
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Bagaimana mungkin?" Alesha terpekik sambil menutup mulutnya saat menerima telepon dari Ririen.
"Kenapa Bun?" Garo langsung memeluk tubuh istrinya. saat itu mereka sedang berada di supermarket untuk membeli kebutuhan bulanan mereka.
Jingga sudah bisa mulai ditinggal oleh Garo. Tadi sepulang dari rumah sakit memang Alesha minta belanja dulu.
"Mas kita lari ke rumah sakit." Alesha tergagap tak percaya adiknya mengalami nasib buruk seperti itu.
"Ada apa?" kata Garo memeluk bahu istrinya.
"Leona dibawa ke rumah sakit, dia jatuh ditabrak anak kecil yang lari di mall. Leona mengalami perdarahan." Alesha terbata menceritakan pada Garo apa yang terjadi ada adiknya.
"Padahal Ona bersama Gerry di sebelahnya tapi suaminya terlambat memegang tubuh istrinya jadi Ona terpeleset."
"Gerry kan selalu ada di sebelahnya. Gerry tak pernah melepas Ona sama sekali." Garo tak percaya adik iparnya tertimpa musibah.
"Iya Mas. Mommy bilang Gerry pas mengangkat belanjaan dan Leona hendak naik ke eskalator."
"Ya ampun," ucap Garo.
Padahal besok semua kakek nenek dan eyang semua mau pulang ke Jakarta. Tapi sekarang kondisi Leona malah seperti ini, tentu para sesepuh akan menunda kepulangannya ke Jakarta mengetahui kondisi cucunya.
Garo segera membayar belanjaan dan Alesha sedang bertanya Leona di bawa ke Rumah Sakit mana.
Rupanya Leona di bawa ke rumah sakit terdekat dari tempat dia belanja tadi yang kebetulan tempat dia biasa periksa.
"Semoga Ona dan anaknya selamat," Alesha tak menyangka adiknya akan mengalami nasib seperti ini.
"Mbak Dwi, aku pulangnya agak telat ya. Saya akan ke rumah sakit karena Ona jatuh dan perdarahan jadi saya ke sana dulu. Tolong jaga adik ya," pesan Alesha.
Alesha takut semua orang di rumah akan pergi lalu melupakan Jingga.
"Iya Mbak. Ini yang di rumah juga sedang pada ribut. Mas Fajar juga sudah cancel semua tiket buat besok karena eyang dan nenek nggak mau pulang sebelum tahu kondisi mbak Leona balik-balik saja," jelas Dwi memberitahu bahwa di rumah juga sedang super sibuk.
__ADS_1
"Yo wis jaga Dedek ya Mbak."
"Iya saya sama Ningsih sedang jaga Jingga dan Tama." Rupanya Icha juga menyerahkan Tama pada baby sitternya.
"Siapa yang di rumah?"
"Sepertinya nggak ada. Semua pergi," jawab Dwi.
\*\*\*
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Putra pada Gerald atau Gerry.
"Aku lagi nunduk Dadd, mau ambil tas belanjaanku. Ada anak kecil lari lalu nabrak Ona hingga agak miring dan hilang keseimbangan. Ona kepleset padahal dari dulu kan Ona juga pakai sepatu tipis, flat tanpa hak sama sekali."
"Sudahlah Dadd enggak apa-apa. Insya Allah mereka nggak apa-apa. Insya Allah," Gerry mengafirmasi dirinya sendiri agar punya keyakinan anak dan istrinya selamat.
Gerry terus berupaya menenangkan dirinya sendiri. Gerry juga tadi langsung menghubungi kedua orang tuanya di Australia minta doa karena kemungkinan besar Leona akan langsung dioperasi karena sudah perdarahan.
"Usia kandungan sudah 7 bulan lewat 3 hari sehingga kemungkinan bayi bertahan cukup besar," kata suster tadi saat Leona dibawa pertama kali datang.
Leoni dan George malah histeris begitu tiba di ruang rawat.
"Tadi izin operasinya sudah ditandatangani ya Pak?" Tanya perawat lagi.
Putra menenangkan George dan Icha menenangkan Leoni.
"Sudah," kataGerry.
"Oke Pak, kita mulai 15 menit lagi semua selesai ya. Pas saat semua dokter siap." Suster memberitahu agar semua keluarga yang masih di dalam bersiap. Ada para eyang dan nenek kakek di ruangan. Alesha dan Garo belum datang.
"Bismillah ya Gerr, pasti bisa. Kalian pasti kuat," kata Putra menepuk pundak menantunya memberi kekuatan.
Icha sudah di dalam tentunya.
**FLASHBACK** saat Fajar menghubungi Fajri dan Liani yang sedang bersiap untuk berangkat bulan madu.
__ADS_1
"Kalian jangan tunda keberangkatan. Semua aman kok. Enggak apa apa. Enggak usah dengar komentar dari siapa pun."
"Kalian berangkat aja," ucap Fajar karena Fajri akan pergi besok.
"Batalkan aja tiket nya Bang. Kita bisa undur honeymoon, tapi masalah Leona bukan urusan sembarangan."
"Ibu setuju dengan Lian, tunda aja Fajri. Uang kita bisa cari tapi kekeluargaan itu tiada yang bisa dihapus."
"Sekarang kita berangkat ke rumah sakit dulu," kata ibunya Liani lagi.
"Kalau gitu jangan batalkan atau tunda dulu," kata romonya Liani.
"Lihat kondisi Leona hari ini, setelah kita tahu kabarnya kalian bisa tentukan tunda atau batalkan. Sekarang kita berangkat aja ke rumah sakit," kata Romonya Liani lagi.
"Begitu lebih baik Romo," kata Fajri.
"Ya udah ayo sekarang kita berangkat," ibunya Liani tak sabar ingin segera tiba di rumah sakit.
**FLASHBACK OFF**
"Kamu kuat Dek, kamu kuat. Bismillah ya. Insya Allah semua selamat," Alesha mencium kening adiknya. Dia masih mendapat kesempatan untuk bertemu Leona sebelum masuk ke ruang operasi.
"Semangat ya kamu pasti kuat menghadapinya," Garo memberi support pada Gerry.
"Insya Allah kami siap kok..Tenang aja nggak apa apa," kata Leona dengan tabah. Begitu pun Gerry.
Garo melepas keduanya untuk dibawa ke ruang bersalin karena memang mereka yang terakhir datang.
Saat pintu akan ditutup masuk rombongan Liani dan Fajri seeta kedua oeang tuanya.
Fajri berlari sebelum pintu ditutup. Dia mengecup kening Leona.
"Kamu kuat Dek, kamu kuat. Abang doain, Abang ada buat kamu di sini." Sekalai lagi Fajri mencium kening Leona dan menepuk bahu Geerry lalu dia minta maaf pada suster karena menerobos pintu masuk.
Liani tentu tak bisa seperti itu yang penting Fajri masih sempat memberi support pada Leona.
\*\*\*
__ADS_1
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul BETWEEN terminal BUBULAK ~ GIWANGAN