
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Sekarang hari Sabtu pagi, Alesha sudah berada di arena pameran bersama Jingga dan mbak Dwi.
“Mbak duduk sini aja, atau kalau mau beli makanan bisa ke stand sebelah sana.” Alesha memberitahu mbak Dwi, karena sejak tiba di stand, Jingga sudah digendong Garo disambi melayani pelanggannya. Mereka berangkat naik taxi karena Garo bilang dia akan antar saat mereka pulang. Rupanya hari itu Garo sengaja membawa mobil miliknya.
“Tas dede taruh sini aja Mbak,” kata Alesha memberitahu mbak Dwi untuk menaruh tas perlengkapan Jingga.
Alesha mendekati Garo untuk mengambil Jingga.
“Sini Jingga nya Yah,” pinta Alesha
“Enggak apa apa, Jingga sama Ayah aja,” balas Garo. “Kalau rosetnya sih bagusan yang ini, tapi kalau jumlah daun memang yang Bapak pegang lebih banyak,” Garo memberikan penilaiannya karena calon pembelinya bingung memutuskan pilihan.
“Kalau bingung memilih, ambil dua-duanya aja Pak,” celetuk Alesha.
“Ha ha haa, istrinya mas Garo pinter ngegiringnya nih,” jawab si bapak terkekeh mendengar saran Alesha tadi.
“Maklum, dia pengusaha handal,” jawab Garo santai.
“Ayah,” protes Alesha, dia tak ingin statusnya sebagai pemilik supermarket bangunan diketahui orang secara umum.
“Kalau saya ambil keduanya diskon banyak enggak?” tanya si bapak yang jadi tergoda untuk membeli keduanya.
“Bapak itu pelanggan lama, harga sudah saya kasih harga nett, sehingga diskon itu sulit saya kasih. Kalau mau saya kasih bonus aja. Ini bonusnya” jelas Garo, sambil menunjuk satu pohon jenis lain sebagai bonus.
“Jangan gitu dong. Ayahnya pelit nih cantik,” si bapak mengusap pipi Jingga.
"Enam ya? Enam plus bonus,” tawarnya lagi.
“Penawaran terakhir 675 plus bonus,” jawab Garo sambil mengambil tissue untuk mengusap keringat di dahi anaknya.
__ADS_1
“Panas ya? Anak ayah kepanasan?” tanyanya pada putri kecilnya.
“Bun, dede enggak dibawain topi?” tanya Garo.
“Kalau sumuk ( gerah ) ya enggak bakal berkurang kepanasan walau pakai topi sekali pun Yah,” jawab Alesha.
“Sini ama Bunda, Bunda lap dulu pakai tissue basah biar dia agak seger,"” Garo pun menyerahkan anaknya pada Alesha.
Alesha baru saja menyelesaikan melap badan Jingga dengan tissue basah saat perjuangan Garo bertahan dengan harga yang dia minta dapat dikalahkan oleh si pembeli dengan harga 6,6 untuk dua pot tanaman yang mereka perdebatkan sejak tadi.
“Kayaknya rejekinya pak Garo ada di sikecil ya,” celetuk si bapak sambil menanti pegawai Garo membungkus daun pohon tersebut dengan koran agar tak koyak saat kena angin atau kesenggol orang lain.
“Yang pasti little princess dan bundanya bikin hidup saya bersemangat, karena aura positive yang mereka pancarkan. Mungkin itu yang membuat peruntungan saya meningkat kalau dekat mereka,” jawab Garo yang sudah kembali menggendong Jingga, yang sekarang sedang dia letakan didada kirinya dan ditepuk punggungnya karena Jingga mengantuk.
Garo membisikkan shalawat seperti biasanya. Dan sesekali dikecupnya kening atau pipi Jingga.
Pelanggan Garo melihatnya, dia kagum Garo membacakan shalawat untuk menidurkan anaknya
\*\*\*
Alesha adalah anak terakhir yang memasuki rumah utama, karena Icha dan Fajar sudah sampai lebih dulu, dan bang Fajri dan Liani juga sudah datang serta si kembar sejak pagi tak keluar rumah.
“Assalamu’alaykum Yankkung, Yanktie, Pakde, Bude dan Tante-tante centiiiiiiiiiiiiil,” pekik Alesha saat memasuki rumahnya diikuti Garo yang menggendong Jingga.
“Wa alaykum salam cucu Yankkung,” balas Putra menghampiri Garo hendak mengambil Jingga.
Namun Jingga langsung balik badan dan merapatkan badannya ke ayahnya.
Alesha memberikan salim pada Ririen, Putra serta mencium semua disana.
“Ha ha ha , gitu itu Jingga sekarang. Yakkung udah enggak laku kalau dia digendong ayahnya. Jangankan Yankkung, Bundanya aja enggak laku,” keluh Alesha.
“Woow, gitu ya, sombong ya sekarang,” Ririen menoel pipi Jingga membuat putri kecil itu menangis.
__ADS_1
Garo menyalami Putra dan Ririen serta mas Fajar, kak Icha dan bang Fajri. Pada Liani dan si kembar Garo hanya bersalaman biasa.
Garo berbisik pada Jingga sambil menepuk punggung gadis kecilnya yang masih sedikit terisak.
Garo menciumi pipi Jingga dan kembali memeluknya. Lalu dia duduk memangku gadis kecil itu.
“Tuh gitu dia, Bunda mah enggak dianggap,” lapor Alesha pada semua
“Haa ha haaa, persis bundanya koq,” Ririen terkekeh.
Ririen ingat betapa Alesha hanya bisa tenang bila sudah digendong daddynya.
“Mommy, jangan buka rahasia!” pinta Alesha.
“Benerkan Dadd?” kali ini Ririen meminta pembelaan Putra.
“Bener banget,” Fajar langsung menjawab pernyataan Ririen.
“Ceritain ke kita Mas,” pinta Leona penuh harap.
Lalu sore ceria di rumah keluarga Purwanagara berlalu dengan saling cerita masa kecil mereka, bahkan masa kecil Putra dan Ririen.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang BARU dengan judul LOVE FOR AMOR ya.

Dan judul lain adalah ENGAGED TO HIS SON
MARRIAGE TO HIS DADDY

__ADS_1