
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Keluarga besar Garo dan Alesha menginap di hotel karena pesta usah telah lewat tengah malam. Dan memang Garo telah membooking banyak kamar.
Tadi ada tamu kejutan, yaitu opa dan omanya Alesha. Garo mengundang mereka dengan seizin Ririen dan Putra tentunya.
"Sebenarnya Mommy malas melihat omanya Alesha. Tapi biarlah mereka datang kalau memang masih sehat. Biar mereka melihat anak yang dari perut diejek oleh oma sebagai anak hasil selingkuh Mommy telah hidup bahagia," begitu kata Ririen saat Garo meminta izin untuk mengundang orang tua dari Ricky ayah kandung Alesha.
Tadi juga ada mbah kakung dan mbah uti dari ibu kandung Garo yang usianya masih cukup muda. Maklum ibunda Garo dulu *diambil* saat masih sangat kecil.
\*\*\*
Putra melihat panggung pengantin mulai sepi. Para pekerja sedang membersihkan bekas resepsi anak gadisnya eh, maksudnya anak perempuannya.
Saat resepsi Alesha yang pertama Putra merasa sangat kehilangan, dia merasa tak percaya putri kecilnya telah bertransformasi menjadi dewasa.
Begitu pun saat resepsi pernikahan Leona dan Leoni.
Ketiga putrinya telah memberi dia empat cucu.
Tapi di resepsi Alesha kali ini ada sedikit kenangan yang datang kembali, melintas bebas di benaknya yang semakin tua.
"Tadi katanya mau urus baby Bun, koq enggak jadi?” tanya Putra, ketika melihat Dewi sedang memperhatikan Fajri yang sibuk memberi makan kelincinya. Saat itu Putra hanya tahu nama mantan ibu gurunya adalah Dewi. Dan panggilan akrab dari semua muridnya adalah BUNDA.
“Sebelum saya pulang, si mbak baru kasih ASI dengan botol, jadi baby masih kenyang dan sedang tidur.
__ADS_1
“Si kecil jagoan lagi atau perempuan Bun?” tanya Putra.
“Perempuan, baru berumur 36 hari, namanya Alesha Putri.”
“Ya ampun, baru 36 hari lalu Bunda melahirkan? Koq udah keluar rumah sih Bun? Mana pergi sendirian pula. Trus masih cuti kerja ‘kan?” Putra ngeborong pertanyaan pada Ririen.
“Seminggu setelah ngelahirin juga udah bisa koq keluar rumah, tapi ya enggak jauh-jauh."
"Hari ini kalau enggak karena acara reuni juga enggak keluar rumah. Cuti kerja masih dua bulan lagi sih, tapi lusa mau ke kantor karena ada kerjaan yang enggak bisa dihandle Team Manager."
"Paling keluar setengah hari buat meeting dengan ketua yayasan Sangga Buana di Slipi,” Ririen menjelaskan kondisinya saat itu.
Entah mengapa dia merasa sangat mencintai perempuan yang baru kembali bertemu setelah berpisah empat tahun lamanya.
“Lusa mau berangkat jam berapa? Saya yang antar ya, saya akan temani sepanjang meeting. Jangan nolak apalagi ngebantah,” tetiba Putra langsung posesive dan menggengam tangan Ririen erat karena ketika Ririen bilang lusa dia akan kerja, Putra langsung pindah posisi duduk ke sebelah Ririen.
Putra ingat saat itu Ririen menatapnya tajam seakan hendak membu-nuhnya dengan tatapan tajamnya itu.
“Please jangan melihat seperti itu, saya sendiri enggak tau apa yang saya rasakan saat pertama tadi liat kamu masuk ruangan reuni. Suatu rasa yang enggak bisa saya jabarkan, lalu ditimpa rasa putus asa saat tahu itu kamu, karena saya merasa bersalah menyukai perempuan bersuami. Namun rasa bersalah itu sirna saat kamu menyebut tentang kata mantan suami.” Putra berhenti sejenak.
“Saya enggak tahu kapan kamu bercerai dan saya enggak mau tahu Alesha anak siapa karena kamu baru saja melahirkan setelah kamu bercerai. Yang saya tahu saya ingin menjadi pendampingmu,” Putra bicara tanpa dipikir itu akan menyinggung Dewi atau tidak. Dia sudah menggunakan ‘kamu’ untuk pengganti kata bunda yang biasa dia ucapkan bagi Dewi.
“Mungkin kamu merasa ini aneh, enggak masuk akal, diluar logika, whatever you say, whatever you think! Mulai saat ini saya akan selalu ada disisi kamu, kamu suka atau enggak, kamu izinkan atau enggak. Kamu adalah masa depan saya!” Putra menatap Dewi dengan tatapan penuh damba.
__ADS_1
“Two words for you : kamu gila!” kilah Ririen sambil menepis tangan Putra yang menggenggam tangannya.
“Yes, you’re right, I’m crazy because you, I’m crazy for you!” jawab Putra santai.
“Jadi lusa berangkat jam berapa?”
“Saya enggak akan berangkat sama kamu, saya enggak jadi berangkat aja,” kilah Ririen saat itu.
\*\*\*
"Kak, sudah magrib, ayo siap-siap keluar kandang, jangan lupa langsung cuci tangan pakai sabun sebelum masuk rumah ya, Kakak Fajri juga cukup mainnya,” perintah Ririen pada dua anak lelakinya.
Putra melihat Dewi mulai memasang plastik pada kursi dan meja, serta membawa nampan untuk bersiap keluar.
Putra membantu Dewi, dia sengaja menunggu di pintu, dan mencuri ciuman di pipi Dewi saat perempuan itu melewatinya ketika hendak keluar kandang.
Dewi memelototinya, dan bergegas keluar kandang.
Putra sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Fajar dan Fajri sedang makan ditemani para pengasuhnya.
Sehabis mengurusi Alesha, Ririen langsung keluar kamar itulah saat pertama kali Putra melihat malaikat kecil dalam gendongan Ririen. Dia ingin sekali memeluk dan menggendongnya. Tapi tak berani.
Bayi merah mungil yang membuatnya jungkir balik. Saat itu juga Putra mengikrarkan diri akan menjadi ayah bayi itu bagaimana pun caranya!
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING
__ADS_1