
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Sudah kamu pesan kambingnya?" tanya Ratna ketika melihat Garo baru pulang mengunjungi jasa aqiqah.
"*Sampun* Bu," jawab Garo. Dia langsung mencuci tangan dan wajah sebelum masuk rumah. Karena sering Jingga langsung menghampirinya. Garo tak ingin Jingga menempel saat dirinya kotor.
"Semua tambahannya biar Ibu ya yang atur aku manut," kata Garo.
"Yang penting jangan lupa mejanya dipisah Bu. Kayak waktu aqiqahnya baby twins, kan dipisah tuh Bu mejanya. Kan Ibu yang bikin saran waktu itu."
"Ya nanti meja yang bagian kambing Ibu pisah dengan meja ayam dan ikan biar para tamu undangan akan tenang."
"Tenda juga sudah aku pesan. Besok siang akan mereka pasang. Ibu tolong bikin list lagi apa yang harus disiapkan agar tak ada yang terlupa."
Memang kali ini Garo menyerahkan semuanya pada Ratna.
Ratna yang mengolah semuanya, tentu nanti Ririen akan bantu tapi sebagai penanggung jawab Garo tidak menyerahkan pada Ririen seperti adik-adik Alesha. Biarlah Ratna yang jadi nyonya rumahnya.
Acara Aqiqah juga akan diadakan di rumahnya Garo bukan di rumah Putra.
"Acara pengajiannya kapan Ro?"
"Pengajianya malam sebelumnya aja Bu. Jadi besok malam. Kan aqiqah lusa. Pengajian anak yatim dan selamatan aqiqah nggak nyampur. Kalau pengajiannya nyampur, enggak enak dengan tamu-tamu undangan."
"Ibu pesan cattering siapin juga sedikit menu prasmanan untuk besok. Karena buat yang di rumah kan enggak makan nasi box."
"Makanan pengajian tolong tambahkan 100 box sebagai antisipasi kalau kurang ya Bu."
"Iya Ibu ngerti."
"Menu yang di box Ibu pilih yang disukai anak-anak aja. Jangan menu buat orang dewasa."
"Ini kartu nama catering yang biasa digunakan. Bilang Bu untuk menu nasinya jangan yang umum. Banyaknya nasi kasih ukuran nasi medium aja Bu. Sayang kalau nasinya porsi dewasa, akan terbuang karena yang kita undang adalah anak-anak yatim kan." Garo memberikan kartu nama dan pilihan menu serta harga dari cattering itu.
"Biarlah nasi sedikit tapi lauknya dibanyakin. Lebih baik kita kasih banyak lauk nggak akan terbuang tapi kalau nasi mereka akan buang. Itu berarti kita membuang rezeki."
"Ibu setuju," jawab Ratna.
Semua Alesha pasrahkan pada Garo, dia nggak mau ikut campur.
Kemarin memang baby Izho baru pulang dari rumah sakit. Lusa Garo akan mengadakan aqiqah sehingga ada waktu dua hari untuk bebenah rumah.
__ADS_1
"Dedek bobo?" tanya Jingga.
"Iya sayang dedek bobo." Alesha langsung mengangkat Jingga untuk melihat adiknya yang baru saja tertidur.
Alesha menyorongkan badan Jingga untuk mencium adiknya.
"I lop yu dedek Izho. Lop yuuuu," Jingga mencium adiknya.
"Lop yu tuu mbak Jingga." Alesha menjawab seakan adiknya lah yang berkata.
"Sekarang Mbaknya main diluar, nggak ganggu Dedek dan enggak boleh berisik."
"Ndak oyeh isik," Jingga meletakkan jari telunjuknya di bibir.
Jingga sudah hampir tiga tahun. Bicaranya sudah lebih lancar.
"Ya dedek bobok jadi mbaknya enggak berisik."
"Mbak ndak bisik Mbak mo ain di tandang aja," Jingga mengerti. Dia bilang mau main ke kandang saja.
"Ya udah main di kandang ya ajak Mbak Wanti," Wanti terus mengikuti kemana pun anak itu berjalan karena memang itu tugas dia.
Maka sekarang dedek Izho juga akan dijaga oleh Mbak Dwi bukan oleh Wanti yang orang baru.
Wanti lebih dipercayakan menjaga Jingga.
"Mbak maem cinci," pinta Jingga. Garo dan Alesha piara kelinci tapi bukan seperti yang di rumah Putra.
Di sini mereka bukan piara kelinci jenis holland loop dan fuzzy lop tapi mereka piara yang model angora english.

Angora english bentuk telinga keatas dengan ujung menekuk. Fuzzy lop dan holland lop telinga panjang kebawah. Sedang kelinci lokal telinga tegak keatas.
Kalau ayam Alesha tetap memeliharanya ayam kate.
Di kandang ini Garo juga punya tupai.
Wanti pun membuka kaleng tempat makanan dry food, dia biarkan Jingga menyendok makanan kelinci lalu ditaruh di piring makannya kelinci.
__ADS_1
Kelinci langsung berlarian menuju Jingga begitu tahu gadis kecil itu membuka kaleng makanan. Mereka rupanya sudah terbiasa begitu melihat orang buka kaleng makanan itu mereka akan langsung berlari menghampiri.
\*\*\*
"Lagi apa Yah?" tanya Alesha melihat suaminya termenung memandang ke kandang tempat Jingga sedang memberi makan peliharaan mereka.
Garo berpaling, Alesha melihat ada titik air di mata suaminya.
"Hei kenapa?" tanya Alesha lembut sambil menghapus lembut air di mata suaminya dengan jarinya.
"Terima kasih ya Yank. Terima kasih telah menjadi bagian hidupku," kata Garo.
Dari jauh Garo memandang putri kecilnya yang sedang bermain.
"Mas nggak menyangka bisa bahagia memilikimu dan Jingga."
"Kami juga bersyukur dan berterima kasih kamu mau menerima kami," kata Alesha.
"Kamu yang terbaik buat aku," kata Alesha lagi.
"Semoga kita bisa bergandeng tangan seperti mommy dan daddy ya. Mereka bisa melalui hari-hari berat mereka sampai sekarang."
"Insya Allah kita mampu Yank," kata Garo.
"Kita harus selalu berpijak pada agama, selalu berpikir jernih. Jangan emosi."
"Emosi pasti ada, Ayah tahu itu. Tapi kita harus meredamnya. Bisa kan?" kata Garo.
"Insya Allah bisa. Kita akan menjadi orang tua yang sabar dari anak-anak kita. Seperti mommy dan daddy yang selalu sabar dengan 5 anaknya." Jawab Alesha.
"Kita akan membimbing anak cucu kita. Kita akan menua bersama."
"I love you Bun."
"I love you too Ayah."
TAMAT deh, jangan lupa baca cerita yanktie yang lain ya.
Terima kasih telah mengikuti kisah sederhana ini.
Sampai jumpa di kisah yanktie yang lain.
Jangan lupa mampir ke novel yanktie yang baru rilis dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY !
__ADS_1