JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
KALAU ENGGAK PERCAYA, BATALKAN SAJA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Maaf ya Bu tempat tidurnya gini," Alesha sudah membereskan kamar Jingga untuk menginap Ratna.



"Tetep aja kan cukup buat tidur orang tua." Ucap Ratna.



"Cukup Bu, cuma ada pagarnya aja. Aku kan kalau nyusui sambil baring disitu. Mas Garo juga sering ngeloni Jingga disini kan," jelas Alesha.



"Kalau dipasang pagarnya baru tertutup kalau nggak dipasang sama aja koq," sahut Ratna.



Besok hari akad nikahnya Garo, sehingga Ratna memang menginap di rumah Alesha. Sebenarnya dia bisa datang bersama keluarganya yang lain, cuma Garo dan Alesha nggak nyaman kalau Ratna datang bersama keluarga. Karena Garo kan memang sudah tinggal di rumah Alesha.



Ratna bisa aja nginap di rumah Ririen. Hanya Ratna tak mau. Dia lebih nyaman tinggal di rumah Alesha.



"Kalian nggak apa apa tidur bersama?" Tanya Ratna.



"Ini bukan malam yang pertama kami tidur bersama." 

__ADS_1



"Sudah lebih enam bulan kami tidur satu kamar Alhamdulillah aman. Kami tak pernah melakukan hal yang dilarang agama," kata Alesha.



"Semua kembali kepada komitmen aja Bu. Ratmi atau orang lain tanpa nginep pun malah bisa berbuat lebih dari kami kok."



"Diluar sana banyak yang melakukan hal terlarang tanpa tinggal bareng. Enggak usah munafik. Tapi karena kami punya prinsip bahwa Allah itu selalu melihat maka kami takut bila melangkah lebih jauh," kata Alesha. 



"Ibu tanya aja, enggak ada maksud menghakimi." Sahut Ratna tak enak.



"Nggak apa apa kok Bu. Wajar orang tua tanya hal seperti itu. Semua tergantung orangnya. Fitri enggak tinggal bersama malah nyari kamar hotel kan untuk berbuat hal terlarang itu?"




"Selamat malam, sugeng sare Bi," Alesha mengucapkan selamat tidur pada Ratna. Dia tidur pun segera keluar dari kamar Jingga.


\*\*\*



"Bobok Yank, enggak usah nervous gitu," Garo melihat calon istrinya gelisah tak bisa tidur.



 "Aku takut Mas, aku enggak percaya besok kita akan nikah."  Alesha jujur pada Garo kalau dia gugup menghadapi hari esok. Dia kembali ingat kegagalan pernikahannya dengan Rezky.

__ADS_1



"Kalau kamu percaya, ya kita nikah besok pagi. Kalau enggak percaya sama Mas ya sudah jangan dipaksa. Kami batalin aja. Mas nggak mau kamu tersiksa seperti ini," dengan lembut Garo memberi kepercayaan pada Alesha yang sedang ketakutan.



"Kok gitu, aku enggak bermaksud batalin, tapi aku ketakutan." Alesha jujur pada Garo.



"Sekali lagi Mas yakinkan kamu. Kalau kamu percaya sama cinta Mas, besok kita nikah kalau nggak jangan dipaksa. Mas nggak mau kamu terpaksa Yank." Garo pindah mendekati Alesha, tadi mereka terhalang Jingga ditengah.



"Aku enggak terpaksa. Maaf aku nggak terpaksa." Geleng Alesha. 



"Ya udah, sini bobok. Mas peluk," Garo memeluk tubuh Alesha yang sedang butuh rasa nyaman. Garo tahu biasanya kalau sedang seperti ini Alesha berada dalam dekap Putra.



Cukup lama Garo mengusap punggung Alesha sampai dia merasakan Alesha sudah rileks dan tertidur dalam dekapnya.



Garo teringat cerita saat lamaran Putra pun, Ririen ingin mundur karena ragu dan tak percaya diri pada cinta tulus Putra.



'*Sekarang aku yang harus berupaya membuat dia nyaman dan tak ragu akan cinta tulusku*.' batin Garo. Dia pandangi wajah yang sejak masih mengenakan seragam SMA sudah mencuri hatinya dan menggemboknya sehingga hatinya tak bisa berpaling ke orang lain sama sekali.


\*\*\*


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING

__ADS_1



__ADS_2