
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Koq masih disini Dadd?" Fajar melihat daddynya masih duduk di lobby memperhatikan panggung pengantin yang sedang dibersihkan.
"Daddy sedang merasa tak percaya, putri kecil yang membuat Daddy jungkir balik telah menemukan pelabuhan hatinya."
"Tadi Daddy ingat pertama kali melihatnya ketika dia berusia 36 hari."
"Sudah Dadd, istirahat, nanti Daddy sakit," Fajar mengajak Putra untuk bisa rehat. Fajar merasa daddynya mulai takut ditinggal anak-anaknya.
\*\*\*
Putra melihat wajah lelah istrinya. Perempuan yang sangat sulit dia taklukan. Perempuan yang telah memberinya lima anak dan sekarang mereka juga punya lima cucu.
Putra kembali ingat saat dia mulai belajar menjadi ayah, saat pertama kali menggendong bayi berusia dua bulan. Saat itu dia belum menikah. Bahkan melamar pun belum karena Ririen belum menerima cintanya.
Kakak-kakaknya sering dia gendong. Tapi si baby belum pernah karena dia masih takut.
“Mom, boleh belajar gendong Alesha enggak?” pinta Putra itu sore itu sehabis dia mandi. Putra melihat Ririen duduk di depan TV sambil memangku Alesha, diperhatikannya Fajar yang sedang asyik mewarnai, dan Fajri yang selalu mengganggunya dengan menanyakan warna crayon yang digunakan kakaknya.
Ririen melihat putri kecilnya yang baru terbangun, usianya saat ini sudah 2 bulan lebih, pipinya mulai chubby, diangkatnya dan digendongnya. Sejak usia dua bulan Alesha tak suka digendong dengan posisi tiduran seperti bayi pada umumnya, dia lebih suka digendong dengan posisi punggungnya disandarkan didada orang yang menggendong. Jadi seperti dia duduk bersandar.
Tanpa menjawab Ririen menyerahkan Alesha dan mengatur posisi tangan daddynya Fajar dan Fajri agar Alesha merasa nyaman.
Ririen segera masuk ke kamarnya untuk mengambil kain alas, dia takut Alesha ngompol dan mengenai pakaian Putra yang sedang mencoba menggendongnya, diaturnya alas kain tersebut dibo-kong Alesha.
Putra ingat saat itu rupanya Alesha merasa tidak nyaman digendongan orang yang masih kaku menggendong dirinya.
Mungkin karena merasa yang ngegendongnya kaku dan seperti ketakutan, bayi mungil itu mulai berontak sambil merengek.
“Sssttt … ssttt jangan nangis ya princessnya Daddy,” bujuk Putra sambil sedikit mengayun badannya, tapi Alesha malah menangis keras.
“Sini sayang, enggak nyaman ya gendongannya, Alesha enggak suka ya?” Ririen mengambil Alesha dan membujuknya agar diam. Digendongnya Alesha di bahu kirinya dan dia tepuk lembut punggung bayi perempuan kecil itu.
__ADS_1
Putra memeluk Ririen dan Alesha dari belakang. Wajahnya tepat di atas bahu kiri Ririen , dia menggoda Alesha yang sedang digendong Ririen.
“Modus godain Alesha,” desis Ririen pelan agar Fajar dan Fajri tidak mendengarnya perkataannya.
“Daddy cuma mau cium princess aja koq, tapi ya ngasih bonus kiss juga sih buat Mommynya,” sahut Putra sambil mencium pelipis kiri Ririen.
\*\*\*
"Yaaah. Mum," Jingga menepuk pipi Garo.
"Mum?" Alesha bangkit untuk mengambilkan air putih yang Jingga minta.
"Mum Ay yaaaah," rengek Jingga.
"Ya, bangunkan Ayahnya nanti Bunda yang ambilkan air. Kamu minum dari tangan ayahmu." Alesha turun dari kasur mengambilkan air minum di nakas. Mendengar '*keributan*' Alesha dan Jingga Garo segera bangkit.
"Ini Yah, Princess minta mum," Alesha memberikan gelas berisi air putih untuk diminumkan ada Jingga.
'*Andai ketika Rama minta kembali dan aku memilih dia, apa jadinya Jingga? Bahkan saat itu dia tak menyapa Jingga sama sekali. Apalagi ngopeni seperti yang Garo lakukan tiap malam*.'
"Bobo lagi yok, besok kita berenang," ajak Garo pada putri kecilnya.
Alesha mengecup Jingga kemudian mengecup ayahnya.
"Love you Yah. Lop yu Jingga,"
"Op yu." Balas Jingga lalu kembali terlelap.
"Lop yu nya boleh pakai bonus enggak Bun?"
"Bonus apa?"
__ADS_1
"Bonus malam pertama resepsi lah," goda Garo.
"Ihh. Ayahnya Jingga mah enggak kenal capek."
"Capek buat refreshing sekalian ibadah mah enggak apa apa Yank," Garo mulai melakukan serangan malam pertama resepsi.
\*\*\*
"Yah, besok kalau udah jadi, bisa tahan enggak?"
"Harus tahan lah Yank. Bunda enggak boleh cape. Dan kalau melakukan juga harus rileks dan enjoy Yank. Enggak boleh kepaksa. Ayah udah mulai baca baca artikel kehamilan."
"Aku berharap cepet jadi ya Yah." Alesha berharap cepat dapat momongan lagi.
"Ayah merasa udah jadi," balas Garo.
"Ngawur ah," jawab Alesha.
"Enggak ngawur Yank. Kamu tu sudah telat empat hari! Maka sejak satu minggu ini Ayah enggak berani ganggu."
"Aku pikir Mas enggak ganggu karena sibuk persiapan resepsi juga persiapan rumah kita," Alesha malah tak perhatian soal jadwal menstruasinya.
"Besok coba pakai test pack ya Yank." Pinta Garo.
"Ya, besok Ayah beli aja, aku tampung urine pagi. Tapi kalau belum jadi, jangan kecewa ya Yah."
"Dua hari lalu, Ayah sudah beli test pack duluan koq. Dan kalau belum jadi, kita bikin lagi lah. Nggak perlu kecewa," jawab Garo santai.
"Ayah serius udah beli?"
"Sudah Yank. Besok kita coba sebelum salat Subuh ya. Lalu kita lihat selesai salat Subuh." Garo menyampaikan wacananya.
"Oke."
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
__ADS_1