JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
SENYUM BAHAGIA BAYI YANG AKU PERJUANGKAN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



Tok … tok … tok ….



Dengan tiga kali ketukan palu dari ibu hakim saat  itu, Ririen memulai kehidupan Alesha dalam rahimnya.



Dia resmi janda saat mengandung Alesha tiga minggu. Ada rasa sedih kecewa tapi dia tetap bersyukur lepas dari buaya. Dia sangat sakit hati dikhianati berkali-kali. 



Hari itu sehabis makan malam Ririen membuka percakapan. “Alhamdulillah tadi siang ketok palunya sudah di putuskan Yah, Bu, aku sudah resmi menjadi janda,” katanya pada ayah dan ibunya.



“Kalau soal itu semua pasti udah tahu kan? Karena semua tahu tadi pagi jadwal sidang akhir. Aku mau terima kasih sama Mas Teguh, Mas Bambang dan Mas Lukman yang tadi bersedia menemani aku,” Ririen memberi jeda kalimatnya.



Agak lama dia terdiam dan semua yang hadir disana pun tidak ada yang menyela untuk bicara. 



“Aku cuma mau kasih tahu, saat ini aku hamil, sudah tiga minggu usia kandunganku. Sejak seminggu lalu aku sudah periksa dokter,” Ririen memberitahu kondisinya saat ini.



“Koq bisa hamil De?” hampir berbarengan ketiga kakak perempuannya bertanya.



“Hampir satu bulan lalu Ricky datang ke rumah, sudah tiga bulan dia enggak datang. Saat datang, alasannya mau nengok anak-anak karena kangen. Aku ya enggak bisa ngelarang, karena walau kami sudah cerai pun dia tetap ayahnya anak-anak kan?"



"Saat itu aku enggak nemani dia, aku di kamar aja, ngerjain data konsumen, dia masuk kamar lalu maksa dengan alasan aku masih wajib ngeladenin dia, dan kalau enggak mau dia akan nyakitin Fajri,” cerita Ririen lirih.



“Saat ini yang tahu aku hamil, ya baru semua yang ada disini, karena aku enggak mau kasih tahu siapa pun sebelum ada keputusan sidang, aku enggak mau kalau bayi ini menghambat perceraianku,” jelas Ririen saat itu.



Itu awal kehidupan Alesha. Hanya Ririen dan keluarga intinya saja yang tahu keberadaan bayi dalam kandungannya.


\*\*\*



Ririen mengingat bagaimana beratnya proses kehamilan Alesha.



Kehamilannya kali itu beda dengan kehamilan sebelumnya. Di dua kehamilan sebelumnya Ririen tidak mengalami morning sickness, tidak pakai acara ngerengek ngidam. Tapi di kehamilan ke tiga ini setiap pagi dia selalu tersiksa, dan dia juga sering ingin makan sesuatu yang biasanya dia tidak suka, walau bukan makanan yang sulit di dapat, tapi dia kepaksa nyari sampai dapat karena bila belum terpenuhi maka tidak akan makan apa pun.



Rasanya itu memang hamil terberat baginya, pas tidak punya suami, pas hamilnya rewel. Namun Ririen berupaya menikmati semuanya dengan tabah. Dia tidak ingin bayinya merasa tertekan.


__ADS_1


Kehamilan Alesha berbanding terbalik dengan kehamilan si kembar yang tanpa drama, tanpa rewel walau sesekali ada yang dia inginkan.



Dan di kehamilan Alesha Ririen merasakan tikaman dari ibu mertua, lebih tepat mantan ibu mertua. Ririen sampai mengumpat dan menyumpah agar mantan mertuanya mengalami apa yang dia tuduhkan pada dirinya.



Dan Allah memang membalas langsung. Dira mantan adik iparnya dicerai suaminya karena berselingkuh lalu ditinggal selingkuhannya saat Dira sedang hamil karena selingkuhannya punya keluarga yang tak mau dia lepas.



Siang itu Ririen berencana bertemu dengan Ricky untuk bertemu dengan pembeli rumah mereka yang di Kranggan Permai Bekasi, sengaja Ririen meminta mas Teguh menemaninya, dia tidak nyaman bila bertemu Ricky sendirian lebih-lebih saat ini perutnya sudah makin besar di usia kehamilan enam bulan. 



Mbak Ariesta atau Riries sedang dinas pagi, siang sepulang kerja dia akan menemui Ririen dan Teguh.



Ririen dan Teguh datang lebih dulu dari Ricky. Ternyata Ricky datang dengan Dira dan mamanya. Tak lama calon pembeli datang, pembicaraan awal dan melihat lokasi sudah dilakukan satu minggu lalu.



Hari ini tinggal menyerahkan surat rumah dan pembayaran saja, lalu selebihnya nanti penjual dan pembeli bertemu dengan notaris bila pembeli ingin langsung ganti nama kepemilikan.



Mbak Riries datang saat Ririen sedang menanda tangani kuitansi pembayaran setelah menerima uang yang sudah mereka lihat jumlah nominalnya di mesin hitung. 



Mereka memang bertemu di lobby bank agar mudah. Saat pembeli akan pamit, Ririen berdiri, saat itulah Siska Mahendra mama nya Ricky dan Ricky serta Dira melihat bahwa Ririen sedang hamil.




Saat itu Ririen dan Ricky  sedang membagi dua uang hasil penjualan rumah mereka ketika suara nyinyir mantan ibu mertuanya terdengar.



Ririen langsung melihat Ricky , dia ingat malam itu Ricky melakukan KDRT.  Ricky  memaksanya melayani keinginannya, dia diperkosa oleh suaminya sendiri. Saat itu Ricky  berdalih dia masih suami Ririen sehingga Ririen wajib melayani kebutuhan \*\*\*\*-nya, selain itu Ricky  juga mengancam akan menyakiti Fajri yang tidur di kamar Ririen karena masih minum ASI.



Karena memikirkan Fajri maka Ririen tak melawan. Andai dikamar itu tak ada Fajri, mungkin Ririen bisa bertindak melakukan perlawanan.



Ririen berpikir, mungkin saat itu Ricky  butuh pelepasan, karena sudah tak ada Mona sebagai selingkuhannya.



Ririen menantap nanar wajah mertuanya. “Ibu ingat tanggal berapa saya cerai dengan Ricky anak Ibu, dan Ibu silakan hitung kapan anak ini nanti lahir."



"Saya bukan tukang selingkuh seperti mantan suami saya. Yang pasti ini anak saya sendiri!” jawab Ririen sambil berlalu dari ruangan itu diikuti mbak Riries dan mas Teguh.



Namun dia sempat berbalik sebentar dan berkata “Oh iya Rick, mobil enggak perlu kamu jual, saya hibahkan bagian saya untukmu!” sarkas Ririen berkata sambil melengos, dia ingin mantan ibu mertuanya mendengar dia memberikan mobil secara cuma-cuma ke Ricky .



Itu akan selalu Ririen ingat. Mantan ibu mertua dan mantan suaminya memandang rendah dirinya tanpa bertanya lebih dulu.

__ADS_1



Ada masanya nanti dia akan membalas perkataan mantan ibu mertuanya itu. Semoga Allah memberi dia kesempatan melakukan hal itu.


\*\*\*



Dan kisah sedih Alesha saat diperut tak berhenti sampai dititik itu saja. Ririen pernah harus bed rest guna mempertahankan keberadaan gadis kecil miliknya. Ririen memang sudah tahu jenis kelamin calon babynya.



“Tut, saya langsung pulang ya, saya pening nih, kamu mau ikut sampai mana? Kamu juga boleh pulang cepat kalau enggak mau balik ke kantor,” kepala Ririen sangat pening, dia ingin segera berbaring. Saat itu mereka sedang di kantor cabang Jakarta Utara salah satu wilayah yang Ririen pimpin ketika itu.



“Kuat sampai rumah enggak Mbak? Saya enggak bisa nyetir, mau nganter juga bingung,” Tuti mengkhawatirkan atasannya yang terlihat pucat.



“Bisa koq, saya tahan kalau sampai rumah, tapi kalau antar kamu ke kantor dulu kayaknya enggak bisa,” keluh Ririen.



“Ini jauh banget, apa bener Mbak kuat, enggak minta pak Wenas antar aja Mbak?" Tuti beneran khawatir.



“Saya ikut sampai rumah Mbak aja, nanti saya minta suami saya ngejemput di rumah Mbak deh, saya takut kalau Mbak pulang sendirian,” Tuti sekretaris Ririen ketika itu berkeras menemani Ririen untuk sampai ke rumahnya.



Sesampai di rumah Ririen minta mbak Riries untuk kerumahnya, kakak tertuanya itu seorang bidan di RS ISLAM Cempaka Putih. Tuti masih menemaninya sambil menunggu suaminya menjemput.



Mbak Riries memeriksa Ririen dan memerintahkan Ririen bedrest minimal tiga hari karena kondisinya sangat drop. Dia juga langsung memasang infus karena Ririen tidak mau di bawa ke rumah sakit.



Sebagai seorang ibu mbak Riries mengerti, adiknya pasti bingung bila dia dirawat dirumah sakit, siapa yang akan mengawasi dua balitanya, sedang adiknya itu sudah tidak punya suami.



“Tut, tolong kamu atur ulang jadwal meeting saya ya, hari Senin depan baru saya masuk kantor, karena tiga hari bed rest kan sampai hari Jum’at,” perintah Ririen. “Semoga saya enggak makin drop.”



“Baik Mbak, sekalian saya pamit, itu suami saya sudah datang,” pamit Tuti. Sekretarisnya ini memang paling mengerti kondisi Ririen.



Mbak Riries memberitahu dua adiknya yang lain tentang kondisi Ririen saat ini sehingga mereka segera datang ke rumah Ririen. Ririen meminta ibu jangan dikabari karena akan membuatnya panik.



Tengah malam Ririen menangis, kehamilannya sekarang  tanpa suami dan harus bed rest sungguh sangat menyakitkan. Dia menahan isaknya, tidak ingin mbak Riries terbangun, mbak Riries memang menginap di rumahnya karena memantau ketersediaan cairan infus.



Sekarang Ririen melihat bayi yang dia perjuangkan keberadaannya sedang tersenyum bahagia menyongsong hari barunya.



Wajah bahagia Alesha adalah wajah bahagia Ririen yang berhasil mempertahankan bayi kecill itu bertahan di dalam rahimnya.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIED

__ADS_1



__ADS_2