JINGGA DARI TIMUR

JINGGA DARI TIMUR
SEPERTI MENGEMIS


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Bingung ya Mom," kata Putra.



"Bingung kenapa Dadd?" 



"Dulu waktu Daddy  deketin Mommy itu yang aktifkan mama .Kalau sekarang kan Garo ibunya nggak berperan aktif untuk hubungan dengan antara Garo dengan Alesha."



"Dadd, Ratna memang nggak berperan aktif. Tapi kan kita berperan aktif. Jadi sama aja. Dulu ibu dan ayahku nggak berperan aktif kan?"



"Oh iya juga ya. Dulu yang berperan aktif dari pihak Daddy. Sekarang dari pihak Alesha."



"Sama kan?"



"Oh iya sih,"  kata Putra.



"Cuma masalahnya Dadd. Kalau kita terlalu aktif, orang akan melihat sinis seakan kita mengobral putri kita. Karena anak kita perempuan dan seorang  janda."



"Orang menilai kita menjual anak kita," kata Ririen.



"Yang jadi kendala kita nggak bisa bergerak itu. Karena Mama kan memperjuangkan daddy yang lelaki dan bujangan. Kalau kita kayak gitu, kita seperti ngemis-ngemis Dadd." Ujar Ririen sedih.



"Makanya Mommy enggak bisa banyak ngebantu agar enggak terkesan kita ngemis," 



"Ya udah jangan terlalu dipikir Mom," Putra juga bingung akan nasib putri kesayangannya.



"Daddy bisa bilang jangan dipikirin. Tapi kemyataañya setiap saat kita mikirin dia!"


\*\*\*



Ririen baru saja mengantar Putra, dia langsung ke kebun dia melihat rumahnya Alesha masih tutupan. 



Sepertinya tak mungkin mereka di rumah dia juga lihat mobilnya Alesha nggak ada. 



'*Lesha pergi ke mana ya*?' akhirnya Ririen penasaran. dia menghubungi Alesha.



"Iya Mom," jawab Alesha setelah tadi dia membalas salam dari  Ririen.



"Kamu di mana Mbak?" Ririen berpikir Alesha kembali pergi menjauh. Dia tak ingin putrinya makin terpuruk dan jauh dari keluarga.



"Aku di rumah sakit PKU Gamping." Balas Alesha.



"Kamu kenapa?" Tanya Ririen bingung.



"Jingga dirawat Mom," jelas Alesha.



"Kenapa kamu nggak bilang Mommy dan Daddy? Berangkat jam berapa?"



"Gimana sih kamu?"



"Tapi Jingga nggak apa-apa.  Sabar Mom. Suhu tubuh Jingga tadi malam tinggi, aku bawa ke rumah sakit jam 03.00 pagi. Aku bawa sama Mbak Dwi aja."



"Dari hasil pemeriksaan dokter dia kena radang tenggorok sehingga panasnya sangat tinggi."



"Sekarang masih cari ruang rawat karena ruang rawat anak penuh semua." 



"Padahal aku udah minta yang VIP aja kalau VVIP enggak ada. Tapi semua penuh. Aku turun lagi ke kelas 1 juga belum dapat."



"Belum dapat ruang kenapa nggak minta ke Icha?"

__ADS_1



"Ini barusan aku minta kak Icha. Aku sudah telepon Kak Icha. Kak Icha lagi cariin. Kalau enggak dapat disini mau dipindah ke rumah sakit tempat dia kerja." Jawab Lesha lemas.



"Ya udah Assalamualaikum Mami bersiap ke situ ya," kata Ririen.


\*\*\*



"Iya kenapa Mom?" kata Putra saat menerima telepon istrinya.



"Dadd kembali kerumah sekarang juga. Pelan-pelan jangan ngebut."



"Ada apa?" Tanta Putra bingung.



"Mommy akan bilang dirumah. Daddy kembali aja ke rumah pelan-pelan jangan ngebut. Balik ke rumah segera." 



Putra yang belum sampai kantor langsung balik arah menuju ke rumah.



Ririen memang langsung menghubungi Putra yang masih belum sampai kantor. Tapi dia tak menceritakan by phone karena tahu akan membahayakan suaminya.


\*\*\*



"Assalamualaikum Mom?" kata Garo sopan.



"Kamu di mana Ro?" Tanya Ririen hati-hati.



"Aku masih di depan rumah, mau berangkat ke Jakal Mom. Kenapa?"



"Jingga masuk rumah sakit." Ririen akhirnya menghubungi Garo karena dia yakin buat Garo Jingga adalah permata hatinya.



"Dirawat Mom?" Tanya Garo tak percaya. Garo lemas. Kekasih kecilnya sakit dan dia tak tahu.



"Iya dan Alesha tidak cerita ke siapa pun. Kalau Mommy nggak lihat rumahnya dikunci Mommy nggak tahu bahwa Jingga dirawat di rumah sakit," Ririen juga tak ingin disalahkan Garo karena tak memberitahu sejak awal.




"Rumah sakit mana Mom. Biar saya langsung kesana." Garo tentu tak peduli Alesha mengusirnya. Dia akan mendampingi putri kecilnya.



"Di PKU Gamping. Tapi belum dapat ruangan. Icha juga lagi cari tempat di rumah sakitnya bila tak ada ruang di PKU."



"Ya udah Mom, aku siap-siap kesana aja," kata Garo.



"Jangan lupa kalau kamu ke rumah sakit, kamu siap bawa baju ganti buat kamu menginap Ro," Ririen lemas menghadapi masalah kesehatan Jingga.


\*\*\*



"*Koq ra sido mangkat Le*?" Ratna bertanya pada Garo mengapa tak jadi berangkat. Karena dia lihat putranya malah kembali masuk ke kamarnya.



"Jingga di rawat di rumah sakit Bu. Aku mau ambil baju ganti persiapan aku menginap di rumah sakit."



"*Njur piye*? Ibu ikut ya?" Pinta Ratna.



"Ibu nanti aku khabari ya. Sekarang belum tahu ruang rawatnya."


\*\*\*



"Mbak Dwi nanti pulang dulu nanti aku kirim pesan apa yang perlu disiapkan," dini hari tadi Alesha berangkat hanya membawa dompet dan ponsel saja tidak juga membawa baju Jingga sama sekali. 



"Iya," kata Dwi.



"Nanti naik taksi aja. Siapin semua yang nanti aku tulis. Kalau sekarang belum ketahuan pa yang dibutuhkan."



"Njih Mbak," sahut Dwi lagi.



"Sekarang kamu cari sarapan dulu buat kita berdua." Alesha menyerahkan uang untuk beli sarapan.

__ADS_1



"Jangan lupa su5u coklat  hangat atau kopi ya Mbak. Jangan lupa juga sarapan buatmu juga."  Dwi segera keluar dari IGD.



Jingga sudah di infus dan dokter telah memberi obat dalam infusan nya sehingga gadis kecil itu sekarang tertidur.



Mereka masih di IGD belum dapat kamar.



"Dengan pasien atas nama anak Jingga," panggil seorang suster.



" Iya suster," jawab Alesha.



"Ibu dapat kamar ya di VIP sesuai permintaan dokter Aurora Melissa," demikian suster memberitahu kalau akhirnya Jingga mendapat ruang VIP bukan VVIP seperti permintaan Alesha.



Aurora Melissa Pattisahusiwa adalah nama lengkap kak Icha istri Fajar kakak tertua Alesha. Teman dan sejawat kerjanya memanggil dia Aurora atau Rora. Panggilan spesial dari Fajar adalah Icha dari nama Melissa.



"Terima kasih suster," sahut Alesaha.



"Mari kita pindah Bu," suster yang bicara dan seorang rekannya mendorong brankar yang ditempati Jingga ke ruang VIP diatas. 



"Mbak Dwi, nanti langsung ke atas ya. Cari ruang VIP," Alesha langsung menyebutkan nama ruangan yang akan ditempati Jingga pada pengasuh anaknya itu.



Dwi yang sedang menuju IGD segera balik arah untuk menuju lift karena ruangan Jingga ada di lantai 3.



"Yanktie, Jingga sudah di ruang VIP ya," Alesha juga langsung menghubungi Ririen. 



"Iya, ni Yankkung sedang isi bensin dulu. Sudah dekat rumah sakit," jawab Ririen.



'*Terima kasih bude Icha, Jingga sudah dapat ruangan*.' Alesha tak berani telepon pada Icha. Takut mengganggu. Dia hanya kirim pesan saja.



Ririen langsung mengirim pesan kamar ruang rawat Jingga pada Garo.



Dwi datang membawa sarapan untuk Alesha. Dwi tahu kalau sedang seperti ini Alesha tentu tidak akan mau makan apa pun. Karena itu Dwi membelikan telur setengah matang, juga roti panggang isi kornet dan su5u coklat panas.



"Kamu sudah makan Mbak?" Tanya Alesha.



"Sudah, tadi saya makan di sana." Balas Dwi.



"Makan apa?" Alesha penasaran apa yang dimakan Dwi. 



"Makan bubur ayam Mbak. Mau saya belikan?" Tawar Dwi.



"Enggak ah," jawab Alesha.



"Saya juga pikir begitu, Mbak enggak akan nafsu makan apa pun. Makanya saya beli roti kornet dan telur setengah mateng aja," kata Dwi.



"iya," kata Alesha.



Tak lama datang Ririen dan Putra.



"Kenapa? Kenapa nggak bilang ke Daddy? Apa Daddy sudah tak berarti bagimu?" Sesal Putra.



"Aku sedang belajar mandiri aja Dadd, bukan ngelupain Daddy. Daddy tetap terbaik buatku."



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.


__ADS_1


![](contribute/fiction/6433798/markdown/10636434/1679976495393.jpg)


__ADS_2