
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
“Saya mohon maaf kalau kejadian tadi membuat Echa kembali terluka sedemikian dalam. Saya tak pernah ingin membuatnya menangis apalagi sampai terpuruk seperti ini,” Garo ingat dia meminta maaf pada kedua orang tua Alesha karena tak ingin membuat keduanya makin sedih dan marah adanya.
Tak disangka kedua orang tu Alesha memberi dukungan untuknya.
“Kamu dengar sendiri kan keputusannya, kamu bersabarlah. Kalau nanti HP nya menyala jangan langsung menekannya. Bujuk aja pelan-pelan. Kamu tak perlu menunggu satu minggu, karena yang berjanji tak menghubunginya kami bukan kamu." Itu dukungan dari orang tua Alesha saat itu.
" Alesha nggak tau kamu ada disini dan mendengar permintaannya itu. Kalau Alesha meminta kamu engga menghubunginya, baru kamu ikuti kemauannya. Sekarang kamu istirahat dulu,” Putra memerintah Garo agar pulang.
\*\*\*
Belum tuntas masalah dengan Retno, Garo ingat prahara perempuan kedua yang membuat Alesha makin sulit dia gapai. Itu karena obsesi seorang gadis asal Kediri yang sejak dua tahun lalu menjadi stalkingnya. Sejak pertemuan mereka di Blitar.
'*Alesha, kamu memutar balik duniaku!!!! Dan aku teramat suka kamu merubah duniaku menjadi penuh warna*,' Garo makin bersyukur memandang dua wajah damai di depan matanya menjelang subuh kali ini.
\*\*\*
'*Dia tak seperti perempuan yang sudah mempunyai anak. Walau saat ini Jingga ada di depan dadanya dengan gendongan modern menghadap kedepan*.'
'*Namun siapa pun akan setuju denganku kalau Alesha belum pantas disebut seorang ibu. Karena dengan kaos dan jeans serta sneaker yang dia kenakan saat ini, tak akan ada yang percaya dia ibu satu anak*.' Itu pikiran Garo saat melihat Alesha keluar lobby hotel untuk menuju mobilnya. Mereka sedang berada di Kediri untuk even lomba tanaman yang dihadiri bu Ririen sebagai juri.
\*\*\*
Garo mendatangi Alesha di sebuah satnd makanan di arena lomba. Garo sengaja berdiri di lututnya untuk melihat Jingga yang sedang dipangku Alesha.
“Assalamu’alaykum anak Ayah, kamu sehat kan?” sapa Garo sambil mencium kening Jingga.
__ADS_1
“Aku ingin bicara denganmu Yank, jangan menghindar terus,” bisik Garo.
“Maaf, tak ada lagi yang perlu kita bicarakan,” Alesha pun menjawab dengan berbisik.
“Wah mas Garo suka ama anak kecil ya?” celetuk seorang gadis saat melihat Garo sedang mengusap-usap pipi Jingga. Garo yang tak enak lalu berdiri dan duduk di kursi depan Alesha.
“Mas Garo nginep dimana? Nginep rumah saya aja ya,” lanjut gadis itu dengan beraninya.
Lalu gadis itu dengan santai menegur Alesha “Eh ini putrinya bu Dewi, tapi sudah punya anak kan? Ini anaknya kan? Bukan pacar mas Garo kan?" Cecar Anna gadis tak beretika yang sangat Garo hindari. Garo tak pernah membayangkan punya istri dengan mulut seperti petasan renceng seperti Anna. Berisik dan sangat pedas.
Belum juga Alesha menjawab, gadis itu kembali berceloteh, “Bulan depan saya akan ikut event yang di Jogja, apa boleh main ke rumah mas Garo untuk kenalan dengan orang tua mas Garo?”
“Sudah Mbak?” tanya Alesha pada mbak Dwi yang sudah membawa bungkusan juice pesanannya.
“Yok kita balik hotel aja, disini terlalu kotor dan bising buat Jingga, tak seharusnya dia melihat hal yang tidak pantas,” dari kata-kata Alesha, Garo tahu wanita itu sangat tersinggung.
“Cha … Echa,” Garo hanya bisa memanggil, tapi Alesha tak menoleh.
Itu awal kasus kedua. Karena tak hanya sampai situ. Anna terus menyakiti Alesha hingga dia datang ke Jogja untuk bertemu dengan ibunya Garo!
\*\*\*
Garo duduk di sofa panjang membelakangi ruang makan sehingga tak melihat kedatangan Alesha.
“Ayah kangen kamu sayang, maafin Ayah yang tak bisa liat kamu dan gendong kamu ya little princessnya Ayah. Kamu makin cantik aja sih, bikin ayah pengen gigit pipi bakpao mu,” Garo sedang menjaga Jingga yang tadi dia minta dari tangan bu Ririen atau bu Dewi.
__ADS_1
“Sini Jingga nya Mas” pinta Alesha lirih.
“Sini duduk dulu Yank,” pinta Garo sambil menarik tangan Alesha lembut.
“Mas sarapan aja dulu sana, biar Jingga aku gendong,”kembali Alesha meminta anaknya.
“Ayah enggak akan ambil dia koq, Ayah cuma mau kita bicara sebentar aja sebelum kita sarapan,” pinta Garo saat itu. Dia ingin masalah mengenai Retno segera bisa mereka tuntaskan. Siapa tahu beberapa saat kemudian malah masalah Anna semakin meruncing.
“Please duduk dulu sebentaaaaar aja.” Saat Alesha sudah duduk maka Garo menyerahkan Jingga pada Alesha.
“Mas punya salah apa sehingga kamu membenci Mas sampai sedemikian parahnya? Kalau Mas ada salah beritahu agar Mas bisa merubah dan tak melakukannya lagi. Tapi kalau kamu diam dan menghindar tanpa pernah bilang apa pun, Mas enggak tau apa yang kamu pikir itu beneran salah Mas atau bukan?”
“Mas enggak pernah salah. Jadi sudah kita tak usah bahas apa pun lagi,” jawab Alesha pelan, lalu dia berdiri dan berjalan menuju ruang makan hotel tersebut.
“Sini Jingga biar Ayah yang gendong, Yayank maem duluan aja, karena kamu butuh energi lebih besar,” pinta Garo
Dengan terpaksa Jingga kembali pindah tangan. “Mas mau maem apa, aku ambilkan,” desis Alesha.
“Aku kopi dan bubur ayam aja,” jawab Garo, lalu dia mencari meja untuk mereka duduk.
“Mas makan duluan aja, enggak enak buburnya kalau dingin. Ini sambelnya aku pisahin, aku enggak tau seberapa banyak sambel yang Mas suka,” Alesha berupaya mengambil Jingga kembali.
“Kamu makan duluan. Enggak usah protes atau bantah,” tukas Garo tegas.
Alesha pun mengalah dan dia makan dalam diam tanpa melihat pada Garo.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
__ADS_1