JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
JATUH CINTA PADA JINGGA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Alesha juga memberi khabar bagi para uwak, para bude serta para sepupunya tentang kelahiran JINGGA SABRINA PURWANAGARA. 



Sedang urusan memberi khabar pada para uyut tentu wewenang mommy dan daddy nya.



Saat bangun salat subuh Garo melihat BB nya, mau ngecek apakah Alesha sudah membaca pesannya atau belum. Ternyata ada balasan dari Alesha pukul 2.13. Garo melihat photo baby yang dikirim oleh Alesha, dia merasakan jatuh cinta pada bayi itu.


\*\*\* 



Putra dan Ririen bangun saat akan salat subuh dan melihat Alesha sedang tertidur pulas. Disebelahnya tertidur bayi mungil dalam bedong kain rumah sakit. “Dadd, sebelum salat, bisa ambilkan cucuku?” pinta Ririen.



Putra mengambil bayi Alesha, mendekapkan serta meniupkan doa di ubun-ubun bayi tersebut lalu mencium keningnya sebelum dia memberikan pada istrinya.



“Cucu kita sayang, bukan cucumu,” ralat Putra sambil mencium kening istrinya. 



“Jangan kebanyakan mikir biar mommy sehat, kan sekarang sudah jadi yanktie?”



“Iya dadd, seperti yang pernah kita angankan saat anak-anak kecil, kita sekarang sudah pada fase ini. Jadi yankkung dan yanktie buat cucu-cucu kita


__ADS_1


**FLASHBACK ON**


Putra baru saja sampai rumah, dia mendapati Ririen sedang ngomel sambil memisahkan baju kotor sesuai warnanya. Ririen memang selalu memilah agar cucian putih tidak berwarna kekuningan atau kusam. 



Baju batita juga tidak dicampur dengan baju dewasa saat mencucinya. 



“Kenapa ngomel *honey*?” tanya Putra sambil memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipinya lalu meletakan dagunya di pundak istri tercintanya.



“Ini ampuuun, baju anak-anak penuh lumpur dan coklat, malah ada yang seragamnya kena spidol atau tinta apa ini,” keluh Ririen pada suaminya yang baru sampai rumah. Ririen langsung menghentikan kegiatan, mencuci tangannya dan menyiapkan teh sore untuk suaminya.



Semua pekerjaan akan dia tunda bila suaminya sudah tiba di rumah.



“Kamu sekarang nikmati aja proses kenakalan dan kreativitas mereka,” ulas Putra saat menerima teh dari istrinya. Nanti tanpa kita sadari kita akan merindukan masa-masa mereka masih dalam dekap dan gendongan kita,” jelas Putra sambil menggigit ubi goreng yang disiapkan istrinya.




“Baru kemaren kita antar Princess imunisasi, sekarang dia sudah masuk SD kan?” Putra melanjutkan lamunan mereka akan masa lalu.



“Nanti kalau anak-anak sudah berumah tangga dan punya anak, kita enaknya dipanggil apa Mom? Grandpa, Opa, kakek atau eyang?” tanya Putra berandai-andai.



“Kayaknya pasaran deh panggilan itu Dadd. Cucunya mbak Riries manggil dia ibu dan bapak, ngikutin anak-anaknya, apa kita juga biarin cucu-cucu panggil mommy dan daddy ke kita?”



“Ya enggak lah, Daddy enggak mau cucuku manggil aku daddy, biar gimana pun aku ingin sesuatu yang beda dari cucu-cucuku!” Putra tidak setuju bila tak ada perbedaan panggilan dari anaknya dengan dari cucunya. Dia pikir tentu enggak ada gregetnya.

__ADS_1



“Kalau gitu kita panggil YANKKUNG dan YANKTIE aja, singkatan dari eyang kakung dan eyang putri. Kan kalau mbak Aniel panggilannya akung dan uti enggak pakai eyang,” usul Ririen.



“Nah itu Daddy lebih suka, atau bisa juga seperti mbak Amyl, emma dan eppa, dari kata grandma dan grandpa!” lanjut Putra.


**FLASHBACK OFF**  


\*\*\* 



Jam 6.30 Alesha baru terjaga, dilihatnya suster sedang melepas infus mommynya dan seorang suster lainnya mendekat ke arahnya untuk memeriksa tensi darah serta suhunya. “Ada keluhan Bu?” tanya suster dengan lembut.



“Enggak ada Sus” jawab Alesha.



“Kalau bisa Ibu sudah boleh belajar miring kanan dan kiri ya, dua jam kemudian baru belajar duduk. Sementara jangan turun dulu karena tensi ibu masih sangat rendah. Kalau hendak ke toilet bisa minta bantu kami saja agar kami bisa membawakan ibu pispot. Nanti siang kita cek lagi apakah ada perubahan,” saran suster tersebut sambil mencatat suhu tubuh, denyut nadi dan tensi Alesha di lembar data milik Alesha.



“ASI berikan tanpa batasan Bu, tak perlu di jam karena masih awal biasanya bayi tak perlu dibatasi. ASI lancarkan?” tanya dokter yang baru datang sambil melihat data Alesha di lembar yang suster sodorkan.



“ASI sudah keluar dokter, tapi perih,” keluh Alesha.



“Iya Bu wajar, karena langit-langit mulut bayi masih kasar sehingga sakit terkena kulit gentong ASI, tapi nanti akan halus bila sering disusui,” nasehat dokter sambil menulis resep untuk Alesha hari ini


\*\*\*



***Ditunggu komen manisnya ya***.

__ADS_1


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.


__ADS_2