JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
PENGEN BANTAI ORANG


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Pagi ini Garo menjemput Alesha di stasiun Tugu. Semalam dia tak berkata apa pun saat Alesha bilang bersiap akan ke stasiun. 



Garo juga hanya mengirim pesan selamat bobo buat Jingga jam tujuh malam. Selebihnya Garo tak mengganggu Alesha dengan pesan atau telepon.



Putra juga mengirim dua mobil miliknya serta mobil milik Fajar yang ditinggal di Sedayu. Fajar memang akan langsung pulang ke rumahnya sendiri. 



"Mbak Dwi barang kita langsung masukin mobilnya Mas Garo aja ya," kata Alesha saat dia melihat pria ganteng itu tersenyum manis padanya. Senyum yang dia rindu tapi enggan dia akui.



"Injih Mbak,"  Mbak Dwi mengerti. Dia akan memisahkan barang miliknya karena potter menumpuk semua barang bersamaan.



"*Miss you* Yah," bisik Alesha membuat Garo yang sedang akan menggendong Jingga kaget.



'*Aduh aku juga kangen banget, pengen langsung meluk. Tapi kan enggak enak didepan semua leluarganya*,' batin Garo. Setidaknya agi ini ada kemajuan! Alesha berani mengatakan kangen lebih dulu!



"*Miss you too* Yank. *Miss you so much*," jawab Garo super lirih.



Garo memeluk Jingga dan Alesha secara bersama. sehingga tidak terlalu kelihatan kalau yang dipeluk hanya Alesha saja.



"Aduh anak Ayah tambah berat aja. Ayah kangen kamu tahu Nak," Garo menciumi Jingga dengan gemas.



"Cuma kangen Jingganya aja?" goda Alesha.



"Awas ya nanti," jawab Garo sambil berbisik.



"Ih ngancam," goda Alesha lagi.



"Kamu dari tadi ketemu langsung godain Mas aja," sungut Garo.



"Ya tinggal jawab," balas Alesha tanpa merasa bersalah.



"Kan tadi Mas sudah jawab. Mas pamit dulu ke yang lain," kata Garo menghampiri Ririen dan Putra sambil menggendong Jingga.



"Pamit gimana orang kita juga satu arah," protes Alesha. 



"Kan nggak satu mobil," jawab Garo.



Alesha tak peduli. dia langsung masuk ke mobil Garo.



"Mampir maem dulu nggak?" Garo bertanya pada sang nyonya.

__ADS_1



"Nggak usah deh" kawab Alesha.



"Nanti laper. Harus masak dulu, kan jadi nunggu," Garo mencoba menawarkan sekali lagi.



"Eh boleh deh Mas nggak apa-apa kita maem dulu. Di rumah juga enggak ada apa-apa yang bisa dimasak."



Akhirnya Garo menuju lesehan gudeg yang ada di kiri jalan.



"Kita makan dulu ya mbak Dwi, ntar sampai rumah belum sarapan kan laper, Alesha memberitahu pada Dwi kalau mereka akan mampir untuk sarapan dulu.



"Nggih Mbak nggak apa-apa," kata Mbak Dwi. Mereka memang naik kereta malam, sehingga  sampai Jogjanya pagi.



"Mau pakai apa?" Alesha bertanya pada Garo.



"Jenang," jawab Garo singkat.



"Mbak Dwi pesen *dewe* yo," Alesha meminta Dwi pesan sendiri sesuai seleranya.



Alesa meminta jenang gudeg untuk Garo. Dia minta gudegnya pakai ayam suir dan ditambah ayam  opor. Dia mulai menyuapi Garo yang menggendong Jingga.



Tanpa ragu Garo menerima suapan Alesha. 




"Masih pagi," balas Lesha. Dia tahu Garo protes karena tak dikasih rasa pedas sama sekali.



"Kamu yang busui aja boleh maem sambal goreng krecek walau pagi sekali pun," Garo masih aja protes.



"*Wis tho, nek disuapi manut*. Nanti aku yang *muthung* enggak mau nyuapin nih," Alesha mengancam akan  berhenti menyuapi.



"Ha ha ha, Bundamu makin cantik *nek* ngambek gitu ya Yank?" Garo berbicara ada putrinya seakan bayi itu sudah mengerti.



"Mau nambah nggak Mas?" tanya Alesha saat makanan dipiring tersisa dua suap saja.



"Cukup. Bunda aja maem," balas Garo sambil menerima teh hangat dari Alesha.


\*\*\*



"Mas mampir di pasar Gamping ya," pinta Alesha saat mereka akan masuk mobil.



"Mau beli apa sih pasar Gamping?" 



"Kita nggak punya bahan segar Mas. Enggak ada sayuran, nggak ada ayam, nggak ada daging terus bumbu juga enggak ada."


__ADS_1


"Mbak Dwi telur masih ada nggak?"



"Kayaknya ada tapi takut kurang, beli aja sedikit," kata Dwi.



"Oke apalagi Mbak? Bumbu-bumbu ya?"



"Iya kalau bumbu pastilah. Cabe bawang itu nggak ada semua karena satu minggu sebelum berangkat ke Jakarta kan sudah kita habis-habis kan biar enggak kebuang saat ditinggal," jelas Dwi.



"Nanti Mbak pegang Jingga ya. Biar aku sama mas Garo turun di pasar."



Alesha dan Garo turun berdua. Mereka belanja layaknya pasangan muda lainnya, nggak ada yang tahu kalau mereka bukan suami istri.  



"Mau beli apa lagi?"



"Aku pengen udang deh kayaknya udangnya gede-gede."



"Kamu tuh kalau udah udang, udah paling heboh deh."



"Itu udangnya gede Mas," kata Alesha sambil mendekati tukang udang. Alesha membeli 2 kg. 



"Mas pengen dimasakin apa?" tanya Alesha.



"Enggak pengen dimasakin. Cuma pengen cepat sampai rumah."



"Capek ya jemput aku?" Alesha jadi merasa bersalah.



"Bukan," balas Garo sambil nyengir.



"Terus kenapa?" Alesha penasaran.



"Pengen ngebantai orang yang tadi bilang kangen," bisik Garo. Alesha langsung mencubit perut Garo.



"Sakit Bun. Seneng banget nyubitin perut." protes Garo



"Habis Mas nyebelin," kata Aleshal.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE ya.



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1676767902948.jpg)

__ADS_1



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNREQUITED LOVE itu ya.


__ADS_2