
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Tuan sama Nyonya pergi sejak pagi Mas kata seorang pembantu yang ditemui oleh Garo di rumah Putra malam ini."
"Pagi Tuan ke kantor seperti biasa, lalu siang Nyonya pergi kayaknya sih sehabis ngambil paspor Tuan sama nyonya," Garo bingung harus mencari kemana Alesha dan Jingga karena rumah Alesha kosong sudah dikunci.
Alesha dan Jingga tak ada di rumah itu. Garo ingat mereka baru membuat passport Jingga dua minggu lalu.
Jingga sudah punya paspor kalau tadi bu Ririen ambil paspor berarti kan mereka perginya ke luar negeri.
Garo diam dia ditemani ibu dan pakde Jarwo yang rumahnya tepat di depan rumahnyà.
"Di telepon aja Mas," kata si pembantu menyarankan pada Garo.
"Enggak lah nggak sopan Saya ingin bicara langsung," kata Garo.
"Tolong kasih tahu ke Bu Ririen ya kami datang Dan mohon beliau kasih tahu saya kapan kami bisa datang lagi," bu Ratna bicara pelan pada pembantu itu.
"Baik Bu, akan saya sampaikan bila Nyonya tiba." Sahut pembantu itu.
\*\*\*
"Kalian diam di sini dulu. Bukan Daddy mengajari kamu menghindar. Kamu tetap harus hadapi."
"Daddy tidak mendukungmu atau mendukung Garo. Tapi Daddy yakin pasti ada yang cari-cari permasalahan." Alesha hanya diam dia tak menyangka satu bulan sebelum pernikahannya malah melihat Garo dengan posisi seperti itu.
"Jagain Jingga ya. Mbak Alesha sedang seperti itu." Ririen memerintah Dwi menjaga Jingga full karena yakin Alesha tak akan konsen pada putrinya.
"Iya Bu saya mengerti," Dwi paham ada sesuatu yang tidak beres dengan majikannya maka dia harus menjaga Jingga dengan penuh perhatian karena tidak mungkin ibunya akan ngawasin.
Putra memang langsung minta Ririen datang saat melihat foto yang Alesha perlihatkan.
__ADS_1
Putra juga memanggil Fajar.
**FLASHBACK ON**
"Ke kantor Daddy urgent. Bawa passport kita. Siapin Jingga dan Dwi. Suruh Dwi bawa baju untuk dia, baju Alesha juga baju Jingga."
"Ada apa Dadd?"
"Ceritanya nanti, siapkan aja yang Daddy bilang. Jangan buang waktu dan enggak usah lama. Bawa mobil sendiri jangan pakai sopir."
Begitu Putra berpesan pada Ririen.
"Mas, segera ke kantor Daddy. Penting. Enggak ada penundaan," perintah Putra pada Fajar. Fajar tentu bingung mendengar perintah itu.
Fajar datang lebih dulu di kantor Putra. Dilihatnya Alesha yang pandangan wajahnya kosong tanpa ekspresi.
Belum sampai Fajar bertanya, masuk Ririen tergopoh-gopoh.
"Kamu antar cucu saya ke kamar tengah," perintah Putra pada pegawainya.
"Dwi, istirahatkan Jingga di belakang dulu ya," ujar Putra.
"Njih Pak," jawab Dwi.
\*\*\*
"Ceritanya ada apa?" Ririen tak sabar ingin tahu semuanya.
"Mbak, kamu harus ceritakan semuanya ke Mas Fajar dan Mommy," Putra menepuk lengan Alesha agar putrinya sadar.
"Cerita semua dari awal," pinta Fajar.
"Jam sepuluh Mbak dapat pesan dari mas Garo. Dia minta Mbak ke rumahnya. Lalu nanti dari rumahnya kami akan ambil undangan bareng." Alesha menarik napas berat.
__ADS_1
"Mbak sampai ke rumahnya, Mbak ketok enggak ada yang keluar. Malah bulek Ginah yang sebelah rumah dengar lalu nyuruh Mbak langsung masuk aja."
"Mbak enggak enaklah. Mbak ajak bulek Ginah nemani,"
"Pintu depan enggak tertutup rapat apalagi dikunci. Bulek dorong pintu, kami beri salam enggak ada yang dengar."
"Bulek langsung ke kamar ibu, disana kami lihat ibu tidur. Kami bangunkan enggak bisa. Padahal sama bulek Ginah sudah diguncang."
"Aku coba cari Garo. Dia nyuruh aku ke rumahnya, tapi dia enggak ada. Aku buka kamarnya. Aku lihat ini," Alesha memperlihatkan ponselnya pada Fajar.
Fajar menyorot kejadian dari awal yaitu dari saat pesan diterima Alesha.
"Ini sih gampang banget ketebak!" Fajar tak ada rasa marah ingin melabrak Garo. Padahal jelas-jelas adiknya dikhianati Garo.
Ririen tak percaya melihat foto-foto di ponsel putrinya.
"Maksudmu gampang ditebak gimana sih Mas?" Ririen sewot. Dia paling benci perselingkuhan. Dia sedih Alesha harus kembali dikhianati. Apalagi ini menjelang pernikahan putrinya itu.
"Inilah emosi perempuan. Terlebih Mommy dan Lesha pernah diselingkuhi. Langsung emosi bicara di depan dan logika ditinggal di dapur!" Jelas Fajar. Putra mencoba berpikir apa yang Fajar lihat.
"Udah Mas, jangan ledek kami. To the point aja biar semua segera clear!" Ririen mendesak putra sulungnya.
"Daddy sudah bisa melihat?" Pancing Fajar. Dia melihat Putra masih kebingungan.
"Belum," jawab Putra jujur. Dia blank melihat putrinya kembali terluka seperti ini.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.

__ADS_1