JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
MEMANG ANAK GARO


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Enggak ada yang ketinggalan Ro?" tanya Putra.



"Insya Allah nggak ada Dadd," jawab Garo.



"Sini, Angel sama Yankkung," Putra mengajak cucunya pindah ke gendongannya.



"Auuuu," Jingga langsung berteriak.



"Tidak mau ya sudah biar sama Ayah aja ya. Kita mau pamit ke suster sama dokter yuk." ucap Garo. Putra kembali memperhatikan ruang rawat itu, mencari apa yang masih tertinggal baik di laci-laci mau pun di kamar mandi.



Alesha sedang melakukan pembayaran administrasi. Tadi Putra memberi uang atau kartu miliknya tapi Alesha menolaknya.



Bahkan awalnya kartu debet dari Garo pun dia tolak.



"Percuma Bun kamu tolak kartu ini, Begitu Ayah Lihat nominalnya Ayah langsung transfer kan ke rekeningmu sama seperti saat Rezky dulu. Kalau enggak lihat struk ya tinggal Ayah hitung aja lalu Ayah kali sepuluh buat transfer ke rekening Bunda," begitu ancaman Garo sehingga Alesha tak ada alasan lagi menolak kartu debet itu.



"Ini uangnya Jingga, PIN nya ulang tahun Bunda ya."



"Kenapa enggak pakai ulang tahun Jingga. Enggak lah. Jingga enggak akan ada kalau Bundanya enggak ada."


\*\*\*



"Ini kartu pak Garo Himawan benar?" Tanya petugas administrasi rumah sakit.



"Benar. Ada masalah?" Tanya Alesha.



"Tidak Bu, hanya memastikan." 



 Puji yang sedang berada di dekat situ langsung menengok dia melihat istrinya Garo sedang melakukan pembayaran.



"Atas nama atas nama Jingga Sabrina benar?" Tanya sang petugas lagi untuk memastikan.



"Benar Pak," Alesha membenarkan data Jingga.



"Ini total biaya nya ya Bu," petugas memperlihatkan total tagihan yang harus Alesha bayar.



"Ini sudah termasuk obat yang untuk di bawa pulang ya Bu."



"Silakan masukkan PIN."  



"Terima kasih," semoga sehat terus."

__ADS_1



Alesha memasukkan kartu debet Garo ke dompetnya.



"Sudah selesai?" tanya Ratna yang tak dilihat kedatangannya oleh Alesha.



"Sampun Bu." Alesha memberi salim pada calon ibu mertuanya itu.



"Ibu kenapa kesini? Mas Garo kan bilang Ibu nggak usah rawuh," kata Alesha. 



"Ben tho. Wong putuku yang pulang kok," Ratna tak amu dilarang.



"Nanti Ibu sayah lho," kata Alesha.



"Enggak lah Ibu sehat kok."



"Ya wes ayo kita udah selesai bayar kok." Alesha pun menggandeng calon mertuanya.



Puji benar-benar merasa kalah melihat Alesha dengan ibunya Garo.



Koq bisa tahu itu ibunya Garo? Pasti tahu lah, karena perempuan yang bersama Alesha tadi selalu datang saat pengambilan raport di SMA dulu.


\*\*\*



"Ada siapa di atas?" tanya Ratna.




"Ya memang anaknya Garo,  mau diapain lagi?" kata Bu Ratna. Mereka berdua pun tertawa pelan.



'*Sebegitu cintanya mas Garo pada putrinya*.'


\*\*\*



"Dedek sama Bunda ya, Ayah biar ngangkat tas dan bantal-bantal." Pinta Garo pada Jingga.



"Sudah nggak apa apa Yah,  aku bisa kok bawa koper -koper kita." Tas Garo sudah Alesha masukkan di koper miliknya agar mudah membawanya.



"Sini bantalnya biar Ibu yang bawa," kata Ratna.



"Wis toh sini kopernya dua itu biar Daddy yang geret. Kamu bawa itu peralatan dapur biar ibu bawa bantal-bantal," ujar Putra. Maksudnya peralatan dapur adalah gelas, piring dan perlengkapan makan Jingga.



"Susyaaaaaah deh kalau little princess enggak mau lepas dari ayahnya," goda Putra.



"Persis seperti bundanya."



"Daddy jangan buka rahasia deh." Garo terus senyum lebar, dia selalu ingat cerita Ririen dan Putra bagaimana cintanya Alesha pada Putra.

__ADS_1



Mereka meninggalkan rumah sakit saat adzan Ashar.



"Salat di rumah aja ya Yah,"  kata Alesha.



"Iya," jawab Garo.



Kemarin motornya Garo sudah dibawa pulang oleh Ampi. Jadi sekarang Alesha bawa mobil dengan ibu duduk di belakang.



Garo duduk di sebelah Alesha sambil memangku Jingga. Karena Jingga tak mau dipangku oleh Alesha.



Jingga masih ketakutan bila Garo kembali pergi lama meninggalkan dirinya.



"Yah nanti di rumah kamu udah mulai ajarin Dedek buat ditinggal kerja lo."



"Maksudmu?"



"Mas udah nggak kerja tiga hari loh ya." Tegur Alesha.



"Kalau aku enggak kerja satu minggu, atau satu bulan, ada yang kasih aku nilai absent merah gitu?"



"Enggak masuk sebulan pun  *tanduranku* ( tanamanku )   tetap sehat *dirumati* ( dirawat ) oleh pegawai." Kilah Garo tak mau dikasih tahu.



 "Ya tapi kan penjualan dan sebagainya, pasti  butuh perhatian Mas. Enggak sama sebuah usaha kalau terus dibiarkan tanpa pengawasan kita," Alesha mengingatkan Garo.



"Rejeki nggak akan hilang Yank," kata Garo santai.



"Ya nggak gitu juga lah Mas. Tetap kamu harus mulai ajarin dia, awalnya tinggal sebentar."



"Bilang Ayah mau pergi sebentar kerja ya. Misal cuma ke rumah mommy atau ngumpet di keboen. Yang penting dia harus tahu nggak nempel terus gitu," kata Alesha.



Mereka bicara begitu karena si kecil sedang tidur. Walau masih kecil Alesha melarang membicarakan hal-hal yang tak baik di dengar oleh Jingga.



"Bener Ro. Enggak bisa seperti ini terus, dia tetap harus diberi pengertian. Misal ada apa-apa kamu harus lari, lalu bagaimana nanti dia cari-cari lagi?"



"Dia dikasih pengertian dulu lama sedikit-sedikit entah cuma 10 menit entah 15 menit. Nanti naik 30 menit begitu seterusnya. Kasihan dia kalau tidak diajari," bu Ratna setuju dengan Alesha.



"Baiklah pokoknya manut apa kata ibu negara aja."



"Tuh kan Bu, justru aku yang di ejek Bu," Alesha ngadu pada mertuanya yang hanya tertawa mendengar canda kedua pasangan yang sudah rujuk itu.


Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang baru aja terbit dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND



Atau juga judul lain yang baru terbit dengan judul BETWEEN terminal BUBULAK ~ GIWANGAN

__ADS_1



__ADS_2