JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
TAK SELEBAR DAUN ANGGREK


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Sejak pengajuan cerai hingga besok sidang hasil keputusan cerai Alesha tak pernah datang ke PA atau Pengadilan Agama. Semua sudah diurus team mas Fajar. 



Malam ini Putra sengaja menghampiri princessnya. Dia tau betul biar bagaimana pun Alesha pasti down karena besok statusnya resmi menjadi janda secara hukum negara. Walau secara hukum agama, status janda sudah enam bulan disandangnya.



Pintu depan rumah Alesha belum di kunci dan mbak Dwi juga belum ke rumah utama untuk tidur saat Putra memasuki rumah putrinya tersebut.



Alesha baru saja akan masuk kamarnya membawa sebotol air putih beserta gelas untuk bekalnya malam hari saat dilihatnya daddynya masuk ke rumahnya. 



“Aku taruh minum ke kamar dulu ya Dadd,” pamit Alesha. Sedang mbak Dwi langsung menyiapkan lemon tea hangat untuk Alesha dan tuannya.



Alesha keluar kamarnya dan duduk di sofa menemui daddynya.“Kalau mau rehat nggak apa apa Mbak, enggak usah nungguin daddy pulang,” demikian Alesha memerintah mbak Dwi saat asisten rumah tangga nya itu meletakkan minum dan martabak telor yang tadi Alesha bawa.



Putra memandang wajah putri kecilnya, mau sampai kapan pun, Alesha adalah bayi kecil yang dia sangat cintai. Putra jatuh cinta pada sosok Alesha pertama kali melihat bayi tersebut diusia 36 hari. 



Mungkin perasaannya saat itu bisa disamakan seorang ibu mandul yang jatuh cinta pada sosok bayi di panti asuhan untuk diadopsi.



Perasaan cinta yang mengharuskan Putra mendapatkan Ririen apa pun hambatannya. Karena ingin melindungi bayi merah yang sejak keberadaannya di perut ibunya tak pernah diketahui ayahnya. 



Dan saat si ayah tau tentang dia pun, laki-laki itu tak pernah peduli padanya. 



Putra merasakan perih yang dialami Alesha sejak bayi, perih itu yang membuatnya berjanji agar bayi tersebut tak pernah sekali pun kekurangan cinta kasih darinya sebagai ayah pengganti. 



Tentu dia bisa melihat Alesha karena dia sudah lebih dulu jatuh cinta pada Ririen beberapa jam sebelum lihat Alesha. Alesha adalah pelengkap cintanya pada Ririen yang dia temui di ruang reuni SMA nya.



Alesha yang dipandangi daddy nya akhirnya tak kuat, dia berhambur ke pelukan lelaki tersebut dan menangis didada super heronya.



“Menangislah agar kamu plong. Asal kamu tau, kita pasti bisa terlepas dari semua sakit yang sekarang kamu rasakan. Kamu enggak sendirian, ada mommy dan daddy serta semua kakak dan adikmu,” nasehat Putra sambil memeluk erat putrinya yang masih terisak. Dikecupnya puncak kepala Alesha berulang-ulang.

__ADS_1



“Besarkan anakmu sendiri, lebih baik daripada membesarkannya dengan bandit kelamin seperti mantan suamimu. Walau kecewa dan sakit."



"Kamu harus bersyukur karena kebusukan Rezky lebih cepat diketahui, daripada yang dialami mommymu dulu,” lanjut Putra lagi.


\*\*\*



'*Alhamdulillah kamu telah resmi terlepas dari parasit seperti dia*,' Alesha membaca pesan dari mas Fajar ketika palu di ujung kota diketuk. 



'*Dunia enggak seluas daun kelor, sekarang mah mending sebut enggak seluas daun anggrek aja lah. Masih banyak lelaki baik hati penuh cinta seperti daddy, Mas dan Abang. Kami akan selalu ada untukmu*,' tak lama pesan dari bang Fajri Alesha baca. Rupanya masnya mengirim pesan pada abang selain mommy dan daddynya tentu.



'*Hei, i'm fine. Aku udah lama kan jadi janda. Yang sekarang itu hanya formalitas. Jadi tenang aja. Aku enggak apa apa*,' Alesha mengirim pesan itu  pada mas Fajar dan bang Fajri. 



Sekarang Allesha jarang membawa Jingga ke supermarket. Kasihan, capek di jalan dan kadang Alesha tak bisa memperhatikan saat dia full bekerja. Kalau di rumah malah dia lebih terjaga dan tidak lelah di jalan.



Setelah membalas pesan kedua kakaknya Alesha ke cafe miliknya. Dia pesan baso kuah. Dia ingin melampiaskan rasa tak karuan didadanya dengan baso panas pedas!


\*\*\* 




“Garo” seseorang memanggil namanya dengan jelas. Namanya memang bukan nama yang umum, sehingga dia sangat yakin jarang yang punya nama sama sepertinya.



Garo langsung menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dilihatnya perempuan tinggi langsing persis seperti dirinya yang tinggi kurus. Kalau mereka jalan berdua persis seperti angka sebelas. 



Garo ingat, nama gadis itu MURNI, mantan pacar pertamanya saat SMA kelas dua. Mereka pacaran karena Garo penasaran, ingin tahu rasanya punya pacar. 



Maka walau tanpa didasari cinta, dia mau pacaran dengan Murni yang saat itu sangat menyukainya. Murni rajin mendekatinya, memberikan attensi berlebih, sehingga Garo mau jalan bareng walau tak pernah tercetus kata sayang atau cinta. 



Setidaknya dimata teman-temannya Garo tak di cap cemen karena ganteng tapi tak punya pacar.



“Hai,” sapa Garo santai. Karena sejak dulu dia tak punya perasaan khusus pada Murni maka dia tak merasa kesal atau marah saat Murni menjauhinya karena punya pacar yang lebih royal walau wajahnya jauh  rata-rata.



Ya, Murni dulu meninggalkannya karena Garo tak bisa memberi jajan lebih. Beberapa kali Garo bisa mentraktir pulsa selain makan di kantin, tapi karena uang jajan mingguannya pas-pasan tentu Garo tak bisa nraktir nonton atau jalan-jalan sesuai keinginan Murni.

__ADS_1



Beda dengan Adam, anak juragan batik yang walau pun jelek tapi uangnya berlebih. Ceweq cantik pun kalau matre bisa dia pacari. Maka Murni pun berlari ke pelukan Adam yang punya banyak uang.



“Kamu apa khabar?” tanya Murni saat mereka sudah berhadapan



“Alhamdulillah baik,” balas Garo.



“Kamu kerja disini? Atau lagi ada perlu disini?” Murni kembali menyelidik.



“Mana mungkin aku kerja disini. Pekerja disini pakai seragam, sedang lihat penampilanku. Aku hanya pengangguran. Orang kantoran pasti sibuk jam segini,” jawab Garo santai sambil berjalan ke arah parkiran motor. Garo tak ingin balik bertanya bagaimana kondisi Murni dan sedang apa, karena dia sama sekali tak ingin tahu tentang gadis itu. 



Setelah tak dilihatnya Murni dia pindah ke parkiran mobil. Karena tadi janjian dengan ibu langsung ketemu di mobil sehabis ibu selesai dari toilet.



“Maaf aku langsung ya, ibu nunggu di depan sana,” pamit Garo.



“Bisa minta pin BB mu?” tanya Murni.



“Aku masih pakai ponsel jadul,” jawab Garo sambil mengeluarkan ponsel kunonya yang memang model sangat lama. Ponsel sejuta umat yang dia gunakan untuk main game cacing kala senggang.



Tentu saja Murni kaget melihat type kuno ponsel Garo. Bahkan dia langsung tak minat minta nomor telpon Garo.


\*\*\* 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1676826077720.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.

__ADS_1


__ADS_2