JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
BUKTI BUAT IBU


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Jam sepuluh pagi, saat jam kunjung pagi, kedua mertua Alesha datang tanpa Rezky, rupanya saat Ririen menghubungi besannya tersebut Rezky sudah berangkat kerja, dan dia jadwal meeting rutin pagi ini.



"Kalau telepon sebelum dia berangkat kerja mungkin bisa izin. Rezky kan sekarang tinggal di rumah," bu Fatmah Bawazir Malik bercerita bila anaknya telah kembali tinggal di rumahnya.



"Lho, dia tinggal sama Ibu? Rumah kontrakannya gimana?" Tanya Ririen pada mantan besannya itu.



"Enggak lama nak Alesha pergi Rezky langsung oper kontrak rumah itu. Isinya dia jual semua dan semua uangnya dia setor ke rekening nak Lesha sebagai istrinya," jawab bu Fatmah.



"Maaf, saya tidak pernah cek mutasi rekening dan saldo ditabungan saya sehingga enggak tahu ada transferan masuk," jawab Alesha.



"Enggak apa-apa Nak. Umi bukan mau ungkit. Hanya memberitahu kalau sekarang Rezky jauh berubah. Dia telah sadar akan kesalahannya," lanjut bu Fatmah.



"Bagus Umi. Suruh openi aja salah satu perempuan yang sudah ada anak darinya. Kalau saya sih tak akan pernah berniat kembali padanya walau dia tobat sekali pun," dengan tegas Alesha mengatakan keputusannya. 



Dari mertuanya Alesha mendengar kalau Rezky kembali tinggal di rumah orang tuanya, dan rumah kontrakan yang dulu pernah Alesha tinggali sudah di oper kontrak. 



Dan Alesha baru tahu kalau semua uang penjualan barang dan uang oper kontrak disetorkan ke rekeningnya, karena Alesha tak pernah melihat mutasi rekeningnya.



Abdullah Malik dan Fatmah Bawazir Malik tidak berani komplain mengapa nama cucu mereka menggunakan Purwanagara bukan Malik. Mereka sadar, walau darah yang mengalir pada Jingga adalah darah Rezky, mungkin Alesha sudah terlalu sakit hati sehingga tak ingin menyematkan nama Malik pada anaknya. 

__ADS_1



Pasangan Malik  juga tau walau Alesha menggunakan nama belakang Purwanagara, dia bukan anak kandung pak Putra, karena saat menikah yang menjadi wali nikahnya adalah Fajar.


\*\*\* 



Garo ingin datang ke rumah sakit pada jam kunjung pagi, tapi dia ragu kalau datang sendirian. Tapi mau ngajak siapa? 



Enggak enak juga ngajak sahabat sekaligus asistennya, si Ampi, karena bisa bocor ke teman-teman kuliah dan juga teman-teman pengusaha tanaman. 



Mulut ember Ampi harus dilakban agar tak berkicau bagai burung prenjak. Selain itu juga dia bingung mau bawa hadiah apa buat bayi baru lahir karena dia belum pernah datang untuk menengok bayi.



“Kalau nengok bayi baru lahir, pantasnya bawa apa?” tanya Garo pada Ampi yang sedang meracik pupuk untuk eksekusi pagi ini.




“Kenapa beda hadiahnya kalau jenis kelamin bayi beda, juga apa peran bayi pertama dan bayi berikutnya?” tanya Garo penasaran.



“Hmmmmm, *kowe ki jomblo sejati ra ngerti*. Beda kelamin kalau diberikan baju atau peralatan makan beda warna dan coraknya. Lalu kalau anak kedua dan seterusnya biasanya orang tua sudah pernah punya barang lungsuran kakak si bayi” jawab Ampi lugas. Dia baru saja menikah sehingga dia tahu dari istrinya bila menemani sang istri nengok bayi temannya.



“Ini bayi pertama temanku, temanku perempuan dan bayinya juga perempuan. Aku enggak terlalu akrab dengannya tapi sering ngobrol sehingga bisa dibilang kami cukup dekatlah,” jawab Garo ambigu.



“Enggak akrab tapi cukup dekat, *kui piye jal* ( kui piye jal \= itu bagaimana sih )?” tanya Ampi.



“*Wis jawab wae, pantese* aku kasih kado apa?” desak Garo.


__ADS_1


“Kalau dekat bisa kamu belikan gelang buat bayinya, atau bisa juga stroller, atau box bayi, atau hanya dress bayi. Buat ibunya kasih kembang ucapan selamat juga boleh. Tapi kalau enggak dekat jangan berikan bunga karena suaminya bisa cemburu,” jawab Ampi asal-asalan.



Garo segera masuk ke ruang depan, dia memperhatikan stock barang yang kosong dan mulai menghubungi rekanan agar mengirim pupuk, media serta pot. 



Garo juga melihat catatan penjualan tanaman yang dimilikinya. Namun sebenarnya dia tidak terlalu focus, dia malah lebih focus memikirkan apakah dia akan memberikan Alesha bunga atau tidak.



Jam makan siang Garo bersiap untuk menuju rumah sakit Persada dimana Alesha dirawat, dia sengaja ke mall terlebih dahulu. Di mall dia menuju toko emas besar dan memilih gelang bayi, serta memesan agar diukir nama JINGGA di gelang tersebut berikut tanggal lahir bayi itu.



Sambil menunggu gelang diukir nama pesanannya dia makan siang di food court yang berada di lantai teratas mall tersebut. Tanpa sengaja dia melihat Fitri yang sedang makan siang dengan teman-teman kerjanya, karena pakaian seragam mereka sama.



Garo makan dalam diam, tapi secara diam-diam dia membuat dua photo candid Fitri yang sedang merokok, karena jarak cukup jauh maka dia zoom agar bisa terlihat jelas. Dia tahu ibu tidak suka orang merokok, jangankan perempuan, laki-laki merokok saja ibunya tak suka.



Jam empat sore Garo meluncur ke rumah sakit Persada, gelang tadi sudah dibungkus cantik oleh pegawai toko dan dia membawa buket bunga bertuliskan selamat atas kelahiran putri tercinta.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE ya.



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1676084954518.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNREQUITED LOVE itu ya.

__ADS_1


__ADS_2