
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Mereka masuk ke rumah makan lesehan.
“Mas, aku ke toilet sebentar ya, ASI ku penuh nih, aku buang dulu sedikit biar enggak senat senut,” Alesha pamit sesudah mereka memesan makanan.
Cukup lama Alesha di toilet, saat dia kembali dilihatnya ada seorang wanita yang duduk sangat dekat dengan Garo. Bahkan rasanya bahu mereka saling bersinggungan padahal meja lesehan mereka hanya berisi Garo, seharusnya perempuan itu bisa saja kan duduk di depannya, bukan duduk mepet dengan Garo seperti itu.
Alesha langsung balik badan dan keluar dari rumah makan tersebut. Dia berlari keluar dan segera naik taxi menuju rumahnya.
**GARO POV**
“Mas pesan apa?” tanya Alesha lembut.
“Samain ama yayank ajalah,” jawabku, aku pemakan segala, jadi menu apa pun yang akan dia pilihkan aku pasti akan memakannya.
“Nasi uduk ayam bakar mau?” dia masih bertanya apa yang kumau.
“Boleh,” jawabku.
“Nasi uduk dua, ayam bakar paha atas satu, lele bakar dua dan minumnya lemon tea yang satu no ice Mbak,” pesannya pada pramusaji.
“Ok saya ulang pesanannya Bu : Nasi uduk dua, ayam bakar paha atas satu, lele bakar dua dan minumnya lemon tea yang satu no ice, satunya pakai ice ya,” pramusaji mengulangi apa yang Alesha ucapkan tadi sesuai yang dia catat untuk mencegah kesalahan order.
“Mas, aku ke toilet sebentar ya, ASI ku penuh nih, aku buang dulu sedikit biar enggak senat senut,” Alesha pamit sesudah dia selesai memesan makanan.
“Ya,” jawabku, lalu aku mengambil ponselku untuk melihat chat yang masuk.
“Garo,” sapa seseorang, aku menoleh, ternyata Retno, mantan teman dekatku di masa kuliah dulu. Sosok perempuan agresif yang mendekatiku sangat gencar. Aku yang saat itu masih bodoh berhasil mendapat banyak pelajaran nakal dari wanita murahan ini.
Ciuman pertama yang aku lakukan karena dia yang mencurinya, dia juga yang menuntun tanganku kebagian tubuhnya yang lain. Perempuan itu menuntun bibirku ke gunung mahamerunya dan memintaku menghisapnya. Itulah kencanku dengan dirinya tiap kami pulang kuliah kala itu.
Untungnya aku terhindar dari jebakannya saat dia sengaja mengajakku sore itu. Ampi sahabatku menyelamatkanku dari jebakan Retno sehingga aku tak harus mempertanggung jawabkan benih yang sudah ada diperutnya saat itu.
Walau saat itu ju-niorku sudah mulai masuk ke goa miliknya, tapi aku belum sampai melakukan serangan, saat Ampi mendobrak pintu kamar kost Retno.
Walau pintu tak sampai terbuka, tapi teriakan Ampi yang menyuruhku segera keluar kamar membuat peperangan antara aku dan Retno yang baru sampai gerbang tak jadi dilanjutkan.
Saat diluar Ampi bilang kalau Retno akan menjebakku untuk bertanggung jawab akan anak yang dikandungnya, yang Retno sendiri tak tau itu anak siapa.
Semua Ampi ketahui dari Kinan istri Ampi yang diberitahu oleh teman sekantornya. Sejak itu aku tak pernah ketemu dia lagi sampai saat ini.
Dia masih sexy seperti dulu, tapi sejak tau sepak terjangnya aku sudah ji-jik melihatnya.
Mengapa sekarang dia disini dan langsung menghampiriku? Dia menggesekan gunung mahamerunya di lenganku sambil tanya khabar terakhirku.
“Kamu koq enggak pernah ngumpul ama teman-teman sih, apa khabarmu beib?” sapanya.
__ADS_1
Aku menggeser dudukku agar gesekan mahameru tak terus terjadi di lenganku. “Maaf saya baik-baik saja dan tolong kamu menjauh,” jawabku datar.
Makanan yang dipesan Alesha sudah datang. Retno melihat kalau makanan yang aku pesan untuk dua orang “Kamu kesini ama siapa?” selidiknya.
“Ama istriku,” jawabku pasti.
“Bisa tukeran pin BB enggak?” tanyanya tanpa merasa kalau aku sudah menjauh dari nya.
Aku merasa Alesha terlalu lama di toilet. Aku mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak aktive. Aku merasa ada yang enggak beres.
Aku tak melihat dia kembali dari toilet karena duduk aku membelakangi arah ke toilet. Apa jangan-jangan Alesha datang dan melihat saat Retno bergayut mesra sehingga dia marah?
“Shit” teriakku. Dia pasti salah paham.
“Kamu sudah bikin istriku salah paham,” kutuding Retno yang santai aja tak merasa bersalah.
Aku menuju kasir dan membayar pesanan kami tanpa memakannya. Saat sedang menunggu kembalian ku tanyakan adakah yang lihat istriku kembali dari toilet tadi?
“Wah Ibu tadi langsung lari ke luar naik taxi Pak” jawab pramusaji laki-laki yang tadi mengantar pesanan kami.
“Ibu kembali dari toilet sebelum makanan saya letakkan di meja Bapak,” lanjutnya.
Fix, Alesha melihat semua kelakuan Retno padaku.
\*\*\*
Alesha adalah perempuan yang baru saja lepas dari trauma diselingkuhi. Mendapat perlakuan seperti dugaannya tadi tentu akan membuat dia sulit percaya lagi padaku. Dan itu juga akan berimbas pada kualitas ASI nya nanti.
Sesampainya di rumah keboen tak kulihat mobilnya, dan rumahnya juga tertutup. Bu Ririen yang kebetulan sedang di kantor Nursery bingung melihatku.
“Lho, tadi Alesha bilang ada janjian ama kamu?” tanya nya.
“Engga Mom, barusan Echa salah paham dan dia kabur. HP nya juga enggak bisa dihubungi,” jawabku.
Memang sejak konser bang Fajri, pak Putra memintaku memanggilnya daddy dan memanggil bu Ririen dengan sebutan mommy.
“Dia pergi bawa Jingga dan mbak Dwi, Mommy enggak tanya dia mau kemana. Dia cuma bilang mau keluar ketemu kamu,” jawab mommy.
“Ya wis Mom, tolong kabari aku kalau dia pulang ya Mom,” aku pamit setelah menuliskan nomor teleponku untuk dihubungi bila Alesha sudah kembali ke rumahnya. Aku takut nomor pomselku tak disimpan oleh bi Ririen.
**GARO END POV**
\*\*\*
**ALESHA POV**
“Mas, aku ke toilet sebentar ya, ASI ku penuh nih, aku buang dulu sedikit biar enggak senat senut,” aku pamit sesudah selesai memesan makanan.
“Ya,” jawab mas Garo, dia lalu mengambil ponsel dari sakunya dan membuka chat. Dia duduk membelakangi jalan menuju toilet.
__ADS_1
Cukup lama aku memompa ASIku, aku lupa enggak bawa botol sehingga ASI yang tertampung aku buang.
Kubersihkan gunungku agar enggak bau amis, aku juga mencuci alat pompa ASI baru aku bersiap untuk keluar sesudah sekalian aku buang air kecil.
Dari kejauhan kulihat mas Garo sedang duduk dengan seorang wanita yang menggesek-gesek gunung kembarnya ke lengan mas Garo, seakan dia memancing hasrat mas Garo untuk tidur bersamanya.
Ditempat terbuka seperti ini mereka bahkan santai tak perduli orang lain. Aku kembali tak percaya pada ungkapan sayang dan cinta yang diucapkan laki-laki.
Aku berbalik badan dan berpapasan dengan mas yang antar pesanan makanan kami. Aku segera keluar, nasib baik ada taxi berhenti tepat didepanku menurunkan seorang ibu hamil. Aku segera naik menggantikannya.
“Ke Sedayu Pak,” pintaku.
“Mbak, tolong masukan baju Jingga yang banyak, alat mandi, alat tidur untuk nginap sekitar seminggu. Siapkan juga baju mbak Dwi, tapi enggak perlu bilang ke siapa pun. Mbak Dwi ambil baju ke belakang Jingga jangan kasih mommy, lewat pintu samping aja. Cepet ya. Aku sudah di jalan pulang. Nanti begitu aku sampai tinggal masukin baju-bajuku,” pintaku pada mbak Dwi lewat telepon. Aku tak ingin ketemu mas Garo, karena aku yakin dia akan mencariku di rumah.
Sesampai di rumah aku buka pintu mobil secara otomatis dan meminta mbak Dwi memasukan barang-barangnya serta barang-barang Jingga ke mobil.
Aku mempersiapkan baju serta alat mandi dan alat make up ku. Kumasukan dua pasang baju kerja bila kepaksa aku harus berangkat kerja.
Kubawa juga sepatu ganti dan sneaker. Kukunci pintu rumah dan kami segera berangkat.
Ada mommy di kantor nursery, aku membuka kaca mobil “Hallo Mom, aku jalan dulu ya,” pamitku tanpa turun mobil. Aku tak ingin mas Garo keburu datang.
“Mau kemana?” tanya mommy yang tangannya sedang kotor karena media tanam.
“Aku janjian ama mas Garo Mom. Assalamu’alaykum,” lalu aku segera keluar rumah.
Sejak tadi aku sudah memastikan tujuanku ke losmen kawan SMA ku. Lingkungannya nyaman. Dan disana juga disewakan paviliun dengan dua kamar sistem sewa mingguan.
Kurasa cukuplah aku menepi selama seminggu. Aku ingin menjauh dari semuanya. Tadinya aku ingin ke pantai, tapi tak berani ambil resiko karena terlalu jauh dari kota dan angin terlalu besar bagi Jingga yang belum terbiasa.
Disinilah kami saat ini. Di padepokan SELARAS paviliun 5 yang terletak di pojok.
Mbak Dwi menurunkan perbekalan makanan matang dan juice serta buah yang tadi aku minta dibawa semua. Dia juga sudah menurunkan tas-tas pakaian dan perlengkapan kami bertiga.
“Mbak, nek ada yang tanya kita ada dimana, mbak bilang kita di Klaten dirumah teman SMA ku,” kuwanti-wanti mbak Dwi, karena aku yakin mommy dan keluarga lain akan mencariku lewat HP mbak Dwi selama HP ku tidak aktif.
“Njih Mbak,” mbak Dwi patuh menjawab perintahku
**ALESHA END POV**
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNREQUITED LOVE itu ya.