JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
JINGGA YANG PENGERTIAN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



Saat bangun menjelang salat subuh Garo dan Alesha baru sadar sepanjang malam Jingga bobok sendiri di kamarnya dan tidak menangis.  Memang menjelang usia dua tahun ini kalau malam Jingga sudah jarang minum ASI.



"Ayah sih gara-garanya,  sampai Angel nggak bobo sama kita," protes Alesha sambil mengambilkan baju bersih buat Garo.



"Kok Ayah sih Bun? Gara-garanya Bunda kenapa bikin Ayah enggak bisa berhenti jadi kita kecapekan." Garo tak mau disalahkan istrinya.



"Ini baju ganti Ayah, Bunda duluan mandi Ayah gantiin diapers dedek ya."


\*\*\*



"Little princess Ayah boboknya anteng ya semalaman. Kamu nggak ganggu Ayah dan Bunda. Tahu ya Adek, Ayah mau gerilya. Ayah mau agresi perang jadi Dedek nggak gangguin Ayah?" kata Garo sambil menggantikan diapers anaknya.



Garo memberi bedak dulu, baru dia gantikan dengan diapers kering.



Setelah itu baru Garo mandi karena dia lihat Alesha sudah selesai mandi.  Sengaja Garo tak mau mandi bersama. Bisa bahaya telat salat nanti bila mereka mandi bersama.



"Sudah digantiin diapers sama ayah ya. Sekarang mimi dulu ya. Bunda mau salat habis Dedek mimik." Alesha pun langsung memberikan pu-tingnya pada mulut Jingga sehingga anak itu langsung menghisapnya. Bila telah kenyang tentu Jingga tidak akan nangis rewel.



"Kalau sudah selesai kita langsung ke rumah daddy ya Yah. Kita sarapan di sana." Alesha membersihkan tempat tidurnya bekas perang semalam.



"Iya,"  jawab Garo Dia sedang memakaikan baju Jingga setelah sholat subuh.



Memang tadi Jingga bangun tapi melihat kedua orang tuanya sedang salat dia tidak menangis dia hanya duduk di box bayinya.



Jingga tidak rewel sama sekali melihat ayah dan Bundanya salat, tapi kalau nggak ada orang dia pasti akan menjerit.



"Yayah," panggil Jingga. Garo yang sedang dzikir langsung menengok pada putrinya.



"Iya sayang,"  jawab Garo. Dia langsung melipat sarung dan menaruh pecinya.



"Sudah bangun ya anak Ayah?"



"Ayo kita ke rumah eyang ya kita ke rumah Yanktie sama Yankkung kita maem sana."



Alesha melipat mukenanya dan menyiapkan baju Jingga.



"Dimandiin enggak Bun?"



"Jangan sekarang lah. Nanti aja habis sarapan.  Yang penting lap badan dulu aja," kata Alesha. Alesha bergegas ke kamarnya untuk merapikan arena peperangannya semalam sementara Garo mengurusi putri mereka.


\*\*\*



"Ayo kita berangkat,"  Garo dan Alesha menggandeng putri mereka. Tentu saja rambut Garo dan Alesha sudah kering agar tak jadi bahan bully-an semua kerabatnya.

__ADS_1



Tak ada kissmark di leher karena memang Alesha sudah bilang tidak mau, sebab nanti bila didandani pada saat akad pernikahannya Fajri tentu akan kelihatan walau sekarang mungkin bisa ditutup dengan turtle neck t-shirt.



Maka Garo pun menahan diri tidak membuat stempel.



"Halo sayang sudah bangun?"



"Anun,"  kata Jingga sambil mengangguk.



"Kita maem yuk?" 



"Aauu," balas Jingga.



"Kok nggak mau?"



"Aem Yayah!"



 "Aku mau maem sama Ayah Uyut," Alesha menerangkan apa yang Jingga maksud pada eyangnya.



"Oh gitu maemnya sama Ayah," ibunya Ririen tersenyum melihat cicitnya kenes bicara.



"Iya, aem Yayah,"  kata Jingga.




"Mas ini kopinya ya," Alesha meletakkan cangkir kopi di meja dekat Garo duduk.



"Iya makasih Yank,"  jawab Garo.



"Aku ambilkan maemnya Jingga dulu ya." Pamit Alesha.



 Pagi itu Ririen memesan pada orang dapur untuk buat sarapan bubur ayam yang mudah dicerna untuk ayah dan ibu  serta mama dan papa yaitu orang tuanya  dan mertuanya.



Jadi Jingga juga maem bubur ayam.



"Sarapan kaya gini  kalau buat George nggak masuk nih." Celetuk Leoni di depan ibu mertuanya.



"Kenapa?  Dia enggak suka bubur ayam?" Tanya Ririen.



"George makan satu panci pun nggak akan kenyang karena perut dia *PERUT JAWA* bukan perut bule,"  kata Leoni. Semua ngakak karena memang George seperti itu. 



Biar pun sudah makan satu panci bubur, atau tiga mangkok mie, atau satu bungkus roti tawar besar, dia belum puas. Sehabis makan akan kenyang sesaat. Tak lama kemudian akan terasa lapar. Jadi bukan tidak kenyang.  Kenyang tapi hanya bertahan sebentar kemudian akan terasa lapar karena dia bilang belum makan.



Orang yang disebut memiliki *perut jawa*  belum merasa makan bila belum MAKAN NASI.


__ADS_1


"Gerry malah perut priyayi banget, makannya sedikit. Makan apel satu atau dua biji dia bilang sudah kenyang," sang mami memberi komentar ucapan menantunya.



"Bener tuh Mi," kata Leona.



"Kak Gerry tuh susah banget makannya."



"Ini yang bikin bingung. Yang gaya hidup dan kelakuan  kayak bule, George tapi perutnya dia perut jawa. Yang gaya hidup dan lagaknya Sunda, malah perutnya bule banget," kata Papinya.



Semua tertawa mendengar kedua orang tua Gerry dan George membuka rahasia anak anak mereka.



Orang tua Icha berharap nanti punya besan seperti besannya Ririen, semuanya baik dan bisa akrab.



"Ayo maem sama Bunda," Alesha bersiap mensuapin Jingga.



"Au,"  Kata Jingga ketus.



"Ya udah nih Yah. Bukan aku nggak mau nyuapin ya," Alesha menyerahkan mangkok bubur untuk sarapan Jingga ke Garo.



"Iya ngerti, kata Garo dengan penuh pengertian.



"Ayo maem yuk."



"Yuk." Jawab Jingga dengan patuh.



"Ayah mau makan nasi atau bubur?" Bisik Alesha. 



"Kan tadi menunya bubur ayam. Ya itu aja, sama dengan yang lain Yank," kata Garo.



"Kirain mau roti panggang."



"Samain aja sama yang lain.  Kamu tahu sendiri makan seberapa ya cukup."



"Iya kamu tuh susah makannya. Ya sudah aku racikin  bubur ayamnya sekarang.


\*\*\*



Alesha tahu Garo tak suka bubur diaduk. Garo nyuapin Jingga sementara dia disuapin Alesha. 



"Kok enggak pakai sambel  Yank?"



"Pakai sedikit. Jangan banyak sambel. Kalau perut kita nggak bener saat acara akad besok kan bahaya," ucap Alesha.



"Iya,"  kata Garo, dia memang sangat sabar.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDYq


__ADS_1


__ADS_2