JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
MENJELANG PERSALINAN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Terima kasih Mas, kamu sudah mewujudkan impianku," Alesha memeluk suaminya hangat. 



"Apa maksudmu?  Impian apa?" tanya Garo bingung.



"Sejak dulu aku ingin sekali melakukan acara mitoni sejak aku pingsan karena aku diketahui hamil."



"Kalau kamu memimpikan kenapa kamu nggak ngomong dari awal pada Mas? Kalau kamu ngomong bahwa kamu sangat ingin acara mitoni Mas kan nggak akan berdebat dengan ibu dan Mommy," sesal Garo.



"Aku nggak enak karena dari awal Mas sudah nggak ingin acara itu berlangsung," jawab Aleha pelan.



"Enggak gitu juga sayank,  kamu kan ngerti apa pun yang kamu inginkan akan Mas wujudkan." Garo sedih mengetahui kalau Alesha sangat menginginkan acara mitoni bisa berlangsung.



"Jadi waktu aku pingsan karena hamil, Aku ngebayangin bakal ngegelar acara mitoni saat usia kehamilan tujuh bulan nanti."



"Daddy langsung menghubungu Rezky saat itu juga. Dia nggak respon Mas. Istri pingsan aja dia nggak langsung lari,  dia lebih mentingin ngasih training kepara marketing."



"Dari situ Daddy dan aku sudah punya keyakinan bahwa dia bukan lelaki yang bertanggung jawab."



"Mungkin khabar tentang perempuan hamil buatnya bukan hal yang WAH, karena sudah sangat banyak perempuan yang mengaku hamil sebelumku." 



"Tapi karena dia adalah Ayah anakku jadi aku menahan emosiku."



"Dikeluargaku, ada khabar siapa pun sakit tentu semua akan lari pulang dan langsung ingin menghibur."



"Rezky bahkan ditelepon daddy tak bergerak cepat. Apalagi aku yang telepon? Daddy jelas saat itu minta beli testpack. Dia santai aja enggak merasa excited sama sekali."



"Maka saat awal Mas menolak mengadakan mitoni aku enggak berani minta. Aku takut kecewa."



"Saat Mas menyetujui akan mengadakan tujuh bulanan atau mitoni aku seneng banget. Makasih ya Mas."



"Tapi Mas marah Yank," Kata Garo. 



"Mas nggak suka cara kamu. Harusnya kamu bilang jadi Mas nggak perlu berdebat mempertahankan argumen Mas ke ibu dan mommy. Kalau saat itu Mas nggak mau gimana coba?"



"Kalau Mas tetap enggak mau, ya udah berarti memang mimpiku harus terkubur," kata Alesha pasrah.



Garo langsung memeluk istrinya. Garo tak menyangka Alesha ternyata sangat menginginkan acara ini.



"Lain kali jangan begitu ya?  Please jangan seperti itu ke Mas. Aku ini kan nggak bisa ngerti apa maunya orang. Ungkapkan,  jangan bikin Mas kecewa seumur hidup."



"Ya bener, Mas akan kecewa kalau acara ini sampai Mas tolak karena waktu kan enggak bisa diulang. Jangan pernah bikin Mas kecewa lagi seperti ini."



"Iya Mas, aku akan selalu jujur," kata Alesha.



Karena sudah malam Garo tak mau ambil resiko pulang ke rumahnya. Dia menginap di pavilion bersama dengan Alesha dan Jingga tentunya.



Yang lain tetap menginap di rumah Putra. Garo mengerti alasan Alesha tidak mau tidur bersamanya di kamar saat dia gadis karena di sana pernah dia tiduri dengan Rezky.



Alesha pernah cerita itu jadi Garo enggak akan pernah memaksa karena Alesha ingin menutup lembaran dengan Rezky.


\*\*\*



Minggu berikutnya yang punya acara adalah Fajri dia melakukan acara pengajian empat bulanan kehamilan Liani.

__ADS_1



Caroline sudah mulai pindah ke Jogja.  Belum pindah secara resmi sih tapi sudah lebih sering di Jogja karena dia sedang memantau pembangunan rumahnya.



Acara di tempatnya Liani tentu sama dengan di tempatnya Ririen. Acara dibuat besar-besaran.



Liani anak tunggal tentu mendapat perlakuan khusus. Sejak hamil Liani hanya suka makan nasi kotak. Liani tidak nggak pernah ngidam.



Satu-satunya keanehan sejak hamil dia tak mau makan pakai piring,  jadi selalu makan di kotak atau styrofoam .



Fajri telah usai serangan couvade syndrome nya. Sekarang dia fokus pada kesehatan bayi mereka.


\*\*\*



"Mas," Alesha memanggil Garo dengan wajah sedikit meringis.



"Ya," kata Garo. Mereka baru selesai salat subuh.



"Kenapa Yank?"



"Dari semalam perutku sudah sakit dan barusan kayaknya ketuban mulai rembes," Alesha membuka mukenanya yang sudah basah. 



Garo langsung membawa mukena dan sajadah ke kamar mandi.



"Kamu sakit dari semalam kenapa diam aja. Ayo kita berangkat," ajak Garo.



"Mbak Dwi,  jagain Jingga sama mbak Wanti. Saya mau berangkat antar Ibu ke rumah sakit. Sekarang bikinkan dulu telur setengah matang dan sussu hangat," perintah Garo pada Dwi yang sejak acara nujuh bulanin memang sudah tinggal di rumah ini dengan Wanti adik sepupunya.



"Iya Pak,"  Sekarang Dwi memanggil  Garo dan Alesha lebih sering ibuk dan bapak. Bukan mbak dan Mas lagi.



Garo langsung mengirim chat di group keluarga kalau dia akan membawa Alesha ke rumah sakit karena sudah rembes ketuban.




"Nanti Ibu akan meluncur segera," jawab Ratna



"Koper sudah Mas?"  Tanya Alesha. 



"Ada di mobil nggak pernah turun."



"Apalagi yang belum?" 



"Nggak ada kayaknya."



"Dompetmu udah?"



"Dompet Mas sudah, ada kartu berobatmu dan ktp-mu juga sudah. Mas masukin disana  biar nggak kebanyakan dompet. Takut kececeran karena Mas bingung."



"Ya wis yok berangkat," ajak Alesha.



"Enggak Yank.  Kamu makan telur setengah matangnya dulu ini sama minum sussu."



Alesha pun manut, dia minum sussu dan makan telur setengah matangnya.



"Saya berangkat ya," pamit Alesha.



"Iya Bu, semoga lancar."


__ADS_1


"Aamiiin," kata Alesha. 



"Aku pernah merasa seperti ini Mas, mulai rembes saat kita sedang berbalas pesan kata Alesha.



"Iya habis itu aku kehilangan kamu, aku ping bolak-balik nggak akan terjawab," kenang Garo.



"Karena hape aku sudah ditahan Abang."



Garo melihat istrinya tidak terlalu cemas.



"Ayo pelan ya yang turunnya," Garo membbing Alesha buat turun.



"Koper tinggal aja Mas kita nggak butuh tas itu sekarang," kata Alesha.



"Oh iya," Garo langsung mengunci pintu mobil dan mereka segera mendaftar.



Alesha langsung diperiksa dalam atau PD.



"Ini sudah pembukaan empat Bu. Bisa dibawa jalan dulu. Bapak temani istrinya mungkin bisa sambil cari sarapan. Jangan dibikin nervous,"  kata ibu bidan lagi.



'*Gimana nggak nervous kalau ini pengalaman pertamaku menemani istri melahirkan*?' batin Garo ketakutan.



Sedang Alesha santai.



"Ayo Mas, aku temani Mas makan di kantin rumah sakit ini." Ajak Alesha.



"Kamu nggak apa apa Yank?"



"Enggak Mas tenang aja yuk. Jangan ketakutan gitu. Aku nggak apa apa Mas."



'*Alesha sangat kuat dan tabah. Aku  tak percaya perempuan sebaik dan secantik ini di sia-siakan Rezky*.'



\*\*\*



"Kamu di mana Sha?" tanya Icha.



"Lagi di kantin nemani Mas Garo sarapan Kak."



"Oh ya udah, katanya baru pembukaan empat kan?" kata Icha, rupanya dia sudah tanya ke bidan yang telah melakukan pemeriksaan pada Alesha.



"Iya kak Icha."



"Ya sudah, nanti habis praktek kakak nemuin kamu ya. Sekarang Kakak praktek dulu."



Icha praktek pagi jadi dia sudah bersiap di rumah sakit.



"Apa kata Kak Icha?" kata Garo.



"Kak Icha praktek dulu nanti habis praktek dia baru ke ruang bersalin."



"Kamu serius nggak apa apa?"



"Enggak apa apa. Ayah tenang, Bunda nggak apa apa lho ya."



Garo puni jadi semakin tenang melihat istrinya sangat kuat.

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR



__ADS_2