JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
A'U


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Alhamdulillah kalau kalian sudah sepakat seperti itu. Ibu cuma ingin kalian bahagia. Maafkan Ratmi walau dia tidak salah. Dia juga korban," pinta Ratna.



"Iya Bu nggak apa-apa. Aku yakin nanti juga Alesha mengerti."



"Saat ini kami belum bahas masalah Ratmi sedikit pun Bu. Saya masih belum berani bicara. Yang penting kami menghadapi kesehatan anak kami dulu." Garo tak ingin memperuwet masalah. Cukup masalah Ratmi kemarin, jangan ditambah pertentangan lagi.



Saat itu Fajri datang sendirian tergopoh-gopoh. Tidak bersama Liani. Mungkin Liani sedang sibuk  karena mau nikah kan.



"Hai Bang," Garo salim pada Fajri.



"Gimana kondisinya? Abang baru denger nih. Liani jadi enggak datang karena Abang kasih tahu saat Abang sudah depan rumah sakit."



 "Barusan Mommy ngajak bareng jadi tahu kalau Jinggal sakit. Karena Abang depan sini ya Abang meluncur sendiri enggak bareng Mommy," Fajri ngomong tanpa rem. 



"Abang baru dengar dari Mommy jadi jam 01.00 malam itu Jingga dibawa ke rumah sakit oleh Alesha dia nggak nelpon siapa pun atau lapor siapa pun rupanya sudah satu minggu dia sakit." 



"Iya Bang. Kasihan sekali Jingga nyariin saya. Saya minta maaf karena bikin dia seperti ini." ungkap Garo.



"Ya bukan kesalahan kamu saja, ini kesalahan kalian berdua lah. Kalian yang  egois saling nahan diri tak mau berkomunikasi." Ungkap Fajri.



"Ya Bang saya ngerti saya salah," kembali Garo menyatakan dirinya salah.



"Enggak perlu dibahas itu, yang penting kedepannya. Percuma kita bahas itu terus-terusan, tapi ke depannya masih begini lagi."



"Saya janji apa pun yang terjadi saya nggak akan tinggalin Jingga." 



"Pegang janji saya," ucap Garo.



"Seorang lelaki itu yang dipegang omongannya."



Fajri melihat Alesha yang masih tertidur.



"Kata Dwi dia dua hari nggak tidur," ujar Garo.



"Kalian tuh seneng banget bikin orang cemas. Kalau dari kemarin dia bilang tentang sakitnya Jingga, kan kami bisa bantu."  sesal Fajri.



Saat itu Ririen kembali hadir. Dia membawa makan malam untuk Garo dan Alesha. Ririen pun bersalaman dengan Ratna.



"Sudah lama?"  tanya Ririen.


__ADS_1


"Enggak sih baru. Tadi mau berangkat bareng Garo nggak boleh karena katanya belum ada ruangannya."



"Iya ini tadi repot ruangannya. Akhirnya Icha yang dapetin," kata Ririen.



"Kok bangun?" Garo mengampiri kekasihnya dan memeluk. Mendekapkan kepala  Alesha di perutnya.



Alesha mencium harum tubuh Garo yang sudah dua minggu menghilang dari hidupnya.



Alesha kaget sudah banyak orang, dia tersenyum malu.



"Bobo aja nggak apa-apa," kata Ratna.



"Kamu dua malam enggak tidur."



"Iya Bu,"  Alesha langsung memberi salim pada Bu Ratna dan Ririen begitu juga pada Fajri.



"Bagaimana perkembangannya,"  kata Ririen.



"Tadi makan siangnya sama Mas Garo mau maem setengah mangkok," jawab Alesha. 



"Iyalah orang sakitnya karena nyariin ayahnya. Biasanya katanya maem cuma dua suap aja susah ini sama ayahnya langsung setengah mangkok," kata Ririen.



Alesha dan Garo hanya tertunduk karena memang itu semua kesalahannya.




"Tadi juga Mas dan Kak Icha datang bawain ini, katanya kesukaan kamu Bun," Garo menunjuk kotak roti dari bakery internasional kesukaan keluarga Putra.



"Iya," jawab Alesha.



"Tapi aku lebih senang yang mommy bawa." Siapa yang nggak ngiler kalau yang dibawa oleh Ririen adalah singkong goreng yang merekah.



"Wis mantap," kata Fajri melihat kotak yang Garo buka bawaan Ririen.



"Kamu udah bawa gelas ya?" Tanya Ririen.



"Ada dua gelas beling dan 1 pak gelas plastik yang biasa kita bawa pameran," jawab Ririen.



"Ya udah bikin teh panas aja buat teman singkong," ujar Ririen. 



Garo bergerak cepat, dia yang membuat dua gelas teh dan dan dua gelas kopi untuknya serta Fajri.



"Kamu mau minum apa Yank?" tanya Garo dengan lembutnya.



Aku kepengen oval-tine aja," pinta Alesha.

__ADS_1



"Engga ada, adanya Mi-lo," jawab Garo.



"Ya udah Mi-lo panas aja,"  kata Alesha.



Alesha yang membawakan minuman yang telah Garo buat.



"Monggo Bu," Alesha mempersilakan bu Ratna minum teh bersama mommynya.



"Abang ini Bang kopinya."



"Oh ya makasih. Kamu bawa kopi?"



"Iya aku bawa takutnya di sini kan susah naik turun mendingan bawa sendiri."



"Yah," panggil Jingga.



"Iya Sayang,  sebentar ya. Bun ini tinggal seduh punyamu, lalu Garo langsung menghampiri Jingga.



"Kenapa? Anak Ayah mau apa?" kata Garo.



"Dong," pinta Jingga. Dia minta digendong.



"Sebentar ya, kita ganti diapersnya dulu ya. Ganti dulu. Udah basah kan? Kita ganti dulu baru gendong Ayah ya. Sebentar Ayah ambil diapers-nya Dedek sama ambil bedak. Ambil apa lagi Dek? Apalagi?" Garo terus bicara pada Jingga. 



Semua melihat interaksi Garo dengan Jingga. Seorang lelaki anak tunggal tapi sangat telaten merawat putrinya. 



"Eh ada eyang loh. Ada eyang putri dan yanktie juga. Mau gendong eyang?"



"A'u!"



"Ada Pakde Fajri," bujuk Garo.



"A'u!"



Garo langsung menggendong Jingga setelah putrinya bersih dan rapi dia juga tadi gelap wajah dan badan putrinya lalu dia gantikan baju.



"Salim yuk sama eyang. Digendong Ayah salimnya. Yuk kita salim. Karena digendong Garo, Jingga mau salim pada pakde dan kedua eyangnya.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIED ya.

__ADS_1



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1680180231756.jpg)


__ADS_2