
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
“Untung Mas Garo belum pulang, tadi saya nyari-nyari sampai tanya ke resepsionis hotel,” celoteh Anna kembali mendatangi Garo.
Baru saja Alesha sedikit tenang, ternyata bencana besar siap menelan Garo.
“Ini Mas, aku kasih kenang-kenangan Mas, semoga Mas suka. Insya Allah event di Jogja dua bulan lagi saya datang. Kenalin dengan orang tua Mas ya?”rengek Anna manja.
“Maaf Mas, saya sudah selesai sarapan. Terima kasih sudah membantu saya menjaga anak saya selama saya sarapan,” Garo kaget melihat reaksi Alesha yang sangat marah kala itu.
“Please jangan marah lagi, ini bukan kemauan Mas,” bisik Garo saat Alesha menunduk untuk mengambil Jingga.
Garo tidak memberikan Jingga tapi berdiri menggendong Jingga dan berjalan keluar tanpa membawa tanaman yang Anna berikan.
Alesha mengikuti Garo yang membawa anaknya keluar “Mas, sini'in Jingga, kamu belum sarapan,” Alesha menggamit lengan Garo agar dia tak tertinggal langkah karena Garo itu keluar ruangan dengan langkah lebar.
“Mas!” kali ini Alesha menyentak lengan Garo agar laki-laki itu menoleh padanya.
Garo tersadar dan menghentikan langkahnya, lalu menciumi Jingga sambil berbisik “Maafin Ayah ya sayang, Ayah enggak pengen nyakitin kamu, Ayah enggak sadar barusan jalan cepat sambil bawa kamu. Maafin Ayah,” keluhnya sambil terus menciumi Jingga sebelum dia berikan Jingga pada Alesha dan dia tinggalkan keduanya menuju kamarnya.
Garo frustasi, belum selesai kemarahan Alesha karena kelakuan Retno di lesehan tiga minggu lalu, sekarang dia kembali membuat Alesha terluka karena Anna gadis tadi terlalu ambisius mengejarnya.
Padahal disisi lain dia takut kalah saing dengan Widdyo.
'*Ya Allah mengapa terjal benar jalur cinta yang harus aku lewati*?'
Garo ingat dia pernah sedih mengetahui Alesha telah menikah meninggalkan dirinya. Sekarang saat Alesha sudah sendiri tanpa pendamping hidup, mengapa godaan ada pada dirinya?
'*Saat aku mulai bisa dekat, saat dia mulai membuka hatinya yang terluka, mengapa aku justru menambah luka*?'
'*Andai dia mau berkomunikasi, tentu tak seperti ini*.'
'*Aku tak bisa menyalahkan dia. Dia habis terluka. Wajar dia seperti itu. Siapa yang mau gagal lagi*?'
'*Kalau dia pergi menyepi, aku memaklumi, ibarat luka belum kering kena air garam. Kena air biasa aja perih. Apalagi air garam kan*?'
'*Entah sampai kapan aku bertahan menunggunya. Aku tak akan pernah berpaling. Tak akan. Mungkin aku hanya akan berhenti menunggu. Akan aku lepas dia menggapai impiannya. Biarlah aku hanya bisa memandangnya dari jauh*.'
'*Yang penting dia bahagia*.'
__ADS_1
Itu yang Garo ingat saat dia akan menyerah. Dua perempuan telah membuat dia makin melukai Alesha.
Tiga hari sejak mereka pulang bareng dari Kediri. Alesha masih tak merespon semua pesan Garo, bahkan sejak kemarin Garo mulai menelponnya pun Alesha tak pernah angkat.
'*Apa aku harus menyerah sekarang*?' Tanya Garo dalam benaknya.
Garo sudah putus asa menghadapi kebekuan hati Alesha.
\*\*\*
Dan masalah kedua belum usai, datang masalah ketiga yang membuat dunia seakan runtuh. Garo tak ingin bertahan hidup bila dia tak ingat kalau kematiannya akan membuat para kompetitornya melenggang tenang karena musuh besarnya tak ada.
Itu membuat Garo mengatur kuda-kudanya agar bisa berdiri kokoh kembali. Terlebih saat dia mendapat dukungan calon mertuanya. Saat itu bu Ririen dan pak Putra memang masih berstatus calon mertua.
\*\*\*
Di lapangan Selatan, atau alun-alun kidul ( ALKID ) . Garo dan Ampi yang sedang bertemu kawan lamanya melihat Alesha sedang tertawa bahagia dengan dua orang lelaki yang belum pernah Garo kenal
'*Tawa itu sudah lama tidak kau lakukan di depanku lagi sayankku*,' keluh Garo dalam hatinya ketika itu.
“Subiiiiiiiiiiiiiiii … turunin aku!” pekik Alesha sambil memukul bahu seorang lelaki. Garo melihat bagaimana lelaki itu mengangkat Alesha dan memutarnya.
'*Siapa kedua orang itu, mengapa mereka sangat dekat dengan kekasihku*?' Garo makin panas melihat Alesha dengan dua orang pria tersebut.
\*\*\*
“Toilet dimana?” tanya tamu Garo .
“Ayok saya antar,” Ampi menawarkan diri, sehingga di meja lesehan itu Garo duduk sendirian.
Sementara Garo sedang sendirian, tetiba Fitri datang dan duduk di hadapan Garo. “Mau apa kamu?” tanya Garo ketus.
“Mas, tolongin aku, aku enggak tau gimana caranya ngadepin persoalanku,” jawab Fitri tanpa prolog.
Fitri memegang jemari Garo. Saat itu Alesha berpaling dan melihat itu semua. Alesha melihat Garo sedang berpegangan tangan dengan seorang perempuan yang memunggungi Alesha, dan Garo juga tepat melihat kearah Alesha yang sedang terpaku pada tangan Garo yang sedang dalam genggaman Fitri.
Garo, kembali mengalami kejadian sial. Dilihat Alesha saat sedang posisi yang membuat masalah.
“Kenapa?” tanya Ampi dan tamu mereka ketika mendengar pekik marah Garo.
“Perempuan ini tiba-tiba datang memintaku membantunya,” jelas Garo.
__ADS_1
"Dan sialnya dia menggenggam tanganku saat Alesha melihat ke arahku,” Garo menepuk meja lesehan di lapangan itu.
“Astagaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, masalah Retno belum tuntas, lalu kemaren kamu di Kediri dapat masalah karena Anna, sekarang ditambah lagi dengan perempuan ini,” kata Ampi sambil menunjuk Fitri.
\*\*\*
“Ayok,”ajak seorang teman Alesha, dan Garo melihat Alesha menyambut tangan teman lelakinya. Itu membuat Garo tambah terluka. Garo ingat, lelaki yang tadi membantu kekasihnya berdiri sama dengan lelaki yang Garo lihat di gudeg saat makan siang dulu.
\*\*\*
Sepanjang malam Garo gelisah. Dia yakin Alesha semakin membencinya.
Mau dia kirimi chat lagi, Garo yakin Alesha malah akan semakin menjauh karena dia mengira Garo mempermainkan perasaannya.
Saat merasa tak ada harapan lagi, dewi fortuna datang mendekat.
Satu notifikasi chat masuk ke BBM Garo. Dia segera membacanya dan tak percaya kalau Ririen mengirimi pesan meminta kehadirannya untuk bicara.
Sehabis membalas chat orang itu, Garo pun mengirim pesan untuk Alesha.
'*Met bobo sayankku, met rehat ya yank*.'
Tak lama Garo mendapat balasan chat dari Ririen. Garo pun menyanggupinya dan dia segera tidur.
\*\*\*
“Mommy dan Daddy enggak akan basa-basi ya, kami langsung ke pokok persoalan aja. Apa kamu tau mengapa kami memintamu datang kesini?” tanya Putra to the poin.
“Kalau kamu nervous kamu boleh sambil merokok,” Ririen menimpali perkataan suaminya. Mereka duduk lesehan agar lebih santai.
“Saya enggak ngerokok Mom, dan saya enggak tau pasti alasan Daddy dan Mommy memanggil saya."
"Saya hanya memperkirakan pemanggilan ini berkaitan dengan hubungan saya dengan Echa,” Sejak semalam Garo sudah pasrah bila dua orang yang saat ini duduk di depannya memintanya untuk menjauh dari Alesha.
Karena dia sudah teramat lelah dengan tiga kasus yang dia hadapi kali ini.
“Sebenarnya, bagaimana keseriusanmu terhadap putri saya?” tanya Putra. Dia bukan menyebut putri kami.
“Agar tidak simpang siur, saya ceritakan semua sejak awal. Saya pernah dekat dengan dua orang gadis."
Akhirnya permasalahan Alesha dan Garo sedikit demi sedikit bisa terselesaikan hingga mereka sampai tahap lamaran dan penentuan jadwal pernikahan.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIED
__ADS_1