JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
PAWANGNYA JINGGA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Sejak waktu Subuh rumah keluarga Purwanagara sudah heboh, mama Icha dan mommy Ririen membuat sarapan berdua. Semalam mereka sepakat membuat nasi kuning khas Ambon.



Nasi kuning ini hampir sama dengan nasi kuning lainnya misal nasi kuning Bali atau Menado. 



Nasi kuning Ambon khas dengan aroma rempahnya juga lauk special. 



Untuk nasi kuning yang terkenal di Ambon adalah nasi kuning bagadang. Biasa di jual sejak jam lima sore hingga dini hari. Itu sebabnya disebut nasi kuning bagadang.



Nasi kuning Ambon mempunyai lauk inti, yakni ikan cakalang, serundeng, bihun goreng, serta sayur kacang panjang. 



Namun tak ada larangan lauk lainnya. Pagi ini disiapkan dadar telur, balado telur, ayam goreng tepung.



"Dwi cepat bawa ini ke rumah mbak Alesha. Mas Garo mau pergi sehabis salat subuh. Nanti belum dahar kasihan," Ririen meminta Dwi membawa sarapan untuk calon menantunya.



Sehabis salat Fajar membuatkan susuu ibu menyusui dan membuat roti isi kornet serta roti isi keju untuk Icha. Dia tahu ibu menyusui pasti kelaparan. 



Hari ini kebaya yang digunakan adalah kebaya biru. Warna untuk Icha, Ririen dan Alesha sama, sedang warna biru untuk Leona dan Leoni dibuat beda. Memang seperti itu pilihan Alesha kemarin.



Liany datang saat sarapan yaitu pk 07.00 dia masih pakai kemeja dan celana panjang biasa.



"Ini calon *mas* Fajri?" Tanya papa Icha.



"*Bang* Fajri," istrinya meralat.



"Eh, lupa."



"Insya Allah. Dia calonnya Abang," sahut Ririen.



"Ayok makan Lian. Ini nasi kuning khas Ambon," Ririen mengajak calon menantunya sarapan.


__ADS_1


"Injih Mom." Liany mulai mengambil nasi dan lauknya. Dia berikan pada Fajri. Baru dia ambil untuk dirinya sendiri.


\*\*\*



“Assalamu’alaykum” sapa bu Ratna di rumah Alesha. Ratna tahu Alesha tinggal di apartemen kecil terpisah dari rumah induk karena orang tuanya tak membolehkan dia beli atau kontrak rumah bila masih sendirian. Jadi bukan Alesha dibuang di paviliun ini.



“Wa alaykum salam Bu, monggo Bu silakan duduk dulu,” Alesha menyambut calon ibu mertuanya dengan sopan.



“Mas ganti baju dulu, bajunya di kamar Jingga,” Alesha memberi tahu Garo yang memang belum ganti pakaian karena harus menjemput ibunya lebih dulu.



“*Monggo Bu, diunjuk riumiyen* ( silakan Bu, diminum dulu ),” mbak Dwi menawarkan minum pada tamu majikannya.



“*Mbak Dwi tolong gendong Dede sik yo, Ayah e arep dandan di rusuhi* ( Mbak Dwi, tolong gendong Dede dulu ya, ayahnya mau ganti baju di ganggu ),” pinta Alesha.



“Sini ama eyang aja,” bu Ratna menawarkan diri.



“Nanti pakaian Ibu kusut,” Alesha tak enak pada calon mertuanya. 



“*Rapopo, wis kulino* ( tidak apa apa, sudah biasa )” jawab Bu Ratna santai. Asal Jingga nya mau saja. Karena anak kecil kan belum tentu mau.




Bu Ratna melihat, ternyata mereka tidak ganti baju di kamar yang sama.



Alesha yang sudah memoles tipis wajahnya tak butuh waktu lama untuk berganti baju. Dia keluar kamar bersamaan dengan Garo, karena Garo harus mandi dulu makanya lebih lama dari Alesha yang hanya tinggal ganti kebaya dan rok saja.


\*\*\*



"Mbak Dwi, ini tas baju ganti Jingga jangan lupa dibawa. Karena baju kembaran satunya ada disini." Alesha minta Dwi membawa tas baju Jingga. Biasanya kalau main biasa tak perlu bawa tas baju.



Mbak Dwi akan datang belakangan setelah selesai membereskan rumah Alesha. Mencuci baju dan mengepel serta cuci piring tentunya.



Dengan baju kembaran bertiga Alesha dan Garo berjalan kearah rumah utama. 



Garo menggendong Jingga, sedang Alesha menggandeng bu Ratna.



Tentu saja kedatangan mereka membuat Leona dan Leoni berceloteh riuh. 

__ADS_1



“Mbak Alesha selalu aja deh bikin kami ngiri!" Karena memang kebaya Alesha seragam dengan Icha dan Mommy. Namun rok Alesha kembaran dengan kemeja batik Garo dan dress princess milik Jingga.



“Momm, Dadd ini ibunya mas Garo,” Alesha memperkenalkan bu Ratna pada kedua orang tuanya.



“Kamu curang De, Kakak dan Mas enggak dibeliin bahan kembaran seperti kamu,” protes Icha pada adik iparnya. 



“He he he, takutnya Kakak enggak punya penjahit yang bisa express, sedang ini kita belanja Senin, Kamis sudah jadi baju,” jawab Alesha tanpa merasa bersalah.



Ratna cukup senang, ternyata Garo diterima dengan baik di keluarga calon istrinya. Ratna melihat keluarga kaya ini tak membedakan orang dari harta. Tak seperti keluarga orang tua almarhum Ardi dulu.



“Kalau anak perempuan gitu ya De, bisa didandanin,” Icha melihat Jingga dengan gemas.



Semua keqi pada Garo karena Jingga sama sekali tak mau ikut siapa pun kecuali dengan Garo atau atas perintah Garo!



"Little princess sama pakde Fajri dulu. Ayah mau ambil mimik ya?" Pinta Garo pada putrinya.



Mendengar permintaan ayahnya, Jingga mau menerima uluran tangan Fajri.



"*Jingga mung nurut pawange owg*," kelakar  Leona. Dia bilang Jingga hanya menurut pada pawangnya yaitu Garo. Tentu saja semua tertawa mendengar candaan Leona itu.



Fajri meminta Liany berpose dengannya dan Jingga. Alesha memotret mereka bertiga dengan banyak pose.



Mumpung Jingga dipegang Fajri, Alesha dan Garo minta dibuatkan foto berdua, juga bertiga dengan Ratna. Ada juga berempat dengan Ririen dan Putra bahkan ada yang berlima dengan ketiga orang tua mereka. 



Tadi di rumah Garo dan Alesha sudah membuat foto bertiga dengan Garo dan sudah jadi foto profil Garo.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1678759848015.jpg)

__ADS_1


__ADS_2