurium lho,” Alesha memberitahu Garo.



“Hmm..” hanya itu jawaban Garo.



“Koq enggak liat-liat sih Mas?” tanya Alesha penasaran.



“Woooooooooooooo…,pantas enggak duduk di stand seperti biasa, ternyata nemani nyonya,” goda Ampi saat melihat Alesha memasuki stand Anthurium.



“Oh pantas, diajak kesini enggak mau, ternyata stand nya sendiri tho,” Alesha baru sadar saat melihat banner stand tersebut. Dia cubit lengan Garo dengan gemas.



Ternyata Garo ikut menjadi peserta pameran. Garo mengambilkan Alesha air minum kemasan dari box cooler di stand itu.



“Duduk dulu” perintah Garo.



“Belum cape koq,” jawab Alesha.



"Aku lanjut  keliling dulu ya. Makasih minumnya,” Alesha hendak keluar tapi tertahan karena tangannya dipegang Garo.



“Kamu dari kantor belum maem kan? Maem dulu ya?” pinta Garo dengan lembutnya.

__ADS_1



“Ya aku jalan ke ujung sini, kan mentok di stand makanan, aku makan nanti disana, lalu jalan lagi liat stand sebelah barat sampai ujung lagi baru pulang." Alesha masih tak enak pada Garo.



“Temani Mas maem ya? Tadi ibu tu kesini anterin Mas makan,” Garo meminta Alesha menemaninya makan siang.



“Lalu sekarang ibu kemana. Tadi kan bilang hanya muter nyari tanaman obat?” tanya Alesha.



“Ya langsung pulanglah” jawab Garo santai.



“Koq Mas enggak antar?” tanya Alesha.



“Aku kan jadi enggak enak.”



“Ibu tadi datang dengan Diani naik motor, ya pulang ama Diani lagi,” jawab Garo.



“Siapa Diani?” tanya Alesha penasaran.



“Enggak usah cemburu, Diani istrinya Ampi. Kalau jam istirahat kantor dia ambil makanan ke rumah Mas, bawa kesini lalu dia balik kantor lagi."



"Ini tadi karena ibu ada pohon yang dicari ibu ikut, biasanya yo enggak ikut."




"Untung ibu dan Diani bisa kerjasama,” jelas Garo sambil memeluk kepala Alesha didekatkan ke perutnya, karena dia berdiri sedang Alesha sedang duduk.



“Siapa yang cemburu?” balas Alesha. Walau jujur tadi mendengar ibu Garo bersama seorang perempuan dia sangat ketakutan.



Apakah perempuan itu sosok yang direstui ibunda Garo?



“Iya Mas tau, kamu enggak cemburuan. Atau emang enggak cemburu karena tak punya perasaan apa pun ke Mas kan?” pertanyaan Garo sangat menusuk hati Alesha. 



Alesha langsung teringat kejadian hari Sabtu siang dengan Rama dan hari Sabtu malam di rumah utama saat berbincang dengan semua keluarganya. 



“Jadi maem enggak?” tanya Alesha, mengalihkan pembicaraan.



“Kenapa enggak jawab? Kamu enggak punya rasa yang Mas miliki kan?” desak Garo lirih. 



Alesha tak menjawab, dia hanya memeluk pinggang Garo dengan erat dan menyandarkan kepalanya dipinggang pria yang pelukannya memberikan ketenangan bagi jiwanya.

__ADS_1



Alesha menengadahkan kepalanya, dia melihat Garo sedang memandangnya. “Jangan pernah nangis,” Garo mengambil tissue di meja lalu mengusap ujung mata Alesha. 



Hari Senin siang memang pameran agak sepi, sehingga kelakuan dua sejoli ini tak terlihat konsumen, sedang Ampi dan Juniar langsung keluar stand begitu Garo masuk dengan Alesha tadi.



“Maem dulu ya? Itu nasi dan lauknya,” Garo menunjuk termos nasi serta beberapa tupperware berisi lauk. 



“Itu piringnya Yank.”



“Segini?” tanya Alesha, memperlihatkan nasi yang dia ambil untuk Garo.



“Tambah sedikit lagi deh,”pinta Garo.



Alesha memberikan sayur dan lauk lalu menyodorkannya pada Garo yang kini sudah duduk disebrangnya.



“Mas Ampi dan Juniar suruh maem aja Mas, kasihan mereka nungguin Mas selesai maem,” Alesha menyuruh Garo memanggil pegawainya untuk makan bersama.



“Kamu enggak lihat tu dua piring kotor belum mereka cuci?”jawab Garo.



“Oh..” balas Alesha.



“Mas Budi, bisa meluncur ke APMD  enggak dua jam lagi?” tanya Alesha, dia menghubungi nursery agar mengambil tanaman yang dia beli dengan mobil bak. Garo masih makan sehingga Alesha leluasa menghubungi pegawai mommynya.



“Kamu ngapain ambil mobil bak dari keboen, enggak usah, bilang enggak jadi, nanti biar diantar Juniar aja,” cegah Garo. Ternyata dia mendengar siapa yang dihubungi Alesha.



“Mas, Juniar kan jaga stan, masa suruh antar tanaman yang bukan aku beli di stanmu sih,” Alesha jadi tak enak karena ngerepotin Juniar.



“Masih mau keliling enggak?” tanya Garo, sambil misscall Juniar, kode untuk kembali ke stand.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE ya.



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1677719408997.jpg)


__ADS_1


Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNREQUITED LOVE itu ya.


__ADS_2