JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
JAMU DARI IBU MERTUA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Tak lama pintu diketuk. Masuk ibunya Ardi dan bu bidan desa.



Yanti santai karena tak mengira akan di jebak dengan pembuktian usia kehamilan. 



Bidan desa biasa memadukan ilmu di bangku kuliah atau ilmu medis dengan keahlian khusus misal keahlian *paraji* atau dukun beranak.



Di desa kalau pure medis masih agak sulit. Jadi saat itu memang masih harus ada sedikit ilmu urut  tradisionalnya. 



"*Lah niki pun wonten mbok Sijah, pun mboten perlu kulo Ndoro Putri*," bu bidan tak enak. 



Di ruangan itu sudah ada dukun beranak yang memang merangkap sebagai mbok emban. Siapa pun yang butuh diurut akan dia pegang.



Bu bidan pun langsung menyampaikan sudah ada mbok Sijah tak perlu ada dia.



"*Ben marem*," jawab eyang Tumenggung Putri.



Eyang Tumenggung Putri bilang biar puas di cek oleh mbok Sijah dan bu bidan berbarengan.



"*Yan, kene, ben bayine kuat, dicekel mbah Sijah sik*," eyang Tumenggung Putri menyuruh Yanti berbaring untuk dipijat agar bayinya kuat tidak keguguran.



Yanti tentu senang, kehamilannya dapat attensi yang sangat besar dari eyang suaminya.



Yanti pun menurut. Mbok Sijah hanya memegang sebentar lalu menyuruh bu bidan memastikan.



"*Nek cekelan kulo niki sampun tigang sasi punjul Ndoro*," bu bidan mengatakan pada eyang Tumenggung Putri kalau menurut pengamatannya Yanti sudah hamil tiga bulan lebih.



"*Sampun patang sasi*, ***estri*** *niku*," mbok Sijah ini bisa menebak seseorang hamil bayi lelaki atau perempuan sejak seorang perempuan terlambat mens. Suatu hal yang belum bisa di test oleh medis.



Percaya tak percaya, tebakan mbok Sijah jarang meleset.

__ADS_1



Yanti pias saat mbok Sijah bilang usia kandungannya sudah berusia empat bulan. Diperkuat dugaan bu bidan bayinya sudah tiga bulan lebih.



Mbok Sijah bilang calon anak Yanti perempuan



"Wah aku seneng," eyang Tumenggung Putri tetap tersenyum. Sementara ibunda Ardi keluar dikuti bu bidan.



"Ayo lapor eyang kakung Nduk," ajak eyang putri dengan tetap lembut. Yanti berjalan keluar kamar. Tadi dia tak buka baju sama sekali jadi bisa langsung mengikuti eyang putri.



Mbok Sijah dan mbok Tinem mengawal dari belakang.



Yanti kaget saat di pendopo sudah ada kedua orang tuanya. Juga pak Carik atau juru tulis.



"Piye Mbok?" Tanya eyang Tumenggung tanpa menunda.



"*Nyuwun sewu eyang. Sik. Ta' ngomong dulu*," pinta Ardi.



"Yooo," sang eyang memberi kesempatan pada. cucu tunggalnya itu. 




"Ya Mas," sahut Yanti seperti biasa dengan sangat lembut. 



"Mas seneng banget, setelah hampir sembilan tahun menikah, Mas akan punya anak."



"Injih Mas," sahut Yanti.



"Kalau tahu kamu dengan satu kali sentuh bisa hamil, tentu sejak kita menikah Mas akan langsung menggaulimu Nduk."



"Kamu baru Mas sentuh lima minggu lalu, saat kita habis pulang dari rumah orang tuamu sehabis pengajian *patang puluh dinone* mbah kakungmu kan?"



"Bener enggak?" Ardi meggiring Yanti yang tentu saja tak bisa mengelak. Yanti memgangguk membenarkan.



"Aku minum jamu apa ya Bu di rumah?" Tanya Ardi pada ibu mertuanya.

__ADS_1



"Jamu opo Le?" Ibunya Ardi tentu penasaran.



"Sebelum pulang ibu ngasih aku jamu, katanya biar enggak masuk angin Bu," sahut Ardi santai.



Sedang ibu mertuanya hanya menunduk ketakutan.



"Monggo mbok Sijah," Ardi memberi kesempatan pada mbok Sijah.



"Mbak Yanti *pun mbobot patang sasi*!" Tanpa beban mbok Sijah mengatakan kalau Yanti  sudah hamil empat bulan.



"Bu bidan monggo," ayahnya Ardi jadi tak sabar untuk mendapat kepastian lainnya.



"*Njih leres Ndoro. Cekelan kulo njih punjul saking tigang sasi. Nek nembe campur gangsal minggu njih ngapunten niku titipane sinten njih*?" Bu bidan bicara lebih tegas.



Bu bidan bilang menurut pengamatannya usia kehamilan Yanti memang sudah berusia tiga bulan lebih. Kalau sesuai omongannya Ardi dia dan Yanti baru making love pertama lima minggu lalu, bayi diperut Yanti titipan siapa? 



Dua orang yang bisa dibilang tahu usia kehamilan sudah memberi fakta itu, Yanti tak bisa bohong lagi. 



"Genduk dan ibunya ingin hartaku. Sejak dulu ibunya tahu Genduk itu kan *peliharaane pamane dewe*," cetus Ardi.



"Dan ini bukan kehamilan pertama Yanti. Sayang *wae* Bapake Genduk enggak pernah tahu *kelakuane* *bojone dan anak wedoke*," suami bu bidan membuka aib Yanti.



Bapaknya Yanti kaget mengetahui kenyataan kelakuan istri dan anaknya.



Malam itu juga Yanti dicerai oleh Ardi dan ibunya Yanti dicerai oleh bapaknya Yanti.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.


__ADS_1


![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1678647068631.jpg)


__ADS_2