
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Pagi ini saat sarapan Ratna, -ibu Garo- berpesan pada Garo, sore nanti pulang cepat, karena ibu memintanya untuk menemani ke rumah bude Prapti di Jogonalan. Garo anak tunggal, dan bapaknya baru meninggal delapan bulan lalu, sehingga memang sudah kewajiban Garo menemani ibunya.
“Ibu mau pergi jam berapa?” tanya Garo, seingatnya hari ini dia tak ada janji siang atau sore dengan teman atau konsumennya.
“*Bar salat Maghrib awake dewe mangkat*” jawab sang ibu, dia bilang sesudah salat Maghrib mereka berangkat.
“Ya wis, Mas pergi dulu, sore Mas udah di rumah” janji Garo. Walau dia anak tunggal tapi dia memang dipanggil MAS, karena ibu dan Bapaknya anak tertua, sehingga semua anak paman dan bibiknya memanggilnya mas.
Dalam kesehariannya Garo lebih enjoy naik motor. Kalau tak butuh belanja banyak atau ngantar ibunya, dia jarang pakai mobil. Distaternya motornya, pagi ini dia pengen nongkrong di PASTY, pasar hewan dan tanaman di Jogja, dia ingin melihat tanaman apa yang sedang rame dan ngecek harga pasaran tanaman juga.
\*\*\*
Habis Maghrib Garo sudah siap dengan kaos rajut turtle neck warna putih serta celana jeans hitamnya. Dilihatnya bensin mobilnya saat dia mulai menyalakan mesin mobil itu. Batere HP juga sudah penuh, sehingga dia merasa tak akan bosan menemani ibu bertemu dengan teman lamanya.
Garo membawa satu HP yang bukan BB untuk bermain game saat bosan menunggu ibu nanti. Dia menggunakan sneaker hitam melengkapi penampilannya malam itu.
“*Payung mobil ono kan Nang*?” tanya bu Ratna pada Garo, dia menanyakan payung mobil ada atau tidak karena sudah mulai sering hujan.
“Mas enggak pernah turunin, tapi biar lebih afdol ibu bawa payung lipet Ibu aja,” jawab Garo sambil menanti ibunya masuk ke mobil.
__ADS_1
“*Wis ra sah lah nek kowe ra tau mudunke payung*,” balas ibu, harap maklum kalau dia jarang bicara bahasa indonesia. Dia bilang ya sudahlah, tak perlu dia bawa payung lipat kalau memang Garo tak pernah menurunkan payung dari dalam mobil. Artinya payung itu pasti ready di mobil.
Sesampai di rumah bude Prapti, Garo menemani ibu turun, dia pikir habis salim lalu dia akan duduk di teras main game biar ibu tidak keganggu ngobrolnya. Ternyata ada kejutan ketika Garo sampai disana, mereka langsung diajak makan malam.
Saat makan malam itu ibu dan bude Prapti langsung mengatakan akan menjodohkan Garo dengan Fitri anak bude Prapti yang nomor dua. Saat itu Fitri dan adiknya memang hadir, hanya kakak Fitri yang tidak ada karena dia sudah berumah tangga dan tinggal di Klaten.
“Sambil makan, maka ibu akan kasih tau kamu Nang ( panggilan kepada anak lelaki, singkatan dari kata lanang yang artinya laki-laki, atau bisa juga dipanggil Le, dari kata tole artinya anak laki-laki ), ibu dan bude Prapti berencana menjodohkan kamu dan Fitri,” prolog Ratna, ibu Garo malam ini.
Garo tentu saja kaget sehingga dia tersedak, dia tak menyangka akan dijodohkan dengan perempuan yang dia belum kenal karakternya. Dia tau Fitri anak bude Prapti, tapi tak tau sekolah dimana, karakternya seperti apa, hobbynya apa, kemampuannya apa dan semuanya tentang perempuan itu dia blank, hanya tau sosok dan namanya saja.
Tentu saja dia tak akan setuju. Namun dia akan menunggu sampai dimana bahasan perjodohan malam ini.
Garo langsung teringat sosok yang dia sukai, perempuan tanpa make up dan tak suka hura-hura yang hobby nya sama dengannya. Dia juga teringat pernah dekat dengan dua sosok perempuan yang hobbynya makan serta belanja. Dan melihat penampilan Fitri dia juga yakin perempuan yang duduk disebrangnya perempuan yang hobby ke mall daripada di dapur apalagi di kebun.
Mereka pindah ke ruang keluarga setelah selesai makan. Garo dengan lancang menanyakan basic Fitri yang ingin dia ketahui sebagai bahan pertimbangan. “Maaf, Fitri kuliah dimana, kerja dimana dan sukanya apa?” tanya Garo langsung pada Fitri.
“Saya lulus D3 sinematography dan sekarang kerja di BPR Mekar Jaya, kalau sukanya ya seperti perempuan pada umumnya lah Mas,” jawab Fitri yakin. Fitri percaya diri karena dia tau dia cantik ditambah jago dandan sehingga makin cantik.
“Seperti perempuan pada umumnya itu maksudnya masak, bebenah rumah, berkebun dan mengurus anak?” jebak Garo. Dia tau maksud Fitri bukan itu.
__ADS_1
Fitri yang mendengar pertanyaan Garo tentu saja tak bisa menjawab karena dia tidak bisa masak sama sekali dan paling malas beberes rumah, kalau ngurus anak dia enggak tau, walau dia yakin dia tak akan telaten ngurus anak karena tak suka ribet dan cape.
Karena Fitri tak kunjung jawab maka Garo langsung bicara lugas. “Pakde dan Bude, jujur saya tidak tau maksud Ibu ngajak saya kesini itu untuk diberitahu kalau saya di jodohkan dengan Fitri. Saya saat ini tidak siap berkomitmen berumah tangga dengan siapa pun. Jadi mohon maaf kalau hanya itu yang bisa saya bilang.”
Pak Cipto, bu Prapti dan bu Ratna ibu Garo tentu mengerti kalau Garo menolak perjodohan yang mereka rancang. Bu Ratna segera bersuara, dia tak ingin kedatangan mereka kali ini sia-sia. “Pokoke mulai malam ini kalian berdua sudah resmi sebagai calon tunangan walau salah satu dari kalian belum menerima dan malam ini tidak ada penyematan cincin!” putus bu Ratna tanpa menghiraukan keputusan Garo.
“Tapi Bu ....” Garo ingin protes tapi dia melihat pandangan tajam ibunya yang sedang menggelengkan kepala padanya.
Garo diam, dia tak ingin berdebat dengan ibunya, dia yakin kalau feelingnya benar, Fitri bukan perempuan yang baik untuk dirinya. ‘Aku melihat ada yang ga beres pada perempuan ini,’ batin Garo.
\*\*\*
Hari ini kembali diadakan pengajian di rumah keluarga Purwanagara, mereka melakukan upacara adat siraman untuk Fajar yang besok pagi akan mengadakan ijab kabul pagi jam delapan, sehingga diharap sudah selesai sebelum salat Jum’at. Tentu saja ijab akan diadakan dirumah keluarga Icha. Sementara acara resepsi akan diadakan di gedung pertemuan pada hari Sabtu malam.
Kandungan Alesha memasuki bulan ke delapan eyang putri dan eyang kakung serta nenek dan kakek yang sejak kemarin datang dari Jakarta selalu menemani Alesha, mereka tak ingin Alesha merasa sedih karena kehilangan perhatian kedua orang tuanya yang sedang sibuk menghadapi pernikahan kakak sulungnya.
“Mbak maem duluan ya, sama eyang atau nenek,” pinta Ririen pada Alesha. “Jangan ikuti acara, nanti Mbak kelaperan,” bujuk Ririen.
“Iya, nanti Mbak maem duluan kalau lapar, tapi dari tadi Mbak banyak ngemil salad koq Mom. Mommy enggak perlu khawatir,” balas Alesha sambil memegang perutnya, baby nya sedang menendang.
“Cantiknya Bunda enggak bobo?” tanya Alesha lirih pada bayi diperutnya, dia sudah tau kelamin calon bayinya saat USG pada bulan ke lima.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
__ADS_1
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.