JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
ATURAN ALLAH


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



'*Tama nggak rewel yang rewel malah Jingga. Itu info dari susternya Tama dan juga mbak Dwi*.' Fajar membaca pesan yang Alesha kirim begitu tiba di rumah tadi.



'*Ya makasih*,' balas Fajar. Lelaki itu tahu memang Tama tidak akan rewel beda dengan Jingga yang punya trauma pernah kehilangan Garo.



Icha masih sibuk di ruang bayi karena dia langsung yang pegang bayinya Leona.



"Gimana hasilnya?" Tanya Ririen melihat menantunya keluar dari ruang bayi.



"Alhamdulillah, enggak ada kondisi yang mengkhawatirkan Mom. Eyang dan Nenek sudah boleh tenang, jangan khawatir." Icha membuka snelli dan menyampirkan di lengannya. Cukup lelah dia melakukan observasi dengan team kerjanya pada kedua bayi prematur yang kebetulan adalah keponakannya sendiri.



"Bayinya semuanya sehat kondisinya, tapi ya pasti masuk inkubator karena memang berat badan bayi di bawah standar tapi semuanya sehat," kata Icha. 



"Alhamdulillah," kata semua disana.



"Insya Allah enggak ada kendala sih walau berat bayinya belum waktunya lahir Untung paru-paru sudah kuat, kalau belum siap aku udah bingung deh."



"Aku laper," kata Icha pada Fajar.



"Mama ini kebiasaan deh, enggak ingat makan kalau sudah kerja," protes Fajar. Dia buka roti isi daging ayam dan dia suapi istrinya. 



"Tahu sendiri Pa,  aku tadi lagi senewen Pa," kata Icha.



"Ya udah ayo makan roti ini sampai habis buat ganjel, terus kita langsung pulang aja ya kasihan Tama. Papa udah tanya sama Alesha sih. Katanya dia nggak rewel." 



"Alesha udah pulang Pa?"


__ADS_1


"Sudahlah, Jingga rewel nyari Garo."



"Kasihan Jingga, belum bisa pisah lama dari Garo."



"Mereka kan juga tadi nggak niat, mereka habis dari dokter untuk pasang KB."



"Alesha bilang mau kasih Jingga ASI sampai umur dua tahun. Untung Garo enggak protes. Semoga mereka rukun terus karena Garo sangat mencintai Alesha dan Jingga," Icha sedih mengingat bagaimana Alesha dibohongi Rezky. Kalau dia tak lihat data di rumah sakit tempat dia dulu menjadi co \*\*\*, tentu rahasia Rezky belum cepat terbuka.



"Eyang dan nenek mau pulang bareng kami nggak?"  Fajar kasihan pada para orang tua mommy dan daddynya yang sejak tadi bertahan di rumah sakit menunggu kondisi terkini apra cicitnya.



Sejak tadi memang eyang dan nenek hanya duduk diam aja mereka sangat ketakutan memikirkan bagaimana nasibnya cicit mereka yang prematur.



"Alhamdulillah semuanya sehat Kakek dan Athung  pulang yuk," ajak Icha. Tadi Fajar ngajak nenek dan eyang putri.



"Memang cukup mobilmu?" kata Galih sang kakek. 




"Mom, Dadd,  kami pulang duluan ya kasihan Icha sudah terlalu capek." Pamit Fajar mengerti memang tadi Icha yang full menangani baby twin.



"Tapi Tama enggak rewel kan?" Ririen bertanya pada Fajar.



"Enggak, kata Alesha yang rewel Jingga."



"Aduh kasihan Jingga Untung Garonya sabar."  Liani bergumam pelan tapi Fajri jelas mendengar ucapan istrinya itu.



"Jingga rewel karena nyari ayahnya enggak nyari bundanya," lanjut Fajar.



"Persis dengan Bundanya dulu kayak gitu," mamanya Putra ingat saat anaknya tak pernah bisa jauh dari Alesha kecil dan tak pernah berani pergi lama karena takut putri kecilnya nangsi mencari dirinya.


__ADS_1


"Iya sih," kata Fajar.



"Ya udah kami juga pamit pulang," Fajri dan Liani juga pamit karena besok mereka juga akan berangkat bulan madu. 



"Ayo Ibu, Romo kita pulang."



"Kalian besok nggak batalin berangkat kan?" Tanya Putra.



"Enggak Dadd, mas Fajar juga enggak ngebolehin karena sudah jelas kondisi baby A dan baby B sehat," Fajri menjawab pertanyaan ayahnya itu.



"Memang tadi kan Mas Fajar juga bilang kalian berangkat aja?"  ibu Liani tak enak bila putrinya pergi saat keluarga barunya sedang susah.



"Iya Bu, Romo kami berangkat besok, kak Icha sudah memastikan semua aman," kata Fajri.


\*\*\*



"Athung sama kakek pulang ke Jakartanya nggak besok kan?" Fajar harus memastikan kepulangan kedua pasang orang tua dari mommy dan daddynya karena dia yang harus bertanggung jawab dengan tiket mereka juga mengantar hingga ke bandara.



"Masih capek kan lusa aja ya?"



"Iya lusa aja," kata Purbo.



"Iya kami lusa saja, kalau besok terlalu capek sekarang baru mau pulang ke rumah," kata Galih."



"Maaf ya Eyang, kakek, jadi ketahan pulangnya," kata Icha.



"Ya wajarlah kita juga nggak tahu kan. Tapi malah bersyukur kejadiannya kami masih ada di Jogja. Lah kalau sudah di Jakarta kan kami ya gelo misal kejadiannya pas kami baru tiba di Jakarta.  Mau balik lagi nggak mungkin karena tenaga kami sekarang sudah tidak seperti dulu, nggak balik lagi kasihan Leona." 



"Iya eyang itulah aturan Allah," kata Fajar.


\*\*\*

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND



__ADS_2