
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Sejak semalam Fitri tentu gundah, dia kaget saat melihat sosok pria yang baru beberapa jam lalu di jodohkan kedua orang tuanya.
Tentu dia suka sosok Garo, tampan dan kaya karena memiliki usaha sendiri walau tidak besar, tapi bukan pekerja kecil.
Dia lihat Garo juga mapan karena baju yang dikenakannya branded dan punya mobil pula. '*Haduuuuh kenapa semalam aku mau aja ngikutin ajakan Misye seperti biasa keluar malam*,' sesal Fitri.
Tentu saja Fitri melihat jelas ketika Garo memberikan jempol terbalik pada dirinya. Hilang sudah harapannya menjadi seorang nyonya yang tak perlu kerja.
Seperti biasa Fitri bangun super siang, tiap libur memang begitu, alasan pada kedua orang tuanya tentu menikmati waktu libur, padahal dia bangun siang karena baru masuk kamar pagi hari.
'*Aku harus memikirkan menjerat pria kaya lainnya agar hidupku mapan tanpa perlu merangkak dari bawah seperti mbak Asty kakak perempuanku, yang hidup sederhana dengan suaminya di Klaten*,' pikir Fitri sebelum dia pergi tidur jam tujuh pagi tadi
\*\*\*
“*Ro, kowe wis nduwe ticket e Fajri Purwanagara rung*? ( Garo kamu sudah punya ticket konsernya Fajri Purwanagara ) ?” tanya Ampi sahabat Garo, sekaligus teman saat hunting tanaman berkelas untuk lomba.
“Bukannya konsernya masih tiga bulan lagi?” tanya Garo. Mereka tahu Fajri Purwanagara adalah seniman muda berbakat yang dimiliki Jogja saat ini.
Pemuda lajang itu mahir beberapa alat musik dan suaranya sangat memikat. Ingat nama Purwanagara, Garo langsung inget bu Dewi.
“Fajri Purwanagara itu anaknya bu Dewi pemilik keboen mommy ya?” selidik Garo.
“Iya, anak nomor dua, sulungnya kan ahli hukum terkenal sekaligus pemilik Dojo dan beberapa cafe” jawab Ampi.
__ADS_1
“Kamu sudah ada tiketnya?” tanya Garo.
“Aku titip beli di almamater biar langsung dapat” jawab Ampi yang memang seniman. Lebih berat ke atung tapi musik juga dia suka.
“Yang beli di almamater bisa beli tiket kelas 1 atau hanya tiket mahasiswa aja?” tanya Garo, dia tak ingin jauh dari panggung agar bisa melihat kursi VIP, karena dia yakin semua keluarga Fajri Purwanagara akan datang sebagai undangan khusus.
“Pesan undangan VIP juga bisa koq” balas Ampi.
“Pesankan aku satu tiket VIP aja deh, enggak jadi kelas 1” balas Garo.
“Mimpi apa kamu, nonton musik sampai di VIP?” selidik Ampi, yang pastinya kaget karena Garo bukan penikmat seni yang sangat fanatik.
“*Wis tho, tukoke wae* ( sudahlah belikan saja )” balas Garo malas menerangkan mengapa dia ingin berada di VIP.
\*\*\*
Malam ini tentu dia tak pakai sneaker melainkan sepatu kulit coklat sesuai busana yang dia kenakan.
Malam ini dia akan menemani ibu datang ke pernikahan anak teman Ibu saat SMA dulu. Sebagai anak tunggal dan sudah tak ada ayahnya tentu Garo harus siap kapan pun ibu memintanya menemani. Entah bagaimana bila dia sudah menikah nanti.
“Masih lama Bu?” tanya Garo pada ibunya.
“Jalan ke balai Shinta lumayan jauh lho Bu.”
“*Iki wis siap owg*” jawab si ibu yang menyatakan sudah siap berangkat.
“Memangnya yang ngundang siapa tho Bu, koq bikin di balai Shinta?” tanya Garo.
__ADS_1
“Konco akrab SMA, nggak sengaja ketemu pas rapat reuni wingi” jawab bu Ratna, dia bilang yang mengundang adalah teman akrabnya ketika SMA yang tak sengaja ketemu saat rapat reuni.
“Undangan enggak ketinggalan kan?” tanya Garo sebelum dia menyalakan mesin mobilnya.
“*Wis* ( sudah dibawa maksudnya )” jawab singkat bu Ratna.q
Garo memarkirkan mobilnya, dia menggandeng ibunya hati-hati karena ibunya memakai *jarik* ( kain ).
Saat ibu sedang mengisi buku tamu, tak sengaja Garo melihat nama pengantin laki-laki adalah Fajar Setyawan Purwanagara.
'*Apa hanya kebetulan nama Purwanagara yang sama*?' pikir Garo.
Andai saja ini adalah keluarga Purwanagara dari bu Dewi tentu ada harapan dia melihat perempuan yang telah mencuri hatinya dan dia tahu perempuan tersebut sedang terluka karena harus berpisah dengan suaminya saat sedang hamil.
Garo mendampingi ibu masuk ke ruang pesta, di panggung pengantin dia melihat bu Dewi berdiri disana.
'*Oh my God, ini Purwanagara yang sama. Dimana dia berada*?' Garo memutar pandangannya mencari sosok wanita yang dia impikan.
“Selamat bu Dewi,” ucap Garo saat dia bersalaman dengan Ririen. Orang umum memang kenalnya adalah nama resminya yaitu Arienka Dewi Purwanagara.
“Eh Garo, datang dengan siapa?” tanya Ririen ramah, dia suka dengan Garo, wawasannya bagus dan enak diajak diskusi.
“Ini ngawal ibu, ibu teman dari ayahnya pengantin putri,” jawab Garo.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
__ADS_1
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.