
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Garo selalu rajin menemani Alesha pergi ke dokter kandungan untuk periksa. Tak pernah satu kali pun dia lewatkan. Dia selalu konsultasi pada dokter, apa yang wajib dilakukan oleh dirinya untuk menunjang kehamilan istri tercinta.
Garo juga bertanya makanan yang harus banyak dikonsumsi Alesha dan pantangan makanan buat istrinya semua dia tanyakan baik-baik.
Alesha merasakan kebahagian sangat sempurna dalam kehamilan kali ini karena suaminya berperan aktif. Sangat bertolak belakang dengan Rezky yang hampir tak peduli.
Mungkin karena buat Rezky kehamilan Jingga dulu bukan hal baru. Jadi dia tak perlu khawatir atau kasih perhatian lebih.
Garo masih terlelap saat merasakan ada gerakan ditangannya. Garo membuka matanya. Dia melihat telapak tangannya ada di perut Alesha yang mulai membuncit dan gerakan yang membuatnya bangun adalah gerakan dari dalam perut istrinya. Alesha sengaja meletakkan tangan Garo diperutnya.
Garo terlonjak! Dia tak percaya itu gerakan calon anaknya.
"Masya Allah. Alhamdulillah aku boleh merasakan keajaiban seperti ini. Tanpa malu Garo menangis bahagia. Dia ciumi perut istrinya.
__ADS_1
"Assalamu'alaykum anak Ayah. Sehat selalu ya Nak," bisik Garo. Hari masih tengah malam. Masih jam dua dini hari.
Alesha mengusap lembut rambut suaminya yang masih saja ngobrol dengan anak mereka. Alesha ikut menangis. Kehamilan kali ini memang sangat berbeda.
Saat Jingga mulai bergerak didalam rahimnya, dia takjub sendirian dengan pengalaman pertamanya. Dan Rezky hanya merespon sekedarnya saja. Tak ada kebahagian terpancar dari sikap Rezky. Dia tak kaget juga akan gerakan bayi dalam perutnya. Rupanya karena ini bukan pengalaman pertama bagi Rezky. Sudah banyak perempuan yang memberitahu kalau anak Rezky bergerak di perutnya. Padahal Rezky anak pengasuh pondok pesantren. Nyatanya agama hanya untuk kamuflase saja.
\*\*\*
Hari terus berganti. Hari ini adalah penentuan untuk melihat jenis kelamim anak mereka.
"Apa Ayah pernah kecewa sama ketentuan Allah? Dapat Jingga aja sudah karunia kenapa kalau sekarang dapat perempuan lagi Ayah kecewa? Ayah nggak akan kecewa itu sudah rezeki yang kita punya Yank."
"Jangan pernah bilang Ayah kecewa. Dapat titipan aja sudah satu mukjizat dari Allah. Punya istri kamu itu rizky dari Allah jadi nggak usah berpikir Ayah akan menolak kalau dia perempuan."
"Kamu mau langsung hamil tanpa menunda lagi sudah anugerah kok buat Ayah," kata Garo lagi.
Alesha langsung memeluk suaminya dengan senang, dia tahu suaminya memang sangat mencintainya.
__ADS_1
"Semoga sesuai dengan harapan kita ya Yah," kata Alesha.
"Itu harapanmu, bukan harapan kita. Ayah nggak berharap apa pun kecuali kamu dan bayi sehat hingga waktunya lahir kelak. Jadi jangan bilang itu harapan Ayah."
"Enggak, ayah nggak berharap itu lelaki atau perempuan. Apa pun yang Allah kasih Ayah akan senang. Kalau kamu nggak siap terima apa kenyataanya, kamu nggak usah lihat."
"Enggak Yah, aku harus siap. Kalau dia perempuan lagi ya nggak apa apa nanti kan yang berikutnya lagi kita dapat laki-laki," jawab Alesha.
"Nah gitu, nggak usah berpikir macam-macam. Kalau kamu nggak enjoy nanti kasihan baby-nya di perut. Kalau kamu menolak kasihan baby-nya juga.
"Iya Yah, aku ngerti," kata Alesha.
Mereka pun berangkat ke rumah sakit untuk periksa kehamilan. Kalau periksa seperti ini pasti Mbak Dwi disuruh pegang Jingga dulu karena ke rumah sakit nggak boleh bawa anak kecil dan juga nggak baik buat kesehatan Jingga.
\*\*\*
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR
__ADS_1