JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
HUNTING MALAM LAGI


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



Habis ini kita ke mana Mas?" tanya Alesha. Mereka baru masuk lift hotel sepulang belanja dari pasar Chatuchak.



"Belum juga istirahat Yank, udah tanya mau kemana aja," goda Garo. Mereka meminjam trolly hotel untuk membawa barang belanjaan mereka.



Alesha sejak menjadi istri Garo sampai saat ini  tak pernah menentukan arah dalam hal apa pun, dia berupaya jadi pengikut. Alesha mencoba meredam rasa ingin mengatur seperti biasa.



Saat menikah dengan Rezky mau pun saat menjanda biasanya dia adalah kapten kapal. Sekarang dia sudah jadi nahkoda jadi dia selalu bertanya pada Garo apa yang harus dijalankan dan apa yang akan dijalankan.



Selalu seperti itu. Itu upaya perbaikan diri Alesha. Dia ingin jadi makmum. 



Saat dengan Rezky dia harus jadi imam, baik dalam menentukan langkah mau pun dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga karena Rezky tak pernah memberi nafkah!



"Kayaknya hari ini kita sudah selesai belanja tanaman. Apa nanti malam kita masih mau cari yang di pasar malamnya Chatuchak?" Selidik Garo. Dia ingin tahu minat istrinya. Garo takut Alesha capek atau jenuh walau dia masih sangat ingin kesana malam ini. Tapi Garo sadar tak ingin memutuskan sendiri.



"Masih ada satu malam ini kan pasar malam tanamannya? Kayaknya aku lihat kalau malam itu banyak kaktus deh Mas. Kita hunting biji-biji kaktus yuk."



"Lebih-lebih yang varian variegata dan jenis yang langka lain nya," ajak Alesha.



"Boleh. Kita hunting kaktus dan juga aneka seeds ya Yank. Kan enggak masalah kalau seeds. Ngirit tempat. Disana banyak nursery besar, aku berani beli seeds dari mereka. Kalau asal seller, aku enggak mau. Takutnya seeds yang kita beli asal label aja," ucap Garo.



"Habis itu selesai kan belanjaan tanaman kita.  Besok kita bisa ke karantina." Lanjut Garo.



"Iya Mas besok ke karantina sebelum ke Wat Arun."

__ADS_1



"Enggak Yank. Kita ke  Wat Arun dulu biar enggak panas dan masih fresh. Pulang dari Wat Arun baru kita kembali ambil barang lanjut ke karantina."



"Emang ke Wat Arun nggak lama Mas?"



"Enggak lah itu Temple atau candi kan. Kita cuma mau bikin beberapa foto aja. Kalau untuk melihat keindahan serta buat piknik kan kita sudah beberapa kali kesana walau belum pernah berdua."



"Siyaaaap Boss," balas Alesha.



"Jadi kita pagi-pagi sekali ke Wat Arun. Mas sudah bilang sama team foto."



"Oke Mas aku setuju terus kita mau ke Chaktuchak weekend market lagi enggak Mas?"



"Kamu mau belanja apa lagi Yank? Masih ada yang kamu inginkan?" Garo tak mau ambil keputusan bila belum mengetahui pendapat istrinya.




"Itu yang Mas rasa dan ingin katakan. Kayaknya kalau Chatuchak umum atau yang biasa satu kali kita cukup. Coba ada pasar tanaman lagi, pasti kita akan perpanjang kunjungan kita kan?" Goda Garo.



"Pasar weekend-nya kita sudah dapat waktu di Phuket kan? Rasanya cukup lah. Lusa kita langsung pulang aja." Alesha bukan penyuka belanja. Jadi sudah dapat di Phuket dia rasa sudah cukup.



"Pasar komoditas umum kita terbiasa dan bisa lain kali.  Tujuan kita kan bukan itu." Lanjut Alesha.



"Oke berarti kita nggak ke Chatuchak lagi ya. Besok ke Wat Arun dan karantina, lusa kita pulang ke Jogja."



"Kenapa enggak kirim port to port atau port to door aja Mas? Aku biasa door to door kalau sama Mommy. Kita hanging seeds aja."


__ADS_1


"Boleh juga. Jadi kita enggak terlalu overload. Nanti malam kita lihat aja. Baru kita hubungi ekspedisi sini," jawab Garo sambil menurunkan semua barang dari trolly.


\*\*\*



"Wow spektakuler ya Mas." Alesha kagum melihat suasana pasar tanaman malam. Selama ini dia hanya datang yang siang dengan mommy dn daddynya.



"Mas juga baru kali ini Yank. Supeeeer ini mah," jawab Garo.



"Enggak nyangka ya Yank. Pasar malam ternyata memang beda sama yang siang. Dan ini beda sama yang kemarin malam. Untung kita kesini sehingga bisa dapat wawasan baru ya Yank."



"Mungkin karena lebih banyak tanaman kecil di dalam ruangan dan cahaya lampu juga Mas."



"Memang varietasnya beda-beda sih." Ujar Garo sambil mengamati sekilas. Belum menghampiri seller.



"Banyak adenium loh Mas."



"Enggak mau nambah bonggol sih, aku paling mau ambil biji-biji tapi dari Nursery besar nggak mau dari seller yang nggak kredibel. Mas takut kalau biji itu enggak sama dengan yang kita harapkan dengan name tag yang mereka sematkan."



"Kalau bukan dari nursery besar yang kita kenal penipuan di negara mana pun bisa aja terjadi."



"Oke berarti untuk adenium, arabicum dan segala macam yaitu kita ngambil seeds aja ya sekarang, enggak pohon," ujar Alesha.



"Iya kaktus juga kita ambil biji tapi tetap kita beli pohon yang variegata dan yang lain-lain."



"Oke mari kita hunting," kata Alesha dengan semangat.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR


__ADS_1


__ADS_2