JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
PEREMPUAN HARUS MANDIRI


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Hari-hari berikutnya Alesha mulai sangat sibuk, dia membimbing Leona dan Leoni dengan telaten tapi sangat keras. 



"Kok begitu Mbak?" tanya Leona .



"Itulah bedanya bangku kuliah dengan dunia kantor. Dalam buku teori harusnya ini dulu yang kita selesaikan. Tetapi di lapangan, kita harus sesuaikan dengan kondisinya di lapangan."



"Di gudang tiga, poin 2 yang duluan tapi di gudang satu poin 5 yang duluan."



"Kalian harus ingat itu. Walau ini adalah lingkup kerja Leoni tapi Leona harus tahu."



"Memang Mbak kasih bidang yang beda biar tidak saling tindih. Tetapi kalian tetap harus saling tahu pekerjaan yang lain agar bila dibutuhkan kalian bisa menghandle."



"Nah terus yang ini, ini untuk Leoni perhatikan baik-baik."



"Sekali lagi Mbak bilang tidak selalu sama penerapannya di lapangan dengan setiap teori."



"Jelas ya, tidak selalu sama penerapannya di lapangan, itu poin yang harus kalian pikirkan."



"Capek deh kerja," keluh Leoni.



"Lalu mau apa kamu? Mau nadah tangan aja jadi istri? Saat suaminya kabur sama perempuan lain kamu akan terlempar ke jurang!"



"Kok Mbak doanya gitu? Jangan lah Mbak. George nggak akan gitu!"



"Kita nggak bisa ngomong nggak akan. Maksudnya bisa saja George lurus tetapi di luar sana banyak ulat bulu, di luar sana banyak lalat ijo yang akan menggoda suami kita dengan jalan apa pun."



"Sekarang banyak perempuan cantik dan kaya,  suaminya tetap aja selingkuh dengan *hanya* babysitternya atau pembantunya lah. Itu bisa jadi karena suaminya tergoda."



"Biasanya para pembantu itu kan kepengen kekayaaan suami kita, maka dia menggoda dengan segala cara."



"Lalu kamu masih mau nerima para lelaki yang sudah selingkuh?"


__ADS_1


"Nah kalau kamu lepas dari suami, sedang kamu enggak kerja karena biasa hanya nadah, mau jadi apa kita?"



"Kita perempuan harus kuat! Jangan hanya nadah. Enggak kerja kantoran enggak masalah. Tapi kita bisa menghasilkan uang dari rumah!" Alesha memberi nasihat pada kedua adiknya.



Dia jadi ingat cerita seorang perempuan yang selalu nyinyirin mommynya ketika dia masih bayi. Mommy dan neneknya selalu memberi contoh agar dia tak berpangku tangan.



"Oke dua hari lagi Mbak akan lihat. Oh nggak nggak 2 hari.  3 hari lagi, Mbak akan lihat hasil pekerjaan kalian berdua karena Mbak nggak akan datang tiap hari."



"Sengaja agar kalian bisa mengatur pekerjaan kalian." Alesha langsung melenggang keluar kantornya. Di cafe dia sudah ditunggu oleh Garo dan Jingga.


\*\*\*



"Mas kita jalan-jalan yuk bertiga." Ajak Alesha.



"Kan tiap hari udah jalan-jalan Yank,"  kata Garo.



"Enggak,  maksud aku kita refreshing bertiga. Bukan jalan rutin seperti ini," Alesha menjelaskan apa yang dia maksudkan.



"Kamu mau ke mana?" tanya Garo dengan sabar.




"Mau di dalam kota sini, di luar kota, keluar pulau atau luar negeri?" Garo bertanya serius pada Alesha kemana kekasihnya hendak liburan.



"Wah belum bisa ke luar negeri Mas. Aku lupa belum bikinin paspor buat Dedek."



"Ke luar negerinya tunggu deh aku bikin paspor Dedek dulu. Kita sekarang yang dekat-dekat aja gimana Mas?" Tanya Alesha.



"Terserah kamu. Adik-adik udah bisa ditinggal?" 



"Bisa sih, kalau kita pergi paling satu mingguan," jelas Alesha. Dia memang sangat butuh refreshing.



"Oke mau ke mana?" kata Garo lebih lanjut.



"Mana ya Mas? Bingung sendiri aku nentuin tujuan."



"Kalau cuma ke Bogor mau nggak Mas?"


__ADS_1


"Koq CUMA? Kemana pun itu tetap aja liburan. Cuma itu kalau kita hanya di rumah bahkan di kamar," goda Garo.



"Ihh, maksud aku, kepengen aja kita nginep di Villa zaman aku masih kecil dulu sama daddy dan mommy dulu," ucap Alesha.



"Kalau villanya masih ada,  kalau sudah nggak ada gimana?" kata Garo.



"Paling enggak lokasinya dekat-dekat situ lah Mas. Atau mau di Bandung?"



"Enggak lah udah yang tadi aja di Bogor menuju Puncak situ. Bandung next time," kata Garo.



"Oke kita ke Bogor ya. Kan sekarang udah ketemu destinasinya ke Bogor. Sekarang kita mau pakai apa?" kata Garo



"Pesawat atau pakai kereta atau kita pakai mobil?"



"Enggak, kalau mobil terlalu capek."



"Kan kita bisa bikin tempat tidur seperti waktu kamu ke Malang dulu. Sekalian kita belanja pakai double cabin," ujar Garo.



"Enggak lah Mas. Nanti Mas capek. Jadinya kita bukan refreshing!" tolak Alesha.



Pembicaraan mereka hentikan karena telah sampai ke supermarket. Mereka memang berniat belanja untuk kebutuhan Jingga dan barang dapur.



"Inget lho. Semua kebutuhan rumah harus pakai uangku sendiri," bisik Alesha saat Garo mengatur Jingga duduk di trolly.



"Hmm," hanya itu jawaban yang Garo berikan. Garo tahu Alesha tak mau dia beri belanja untuk dapur dengan alasan belum kewajiban Garo.



Alasannya tentu karena belum resmi. Tapi didesak untuk meresmikan, selalu aja ragu. 


\*\*\*



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR ya.



![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1679036319847.jpg)

__ADS_1


__ADS_2