
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Ternyata di rumahnya Alesha sudah rame.
Ada pasangan si kembar, Ririen, juga Liani. Icha, Fajar dan Fajri tak bisa ikut gabung.
"Angel udah pulang ya?" Sapa George.
"Iya dong Uncle, Angel udah pulang," jawab Garo yang menggendong Jingga yang baru bangun.
"Sama Aunty sini," ajak Leony.
"Enggak, samaTante aja yuk," ajak Leona.
Memang keduanya berbeda panggilan sejak Jingga lahir.
Leona lebih senang dipanggil tante sedang Leony minta dipanggil aunty.
"Aaauuuu," Jingga berteriak panjang sambil memeluk erat leher Garo.
"Jangan bikin dia berteriak lagi," kata Ririen langsung ngomel pada kedua anak kembarnya.
"Kalau dia radang lagi kalian yang Mommy sunat!"
"Enak aja, memang aku bisa disunat?" kata Leona.
"Lagian kenapa kami yang disalahkan. Kami cuma nawarin gendong koq. Dia aja yang baper," protes Leoni.
"Udah honey, jangan usil gitu lah," nasihat George pada istrinya.
"Aku suka godain dia honey," balas Leoni.
"Janganlah, dia kan habis sakit." kata George lagi.
"Siapa yang bikin teriak Angel? Teriakannya Daddy dengar sampai di luar lho." kata Putra yang baru masuk sambil membawa koper.
"Astaga aku lupa bantu. Sorry Dadd, aku nggak ngerti bahwa bawa koper." Gerald atau Gerry jadi tak enak melihat mertuanya bawa dua koper.
"Ya pasti bawa lah, orang dari rumah sakit alasan wae kowe," kata Alesha. menggoda George & Gerry.
"Mbak, aku tuh beneran lupa," kata Gerry.
"Masih ada nggak Bu?" tanya Gerry pada bu Ratna.
"Enggak di mobil aku masih ada tas alat-alat makan, tapi nanti Mbak Dwi yang ambil. Kalau bantal barusan Ibu udah turunin semua ya Bu."
"Iya udah kalau bantal, sudah semuanya. Koper juga cuma dua ini kok nggak ada lagi udah semua."
"Aduh serius aku minta maaf Dadd," ungkap Gerald.
"Enggak apa-apa," kata Putra.
\*\*\*
"Alhamdulillah ya kita sampai rumah. Jingga duduk sini ya. Ayah mau salat."
"Duk inih?" Tanya Jingga.
"Iya. Tunggu Ayah disini. Ayah salat ya?"
"Yaaaa. Yah lat?" Tanya Jingga.
"Iya Ayah mau salat," jawab Garo sambil mendudukan putrinya di karpet kamar disebelah sajadah yang sudah dia gelar. Tanpa pamit pada siapa pun Garo meninggalkan Jingga yang diam saja dia tinggal ke kamar mandi untuk wudhu.
"Lihat, dibilang ayahnya salat dia enggak nangis. Hanya duduk nungguin," bisik Putra pada Alesha.
"Iya Dadd, aku sadar koq." Jawab Alesha.
__ADS_1
Alesha melihat ruang tengah dan ruang tamu rumahnya. Rumah ini hanya paviliun kecil. Sekarang banyak tamu datang bersamaan ya penuh lah rumahnya. Tapi Alesha bangga karena semua mau datang ke rumahnya.
Mbak Dwi rupanya sudah bikin juice sirsak kesukaan Alesha.
"Mbak, ini Mbak minumnya," Dwi langsung menyodorkan gelas untuk minum karena terlihat majikannya capek.
"Ibu. Monggo di unjuk," kata Dwi pada calon mertuanya Alesha atau ibunya Garo.
"Iya Mbak matur nuwun." Jawab Ratna. Sedang untuk Putra sudah ada teh hangat.
"Ibu mau salat dulu," Kata Bu Ratna.
"Oh ya Monggo," Alesha mengajak ibu mertuanya ke kamar Alesha. Disana masih ada Garo yang sedang duduk tahiyat terakhir ditunggui Jingga.
"Itu toiletnya Bu." Alesha menunjuk pintu toilet.
Tadi pas adzan mereka keluar rumah sakit jadi memang belumnada yang salat. Putra langsung salat di runahnya.
Alesha mempersiapkan sajadah dan mukena buat ibu mertuanya.
\*\*\*
"Minum dulu Mas," Alesha menyodorkan juice di gelas yang sudah dia minum.
"Mau nambah?" Tanya Alesha melihat Garo menghabiskan juice sirsaknya.
"Masih ada lagi?"
"Ada."
"Isi lagi aja, buat kamu," Garo mencium sekilas kening Alesha.
"Yok kita main ke luar," Garo memberikan telunjuknya pada Jingga.
"Aiin?" Tanya Jingga.
\*\*\*
"Mbak Rat, nuwun sewu loh," ucap Ririen pada calon besannya.
"Kenapa dek Ririen?"
"Kemungkinan Garo kayaknya susah pulang," ucao Ririen melihat Garo dan Jingga yang berjalan bergandengan.
"Alaaaah, wis ngerti Dek. Tadi bayar rumah sakit aja nggak bisa keluar, enggak aneh. Wes tho tenang wae. Saya nggak pernah berpikir gitu," kata Ratna.
"Enggak kan jadi Mbak Ratna sendirian."
"Dari dulu juga aku sering sendiri kok. Dari SMA itu kan Garo sudah usaha tanaman toh. Dia itu udah jarang pulang. Saya nggak aneh yang penting tiap hari ada kabar. Bu aku di sini, Bu aku lagi sama ini, dia selalu lapor seperti itu, sehingga saya nggak was-was."
"Yang penting nggak kehilangan kontak sama dia. Di mana pun dia berada dia pasti lapor. Bu aku lagi, Bu aku gini, jadi orang tua nggak was-was."
"Lebih-lebih sekarang udah tahu poskonya dia di mana, wes gampang aku," kata Ratna.
Ratna dan Ririen pun tertawa.
'*Alhamdulillah dapat besan semuanya* ***apik'an***,' kata Ririen dalam hatinya. Walau dulu agak jauh dengan orang tuanya Rezky tapi setidaknya mereka juga baik. Cuma komunikasinya nggak seakrab dengan besan lainnya. Mungkin karena perbedaan kultur kali ya. Walau pun sama-sama Jawa tapi kan beda kulturnya lah dengan ibunya Rezky dulu. Tapi tetap baik, sampai sekarang pun hubungan mereka tetap baik.
"Ibu monggo siomaynya siap," kata Dwi.
Rupanya Ririen menyediakan satu dandang besar siomay.
Di meja sudah ada piring makan kecil beserta sendok , jeruk limau, saos sambel, kecap dan sambal kacangnya. Tinggal masing-masing meracik sendiri.
Dandang ditaruh di atas kompor kecil diatas meja yang menyala sangat kecil sehingga semua pasti akan mendapatkan siomay hangat.
"Wow Mommy keren sudah nyambut aku pakai siomay," puji Alesha pada mommynya.
__ADS_1
"Iyalah," kata Ririen.
"Ibu, monggo di racik sendiri kesukaan Ibu apa," Alesha menyerahkan piring kosong pada Ratna.
Lalu Alesha lalu langsung meracik siomay di piring standart bukan piring kecil.
"Yang lain ngambil sendiri nggak usah malu ntar malah malu-maluin," kata Alesha.
"Bu ibu ambil ya Bu, aku kan takut salah ngambilin ibu."
"Iya gampang," kata Ratna.
"Itu buat siapa?" Tanya Ririen melihat Alesha sudah meracik.
"Ya pasti buat aku sama Mas Garo lah," jawab Alesha.
"Ih bukan bikin untuk mertuanya dulu."
"Kan aku udah bilang, aku takut ngambilin ibu. Takut salah."
"Kalau di siomay Ibu nggak suka sama kentang dan tahu padahal untuk makanan lain ya doyan kentang dan tahu."
"Di siomay dan baso ibu juga nggak suka kecap, padahal dimakanan lain ya doyan kecap." Jawab Ratna.
"Tuh kan jadi nggak salah aku nggak nyiapin ibu," ujar Alesha. Dia langsung menghampiri Garo yang sedang duduk di karpet bersama George dan Jingga.
"Des?" Tanya Jingga pada bundanya.
"Ya pedes. Dedek mau? Bunda bikinkan yang enggak pakai sambal mau?" Tanya Alesha.
"Au," jawab Jingga.
"Ini dedek maem buah aja," Dwi menyodorkan mangkok berisi irisan mangga kecil-kecil buat Jingga.
"Ayok Ayah dan Dedek balapan maemnya." Alesha menyuapi mangga untuk Jingga sambil dia juga menyuapi Garo siomay juga dirinya sendiri makan siomay.
Garo melihat kerepotan Alesha menyuapi dirinya dan Jingga secara bergantian. Tapi dia tidak membantunya. Dia senang melihat kekasihnya telaten pada dirinya juga putri mereka.
"Enak nih Mom ikannya kerasa terus bumbunya juga enak," puji Garo.
"Iya bener," kata Gerry.
"Kalian memang tukang makan sih," canda Putra.
"Eh emang bener Dadd. Enak lho ini," jawab Gerry.
"Itu mah bisaan mereka berdua biar disayang ibu mertua Dadd," jawab Alesha. Mendengar itu semua terbahak. Garo menarik kepala Alesha dengan lembut dan mengecup kening serta puncak kepala Alesha.
'*Owalah Nang, nek kowe dapat mertua lain apa bisa mencium perempuan didepan orang tuanya seperti orsng tua Alesha? Walau hanya kecup kening sekali pun*?' batin Ratna melihat interaksi putranya dan Alesha.
Alesha membalas dengan mencium dagu Garo.
Mereka pun menikmati makan cemilan sore dengan gembira.
"Bun kenapa sih bikinnya pedas?" bisik Garo.
"Kan ASI-nya udah nggak buat bayi merah Yah. udah nggak apa-apa , dia kuat kok," Alesha yang diprotes menjawab dengan nerbisik juga.
"Tapi kan kasihan perut Ayah." Protes Garo.
"Alaah ayahnya aja yang kolokan. Udah enggak apa apa kok. Maem pedes sedikit wae," Akesha mengusap lembut pipi Garo.
"Mulut Ayah sih kuat Bun, perut Ayah ya nggak kuat."
"Bismillah, pasti perutnya aman." Jawab Alesha sambil terus menyuapi.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER
__ADS_1