JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
AYAH DISINI UNTUKMU LITTLE PRINCESS


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Ririen menanyakan bagaimana Jingga bisa di rawat. Alesha bercerita jujur bagaimana Jingga selalu mencari Garo dan berteriak memanggil AYAH. Karena banyak menangis dan berteriak maka tenggorokannya iritasi. Dan membuat dia demam.



"Untung kak Icha dapat ruangan ini, karena ruangan VVIP habis. Tadi aku udah bilang kalau ke paksa masuk kelas 1 dulu nggak apa-apa tapi memang pas lagi penuh," cerita Alesha.



Ririen melihat roti fan telur setengah mateng masih utuh. 



"Mbak saya pulang ya," pamit Dwi.



"Iya Mbak, nanti tak kirimin pesan apa yang perlu dipersiapkan.  Yang penting baju Dedek yang kancing depan aja, kalau kaos susah karena dia diinfus. Celana tidur dan kaos kaki jangan lupa Mbak."



"Eh uang untuk taksinya cukup enggak?" Tanya Ririen.



"*Cekap* Bu, tadi sudah dikasih banyak," kata Dwi. Cekap itu artinya cukup.



"Hati-hati di jalan yo," pesan Putra.



"Njih Pak," sahut Dwi.



Saat keluar dari lift, Dwi bertemu Garo.



"Ada siapa saja di atas?"  tanya Garo.



"Ada Pak Putra dan bu Ririen saja selain mbak Lesha." jawab Dwi.



"Oh ya udah." Garo bersiap masuk lift tatkala dia ingat ingin tahu Jingga sakit apa dan kenapa.



"Mbak," panggil Garo. Dia langsung balik badan dan menghampiri Dwi.

__ADS_1



"Dedek sakit apa dan kenapa?" Selidik Garo.



"Tiga hari laku Dedek mulai rewel enggak mau maem dan nangis terus panggil ayah. Dedek tuh teriak-teriak sampai amandelnya bengkak dan makin susah maem. Enggak bisa nelan karena sakit."



"Mulai kemarin pagi dia panas, sudah dikasih obat dan di kompres tetap enggak turun juga."



"Tadi malam jam satu mbak Lesha bangunin saya suruh gendong Dedek dan kami berangkat ke sini enggak bilang bapak ( Putra ) seperti biasa."



"Mbak Lesha juga enggak kelihatan nangis sama sekali seperti biasa. Dia hanya diam dan tegang aja. Mbak Lesha juga sekarang jarang makan," lapor Dwi lengkap.



Garo jadi merasa bersalah putrinya sakit dan dia tidak pernah mau cari info kondisi Jingga selama dia tak ada.



"Oh ya udah mbak Dwi. Makasih," Garo segera masuk ke lift.



Garo ingat kata-kata Dwi : *Mbak Lesha juga enggak kelihatan nangis sama sekali seperti biasa. Dia hanya diam dan tegang aja. Mbak Lesha juga sekarang jarang makan*.



\*\*\*



"Assalamualaikum," kata Garo. Dia melihat wajah kecil pucat yang dia rindukan wajahnya semakin tirus. Terbaring lemah di ranjang pasien.



Ada infus yang diberi spalk penjaga infus buat anak-anak di tangan kiri putrinya. Di dahinya ada kompres instan untuk menurunkan demamnya.



Alesha melihat sosok yang dia rindukan semakin kurus. Garo pun memperhatikan sosok Alesha yang wajahnya menjadi tirus.



Garo mencium tangan Putra dan Ririen seperti biasa, lalu dia menghampiri Alesha dan mengecup keningnya seperti biasa.



Alesha yang sedang duduk langsung memeluk perutnya Garo sambil menangis. Akhirnya tangisnya kembali pecah setelah dia tak pernah menangis sejak memantapkan diri kembali ke rumah.



"Jangan sedih gitu kasihan Dedek kalau Bundanya sedih. Mas tahu kamu kuat,"  bujuk Garo.


__ADS_1


Kembali dia kecup puncak kepala Alesha, sosok yang sangat dia rindukan. 



"Sudah ya cukup ya nangisnya." Garo menghapus air mata di pipi Alesha.



Kembali dia kecup kening Alesha. "Mas lihat Dedek dulu ya," pamit Garo  pada Alesha. Alesha menjawab dengan mengangguk.



Ririen dan Putra hanya melihat semuanya dalam diam.



Garo mendekati ranjang rawat Jingga, dia ciumi punggung tangan putrinya lalu dikecup juga keningnya.



"Assalamualaikum little Princess nya ayah. Ayah  kangen kamu Nak" tak sadar Garo menangis. Putra dan Ririen melihat jelas guncangan tubuh Garo.



Garo menciumi pipi Jingga. Alesha memeluk Garo yang setengah berbaring di ranjang karena sedang mendekap Jingga dari belakang punggung lelaku itu.



Alesha juga menangis.



Putra dan Ririen mundur mereka memberikan kesempatan kedua orang itu untuk merasakan akibat keegoisan mereka mengambil keputusan  sehingga anak mereka yang jadi korban.



Putra dan Ririen keluar dari ruangan diam-diam.



Dengan terputus-putus Garo membisikkan shalawat di telinga Jingga.



"Ayah di sini sayang, Ayah kangen kamu. Cepet sembuh ya Nak. Ayah janji, apa pun yang terjadi, Ayah enggak akan menjauh lagi dari mu. Ayah nggak akan pergi lagi. Maafin Ayah ya Nak. Ayah egois lupain kamu. Maafin Ayah ya," Garo benar-benar menangis melihat putrinya seperti itu.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ ya.



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1679976902658.jpg)

__ADS_1


__ADS_2